Sengsara Tak Membawa Nikmat

Pagi ini ada kabar buruk. Istri teman sekolah nyokap meninggal tiba-tiba. Dan nyokap beserta rombongan teman-teman sekolahnya (yang juga merupakan teman-teman almarhum Papa) pergi mengunjungi rumah duka.

Dan sepulang dari situ, nyokap cerita bahwa banyak diantara pelayat dan juga keluarga almarhumah marah dan kecewa. Ceritanya begini, ternyata si almarhumah dan sang suami baru saja membangun rumah. Dimana rumah barunya ini ukurannya sangat besar plus mewah dan ia mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangga. Jadi beliau kecapekan dan mungkin kena serangan jantung atau pecah pembuluh darah di otak sehingga langsung meninggal.

So, keluarga dan kerabat dekatnya menyesali mengapa ia mengerjakan sendiri pekerjaan rumah yang begitu menguras tenaga. Padahal ia bisa saja mengupah pembantu dan mungkin saja kejadian ini tidak akan terjadi atau bisa saja dihindari.

Dan sekarang ia meninggal dan suami, anak-anak, rumah yang bagus serta seluruh hartanya tak dapat dibawa. Sia-sia saja ia berhemat ‘sedikit’ (dengan tidak mengeluarkan uang untuk menyewa jasa pembantu rumah tangga) dan (kenapa tidak mempergunakan uangnya untuk sesekali medical check up) yang akhirnya membuat dirinya kehilangan kesempatan hidup lebih lama. Kehilangan waktu untuk menikmati apa yang selama ini sudah diperjuangkannya. Padahal seharusnya saat ia bisa bersantai dan bersenang-senang bersama suaminya dan menikmati masa tua yang menyenangkan.

Well, bayangkan bila suaminya beberapa saat setelah ini menikah lagi (secara laki-laki biasanya sih begitu) dengan perempuan lain. Dan perempuan inilah yang menikmati ‘rumah bagus’ serta seluruh harta yang susah payah ia kumpulkan bersama suami. Cuma 1 kata yang bisa menggambarkannya, NYESEK.

Hm… apa yah? Aku juga nggak tahu apakah prediksi orang-orang itu benar (bahwa kematiannya akibat kelelahan mengurus rumah baru yang besar). Dan soal maut, kita nggak bisa menebak-nebak. Kalau memang sudah ajalnya datang, bisa aja melalui hal sepele yang tidak diduga.

Pelajaran positif yang bisa aku ambil dalam cerita ini (menurutku) adalah hidup itu jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Oke, kita memang harus kerja keras, berhemat dan hidup sederhana untuk mencapai kemerdekaan secara finansial. Tapi nggak juga selamanya harus ‘cekek leher’ selamanya. Jangan lupa senang-senang juga kali. Lihat saja kasus ini, betapa banyak orang-orang yang menyesali kematian si almarhumah yang terjadi cuma karena masalah sepele (well, padahal mungkin memang karena ajalnya sudah tiba). Dan tampak seperti sia-siakan semua pengorbanannya kalau ternyata malah orang lain atau perempuan lain yang menikmati semua hasil kerja kerasnya.

Guys, hidup itu cuma satu kali. Memang perlu kerja keras untuk mencapai hal yang kau inginkan tapi jangan lupa untuk menikmati hidup juga. Karena waktu kita tak banyak (kita tidak tahu kapan kita mati) dan kesempatan enggak pernah datang berkali-kali. Karena bila sudah mati tak pernah bisa kembali serta tak bisa menyesali.

2 thoughts on “Sengsara Tak Membawa Nikmat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s