Cinta dan Nafsu, Batas?

Seorang mantanku pernah bilang “kekasih yang baik seharusnya menjaga perempuannya. Bukan malah merusaknya “

Aku mempercayai omongannya itu hingga bertahun-tahun kemudian kutemukan bahwa lelaki tak dapat dipisahkan dengan nafsunya. Memang tidak semua, tapi kebanyakan begitu.

Mudah saja kok membuat penilaian untuk pria brengsek yang otaknya mesum. Kalau dia macem-macem, segera pergi dan putuskan. Karena pria yang serius berhubungan denganmu dan tulus, pasti ia bisa menahan nafsunya hingga ia memintamu secara resmi. Dan menyeretmu ke depan penghulu bukan ke ranjang.

Pelukan, ciuman, nafsu yang ingin ‘memiliki’ adalah hal yang wajar dilakukan pada orang yang kita cintai. Karena seks memang perwujudan dari kasih sayang antara wanita dan pria yang matang reproduksi, tapi ada koridor dan tatanan yang harus dilakukan agar semua hal tersebut legal dilakukan, yaitu pernikahan.

Well, belakangan ini layar TVku selalu dihiasi oleh gadis-gadis dalam acara infotaiment. Dengan lantangnya dan tanpa rasa malu, bilang dulu waktu berpacaran dengan pria botak yang katanya anak bekas Kapolri sudah sempat hamil dan keguguran. Meh!

Masih pacaran loh, tapi sudah sampai kayak gitu parahnya. Akibatnya apa? Kawin nggak jadi, status tidak jelas janda atau gadis, ngerasain aborsi yang sakitnya naujubillah dan bisa beresiko mandul. Tapi anehnya masih minta pertanggung jawaban.

Yang disalahin siapa? Pasti perempuannyalah kok mau digituin, lah laki-lakinya emang udah kadung brengsek dan korbannya juga manut. Apa yang bisa dituntut? Wong mau sama mau.

Makanya mbak-mbak cantik jangan mau asal celepak-celepuk, jebret, crot aja. *ya Tuhan, papa-mama, maafkan bahasa vulgarku…..*. Kuncinya jelas di siperempuan kok, kalau dia dengan tegas menolak dan bilang tidak, lelaki pasti nggak berani memaksakan nafsunya kalau nggak mau dituntut pemerkosaan atau pelecehan seksual.

Menurutku, perempuan seharusnya tahu apa yang mereka inginkan dalam sebuah hubungan. Dan hubungan percintaan wanita dan pria, secara teori harusnya berakhir dengan pernikahan. Buat apa berpacaran kalau tidak ingin menikah? Buat apa menikah kalau bisa tidur dengan pacar?

Please ladies, jangan deh pacaran yang kebablasan sampai rusak atau hamil. Sudah banyak yang menikah karena keburu hamil, dan rumah tangganya nggak langgeng. Contoh yang lagi panas, artis dangdut yang nyari-nyari alamat palsu itu. Kemudian banyak juga kejadian yang rusaknya sama siapa dan kawinnya sama orang lain. Dan yang terakhir kasus yang paling berakibat miris, setelah hamil ditinggalin pacar terpaksa jadi single parent atau malah melakukan aborsi, yang konon rasa sakitnya melebihi wanita melahirkan.

Tetap wanita yang jadi korban paling besar disini. Siapa lagi yang bakal nanggung aib, rasa malu, sakit dan beban anak selain perempuan?

Yeah, hubungan seks seharusnya memang suatu ritual suci dan mistis, yang dilakukan untuk menunjukkan kasih sayang, hasrat dan kebutuhan tapi hanya antara sesama pasangan yang sudah disahkan. Ingat, dosanya gede banget kalau dilakukan diluar nikah dan resikonya berat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s