Benar dan Salah Itu Cuma Dipisahkan 1 Kata, NURANI

Aku kecewa dengan teman-teman yang sudah berubah prinsip dan mengikuti arus

Maksudku, memang menentang arus adalah pekerjaan yang berat dan kesepian. Berat karena nggak bakal mudah dilakukan, dan sepi karena bakalan berbeda sendirian diantara yang lain-lain.

Yeah, kita hidup di dunia nyata. Dan dalam kehidupan sesungguhnya, tak mudah bagi kita untuk terus memegang nilai-nilai moral dan keteguhan hati untuk tetap melakukan hal yang benar.

Tapi sekali lagi kukatakan, hal itu bukanlah tidak mungkin untuk diwujudkan. Walaupun pada akhirnya kita tidak bisa membawa perubahan yang baik untuk lingkungan kita, atau tidak bisa memberikan perbedaan yang nyata, setidaknya kita tidak sama dengan mereka-mereka. Biarkan saja mereka seperti itu, tapi diri kita tetap tidak terpengaruh.

Bayangkan, apa jadinya dunia ini dan peradaban, kalau Copernicus tidak bersikeras bilang dunia ini bulat? Dan bagaimana bila Galileo tidak bertahan dalam mempertahankan keyakinannya bahwa matahari adalah pusat tata surya, bukannya bumi. Meski saat itu mereka dikecam gereja, dituduh kafir dan akhirnya dihukum mati karena dinilai tidak sepaham dengan gereja dan menyebarkan kesesatan.

Lalu akan jadi apakah kita, bila para nabi dan rosul berhenti menyebarkan agama dan kalah dengan keadaan serta orang-orang bebal yang memusuhinya?

Tak terbayangkan olehku, bila seandainya saat itu mereka menyerah karena segala beban berat, tekanan dan kesepian yang mereka alami dalam mempertahankan hal yang benar.

Dan dunia seperti apa yang akan kita huni, hari ini?

Nggak perlu diingatkan dengan pahitnya kenyataan, tapi seorang teman bilang: aku terlalu idealis dan nyaris terlalu naif.

“Apa kamu pikir hidup di dunia ini, bisa semudah penerapan pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila)? Kamu nggak tahu apa-apa, Yon. Kamu cuma bisa omong besar dan kembali bermimpi. “

Tidak. Dia salah.

Justru aku sudah banyak sekali melihat apa-apa yang salah dan tak berdaya untuk melawannya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa bobroknya orang-orang dalam sistem kita. Dan mungkin secara tidak sadar aku pernah menjadi bagian dari kesalahan tersebut.

Tapi ada satu yang masih kupertahankan.

NURANI

Hati kecilku menyadari semuah hal-hal yang salah. Batinku menjerit dalam ketidak berdayaan ini, mencakar nuraniku. Memekik sanubariku agar tidak membenarkan apa yang salah dan menyalahkan apa yang benar.

Disitu letak perbedaannya, kawan

Aku memang tak bisa menjadi martir seperti Copernicus dan Galileo, atau sesuci para nabi dan Rosul. Tapi aku tetap berusaha jujur, menyatakan hal yang salah tetap salah. Dan membela (meski hanya bisa membenarkan saja dalam hati) yang benar tetaplah benar walau dalam keadaan sesulit apapun.

Dalam ketidak berdayaan dan ketidak mampuanku menghadapi dunia yang seperti ini, aku tetap berpegang teguh dengan prinsip yang kuyakini. Meski hanya memiliki keyakinan saja dan hati nurani yang mencengkram, tak berkuasa apapun.

Kawan, jangan mencoba membutakan nuranimu. Meski kau membungkamnya dan berpura-pura semua yang kau lakukan adalah hal yang wajar, karena semua orang juga melakukan hal yang sama. Kau tahu dengan pasti dan nuranimu pun menyadari, yang dianggap benar dan tak masalah bagi semua orang bukanlah pembenaran dari suatu kesalahan.

Salah ya tetap salah, meski dunia memusuhimu karena itu. Dan benar adalah tetap benar, walaupun semesta berkata lain.

One thought on “Benar dan Salah Itu Cuma Dipisahkan 1 Kata, NURANI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s