The Man Who Never Leave You

“Kamu dimana? Jadi nggak jemput aku dan Wina? Kita udah nunggu sejam nih. Kalau kamu nggak bisa, bilang dong. Kitakan bisa naik taksi atau dijemput supir. ” Cecar Ananta Madiba Syahrezi dengan alis bertaut dan pelipis berdenyut, marah.

Saat ini tepat dimana sang gadis dalam siklus puncak hormonalnya. Ia sedang mengalami proses peluruhan dinding rahim sehingga tubuhnya mengalami pendarahan secara alami dan konstan selama 5-8 hari. Dan Ananta benci sekali bau darah yang anyir serta sakit kram di perut, yang selalu ia alami secara hebat.

Akumulasi dari semua keadaan ini membuat emosi Ananta meledak-ledak serta simpanan kesabarannya menipis dengan cepat. Sejujurnya tanpa mengalami siklus inipun Ananta memang bukan pribadi penyabar.

Wina sepupunya yang sedang duduk di hadapannya, di bangku coffee shop yang mereka kunjungi usai menonton dan berbelanja buku, menatapnya dengan pandangan kurang setuju. Ia tahu gadis ini sedang PMS tapi tetap saja caranya berbicara dengan Alex tunangan Ananta, tampak kasar dimata gadis berkaca mata ini.

“Kenapa sih kamu nggak pernah bisa lembut sama Alex?” Tegurnya usai Ananta memutuskan pembicaraan di telefon dengan Alex.

Ananta menarik nafas panjang dan menyesap kopi lattenya. Berharap cairan yang meluncur mulus di tenggorokannya dapat menenangkan perasaannya yang sedikit kacau.

“Seharusnya dua tahun bertunangan sudah bisa membuatmu bisa menerima Alex. Dia pria yang baik, Ananta. ” Ujar Wina dengan pandangan menasihati gadis yang lebih tua beberapa bulan darinya ini.

“Apa yang kamu harapkan, Win? Kami dijodohkan. ” Ananta mendengus kesal. Perlahan ia mengerjapkan matanya yang indah dengan bulu mata panjang serta lentik.

“Kamu tidak tahu, Win. Alex telah menyakitiku jauh lebih dari siapapun yang pernah singgah dalam hidupku. ” Bisik gadis bermata cokelat hangat ini di dalam hatinya.

“Apa kamu masih belum bisa melupakan mantanmu yang brengsek itu?” Tanya Wina dengan suara tercekat, menduga-duga.

Ananta menatap lurus pada sepupunya. Ia tahu Wina peduli padanya dan mengkhawatirkannya. Tapi Wina tidak tahu apapun sehingga Ananta tidak ingin membebaninya dengan kenyataan yang pahit.

“Aku selalu kesepian, Win. Dan lucunya, terkadang dalam kesepian, kita jadi merindukan seseorang yang tak pernah memperlakukan kita dengan baik.” Ucapnya dengan mata bersinar sedih.

Wina menatapnya horor. Mencela pemikiran Ananta yang terkadang tak bisa ia tebak dan cenderung asing dengan pilihan-pilihan yang diambil sepupunya ini.

Ananta tersenyum. Tertawa di dalam hati. Ia tahu Wina sudah berpikiran jauh terhadapnya dan salah paham. Tapi ia tak ingin meluruskannya dan membiarkan saja imajinasi gadis polos itu berkembang sesukanya.

Keduanya kembali duduk diam sambil menikmati kopi digelas masing-masing. Sementara sore sudah menjemput dan suasana coffee shop yang ramai dan hangat menyelimuti mereka. Ananta dan Wina masih menunggu jemputan Alex.

¤¤¤¤

“Kamu sudah makan?” Tanya Alex sambil menoleh pada gadis cantik di sebelahnya.

Mereka sudah mengantarkan Wina dengan selamat ke rumahnya. Dan kini sedang dalam perjalanan pulang menuju studio sekaligus tempat tinggal Ananta. Gadis ini sejak usia 16 tahun sudah hidup terpisah dari Ayahnya dan memilih tinggal di studio peninggalan Ibunya, yang juga pelukis.

Ananta yang menatap keluar jendela mobil dengan pandangan kosong dan bosan. Terusik namun tak berniat menjawab apapun.

“Kita makan dulu yuk, sebelum pulang.” Ajak Alex dengan senyuman manis. Sepasang dekik muncul dikedua belah pipinya yang mulus dari cambang.

“Aku nggak lapar, Lex. ” Ucap gadis itu tak bersemangat.

“Apa begitu sakit?” Tanya Alex lembut sambil meremas jemari Ananta yang dingin dengan tangan kirinya yang bebas.

Ananta mendesah. Mengerjapkan matanya dengan gusar. Ingin menarik tangannya namun Alex, pria itu menahan genggamannya lebih erat.

“Bahkan pria ini tahu siklus bulanannya. Benar-benar lelaki menakutkan. ” Pikirnya tidak senang.

“Apa perlu kuberikan resep untuk menghilangkan rasa sakitnya?” Tanya Alex dengan nada prihatin.

Ananta kembali mendesah. Merasa terbebani dan tak berdaya dengan semua sikap baik Alex padanya.

“Kamu nyetir aja. Aku cuma mau pulang dengan selamat, Lex. ” Kata gadis itu dengan dingin, seolah semua perhatian Alex tidak ia hargai sama sekali.

Alex terdiam. Menatap wajah Ananta yang tidak mau menoleh padanya. Ia meremas genggaman tangannya pada jemari gadis itu, lalu menariknya ke dekat wajahnya serta mengecup jari-jari Ananta yang dingin.

¤¤¤¤

Aku membenci semua perlakuan yang ditunjukkan Alex padaku. Meski semua orang menyatakan ia pria baik dan aku sangat beruntung bisa memilikinya.

Aku benci terikat dengannya. Dan aku mengutuki keadaan yang membuatku harus bertunangan dengan Dokter Alexander Ollardo yang sangat sempurna dimata keluarga dan orang-orang.

Ayahku yang ambisius, menjodohkanku dengan putra sahabatnya. Seorang Dokter yang punya otak cemerlang dan karir yang bagus. Yang dapat menjadi penerusnya dan mengelola jaringan rumah sakit Green Leaf. Sekaligus suami bagi satu-satunya anak Ayahku, yaitu diriku.

Sedari dulu aku tidak pernah tertarik menjadi Dokter seperti Ayahku, apalagi mengelola rumah sakit Green Leaf. Membuat Ayah kecewa dengan pilihanku yang lebih suka tenggelam dalam sastra dan melukis.

“Persis seperti Ibunya. ” Begitu kata Ayahku setiap mengomentariku dengan hal-hal yang tak disukainya.

Sedihnya, aku bahkan tidak ingat lagi seperti apa sosok ibuku dahulu. Ia pergi meninggalkan Ayahku dan aku. Melarikan diri dengan lelaki lain, mungkin lelaki yang ia cintai dan memperlakukan dirinya dengan layak. Aku tak menyalahkannya. Karena meski saat itu aku masih terlalu muda tapi aku mengerti bahwa Ibuku tak bahagia bersama Ayahku. Dan Ayah bukanlah lelaki baik seperti yang diketahui orang-orang. Aku tahu itu.

Ayahku yang pahit, membesarkanku dengan kemarahan dan rasa malu yang diakibatkan oleh kepergian Ibuku. Sehingga membuatku menjadi pribadi yang sama pahitnya dengan Ayahku. Aku adalah produk dari rumah tangga yang kacau dan akupun menyadari betapa rumitnya hati serta pikiranku kelak.

Tetapi bukan karena semua masalahku ini maka aku membenci Alex, pria yang dipaksakan padaku. Tadinya aku sempat punya harapan padanya. Tadinya aku berharap Alex berbeda dengan mantan-mantanku terdahulu dan terutama Ayahku. Tapi pada kenyataannya Alex jauh lebih parah dibandingkan dengan semuanya.

Alex adalah serigala rakus yang berada di kandang domba. Dan domba tersebut adalah domba yang bodoh serta tak berdaya. Alex sudah memenangkan semuanya, meski aku tahu kebenarannya seperti apa.

¤¤¤¤

Ananta Madiba Syahrezi. Gadis cantik dengan kepribadian sedingin Ratu Es di Kutub Utara. Putri tunggal pemilik rumah sakit Green Leaf. Sosoknya sempurna dengan sifat tak tertebak serta berbahaya. Membuatku selalu berpikir keras, apa yang ada didalam benak cerdas gadis ini.

Ia adalah salju abadi yang tidak bisa mencair meski sudah berkali-kali kuperlakukan dengan hangat dan penuh kasih sayang. Entah terbuat apa hatinya sehingga tidak pernah bisa terpengaruh dengan sikap baikku. Ananta adalah tantangan yang paling berat dan tak tergoyahkan. Menaklukkannya sudah menjadi misi seumur hidupku dan juga obsesiku. Mungkin karena sikap dinginnya itulah yang membuatku tak pernah bosan padanya dan menganggapnya menarik.

Atau apakah gadis itu terlalu pintar untuk kubodohi dengan sikap baikku yang palsu. Yah, palsu. Karena jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu dengan pasti bahwa aku bukan malaikat seperti yang selama ini disanjung oleh semua orang. Aku adalah sosok manipulatif dan ambisius. Mudah saja bagiku untuk tersenyum manis layaknya orang suci dengan pikiran kotor penuh kata-kata makian. Aku adalah orang seperti itu. Dan tak banyak orang yang menyadari kepalsuanku.

Dan Ananta, si gadis es ini meskipun mungkin ia mengetahui sisi hatiku yang gelap. Ia tidak pernah bisa melepaskan diri dari ikatan pertunangan kami. Ia tak berkutik dalam genggaman kuasa Ayahnya yang begitu memujaku. Dan kelak ketika kami menikah, ia pun akan beralih dalam genggaman kendaliku. Ananta yang cantik serta dingin, aku akan memilikinya dan menguasainya habis-habisan hingga tak bersisa apa-apa.

Aku tersenyum. Membayangkan betapa nikmatnya memiliki kuasa tak terbatas pada gadis sombong ini. Membuatnya merasakan sakit serta senang dengan kedua belah tanganku sendiri. Oh, Tuhan…rasanya aku tak sabar menunggu saat itu tiba. Saat dimana Ananta menjadi milikku secara sah dan aku tidak akan pernah membiarkannya lepas dari diriku. Selamanya.

¤¤¤¤

Ananta membuka pintu mobil dan segera turun. Hanya gadis ini yang tidak mau menunggu dibukakan pintunya oleh Alex. Dan tanpa basa-basi ia berjalan kearah pintu studionya dan mengetikkan kombinasi password dikunci elektrik pintu.

Ia sedikit terkejut karena Alex mengikutinya masuk. Namun ia memilih tak mengatakan apapun.

Ruangan besar dan lenggang dengan sentuhan minimalis. Dengan dinding berwarna gelap serta banyak lampu uv yang berwarna biru. Ada dinding kaca satu arah yang tembus ke halaman samping yang ditata indah. Tak banyak perabotan yang ada di ruangan studio milik Ananta.

Ada sebuah dapur terbuka disudut dekat pintu keluar, menuju halaman samping. Bar dengan empat kursi tinggi yang terbuat dari besi, tempat gadis ini biasa menjamu tamunya sekaligus berfungsi sebagai meja serta kursi makan.

Ada sebuah kamar mandi mewah dengan bathtub vintage serta sebuah ruangan walk in, tempat gadis ini menyimpan pakaian dan memajang tas, sepatu juga koleksi aksesori dan perhiasannya. Dan sebuah ranjang king size dengan kayu jati hitam dengan model sederhana. Yang hanya ditutupi dengan sekat kaca dan tirai.

Selain itu ruangan di studio ini adalah tempat melukis yang penuh dengan cat dan kanvas. Juga tempat meeting serta penyimpanan lukisan di loteng, tepat di atas kamar tidur, dengan tangga kayu yang juga berfungsi sebagai laci-laci penyimpanan.

Ananta sangat menyukai studionya ini dan protektif dengan siapa saja yang boleh memasukinya. Tak sembarangan orang diizinkan masuk kemari. Selain gadis itu memang tidak memiliki banyak teman karena lebih banyak menghabiskan waktunya dengan home schooling. Dan Alex, dengan tidak tahu malu menginvasi kenyamanannya ditempat ini sejak menjadi tunangannya.

Ananta mengambil air minum dingin dikulkas sambil mengamati Alex yang bersandar nyaman di sofa kulit warna cokelat. Ia menghidupkan TV dengan suara keras dan mencari channel yang menayangkan pertandingan bola.

“Sayang, aku mau teh hangat dong. ” Pintanya tanpa menoleh pada gadis yang terlihat kesal menatapnya.

Ananta mendesah lalu mengambil cangkir mug, membuat teh kental dalam poci sedang. Serta menyediakan cemilan untuk diminum dengan teh.

Gadis itu membawa minuman tersebut dalam baki dan meletakkannya di nakas sebelah sofa. Ia melirik pada Alex yang tersenyum manis padanya dan berterima kasih.

Ananta berbalik meninggalkannya. Memasuki closet walk in dan menuju kamar mandi. Mandi dan menyikat gigi serta berganti pakaian dengan gaun tidur yang sopan serta sederhana. Ia lelah dan ingin beristirahat.

Kram di perutnya mulai muncul lagi dan ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Serta menarik selimut menutupi tubuhnya sampai kedada. Ananta meringkuk, menahan sakit perutnya dan mencoba untuk tertidur.
Tengah malam ia terbangun dan merasa sangat haus. Suasana kamar tampak remang-remang dan sepi. Mungkin Alex sudah selesai menonton dan memutuskan pulang tanpa membangunkannya.

Ananta bangkit dari tidurnya namun sepasang tangan kokoh memeluk erat bahunya. Cepat ia menoleh ke samping. Alex tertidur disisinya dan sebelah tangannya mengganjal kepala gadis ini.

“Alex!” Pekik Ananta marah. Ia menguncang bahu pria yang sudah menjadi tunangannya ini.

Mata pemuda tampan ini berkedip lalu terbuka. Kesadarannya langsung muncul dan ia membalas tatapan Ananta saat itu juga.

“Kau sudah baikan?” Tanyanya dengan lembut.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Ananta tidak peduli.

Alex tersenyum dan dengan gerakan santai ia merapikan rambut Ananta yang meriap menutupi wajah cantiknya.

“Kamu cantik saat tertidur. Dan lebih cantik lagi saat terbangun. Lalu saat kamu marah seperti ini, aku jadi tak sabar menjadikanmu milikku. ” Ujarnya dengan nada suara terkendali dan tak terkesan merayu sedikit pun.

Ananta menepis tangannya dan duduk dengan ekspresi wajah tidak suka.

“Turun dari ranjangku, sekarang juga. ” Sergah gadis itu dingin.

Alex mendesah namun di dalam hatinya, ia nyaris berteriak kegirangan. Ia menantikan perlawanan gadis yang sangat menarik dimatanya ini.

“Maaf kalau kamu marah. Tadinya aku ingin pulang tapi saat kulihat, kamu sepertinya sangat kesakitan. Akhirnya aku jatuh tertidur karena ingin menjagamu. ” Gumamnya perlahan dan tak menunjukkan motif buruk sama sekali.

Ananta mengerjapkan matanya dengan cepat. Berusaha menahan kemarahannya karena menemukan lelaki ini di tempat tidurnya dan memeluknya intim.

“Pergi. ” Bisiknya kelam dengan wajah memerah menahan emosi.

Alex menatapnya dengan alis terangkat sebelah.

“Kenapa kamu begitu marah, Ananta? Aku ini seorang dokter. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud apapun. ” Ucapnya perlahan, wajahnya menyiratkan keheranan.

Gadis itu membuang muka ke samping. “Kau tahu benar, alasannya. Sekarang segera keluar dari rumahku. ”

Alex bergeming. Ia duduk dan melipat tangannya, menatap Ananta dengan pandangan menusuk tajam.

“Kamu selalu membenciku dan menganggapku salah. Mengapa?” Tanyanya keras kepala.

Ananta menoleh padanya dan tersenyum sinis. “Tak perlu alasan. Karena kamu adalah kamu.” Ucapnya tak berperasaan.

Alex meraih bahu gadis itu, menunduk. Memerangkap pandangan Ananta, agar hanya tertuju padanya.

“Kita tetap akan menikah walau apapun pandanganmu terhadapku. Kamu sadar hal itukan?” Pria tampan dengan lesung pipi ini tersenyum manis padanya, seolah sedang berbicara tentang hal lumrah. Membuat Ananta merasa sangat muak.

“Kamu…menjijikkan…” Bisik gadis itu pada akhirnya. “Cuma kamu yang bisa mengatakan hal buruk dengan wajah tanpa dosa. Dan aku sangat membencimu. ” Kecamnya.

Alex kembali tertawa lirih, membelai lembut pipi Ananta yang memerah alami. Gadis itu mendengus, sangat marah.

“Cuma kamu yang bisa melihat langsung ke dalam hatiku, Ananta. Entah itu sebuah karunia atau malah kutukan bagimu. ” Desahnya tanpa malu-malu lagi.

Ananta menggertakkan giginya dan bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan melewati Alex yang berada disisi kirinya. Namun pria disisinya tak membiarkannya begitu saja. Menyambar tubuhnya hingga Ananta jatuh dalam pelukannya lagi.

Gadis itu menatapnya marah dan siap dengan seluruh tenaga untuk memberontak.

“Ana, aku tahu kau sangat bisa menyusahkanku saat ini. Tapi kumohon, jangan buang tenagamu untuk melakukan hal sia-sia. Aku sangat impulsif sayang, kalau kau bertindak sekeras itu. Aku tak bisa menjanjikan dapat menahan keinginanku untuk membuatmu jinak.” Alex menatap gadis itu dengan pandangan keras sekaligus penuh perhitungan. Menebarkan ancaman dengan bibir yang masih menyunggingkan sebaris senyum.

¤¤¤¤

“Ayah, akut tidak mau menikah dengannya. ” Ananta mendelik lebar pada Alex yang duduk di seberangnya.

Gadis itu menoleh pada Ayahnya yang duduk diujung meja. Profesor Arafah Syahrezi, pria usia 63 tahun yang sudah menjadi seorang Dokter sekaligus pemilik rumah sakit terbesar dan tercanggih di kota ini serta di Indonesia. Green Leaf juga memiliki Univesitas Kedokteran yang akreditasinya A dan setara dengan lulusan dari Universitas luar negeri.

“Kamu harus menikah dengan Alex. ” Ujar Ayahnya sambil menautkan kedua belah tangannya dibawah dagu bulat miliknya.

Gadis itu tampak terluka dengan perkataan pria tua ini. “Apakah Ayah tidak ingin bertanya, mengapa aku menolak menikahi pria ini?” Tanyanya dengan suara bergetar penuh kesedihan.

Ananta menoleh marah pada Alex yang menatapnya dalam diam.

“Ananta…” Seru Ayahnya tidak suka.

Gadis itu tertawa dengan suara tercekat. Membuang pandangannya menatap kearah lain. Menutupi air mata menggenangi pelupuk matanya yang indah.

“Pada akhirnya, Ayah lebih mementingkan Green Leaf dan penerusnya dari pada kebahagiaan putri Ayah sendiri. ” Keluhnya pada sang Ayah, yang tetap tenang dan tak terpengaruh dengan reaksi Ananta.

Gadis itu bangkit dari duduknya dan menahan air matanya agar tak tumpah.

“Aku tidak akan menikahimu, Alex. Kau boleh memiliki semua warisan Ayahku serta Green Leaf. Aku tidak peduli. ” Putusnya keras kepala dan tak terbantahkan.

Ia melangkah ke pintu, hendak segera keluar dari ruangan kerja milik Arafah dan meninggalkan kedua pria yang sangat dibencinya ini.

“Apa kau siap kehilangan semuanya? Termasuk studio itu. ” Ucap Ayahnya dingin.

“Apa?” Ananta berbalik, memandang pria tua itu tidak percaya. “Apa maksud Ayah?” Suaranya bergetar.

Arafah Syahrezi membalas tatapan putrinya dengan wajah tanpa ekspresi. “Dan hal pertama yang harus Alex lakukan adalah merobohkan bangunan studio tersebut sampai rata. ”

“Ayah tidak bisa…” Teriak Ananta kalap. “Itu warisan dari Ibu. Ayah tidak punya hak atas studio itu. Itu milikku. ” Jeritnya dengan tubuh gemetar, marah.

“Maaf, Ananta. Ayah sangat bisa melakukannya. ” Balasnya tenang seolah tak terpengaruh dengan kemarahan gadis cantik ini.

Ananta berdiri dengan kaku, menatap Alex dengan pandangan muak dan nyaris muntah. Lalu ia beranjak pergi dengan membanting pintu sekeras yang ia bisa.

Kedua pria ini terdiam cukup lama setelahnya.

“Ia akan berubah pikiran. ” Ucap Arafah Syahrezi pada Alex, calon menantu pilihannya.

“Tolong jaga Ananta, Lex. Hanya kau yang mampu dan bisa kupercaya untuk menjaga Ananta serta seluruh warisanku. Kumohon. ” Pria tua itu tampak penuh perasaan saat mengucapkan kalimat tersebut dan menatap Alex tajam.

“Aku berjanji, Ayah. ” Alex bersungguh-sungguh dengan perkataannya kali ini.

“Keadaanku tak baik. Dan Ananta tak perlu tahu itu. ” Ucapnya lagi.

Alex menarik nafas panjang. “Ayah tak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. ” Janjinya pada pria tua yang akan segera menjadi mertuanya ini.

¤¤¤¤

Gadis cantik, Ananta Madiba Syahrezi berbaring menyamping dengan wajah penuh air mata. Tubuh telanjangnya terbalut selimut tebal dengan keadaan jiwa dan raga, luluh lantak. Karena seorang lelaki bernama Alexander Ollardo, putra bungsu dari Gregorian Ollardo, seorang pengusaha kaya pemilik Orion air ways.

Dan Alex, pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya, tersenyum puas disampingnya. Ia sudah menang, ia mendapatkan semua yang diinginkannya.

Ini malam pertama pernikahan mereka dan Alex sudah memiliki Ananta dengan paksa. Seperti ia juga telah berhasil menggagahi Ananta yang kedua tangannya terikat tali dikepala ranjang, tempat tidur miliknya sendiri di studio.

Alex merasa tidak perlu menutupi apapun dari Ananta lagi. Tanpa takut dan rasa malu, ia menunjukkan keseluruhan jati dirinya yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun. Pria jenius yang gila kontrol, manipulatif serta punya kecenderungan obsesif terhadap Ananta. Yang entah itu cinta atau ketergila-gilaan sesaat.

Ia akan mengajarkan gadis yang telah menjadi istrinya kini, berbagai hal yang tak pernah dibayangkan Ananta. Cara-cara mencapai kesenangan untuknya dan juga Ananta. Menguasai Ananta serta mengendalikan hidup gadis itu seutuhnya.

Alex menyeringai puas. Belum pernah ia merasa senang dan sebahagia ini. Bukan karena ia kini menjadi penerus yang menguasai Green Leaf, tapi karena Ananta. Gadis itu sudah terikat dengannya dan Alex tidak akan pernah melepaskannya sampai mati demi apapun juga.

Pria itu membelai punggung telanjang gadisnya. Alex tahu Ananta belum tidur dan diam-diam menangisi keadaannya. Kejadian yang baru saja terjadi pasti tak mudah bagi gadis cantik ini. Harga diri Ananta juga kebanggaannya hancur berkeping-keping dimalam jahanam ini. Dan semua itu dilakukan Alex dengan sengaja, demi kepuasaannya sendiri.

¤¤¤¤

Sudah tiga hari Ananta berkutat dengan lukisannya. Tidak istirahat, tidak makan dan minum serta lupa dengan segala hal. Membuat khawatir bibi yang biasa membersihkan studionya, dan mengadukannya pada Alex yang baru saja pulang dari berpergian selama berhari-hari.

Alex segera pulang kestudio yang kini juga sudah menjadi rumah baginya. Buru-buru ia memasuki ruangan besar tempat istrinya berada.

“Sayang…” Panggil Alex pada Ananta yang tampak terdiam di depan kanvas basah.

Pelan-pelan pria itu mendekati wanita yang telah ia perjuangkan hingga kini. Menyentuh bahunya lembut. Tapi Ananta tidak bergeming ataupun menoleh padanya.

Alex menariknya hingga berbalik. Ia memandang lekat-lekat Ananta yang tampak telah kekurangan beberapa kilogram berat badannya lagi, serta berwajah lelah dan kuyu. Ini bukan pertanda baik, bahkan bila dilihat dengan mata awam.

“Kau tampak sakit, Ana. ” Katanya tak menyembunyikan cemasnya.

Alex tampak khawatir pada istrinya. Nyaris setahun setelah mereka menikah, Ananta berubah drastis. Emosinya yang dahulu selalu meledak-ledak kini telah hilang. Ia jarang berbicara pada Alex. Selalu diam dan apatis. Dan begitu penurut pada Alex.

Ananta Madiba Syahrezi, sang Ratu Es Kutub Selatan tidak mencair. Ia justru menghilang dan hanya meninggalkan raganya saja. Gadis itu sudah tak berjiwa lagi. Ia sudah hancur dalam rengkuhan pria yang menjadi suaminya.

“Apa yang terjadi, Lex?” Tanya Dokter yang sedang merawat Ananta pada Alex. “Istrimu depresi berat dan ia tidak mau mengatakan apapun yang membuatnya jadi seperti itu. ”

Alex membalas tatapan Dokter senior yang juga merupakan kakak kelasnya saat kuliah. Ada keresahan disudut matanya apalagi dilubuk hatinya.

“Jangan biarkan Ananta sampai depresi berat, Lex. Kudengar Ibunya juga seperti itu dahulu, bahkan hingga mencoba bunuh diri berkali-kali. Jadi besar kemungkinan dia…”

“Aku tahu, Dok. ” Potong Alex dengan cepat. Ia sangat menyadari hal itu melebihi siapapun di dunia ini.

Dokter senior itu mengikuti pandangan Alex dengan iba. Menatap gadis cantik yang sedang tertidur pulas karena pengaruh obat, kelelahan secara fisik dan mental. Untuk pertama kali Alex tampak terpukul dan menyesal.

“Aku tak bisa kehilangan dia, Dok. ” Ungkap Alex dengan tegas.

“Kalau begitu buat ia menyadarinya dan membalas perasaanmu. Aku nggak tahu apa yang kalian tengah hadapi tapi sebagai seorang pria yang juga sudah menikah, aku bisa memberimu saran Lex. ” Kata Dokter tersebut memberinya nasihat. “Hati wanita sebenarnya mudah saja, Lex. Ia bukan kuda yang harus dijinakkan, juga bukan tanaman yang harus selalu diberi perhatian dan dirawat. Hati wanita adalah lubang kunci, kau harus menemukan kunci yang tepat untuk membukanya. Lalu mengetahui apa isi hatinya yang tersembunyi selama ini. ”

¤¤¤¤

“Kita mau kemana?” Tanya Ananta untuk kesekian kalinya.

Ia melirik keluar jendela, melihat kekiri dan kanan jalanan yang penuh dengan pepohonan dan belukar semak. Sepertinya mereka menjauhi pusat kota dan menuju daerah pinggiran. Tempat asing yang tak pernah ia datangi sebelumnya.

Alex tersenyum dan meremas jemarinya, seperti kebiasaannya selama ini saat menyupiri mobil untuk Ananta.

“Ketempat yang harus kita kunjungi sejak lama. ” Jawabnya berhati-hati.

Ananta menoleh padanya. “Aku mengenali nada suaramu, Alex. Dan itu bukan sesuatu yang bagus. ” Ujarnya berprasangka.

Alex tersenyum padanya sembari berkonsentrasi menyetir. “Kau benar, Ananta. Ini bukan sesuatu yang menyenangkan tapi ini sesuatu yang harus kulakukan, sayang. ” Bisiknya dalam hati.

Ananta menatap gundukan tanah dengan nisan berwarna kuning gading. Tubuhnya limbung pada Alex dan wajahnya tampak pias, pucat dan berkeringat.

“Ini kuburan Ibumu, Sayang. ” Bisik Alex lembut padanya.

“Ibu tidak pernah lari dengan lelaki lain. ” Pria ini memberitahukannya dengan hati-hati. “Beliau depresi berat dan berulang kali mencoba bunuh diri. Hingga suatu hari ia tak bisa tertolong lagi. Dan Ayah yang terluka, tak ingin menyakitimu lebih dalam. Jadi ia membiarkanmu berpikir Ibu lari mencari kebahagiaannya sendiri. ”

Ananta masih dengan wajah pucat dan tak mengerti, menatap batu nisan yang tertulis nama ibunya beserta tanggal kelahiran dan kematiannya.

“Ibu…” Ucapnya lemah. “Kupikir selama ini…”

Air mata perlahan turun membasahi wajah cantiknya. Ananta tergugu sedih, berjongkok di sebelah nisan batu tersebut. Tubuhnya gemetar oleh kesedihan.

“Ibu…” Panggilnya dengan suara tercekat. Ia menangis, terisak-isak. Penuh penyesalan.

Alex memeluknya, menarik kepalanya untuk bersandar di dadanya. Ananta tak menolak dan membiarkan air matanya luruh dibaju suaminya.

“Aku nggak mau kehilangan kamu. Seperti Ayah kehilangan Ibumu, Ana. ” Ucapnya lembut di telinga istrinya. “Kamu harus mengerti meski aku melakukan segala hal dengan caraku, aku selalu serius padamu. Kamu yang paling penting bagiku, di atas segalanya. Tolong yakini itu sayang. ”

Alex mengusap-usap punggung Ananta yang menangis tersedu. Terkejut serta tak percaya dengan kenyataan bahwa Ibunya sudah lama tiada.

¤¤¤¤

Ananta duduk sambil memeluk kedua kaki jenjangnya di sofa cokelat. Hujan turun dengan deras dan gadis itu terdiam menatapi aliran air yang tercetak di dinding kaca.

Alex menyampirkan selimut, menutupi kedua belah bahunya yang tampak rapuh.

“Apakah Ayah akan baik-baik saja?” Tanyanya tanpa menoleh pada suaminya.

Alex meletakkan sebelah tangannya, melingkari pinggang istrinya. Setengah memeluk Ananta.

“Ayah pasti bisa melewatinya. Ayah lelaki kuat yang selama ini mengelola 15 rumah sakit, 3 buah Universitas serta seorang putri yang teramat keras kepala. ” Ujarnya sambil menaruh dagunya dibahu Ananta.

“Kuharap begitu. ” Bisik gadis itu pelan.

Suasana studio meskipun lengang dan sepi, kini lebih memancarkan kehangatan. Sudah setahun tujuh bulan mereka tinggal berdua disini dan menjalani hidup sebagai suami istri.

“Aku ingin kita berpisah. ” Ucap gadis itu dengan tegas dan hati-hati.

Alex tercekat, perlahan tubuhnya menegak. “Apa maksudmu, Ananta?” Tanyanya sambil menahan amarahnya yang menggumpal didadanya.

Ananta menarik nafas panjang dan menoleh padanya. Tatapan gadis itu tampak lelah dan juga kecewa tapi tak ada kemarahan.

“Kau boleh memiliki segala hal yang diwariskan Ayah. Dan aku hanya ingin bebas darimu. ”

Alex semakin gusar, mendengar perkataan Ananta yang dingin itu.

“Apa kau pikir aku menikahimu hanya demi harta ayahmu saja?” Sergahnya marah. Ia mencengkram bahu gadis itu.

Ananta mendongak, menatap Alex dengan pandangan tak bisa dibaca.

“Kau tahu alasan aku membencimu?” Tanyanya seolah tak peduli dengan kemarahan pria yang sudah menjadi suaminya selama beberapa saat ini.

“Aku melihatmu keluar dari kamar hotel dan mencium wanita yang bersamamu, penuh hasrat. Tepat sehari setelah pertunangan kita tanggal 15 Juni 2010, kuharap kau belum lupa hal itu Alexander Ollardo. ”
Alex terdiam. Dan ia sangat terkejut dengan kenyataan yang baru diketahui saat ini.

“Ana,…itu tidak berarti apapun…hanya masa lalu dan aku saat ini…”

“Itu menghancurkan hatiku, Lex. ” Potong gadis itu dengan suara tenang dan terkendali. “Aku tak bisa melupakannya. Kejadian itu terus mengahantuiku seolah mengejek nasibku yang malang. Betapa tak berharganya diriku dimata lelaki yang dijodohkan denganku. Itulah yang kurasakan hingga kini. ”

“Ana…aku mencintaimu sayang. ” Cecar Alex dengan panik. Ia menarik Ananta dalam pelukannya. Membenamkan wajahnya dalam kumparan rambut ikal gadis itu. “Kau segalanya bagiku. Tolong maafkan aku.” Bisiknya impulsif dan berjejak takut.

Ananta mendorong dada Alex dan menyembunyikan ekspresi wajahnya, yang terluka.

“Aku lelah, Lex. Aku tak bisa membedakan mana yang benar dan apa-apa yang merupakan kebohongan dalam hidupku. Tolong kali ini saja, kumohon bebaskanlah aku. ” Pintanya bersungguh-sungguh.

Alex menatap langsung pada mata gadis itu yang bersinar penuh pengharapan juga rasa sedih. Pria itu menggeleng. Mengoyangkan kepalanya dengan keras.

“Tidak…” Bisiknya pada Ananta. “Aku tidak akan dan tak bisa, Ana. ”

¤¤¤¤

“Ayah…” Ananta memeluk pria tua yang sedang dalam masa pemulihan usai kemoterapi kelima kalinya.

Pria tua itu tersenyum dan menatap putrinya sayang. Hubungan keduanya pada akhirnya membaik dan Ananta tak lagi membencinya seperti dulu. Ia melirik pada Alex yang menyusul istrinya belakangan. Keadaannya terlihat tak rapi dengan wajah lelah.

“Ayah terlihat lumayan. ” Ujarnya mengomentari pria tua itu tanpa memperdulikan pria yang mengikutinya sedari tadi.

“Suamimu terlihat kacau. ” Gumam Ayahnya padanya.

Ananta terdiam dan Alex lebih diam lagi. Sepasang suami istri ini memang tak berkata apapun kepada Arafah Syahrezi beserta keluarga lainnya. Namun intuisi seorang Ayah yang membesarkan anak tanpa pendamping selama bertahun-tahun, tak bisa dibohongi.

“Wina bilang Alex tak ada saat ia berkunjung ke studio. Dan gadis itu bersumpah melihat menantuku tidur di ruang kerjanya, di rumah sakit.” Cecar Arafah dengan wataknya yang keras dan tak mau menyerah.

“Kami hanya sedikit bertengkar, Ayah.” Ucap Alex tersenyum, berusaha menenangkan mertuanya.

“Kuharap begitu. ” Tegas pria tua ini sambil memandangi mereka, satu sama lain. “Tak ada perceraian diantara kalian. Jangan pernah berpikir seperti itu atau mencobanya. ”

Ananta mendesah. Dan Alex tampak berpuas diri dengan tersenyum diam-diam.

“Aku merindukanmu, ” bisik pria itu pada istrinya saat mereka berada di lift. Usai menjenguk Ayahnya Ananta di ruang rawat pemulihan pasien kanker.

Gadis itu hanya menunduk dan terdiam. Raut wajahnya tampak tak peduli dan ia terlihat pucat.

“Sayang, kau tak tampak sehat. ” Ujarnya sambil mengawasi Ananta dari dekat. Ia menarik istrinya lebih rapat padanya.

“Apa kau makan dengan teratur? Apa kau cukup istirahat?” Alex menanyainya bertubi-tubi. Ia meraba kening Ananta yang basah oleh keringat dingin.

Gadis itu masih diam meski tak menolak sentuhan dari Alex dan ia mencoba memejamkan matanya. Sudah beberapa hari ini ia merasa pusing dan mual namun enggan memeriksakan diri. Karena Alex pasti akan menggunakan alasan ini untuk mendekatinya lagi.

Ting.

Lift berhenti di lantai dasar dan satu persatu orang keluar dari pintu secara tertib. Ananta merasa goyah saat akan melangkah keluar dan kepalanya seperti diguncang. Tiba-tiba tubuhnya lemas dan Alex secepat kilat menangkapnya.

“Ana…” Serunya khawatir.

¤¤¤¤

“Kau hamil. Sudah 5 minggu, sayang. ” Ucap Alex pada Ananta yang berbaring dalam diam diranjang rumah sakit.

Gadis itu tidak membalas tatapan suaminya. Masih mencerna perkataan Alex yang menyatakan bahwa ia hamil. Ada kehidupan yang tumbuh di dalam perutnya. Seorang anak. Ia akan memilikinya, pria ini juga.

“Ini semakin meneguhkanku untuk tidak akan berpisah denganmu. ” Gumam Alex padanya.

Ananta memejamkan matanya. Berusaha mengusir rasa panas yang menjalari matanya. Ia tak ingin menangis apalagi dihadapan pria mengerikan seperti Alex.

Alex meremas lembut tangannya. Dan mengecup jemarinya lembut.

“Berusahalah untuk tak terlalu membenciku. ” Bisiknya pada gadis yang sedang lemah ini.

Alex tidak akan memaksa Ananta membalas cintanya, ia hanya meminta istrinya untuk lebih bersabar padanya. Ia menyadari cinta sepihak ini adalah pemaksaan terhadap gadis yang sangat diinginkannya ini. Tapi seorang Alex tidak peduli. Ia akan mengambil apa yang ia mau dan memilikinya dengan segala cara. Dan Ananta adalah satu-satunya hal yang tak akan pernah ia lepaskan di dunia ini.

Gadis itu adalah sumber kegilaan dan juga kelemahannya. Meski Ananta tidak bisa mengerti ataupun menerima, Alex tidak akan mempermasalahkannya. Selama Ananta tetap disisinya, sebagai miliknya.

Alex dan Ananta saling terjerat dan tak ada yang bisa melepaskan itu. Setidaknya bagi Alex, ia tidak akan mau dan bisa lepas lagi.

¤¤¤¤

Apakah kebahagian itu abadi? Apa hidup seharusnya tak punya masalah? Tertarik mengetahui bagaimana kisah Ananta dan Alexander? Berikut adalah cerita lain tentang mereka dalam The Man Who Never Let You Go http://t.co/pVVt4bUeDs. Silahkan dinikmati….

One thought on “The Man Who Never Leave You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s