Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Yakin?!

Hari Guru?!
Hm…. tak banyak yang bisa kuingat tentang guru, sepanjang nyaris seumur hidupku dilalui dengan menuntut ilmu. Bukannya tidak menghargai jasa-jasa mereka yang sering disebut sebagai ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ ini. Tetapi ada banyak luka yang sengaja atau tidak disengaja dilakukan beberapa oknum guru, hingga mencederai ingatanku tentang mereka.

Guru Masa SD
Ada seorang guru matematika yang kuingat dengan kuat. Bukan karena ngajarnya enak, tapi justru kareta keotoriterannya. Sialnya aku bahkan nggak cuma jumpa dengan sibapak di sekolah. Aku juga les di rumahnya saat usai pulang sekolah.

Sibapak guru matematika ini terkenal galak dan suka memukul. Kadang-kadang beliau menendang murid laki-laki juga. Jadi bisa dibayangkan betapa menakutkan pelajaran matematika saat itu? Sudah pelajarannya sulit, suasana belajarnya juga seperti menunggu hukuman mati sehingga matematika menjadi momok menakutkan bagi kami para murid. Dan itu harus dilalui selama 6 tahun semasa sekolah dasar.

Guru Masa SMP
Nah, pada saat duduk dibangku SMP guru matematiknya enggak lagi otoriter dan suka mukul. Tapi tetap saja sadis, karena sibapak suka mempermalukan murid yang tidak bisa menjawab pertanyaannya dengan kata-kata menghina di depan kelas.

Dan tentu saja akibatnya suasana kelas mencekam dan matematika menjadi sulit dimengerti serta bukan pelajaran favorit. Bahkan bagi beberapa murid laki-laki, mereka lebih memilih bolos jam pelajaran matematika dibanding harus menjalani 2 jam penuh penyiksaan di kelas.

Kalau begini siapa yang mau disalahkan, murid yang malas atau guru yang ngajarnya tidak menyenangkan?

Guru Masa SMU
Saat di sekolah menengah atas, model gurunya semakin beragam sifatnya. Ada yang mata duitan jualan segala buku dan LKS (lembar kerja siswa) yang wajib dibeli semua murid. Ada yang mengadakan wajib les mata pelajaran dengannya (bagi yang ikut les, nilai yang didapat pasti 8 ke atas). Ada yang suka menerima hadiah dari murid-muridnya. Ada yang punya murid kesayangan. Tapi ada satu guru yang paling membekas diingatanku, guru biologi yang sekaligus wali kelasku di kelas tiga.

Dimataku sibapak guru biologi ini angkuh dan sombong, beliau memang pintar dan termasuk golongan tinggi di sekolah. Aku ingat sekali beliau sering mengatakan ini di depan kelas, “saya nggak peduli murid sekolah ini ada atau enggak, mau hanya 1 orang saja pun saya tetap digaji. Karena yang menggaji saya adalah pemerintah, bukan murid.” Begitulah perkataan beliau yang sangat saya ingat. Seolah-olah mengatakan beliau sama sekali tidak peduli dengan murid-muridnya.

Ia hanya ‘melakukan tugasnya’ meski hanya mengajar 1 orang saja sama sekali nggak ada hubungannya dengan pengabdian atau apapun, karena ada atau tidaknya murid tidak berpengaruh pada gajinya (ini hanya masalah pekerjaan). Beliau akan tetap digaji pemerintah. Yang beliau lupakan adalah uang yang didapat pemerintah berasal dari rakyat juga (contohnya dari pajak). Jadi meski gajinya dari pemerintah, sebenarnya yang menggaji beliau rakyat Indonesia, termasuk para orang tua dan wali murid .

Sibapak ini, sebenarnya cara mengajarnya asik dan mudah dimengerti. Tahun 2000 saat aku masih duduk dikelas satu, aku mengusulkan dirapat panitia 17 agustus-an di Osis (aku anggota Osis perwakilan dari kelasku) untuk mengadakan pemilihan guru favorit. Dipilihlah tiga orang murid dari kelas 1, 2 dan kelas 3 sebagai juri. Dan aku merupakan perwakilan juri dari murid yunior. Tebak siapa yang menang jadi guru favorit di sekolah pada tahun itu? Voila, sibapak guru biologi (aku ikut memilihnya menjadi guru favorit karena gaya ngajarnya memang gampang diikuti). Tapi sifat sombongnya ini bikin aku hilang respek. Aku tidak seperti teman-teman yang lain yang suka datang ke rumahnya dan mengantarkan bingkisan saat lebaran. Bahkan oleh teman-teman sekelas setiap ulang tahun selalu mengumpulkan uang dan mengadakan acara makan-makan di rumah si bapak serta memberikan kado. Aku ikut, datang dan makan karena merasa sudah bayar (kan sayang tuh kalau nggak datang). Tapi jauh dilubuk hatiku, aku sama sekali nggak tulus melakukannya. Dan kuyakin teman-teman lain ada juga yang merasa seperti itu. Terpaksa dan cuma ikut-ikutan.

Satu lagi cerita tentang sibapak guru biologi ini. Selain sombong, bapak ini juga suka menyindir dan apabila moodnya buruk maka anak murid yang kena imbas kemarahannya (kurasa semua orang dewasa suka bersikap seperti itu ya. Melampiaskan emosi pada anak kecil, orang yang lebih lemah atau pada bawahannya).

Dan suatu hari di kelas ia memarahi murid yang membuat keributan. Simurid merasa tidak bersalah karena sebenarnya biang keroknya adalah seorang murid perempuan tapi sibapak yang kadung emosi tidak peduli. Namun ternyata kakak kelasku ini tidak terima dengan perlakuan semena-mena sibapak guru. Pulang sekolah ia sengaja menunggu di jalan yang biasa dilalui untuk pulang dan saat sibapak muncul, ia meninju wajah sibapak sampai jatuh terkapar.

Yeah, pada akhirnya kakak kelasku dikeluarkan dari sekolah dan dipindahkan ke sekolah swasta (smu kami adalah sekolah negeri favorit). Tapi doi sudah puas, pernah memukul guru paling sombong saat itu. Dan menjadi LEGENDA bagi murid-murid lainnya.

Hahaha… aku tahu ini bukan contoh tindakan yang layak dipuji dan tiru, tapi jujur aku termasuk orang yang puas dan sedikit senang dengan kejadian ini. Bahkan saat aku bertemu dengan kakak kelasku ini di ruang kepala sekolah, waktu sidang penentuan hukumannya, aku nyengir lebar dan memberi jempol padanya. “Keren, bang. ” Kataku menyemangati. Dan dia balas nyengir lebar juga. Saat itu aku merasa dia adalah pahlawan bagi kami-kami yang juga tidak menyukai bapak guru tersebut, namun terlalu pengecut untuk mengungkapkannya.

Masa Kuliah
Masa kuliah adalah masa keemasanku dibidang pendidikan. Aku nyaris selalu mendapat indeks prestasi 3 ke atas dan beasiswa. Menjalani perkuliahan dengan senang, bertemu dengan para dosen yang menginspirasi dan mendapatkan respek dariku. Ada banyak deretan nama-nama dosen yang tetap kuhormati hingga saat ini. Seperti bapak Ir. Agustinus Mangunsong, Ir. Kresna Murti, Ir. Ali Suyono, Ir, Ingan Tarigan, Ir. Muzakir, dan lain-lain.

Meskipun ada juga tipikal dosen yang suka mempersulit mahasiswa dan membuat waktu penelitian serta skripsi menjadi sangat lama. Tipikal ibu dosen yang perawan tua, cerewet dan merasa puas punya kuasa terhadap kelulusan tugas akhir bimbingannya. Aku mengalaminya setelah mendapat pembimbing skripsi yang bertipe seperti ini. Ibu pembimbingku memang tidak cerewet tapi moodian. Kami anak bimbingannya rata-rata mengalami dari pengajuan judul skripsi, proposal, seminar proposal, penelitian, seminar hasil penelitian, penulisan skripsi, sidang skripsi (comprehensive), revisi, memakan waktu selama 2 tahun pengerjaannya. Sementara beberapa teman yang mendapat pembimbing baik sudah lebih dahulu wisuda, meninggalkan kami.

Well, tidak semua cerita tentang guru itu adalah kisah heroik pahlawan tanpa tanda jasa. Dan memang apa-apa yang aku paparkan bukanlah mengenai sisi baik dari guru-guru sekolah. Juga tidak mewakili sebagian besar dari track record para guru di Indonesia (ada yang jauh lebih buruk dari pada dipukuli guru, yaitu murid yang dilecehkan secara seksual). Kita nggak bisa tutup mata kasus seperti ini benar ada terjadi dimasyarakat.

Meski, tentu saja ada lebih banyak guru-guru yang memang mengabdi dengan tulus dan tanpa mengharapkan pujian (kuharap begitu), contohnya seperti Butet Manurung yang mengajari anak-anak suku Anak Dalam di tengah hutan Jambi. Yang perjuangannya difilmkan dengan judul Sokola Rimba (ini film bagus yang patut ditonton dibioskop).

Lalu apa hal yang ingin aku tekankan dengan topik pembicaraan kita hari ini? Semoga para guru berhenti bersikap seolah jasa mereka tidak dihargai karena itu tidak benar. Gaji guru yang pegawai negeri sipil tinggi loh, belum lagi yang bekerja di sekolah-sekolah swasta elit. Yah, kalau ada guru yang mengeluh gajinya kecil sementara kerjanya tanggung jawab moralnya besar, sehingga merasa kurang memadai. Sebaiknya berhenti saja jadi guru dan menjadi pengusaha. Karena pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak, pasti dari bisnis wirausaha. Menjadi seorang guru atau pendidik bukan hanya sekedar profesi saja, tetapi merupakan jalan hidup. Dan tentu saja bukan jalan yang mudah untuk dilalui.

So, jangan pernah mengharapkan penghasilan besar dan melimpah dari pekerjaan yang setengah dari job descriptionnya adalah untuk pengabdian. Tapi yakinlah bahwa dalam pekerjaan ini selain menghasilkan uang, juga menjadi ladang bagi pahala bagi yang mengerjakannya bersungguh-sungguh. Serta nama baik dimata masyarakat.

Guru tidak selalu benar dan murid tidak selalu salah. Guru tidak selalu lebih pintar dan murid tidak selalu lebih bodoh. Guru buka dewa dan murid bukan kerbau yang dicucuk hidungnya (Soe Hok Gie).

Selamat Hari Guru, Indonesia!

5 thoughts on “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Yakin?!

  1. yah, memang kita gak bisa tutup mata dengan keadaan ini. Tapi sekarang guru macam ini sudah mulai tergantikan dengan generasi muda yang lumayan punya tanggung jawab terhadap profesinya.

    • Benar sekali. Karena zaman makin maju dan canggih, orang-orang juga berkembang, guru nggak bisa terpaku dengan cara lama. Udah nggak efektif lagi.
      Dan kayak aku bilang guru bukan hanya sebuah profesi untuk mencari penghasilan, tapi jalan hidup. Karena ini juga merupakan pengabdian untuk masyarakat. Ya kan?

      • yah, saya bangga jadi bagian perubahan ini. Temen2 dan saya sendiri yg kuliah di FKIP cukup sadar diri dan punya tanggung jawab moral tinggi terkait profesi kami sebagai pengajar.🙂

  2. Baru dewasa ini saya mengerti apa artinya “pahlawan tanpa tanda jasa”, ketika saya mendengar sebuah pertanyaan yang diajukan kepada seorang guru bagaimana perasaannya tatkala murid-murid yang dahulu dididiknya menjadi sukses sedangkan kehidupan sang guru tidak banyak berubah dari dulu. Sang guru itu menjawab bahwa ia merasa bangga dan tidak butuh balasan jasa dari kesuksesan murid-muridnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s