Yang Paling Buruk

Aku harap waktu berhenti disini, disisimu.
Dan tak pernah beranjak lagi. Aku lelah dengan hidup, tanpamu.
Juga letih dengan segala hal, tentangmu, yang semakin aku mengetahui, semakin aku terperosok dan tak bisa lepas lagi dari jeratmu.

Hei, jika suatu hari ini sudah selesai dan kau tak mau atau dengan alasan apapun yang membuat kita menjauh satu sama lain.
Ingatlah, setengah dari hati dan pikiranku selalu bersamamu, untukmu. Dan setengahnya yang lain akan diisi dengan rasa hampa, derita, sesak serta duka meraja.
Yang akan terus membenturkan kesadaran, berkali-kali, lagi dan lagi. Memaksakan kesakitan yang datang tanpa henti dan tanpa dapat dimengerti.
Jangan, tolong jangan berpikir kematian sudah paling menyakitkan. Tidak, itu salah.
Hidup dalam kehilangan adalah yang paling buruk, terutama bila yang hilang adalah kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s