The Man Who Never Let You Go

Kisah ini dimulai pada The Man Who Never Leave You http://t.co/buko0LcdUe, dimana Alex memaksa Ananta menjadi miliknya. Hingga gadis itu merasa lelah hidup bersama suami hasil perjodohan oleh Ayahnya. Dan berikut adalah kisah mereka selanjutnya, yang tak kalah seru untuk dicermati

¤¤¤¤

Ananta memeluk Aryan dengan erat, memutar-mutarnya hingga bocah lelaki berusia tiga setengah tahun itu memekik gembira.

Wanita cantik itu tersenyum dengan mata berbinar bahagia. Mengecup pipi gembul Aryan yang memiliki sepasang dekik seperti Ayahnya, Alexander Ollardo.

Alex mendesah. Menatap keduanya dari dinding kaca ruang kerjanya, di kediaman mereka.

Ada perasaan hangat yang menyusup ke jantungnya. Melihat istrinya begitu hidup dan bahagia. Serta bangga pada bocah lelaki kecil yang sangat memuja Ibunya hingga terkadang membuatnya sedikit cemburu melihat keposesifan putranya.

Tiba-tiba Ananta menoleh kearahnya. Sejenak pandangan mata mereka saling bertumbukan dan seulas senyum kecil milik Ananta terkembang. Istrinya melambai dan Aryan mengikuti gerakan Ibunya, melambai pada Alex. Pria ini menyeringai, senang.

Alex yang kini telah menjadi Direktur Utama jaringan rumah sakit dan Universitas Green Leaf selama beberapa tahun belakangan ini, ia lebih suka bekerja di rumahnya agar bisa dekat selalu dengan istri dan putranya. Sehingga ruangan kerjanya di rumah, benar-benar sudah seperti kantor saja.

Ananta tidak keberatan meski suaminya tetap mempunyai jam kerja yang sibuk. Ia sendiri sudah cukup sibuk mengurus Aryan yang hiperaktif serta tetap melukis di ruang studionya yang baru. Tepat di sebelah ruang kerja suaminya.

Mereka tidak lagi tinggal di studio milik Ananta sejak memiliki Aryan. Alex membeli sebuah rumah yang indah dan mempunyai halaman luas serta kolam renang. Secara khusus ia membuatkan ruang melukis untuk istrinya sehingga wanita itu tetap bisa melakukan hal yang menjadi hasratnya. Dan keuntungannya, ruang kerja Alex dan ruang melukis Ananta hanya dipisahkan sekat kaca, sehingga ia selalu dapat melihat istrinya saat wanita itu sibuk distudio barunya.

¤¤¤¤

Ananta menidurkan Aryan di kamarnya, yang bernuansa warna biru dengan gambar-gambar pesawat, langit, awan serta matahari. Ia yang merancang sendiri dan membuat detil isi di kamar putra pertamanya ini.

Aryan, bocah yang sangat mirip dengan Ayahnya itu sudah tertidur pulas di ranjangnya yang hangat. Ananta merapikan selimutnya, mengecup kedua belah pipi gembul anaknya. Tersenyum sambil mengelus rambut cokelat Aryan.

Ia menoleh pada Alex yang bersandar dipintu, menatap keduanya penuh cinta.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya istrinya padanya.

Pria itu tersenyum.

“Betapa bersyukurnya aku pada hidup atas segala hal yang aku miliki saat ini dan kelak. ” Ucapnya bersungguh-sungguh.

Ananta menatapnya dalam-dalam dan hanya diam. Ia bangkit dan berjalan kearah suaminya.

Lalu Alex menggamit bahu istrinya dan mengajaknya berjalan, bersisian menuju kamar tidur mereka.

Alex bahagia dengan hidupnya serta pilihannya. Dan Ananta juga. Meskipun Alex tidak pernah tahu apakah Ananta sudah mencintainya atau belum, tapi wanita itu tetap berada disisinya dan itu sudah cukup bagi pria ini. Istrinya tampak sangat menyayangi putranya dan bahagia dengan kehadirannya.

“Aku mencintaimu Ana..” Bisik pria ini sambil memeluk istrinya di ranjang ukuran besar mereka.

“Hmm…” Ananta hanya bergumam tidak jelas. Ia sudah setengah tertidur dalam rengkuhan pria pertama yang telah lama memilikinya ini.

Alex mengecup bahu telanjang istrinya dan menenggelamkan hidungnya dalam kumparan rambut ikal panjang milik Ananta yang wangi.

“Surga itu benar ada dan saat ini ia nyata bagiku. ” Syukurnya di dalam hati.

Pernikahannya tak selalu berjalan mulus. Kadang kala mereka bertengkar dan Ananta marah besar padanya. Tapi Alex walaupun semarah apapun pada istrinya, tak pernah sekalipun ia berniat melepaskan wanita ini. Meski Ananta tak bisa mengerti betapa dalam perasaan Alex padanya, pria ini tidak peduli.

Hal yang paling menyesakkan bagi pria ini adalah saat Aryan berusia dua tahun dan Ananta hamil lagi. Ia senang sekali dan istrinya juga gembira. Walau masa kehamilan Ananta selalu berjalan sulit bagi istrinya. Sayangnya Ananta mengalami keguguran dan itu mematahkan hati keduanya.

Ananta terpukul dan Alex berusaha membesarkan hatinya. Pria itu sendiri juga sedih kehilangan anak kedua mereka tapi ia berusaha kuat demi istrinya yang lebih labil. Ia tidak mau Ananta menyalahkan dirinya sendiri hingga kembali depresi.

Alex menjaga wanita yang sangat ia cintai itu dan menjanjikan mereka masih bisa mendapat kesempatan ketiga, keempat atau bahkan kelima. Tetapi dibandingkan memiliki anak lagi bagi Alex, kesehatan dan kebahagiaan Ananta jauh lebih penting.

¤¤¤¤

Alexander Ollardo. Pria itu.

Aku tidak tahu mengapa ia begitu memujaku. Mencintaiku habis-habisan. Begitu protektif dan mendominasi serta bersikap posesif terhadapku.

Dulu aku merasa begitu sesak saat berada disisinya. Aku selalu ingin melarikan diri sejauh-jauhnya dari pria yang telah menjadi tunanganku selama dua tahun serta telah menjadi suamiku selama lebih dari enam tahun ini. Perlahan sejak Aryan hadir, aku mulai bisa santai berada di sekitarnya.

Meski tak begitu yakin dengan apa yang kurasakan tapi aku yakin, Alex tidak mungkin melakukan hal yang akan membuatku terluka lagi.

Mungkin memang benar, pertualangan asmaranya dengan wanita lain sudah lama berakhir. Mungkin benar perkataannya, bahwa hanya aku yang ada dihatinya. Entahlah, aku tidak tahu.

Pernikahan kami tidak sempurna, bukan hanya karena hasil dari paksaan. Juga bukan karena Alex begitu berbeda dengan suami-suami wanita lain. Akupun menyadari bahwa aku jauh dari sempurna, begitu juga dengan Alex. Sehingga wajar saja bila hubungan kami terkadang mengalami pasang surut.

Tapi kami bertahan. Alexlah yang lebih banyak berjuang demi keutuhan keluarga ini. Dan kuyakin itu tak mudah, tak pernah mudah bagi seorang seperti Alex sekalipun.

¤¤¤¤

Aryantsuky Ollardo. Bocah lelaki berwajah adonis yang bagai titisanku dimasa kecil. Belahan jiwaku serta penyelamat bagiku.

Putra semata wayangku ini sudah menyusahkan Ibunya bahkan sebelum ia dilahirkan. Ananta mengalami masa kehamilan yang sulit. Mual, muntah-muntah hebat, pusing serta sempat mengalami dehidrasi. Istriku bahkan tidak berselera makan karena selalu memuntahkan apa saja yang masuk dalam perutnya.

Tapi syukurlah, meski sulit Ananta berhasil melahirkan Aryan dengan selamat. Dan ia langsung jatuh cinta pada putra kami ini.

Aryan adalah perekat hubungan kami. Aryan adalah satu-satunya hal yang tak pernah disesali oleh Ananta tentang diriku.

Aku tidak mau munafik menyatakan bahwa diriku pria baik. Bahkan untuk mendapatkan istriku, aku telah banyak melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Ananta, hanya Tuhanlah yang tahu betapa ia begitu memukauku sehingga membuatku bahkan rela melakukan apa saja untuknya.

Aku bukan sekedar mencintai Ananta. Karena tak ada kata cinta yang dapat menggambarkan betapa dalamnya rasaku untuknya.

Aku tergila-gila pada wanita ini. Dan aku memujanya tepat setelah aku memuja Tuhan. Seperti itulah aku padanya.

Ananta dan Aryan, mereka adalah karunia yang dikirimkan Tuhan untukku. Hadiah yang tak ternilai. Dan aku tak tahu kebaikan apa yang telah kuperbuat hingga Tuhan begitu baik hati, memberikan mereka hanya untukku.

¤¤¤¤

Aryan bermain-main dengan sereal sarapannya. Mulut dan pipinya belepotan dengan bekas cokelat cair. Ananta dengan sabar mengelapnya dan bocah itu malah tertawa lebar, memamerkan gigi susunya serta sepasang lesung pipi dalamnya.

“Kopi atau teh?” Tawar istrinya saat Alex muncul didapur yang menyatu dengan ruang makan.

“Teh saja. ” Kata pria itu sambil mengecup ubun bocah lelaki yang kini bermain-main dengan makanannya.

“Hei, jagoan kecil Ayah sedang apa?” Ucapnya sambil menggoda Aryan yang tertawa menggemaskan.

Ananta mengangsurkan cangkir pada Alex.

“Terimakasih, sayang. ” Ia menghirup uap yang mengepul di atas cangkirnya.
“Lex, hari ini aku dan Aryan akan keluar. Wina mengajakku makan siang. Dan mungkin kami akan pulang agak sore. ” Istrinya mengingatkannya akan rencana kegiatannya hari ini.

“Hmm…” Alex tampak berpikir.

“Ayah menelefonku tadi pagi. Sepertinya ia akan pulang besok. Ia minta dijemput olehku. ” Sambung Ananta panjang lebar.

“Aku akan menemanimu. ” Kata Alex sambil mengawasi istrinya.

Ananta berbalik, menyerahkan roti panggang yang sudah diolesi selai. Alex mengambil satu dan mengigitnya.

“Menemaniku menjemput Ayah atau menemaniku siang ini menemui Wina?” Tanya wanita ini dengan alis berkerut.

Alex tersenyum. “Kau akan marah bila aku menemanimu siang ini?” Katanya mencoba-coba.

Ananta menatapnya dengan pandangan mencela.

“Apa kau tak punya kerjaan yang lebih penting, Dokter Alexander?” Kecamnya dengan wajah cemberut.

Alex tertawa dan menarik Ananta dalam pelukannya. Mengecup basah bibir wanita ini dan menatapnya terpesona.

¤¤¤¤

“Hai, Wina.” Sapa Alex pada sepupu istrinya. Ia baru saja selesai meeting dengan Dewan Direksi dan singgah sebentar ke ruang kerjanya, sebelum pulang ke rumah.

Wina tersenyum lebar. Wanita yang sudah menikah serta sedang mengandung ini tampak sehat dan bahagia. Ia duduk dengan santai di sofa kantor Alex, menunggu jemputan suaminya.

“Semalam menyenangkan loh. ” Ucapnya dengan mata berbinar.

“Yeah, Aryan pulang dengan kelelahan. Dan istriku menggendongnya semalaman karena rewel. ” Keluh Alex sambil memutar bola matanya.

“Ah…” Wina mengangguk. Namun cengiran diwajahnya tidak menghilang.
Alex menatapnya heran. “Apa?” Tuntutnya pada wanita tersebut.

Wina tertawa. “Apa Ana tidak menceritakan soal Azka padamu?”

“Azka?” Alis pria ini bertaut. “Siapa?” Tanyanya tertarik dengan informasi ini.
Wanita yang sedang singgah usai memeriksakan kandungannya di rumah sakit Green Leaf, menggeleng dan berkata penuh rahasia “biar Ananta saja yang bercerita. ”

Jadi saat Alex kembali ke rumah, usai menyapa mertuanya yang baru saja kembali dari luar negeri, ia menyudutkan Ananta yang sedang menyiapkan makan malam di dapur. Sementara Aryan bermain dengan Kakeknya di kamarnya.

“Siapa Azka?” Tuntutnya tanpa basa-basi.

Istrinya yang sedang membumbui ikan yang akan dipanggang tampak sangat kerepotan. Ananta memang lebih sering memasak sendiri untuk dimakan keluarganya dan kemampuan memasaknya memang memuaskan. Sehingga ketika ayahnya diminta untuk diet demi kesehatan, Ananta turun tangang sendiri menyediakan makanan untuk Ayahnya berupa rebusan, panggang, kukus serta bebas santan dan minyak.

“Apa?” Tanyanya tanpa memperhatikan Alex.

“Azka,.. Apa salah satu mantan pacarmu? Atau cinta pertama yang belum berakhir?” Cecar pria pencemburu ini yang duduk di kursi tinggi dan menopangkan tangannya di meja bar.

“Alex!” Serunya dengan mata melebar, kesal. “Memangnya Wina bilang apa padamu?” Balasnya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.

Pria ini mengawasinya dan berusaha membaca reaksi istrinya ini.

Ananta membalas tatapannya dengan garang. “Aku kesal padamu. ”

“Tidak. Sebelum kau menjelaskannya padaku, sayang. ” Ujar Alex dengan penekanan pada kata ‘sayang’.

“Wina dan mulut besarnya. ” Rutuk Ananta. “Tapi kau lebih buruk lagi. Pria paranoid, menyebalkan. ”

Alexander tidak bergeming. Menuntut jawaban dari istrinya.

“Azka itu anjing siberian husky usia 3 bulan. Putramu menyukainya dan tidak mau pulang tanpa membawanya. Aku dan Wina sampai kehabisan akal untuk membujuk Aryan agar melepaskan anak anjing tersebut. Memangnya kau pikir apa yang membuat Aryan begitu rewel tadi malam?” Ananta menatapnya dingin.

“Puas?” Tambahnya dengan kesal pada pria di hadapannya ini.

“Anjing?” Ulang Alex dengan wajah seperti habis dibodohi.

“Ya, Alexander.” Geram Ananta padanya. “Dasar Wina, saat ini ia pasti sedang terpingkal-pingkal membayangkan betapa mudahnya mengerjaimu. ”

“Dan kau, Dokter Alexander Ollardo. Aku sangat marah padamu. Bisa-bisanya kau menuduh seperti itu. ”

Ananta menatap suaminya dengan pandangan mencela. Dibandingkan dengan marah, ia lebih merasa kecewa pada sikap Alex yang seperti ini.

“Maaf… Aku…” Alex gelisah sekaligus merasa lega.

“Kau bodoh… Aku tahu itu. ” Putusnya dengan wajah datar.

¤¤¤¤

Ananta menggamit lengan Ayahnya dan tersenyum pada semua tamu-tamu yang hadir dan menyapa mereka ramah.

Wanita cantik ini tampak semakin mempesona dengan gaun sutra hitam berpotongan sederhana dan sopan. Sebuah kalung tipis berbandul jamrud menghiasi leher jenjangnya, membuat penampilannya kian sempurna. Sementara rambut panjangnya digerai ikal kebahu sebelah kirinya.

Arafah, menggandeng putri tunggalnya dengan bangga serta bahagia. Ananta yang sangat cantik dan mirip sekali dengan mendiang istrinya, yang juga seorang pelukis.

“Harusnya kau lebih sering mengikuti pesta-pesta seperti ini, Ana. ” Ujar Ayahnya padanya.

Wanita itu mencibir pria tua ini. “Ayahkan tahu aku tidak betah di keramaian. Selain itu, Alex juga melarangku mengikuti pesta-pesta seperti ini. ”

Arafah menatap putrinya heran. “Alex melarangmu? Kenapa?” Tanyanya lagi.

Ananta mengedikkan bahunya. “Tidak tahu. Kupikir ia tidak suka melihatku di keramaian seperti ini. ”

Arafah memandang kearah Alex yang sedang berbicara dengan beberapa pria tua dengan tampang kau-tahu-betapa-pentingnya-urusan-ini.

“Kupikir, Ayah memang lebih baik pensiun. Saat melihat betapa sibuknya Alex mengelola Green Leaf. Belum lagi proyek kerja sama penelitian dengan John Hopkins. Aku bersyukur Alex ada dan menggantikan Ayah. ” Ucapnya sambil mendesah, menatap suaminya yang membungkuk pada seorang wanita.

“Kapan kalian akan memberikan Aryan seorang adik? Kupikir seorang anak perempuan akan sangat manis. ” Ayahnya tersenyum dengan mata berbinar, menggodanya.

Ananta mendelik pada Ayahnya. “Ya Tuhan. ” Desahnya dramatis. “Ayah juga akan mendesakku?”

Arafah tergelak sambil melirik Alex yang tampak sedang melihat kearah mereka.

Ananta melihat perempuan yang mengenakan gaun merah di sebelah suaminya. Cantik dan seksi. Sepertinya ia mengenal wanita tersebut namun ia sudah lupa melihatnya dimana. Ananta mencoba menggali memorinya agar mengingat wanita tersebut.

“Siapa wanita yang di samping Alex itu? Ayah mengenalnya?” Gumamnya ragu.

Arafah menyipitkan mata, mengamati. “Ah, itu Dokter Areta. Ia juga bekerja di Green Leaf. Mereka cukup akrab karena sudah berteman lama. Kau tidak mengenalnya?” Tanya Ayahnya pada putrinya ini.

Ananta menggeleng. Namun diam-diam ia memperhatikan wanita itu lebih seksama. Alex dan wanita itu tampak tidak canggung dan berbicara akrab. Lalu dengan sebuah sentuhan ringan dan tampak intim, Areta meletakkan tangannya ke lengan atau dada Alex. Dan Alex tidak terlihat terganggu. Mereka masih bercakap-cakap dan sesekali ia menunduk saat wanita itu berbisik ke telinganya.

Tiba-tiba sebuah ingatan muncul dibenak Ananta. Kenangan lama yang membuatnya merasa sesak dan ingin muntah. Tanpa sadar cengkramannya pada lengan Ayahnya mengencang. Ananta ingat dimana pernah melihat wanita itu, meski ia tetap tidak mengenal siapa dia.

Arafah menoleh pada putrinya yang kini rona wajahnya memucat. “Ana, kau sakit?” Tanyanya khawatir melihatnya seperti itu.

“Ayah, aku ingin pulang. ” Bisik Ananta dengan suara lemah.

Ayahnya melingkari bahunya dan semakin cemas. Dan membawanya keluar dari ruangan ini. “Kau ingin kupanggilkan Alex?”

Ananta menggeleng. Ia merasa sangat ingin muntah saat ini. Dan mendengar nama Alex disebutkan membuatnya semakin merasa mual.

¤¤¤¤

“Ada apa?” Tanya Alex khawatir saat merasakan istrinya menegang dalam pelukannya.

Wanita cantik ini beringsut menjauh dari suaminya. Sudah lebih dari tiga hari mood Ananta memburuk dan tidak sekalipun ia mau berbicara pada Alex. Tentu saja pria ini merasa sangat bingung dengan ulah istrinya.

“Ana..” Panggilnya lembut. Ia menarik bahu Ananta dan memaksanya menatap langsung padanya.

Ananta membalas tatapannya dengan mata bersinar sugestif dan liar. Ada kemarahan dan rasa kecewa terbalur disana. Yang tidak bisa dimengerti Alex tanpa penjelasan darinya.

“Sayang…” Alex menyentuh bibir Ananta dengan ibu jarinya. Ia menunduk hendak melumatnya namun istrinya mengalihkan wajahnya. Hingga bibir Alex hanya menempel pada rahang wanita itu.

“Wanita itu…Areta…dia yang bersamamu saat dihotelkan…” Ucap Ananta bukan sebagai pertanyaan. Tetapi lebih tepat disebut dengan pernyataan mengejutkan bagai petir, ditelinga pria ini.

Alex tertohok. Seolah darahnya berhenti mengalir dan rasa dingin menjalari tulang belakangnya. Ia menatap istrinya dengan pandangan shock sekaligus takut.

“Oh, Ana…apa yang sedang kau pikirkan?” Bisiknya pada diri sendiri.

Perlahan namun pasti, Ananta menepiskan tangan Alex dan memberikan sinyal batasan yang jelas. Jika Alex kembali berani menyentuhnya tanpa izin darinya, Ananta akan kalap dan berteriak marah.

“Kau tahu dari mana? Apakah ia yang mengatakan padamu?” Tanya Alex dengan suara perlahan dan hati-hati.

Ananta mendengus, sinis. “Aku tak perlu konfirmasi darinya, Lex. Aku punya mata dan ingatan bagus sebagai seorang pelukis. ” Ucapnya kering.

Alex mendesah dan mengusap wajahnya. “Itu benar. ” Gumamnya berat. Ia menyadari hal ini akan sulit dan wanita ini akan melawannya sekuat tenaga.

“Menjijikkan…” Umpat Ananta dengan wajah bertopeng datar. “Terutama dirimu..” Sambungnya bernada kejam.

“Sayang, itu masa lalu. Aku dan dia sudah lama berakhir. Demi Tuhan, selama pernikahan kita, aku tak pernah mengkhianatimu sedikitpun. Aku…”

“Tutup mulutmu, Alex. ” Sergah Ananta marah, memotong omongan suaminya.

“Perempuan itu.. kau tidur dengannya. Terlepas dari apapun hubunganmu dimasa lalu. Kalian masih berhubungan baik bahkan bekerja di tempat yang sama. Kau anggap apa aku?” Ananta menatap Alex nyalang.

“Apa dibelakangku kalian mentertawakan kebodohanku? Apa kalian senang melihatku tidak tahu apa-apa?” Sentaknya penuh emosi.

“Ana…” Alex menyentuh lengan Ananta yang tampak bergetar dengan hebat.

“Jangan sentuh aku, bajingan. ” Teriak istrinya kalap.

Dengan cepat Ananta berkelit dan turun dari ranjang. Wajahnya memerah dan matanya bersinar ketakutan. Ia berjalan kearah pintu, namun sekali lagi menoleh pada suaminya yang tertegun di ranjang.

“Aku jijik padamu, Alexander. Kau memalukan. ” Desisnya dingin.

¤¤¤¤

“Alex yang menyuruhmu menemuiku?” Tanya Ananta tanpa basa-basi saat Areta baru saja menghenyakkan pantatnya di kursi coffee shop.

“Bukan. Ini keinginanku sendiri. ” Ucapnya gugup. Ia tak dapat mengenyahkan perasaan tak enak yang menyelimuti akibat keberadaan Ananta yang begitu mengintimidasi.

“Apa yang ingin kau katakan padaku?” Sambung Ananta, sama sekali tidak memberi jeda pada wanita ini.

“Aku dan Alex, maksudku Dokter Alex tidak ada hubungan apa-apa. Sungguh. Kami hanyalah teman kerja yang profesional saja. ” Katanya terburu-buru.

Ananta tersenyum lembut. Dengan perlahan ia mengangkat cangkir tehnya dan meneguk isinya.

“Kau tahu berapa nilai Green Leaf? Hmm… Sekitar delapan puluh lima juta dollar, kalau aku tidak salah mengingat. Berapa sahamku di Green Leaf? Sekitar 36 %. Sisanya milik Ayahku, putraku dan Alex. ”

“Apa maksud anda?” Tanya Areta tidak mengerti dengan pernyataan Ananta tentang saham dan nilai Green Leaf.

“Oh, tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Alex seharga itu dimataku. Jadi berapa nilainya dimatamu?” Tanyanya dengan suara manis.

Areta menatap wanita dihadapannya dengan pandangan ngeri. Ia menelan air ludahnya karena tenggorokannya tiba-tiba kering.

“Kau ingin dipindahkan kemana? Atau kau ingin bekerja di rumah sakit lain?” Ucap Ananta dengan nada main-main.

“Ah, atau kau ingin berhenti bekerja dan mendapat kompensasi yang tinggi. Alex akan memberikanmu harga yang pantas, jika aku memintanya. ”

Wajah Areta menggelap, karena malu dan marah. “Nyonya tidak perlu menghina saya seperti ini. Saya dan Dokter Alex sudah tidak…”

“Aku melihatmu keluar dari kamar hotel tepat sehari setelah pertunangan kami. Dan kalian berciuman di lift. ” Ananta tersenyum dengan santai. Matanya mengedip geli pada Areta yang kini tampak pucat dan seperti vampire kehabisan darah.

“Kejadian itu sekitar delapan tahun yang lalu. Sekarang kami sudah menikah dan punya anak…” Ananta mengerling pada wanita yang duduk kaku dihadapannya. “Sementara kalian masih berteman baik dan bekerja sama di rumah sakit. Bagaimana rasanya bekerja dengan bos yang pernah menidurimu atau bahkan mungkin masih? Apa aku terlihat lucu, dengan polosnya tak tahu apapun?”

Wajah Areta bertambah pucat lalu menggelap. Mendengar perkataan wanita cantik dan kaya ini, yang diucapkannya dengan nada terukur namun mengancam.

Ananta meletakkan cangkir dalam genggamannya pada piring tatakannya dengan gerakan lambat. Areta mengawasi wanita ini dengan hati-hati.
“Kau cinta Alex?” Ucap wanita cantik putri pemilik Green Leaf ini, ringan.

“Ah..tidak. Tentu saja ..tidak begitu. ” Areta tampak panik dengan pertanyaan Ananta yang tiba-tiba.

“Sepertinya masih. ” Gumamnya dengan wajah tersenyum sinis.

“Dengar Nyonya. Saya tidak ada hubungannya dengan urusan rumah tangga nyonya dan Dokter Alex.” Kata Areta dengan nada yang dibuat tegas.

“Benar sekali. ” Ananta mengangguk takzim. “Lalu mengapa kau menemuiku? Bahkan tanpa sepengetahuan Alex?”

Areta terdiam. Tak mampu berkata apapun. Lalu Ananta yang maklum karena ia tak akan bisa menjawab pertanyaannya, bangkit dari duduknya. Meletakkan sejumlah uang untuk pembayaran minuman, di meja kayu bulat ini.

“Kau dan Alex, kalian sangat menyedihkan. ” Gumamnya dengan suara tak terdengar marah.

Ananta meninggalkan wanita yang masih terpaku dengan segala perkataannya yang menghujam.

¤¤¤¤

Alex sangat marah saat mengetahui Areta yang dengan lancang, menemui Ananta. Dan lebih marah lagi karena istrinya tetap bersikap dingin dan tidak peduli dengan semua perkataannya.

Ananta kecewa, marah dan merasa dibodohi selama bertahun-tahun. Bagi seseorang yang sepertinya dan mempunyai harga diri tinggi, ia sangat terluka.

“Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan Areta. ” Ucap Alex berusaha membuatnya mengerti.

Anantha hanya diam. Meletakkan kuas basah ke dalam mangkuk berisi air. Kanvas yang dipenuhi cat minyak basah itu belum selesai dilukis.

“Menurutmu bagaimana reaksiku mengetahui hal ini?” Gumamnya dengan nada lelah.

“Kamu berhak marah, Ananta. ” Jawab Alex dengan cepat. Ia menyentuh bahu istrinya yang duduk di bangku tanpa sandaran.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan, untuk memperbaiki semua?” Anantha tetap tidak mau menoleh ataupun menatap dirinya.

“Aku tidak akan bertemu dengan Areta lagi. Dia akan pergi jauh dan tak akan kembali. Kamu akan melupakan semua ini seperti tak pernah ada. Aku janji. ”

“Kamu naif, Lex. ” Desisnya tidak bersemangat. “Keadaan tidak akan pernah sama bagiku. ” Ia menepis tangan Alex perlahan.

“Lalu kamu mau aku bagaimana?” Teriak suaminya frustasi. “Kamu mau apa Ananta? Jangan bilang kau ingin kita berpisah hingga keluarga ini berantakan. Aku tidak pernah tidur dengan dia selama pernikahan kita, juga dengan perempuan lain. Aku mencintaimu dan setia padamu, dipernikahan ini. Kumohon Ananta, mengertilah. ” Pintanya dengan suara lemah.

“Kau tahu apa yang kupikirkan? Yang kalian lakukan dahulu dibelakangku salah. Meski kita hanya bertunangan dan aku tidak menyukaimu, tidur dengannya salah Lex.” Ananta menghela napas panjang. “Tetap memelihara hubungan baik dengannya sebagai rekan kerja dan kolega, tanpa memberiku kesempatan untuk tahu masa lalu kalian, itu juga salah Alexander. ”

“Membiarkanku terlihat bodoh seperti ini di depan bekas pacar yang pernah kau tiduri serta masih mencintaimu dan berharap padamu, itu sebuah kesalahan. ” Ananta kali ini membalas tatapan Alexander dengan mata bersinar kelam.

“Wanita itu…dia….cinta padamu. Kau tahu itu?” Bisik Ananta tak berdaya dan tampak kasihan.

“Maafkan aku, Ananta. Aku salah, aku amat bersalah padamu. Tapi aku sungguh-sungguh tidak peduli ia mencintaiku atau tidak. Hanya kau yang aku mau, sayang. ” Alex menghiba padanya. Bersandar pada Ananta yang masih duduk kaku di bangku kayu.

“Lex, kalau kau benar mencintaiku, mengapa aku selalu terluka saat mulai bisa mempercayakan hidup dan kebahagiaanku?” Keluh Ananta sambil mendongak, menatap suaminya dengan mata lebar yang tampak sangat terpukul.

Alexander tertohok melihat kedalam bola mata hitam wanita ini. Yang berpendar seperti lilin ditengah badai. Ia ingin menyentuh Ananta dan menghapus duka yang diderita wanitanya ini. Tapi ironisnya ia jugalah yang telah menyebabkan Ananta menjadi seperti ini.

¤¤¤¤

Ananta tersenyum lepas, berbincang dengan seorang pria tampan berambut ikal agak panjang. Seorang violin terkenal, Jah Iskandar.

Mereka makan siang dalam suasana santai dan hangat. Ditemani oleh Wina dan seorang teman wanita yang tak begitu dikenal Alexander.

“Lex,….” Wina tersenyum, melambai ceria.

Anata menoleh padanya. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia sudah menduga suaminya akan segera menyusulnya usai bertanya keberadaannya dimana.

Jah mengamatinya. Tersenyum dan menjabat tangan Alex dengan genggaman mantap.

“Senang akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang menjinakkan Ratu Es kami. ” Ucapnya dengan seringai, ada binar lucu dimatanya.

Alex hanya tersenyum dan menoleh pada Ananta yang masih diam. Tidak bereaksi apapun.

Alex duduk di sebelah Wina, berhadapan dengan Ananta yang duduk di samping Jah. Sepupu istrinya memesankan makanan dan minuman untuk Alex, yang tidak begitu diperhatikannya. Karena perhatiannya begitu fokus pada wanita di hadapannya.

“Lex, Jah ini cinta pertama Ananta loh. ” Ujar Wina dengan wajah memerah.

“Bukankah, Jah memang cinta pertama bagi kita semua?” Sanggah Laisa, yang duduk di sebelah kiri Ananta.

Jah tertawa dan menoleh pada Ananta. “Dan Ananta adalah satu-satunya gadis yang mematahkan hatiku dengan kejam. ” Ujarnya sambil menyentuh ringan lengannya.

Sebuah senyum kecil terulas dibibir Ananta. Matanya tak dapat dibaca.

“Kau menyalahkanku?” Tanyanya dengan nada tidak percaya.

“Apa yang Jah lakukan padamu? Dia berselingkuh?” Wina menggoda Jah yang tampak terpojok.

Ananta tersenyum simpul dan menatap Alex lurus. “Jah merayuku untuk tidur dengannya. ” Ungkapnya ringan.

Pria dihadapannya menegang, tidak suka. Ananta tersenyum melihat otot-otol lengan suaminya dan tangan Alex yang mengepal. Ia tidak dengan sengaja melakukan ini semua tapi melihat Alex seperti ini, entah mengapa membuatnya merasa sangat puas.

“Oh, tidak. Itu menghancurkan impian masa mudaku…” Ujar Laisa dengan dramatis yang disambut tawa oleh nyaris semua orang, kecuali Alex.

“Jadi apa yang Ananta lakukan padamu? Ia menamparmu atau meludahimu?” Gelak Wina membayangkan sepupunya bersikap galak.

“Tidak. Ananta tidak bersikap seperti itu. ” Jah menoleh pada Ananta dan menatapnya lembut. Yang dibalas wanita itu dengan senyum dikulum.

“Ananta hanya menatapku sedih dan bertanya, seperti ini cara kau mencintaiku Jah? Dan kata-kata serta ekspresinya saat itu membetot jantungku. ” Tutur lelaki tampan itu tanpa melepas tatapannya pada Ananta.

“Ananta meninggalkanku begitu saja dan aku terlalu malu untuk menemuinya lagi. ” Katanya sambil menyentuh sekilas bahu wanita itu.

Alex menatap semua ini tanpa berkedip. Menahan rasa kesal dan marahnya karena Jah. Ia benci melihat lelaki ini berbicara, tertawa, menyentuh sekilas Ananta tanpa rasa bersalah. Rasanya sudah cukup alasan bagi dirinya untuk menghancurkan Jah yang punya masa lalu dengan Ananta serta pernah mencintai istrinya. Mungkin masih.

Wina mengingatkan Alex untuk menyantap makanannya. Namun pria ini sudah tidak berseleran. Ia hanya ingin membawa Ananta pulang bersamanya.

“Kau tidak kembali kekantor?” Tanya istrinya padanya sambil bangkit dan memegang tas tangannya.

“Kita pulang saja kerumah. ” Gumam Alex dengan suara rendah. Ia menggapai tas istrinya, berniat membawakannya. Moodnya sudah rusak dan ia hanya ingin bersama Ananta, bedua saja.

Namun Ananta menggeleng, meloloskan tangan suaminya yang memegang clutchnya. “Aryan ada bersama Ayah. Aku dan Wina sudah berjanji akan melihat resital amal Jah sore ini, di teater kota. ”

Pria ini tak berdaya. Ia sangat cemburu dan marah namun tidak dapat berbuat apapun pada Ananta.

Rasanya tidak menyenangkan. Seperti ada sesuatu yang melumat jantungnya mentah-mentah. Alex merasa terbakar dari dalam. Dan ia tak tahu bagaimana cara menghentikan kegilaan ini.

Jadi Alex akhirnya memilih balik ke kantornya. Dan tebak apa yang sedang menunggunya disana.

“Aku tidak ingin melihatmu, Areta. ” Katanya saat melihat sosok wanita itu menunggu dilobby kantornya.

“Kita harus bicara, Lex. ” Desaknya sambil ikut masuk kedalam ruangan pria yang menjabat sebagai Direktur Utama Green Leaf Corporation, yang memiliki 15 rumah sakit berstandar internasional, 3 Universitas, dan beberapa saham diperusahaan obat-obatan di luar negeri.

“Apa?” Tanya Alexander padanya sambil menatap malas pada wanita cantik dan menggoda ini.

“Aku dipindahkan dan tidak ada kemungkinan untuk bisa kembali. ” Ujarnya cepat tanpa basa-basi.

Pria yang sedang kalut dan banyak pikiran ini mendesah.

“Ini pasti perbuatan istrimukan?” Tuduhnya langsung dengan nada mencela.

“Bukan. ” Sanggah Alex dengan tenang. “Ananta tidak pernah mencampuri urusan pekerjaanku. Ini murni keputusanku. ”

Areta menatapnya skeptis. Bibirnya tersenyum meremehkan. Ia berdiri menunduk kearah Alex dan hanya meja kerja yang menghalangi mereka.

“Apa masalahnya, Lex? Aku tidak mau kesana. ” Gumamnya keras kepala.

“Istriku tidak nyaman melihatmu berkeliaran disekelilingku. Dan aku tidak mau mengecewakannya lagi. ”

Areta tertawa dengan mata bersinar sinis. “Sejak kapan kau peduli dengan wanita itu? Kaliankan hanya menikah untuk bisnis.” Ucapnya menganjuk, kesal.

“Menurutmu begitu, Areta?” Alex bertanya dengan alis berkerut. “Menurutku tidak. Aku menikahi Ananta karena aku mencintainya, hingga kini.” Katanya bersungguh-sungguh.

Areta tercekat dan wajahnya terkejut. “Lalu…aku… bagaimana denganku?” Cetusnya tidak mengerti.

Alex membalas tatapannya heran. “Maksudmu apa?” Sambutnya dengan cepat.

“Bagaimana dengan kita, Lex?” Areta kembali bertanya dengan nada mendesak.

Pria ini menatapnya dengan pandangan marah dan benci. “Memangnya kita punya hubungan apa Areta?” Tanyanya bersuara keras. “Kita bukan sepasang kekasih dan hanya tidur bersama. Dan itu terjadi jauh sebelum aku menikahi Ananta. ” Sergahnya mengingatkan Areta yang sepertinya berpikiran berbeda.

Raut wajah Areta tampak terpukul. “Selama ini kupikir kita…..kupikir kau pasti akan kembali padaku, makanya aku bertahan disisimu. Menunggumu. ” Ujarnya memelas dan tidak mau mempercayai ucapan Alex padanya.

“Ya Tuhan, apa aku pernah menjanjikan sesuatu padamu? Aku mengira kau cukup profesional dan tidak berpikiran bodoh tentang hubungan yang tidak pernah terjadi. ” Alex menatapnya dengan pandangan marah serta terlihat jijik.

Areta menangis. “Aku mencintaimu Lex. Dari dulu sampai detik ini. Bagaimana bisa kau membuangku begitu saja, hanya karena wanita kaya yang memberikan Green Leaf untukmu. ”

“Aku tidak pernah mencintaimu Areta. Dan maaf kalau kau sampai berpikir aku membalas perasaanmu. Dulu aku cuma bajingan yang tidur dengan siapa saja yang menyodorkan dirinya padaku, termasuk dirimu. Aku tidak bangga dengan hal tersebut dan kini aku menyadari perbuatan itu salah. Meski aku sudah berubah, ternyata istriku masih bisa terluka dengan masa laluku. Jadi aku tidak ingin melihatmu lagi, Areta. ”

“Dan kau salah kalau menganggapku menikahi Ananta demi mendapatkan Green Leaf. Sudahku bilang aku mencintai istriku karena itu aku menyesal membuatnya terluka seperti ini. Oleh karena itu jangan pernah mencoba menemuiku lagi Areta. Dan lupakan harapanmu tentangku sebab itu tak akan pernah terjadi. ” Alex mengucapkan perkataan itu dengan tegas dan dingin. Mengusirnya secara langsung.

Areta masih menangis namun semua yang diucapkan pria ini dapat dengan jelas dimengertinya. Dan hatinya hancur. Semua mimpi dan harapan yang ia bangun sendiri ternyata tak mendapat balasan dari orang yang dicintainya sedari dulu. Ia sudah kalah pada istri pria ini.

¤¤¤¤

Sudah dua bulan Ananta dan Aryan meninggalkan Alexander. Bersama dengan Arafah sang mertua, istri dan anaknya berkeliling Eropa. Bagi Alex ini adalah waktu terlama ia berpisah dengan wanita yang sangat dicintainya dan putranya. Tapi ia tak dapat berbuat apapun untuk mencegah Ananta pergi.

Alex sudah menyatakan ketidaksetujuannya akan rencana kepergian istrinya tapi siapa yang bisa melarang Ananta saat ini. Istrinya bisa bersikap dingin dan jahat lebih dari ini padanya namun ia tidak akan bisa membalas karena rasa bersalahnya.

“Aku memaafkanmu, Lex. Tapi aku butuh waktu sendiri sebelum melanjutkan pernikahan ini denganmu.” Ujarnya tanpa emosi apapun dimalam sebelum keberangkatan Ananta.

“Tidak akan ada perceraiankan?” Tanya pria yang sedang dirundung masalah ini pada wanita cantik yang sedang duduk di hadapannya. Tampak sedikit lega.

Ananta menarik nafas panjang, menatap lurus padanya. “Tidak. Tapi aku tak mudah melupakan, kau tahukan. ”

Ia sudah belajar dari reaksi suaminya saat Jah muncul. Dan ia pikir, ia sudah tahu bagaimana membalas perbuatan Alexander dengan elegan serta tanpa merusak reputasinya sendiri.

Alex menyambar lengan istrinya, memeluknya hangat dan bersyukur. Ia sangat mencintai wanita ini dan tak sudi kehilangannya. Sayangnya ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan Ananta untukknya.

“Ambillah waktu sebanyak yang kau mau. Tapi jangan lupa untuk kembali padaku, aku akan menunggumu sayang. ” Bisiknya ditelinga Ananta.

“Ingat Lex, aku bukan wanita pemurah. Semua ada harganya dan aku yang menentukan sendiri apa yang aku lakukan. Kuharap kau tidak akan menghalangiku dengan peraturan bodohmu seperti selama ini. ”

Jadi seperti inilah keadaanya saat ini. Ananta bersenang-senang dengan putra dan mertuanya di Eropa sementara ia sibuk berkutat dengan pekerjaannya serta kesepian. Istrinya juga jarang mau ia hubungi sehingga ia harus mengandalkan komunikasi dengan Ayah mertuanya.

Ditambah lagi Alex dengan teratur menerima laporan dan gambar-gambar Ananta yang begitu populer di pergaulan barunya. Ada saja pria-pria, baik itu teman lama ataupun kenalan baru yang mendekati istrinya, mencoba-coba merayunya. Meski Ananta dengan sopan menolak dan menyatakan dirinya telah menikah.

Alex cemburu berat dan sangat amat tersiksa. Tapi apa dayanya, ia tahu Ananta dengan sengaja melakukan ini semua untuk menghukumnya.

Istrinya tahu benar bahwa ia teramat mencintainya dan merasa bersalah. Lalu Ananta memanfaatkan perasaannya ini untuk menyiksanya lebih dalam lagi hingga Alex merasa dirinya nyaris gila. Dan Ananta belum puas.

“Rasanya tidak akan pernah menyenangkan bagi Alex, melihatku bersama Jah yang punya masa lalu berdua. Atau dengan pria-pria lain yang jelas tertarik padaku serta mencoba-coba. Seperti itulah yang aku rasakan saat mengetahui Areta itu siapa dan bagaimana hubungannya dengan Alex dimasa lalu. Bahkan jauh lebih buruk lagi, karena Areta masih menempel pada suamiku bertahun-tahun sementara aku tidak mengetahui apapun. Alex harus belajar dan membayar mahal untuk kesalahannya. ” Begitulah pemikiran jahat Ananta sembari membalaskan sakit hatinya pada suaminya.

Hingga suatu hari ditengah malam, tiba-tiba Ayah mertuanya menghubunginya dan mengabari Ananta pingsan. Alex kalut dan ketakutan. Tubuhnya gemetar dan keringat dingin muncul membasahi wajah serta telapak tangannya.

“Apa yang terjadi, Ayah? Istriku sakit apa?” Tuntutnya nyaris berteriak pada mertuanya.

Ia benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya. Dan Ananta sedang berada sangat jauh dari sisinya. Ini membuatnya seperti seseorang yang tengah sekarat.

“Lex, Ananta hamil. Sudah 15 minggu.” Ujar Ayah mertuanya terdengar jauh dan sangat tenang.

Alex terdiam. Belum mencerna apa yang sudah dikatakan Ayah istrinya ini.
Ananta hamil. Sudah 15 minggu. Berarti selama masa penuh masalah sebelum istrinya pergi, Ananta sudah mengandung. Dan ia sama sekali tidak menyadarinya. Oh Tuhan, suami macam apa dirinya. Ia tahu Ananta selalu mengalami masa sulit saat hamil muda dan ia malah menyebabkan masalah yang membuat istrinya gusar.
Dan kini Ananta pingsan, mungkin kelelahan atau jangan-jangan depresi karena memikirkan masalah yang ia buat.

Alex merasa dirinya sangat buruk.

“Lex, kau masih disanakan?” Tanya Ayah mertuanya tampak khawatir.

“Ananta benar-benar hamil, Ayah?” Ulangnya tidak percaya.

“Benar. Ayah sendiri yang mengantarnya kedokter. ” Kata mertuanya dengan heran.

“Bagaimana dengan Ananta, Yah? Dia bahagia dengan kabar ini?” Tanyanya kembali dengan hati-hati. Meski ia sangat senang dengan kabar ini tetapi hatinya sedikit mencelos dengan reaksi istrinya.

“Kau gila. Tentu saja Ananta sangat senang. Ia berharap kali ini mendapat anak perempuan. ” Ujar Ayah mertuanya terdengar bangga dan bahagia.

Untuk pertama kali setelah beberapa bulan ini Alex tersenyum lega dan bahagia. Ia tidak menyadari saat ini matanya berkaca-kaca saking bahagianya.

“Aku sangat bersyukur, Yah. Ini berita bagus. ” Gumamnya dengan tenggorokan mengering, karena emosi.

“Ananta sedang tertidur saat ini. Bodohnya aku tidak menyadari moodnya yang turun naik selama beberapa bulan ini, muntah dan mual, serta betapa mudahnya ia merasa lelah. Aku sama sekali tidak menyangka anakku sedang mengandung. ”

“Aku juga, Yah. Kurasa ini salahku. ” Kata Alex penuh penyesalan.

“Lex, apa tidak sebaiknya kau menyusul kami? Aku lebih suka bila seluruh keluarga berkumpul. ” Saran Ayah mertuanya yang langsung diiyakan oleh Alexander.

¤¤¤¤

“Hai sayang….” Sapa Alex saat Ananta terbangun dari tidur siangnya di sofa ruang tengah. Selama perjalanan di Eropa, Ananta dan Ayahnya menginap di beberapa hotel. Dan saat ini mereka sedang berada di Rizt hotel kota Paris.

Wanita cantik ini tampak sehat dan bahagia dengan perut yang belum tampak besar.

Ananta tersenyum sambil mengerjapkan mata. Tampak belum sadar sepenuhnya. Alex mendekatinya dan mencium keningnya hangat.

“Kau disini?” Tanyanya memastikan dengan suara serak sehabis bangun tidur.

Alex tersenyum dan menggenggam jemari istrinya.

“Baru kali ini aku merasa sangat beruntung sebagai keluarga Ollardo yang memiliki maskapai penerbangan sendiri. Aku naik Private Jet untuk segara kemari. ” Ungkap pria ini pada Ananta yang kini berusaha bangkit dari tidurnya.

Alex membantu istrinya bersandar. Ia terpesona melihat rona diwajah wanita cantik ini. Ananta tampak benar-benar sehat, hidup dan bahagia.
“Aku hamil Lex. ” Ujarnya memberitahu suaminya. Ia tersenyum lebar pada suaminya yang masih mengawasinya.

“Aku tahu, Ayah yang memberitahuku. Dan aku amat senang dengan berita ini, Ana. ” Kata Alex bersungguh-sungguh.

Ananta tertegun, ia tiba-tiba memeluk Alex dan matanya basah karena air mata.

“Aku senang kau disini. ” Gumamnya lembut.

Alex terkejut. “Benarkah?” Tanyanya tidak percaya. Tadinya ia takut istrinya malah menolak kehadirannya. Apakah Ananta sudah memaafkannya dan melupakan kesalahannya? Pikir pria ini dengan cemas bercampur bahagia.

“Entahlah. Kupikir ini karena hormonku yang tidak stabil, tapi rasanya menyenangkan melihatmu disini, ada untukku. ”

Alex melepas pelukan Ananta dan menatap langsung wajah istrinya.

“Aku menyesal dan aku nyaris gila kau buat seperti ini. ” Sesalnya dengan jujur pada istrinya.

Ananta tertawa kecil. Ia membelai wajah suaminya. “Aku bisa melihatnya. Kau terlihat sangat tersiksa dan jelek sekali. ”

“Kau sengajakan melakukan semua ini untuk menghukumku?” Alex menatapnya tidak percaya.

Istrinya kembali tertawa lepas. Dan mengangguk.

“Rasanya menyenangkan melihatmu tersiksa, Alexander Ollardo. Tahu rasa kau. ” Ia tersenyum dengan sorot mata berbinar.

“Kau kejam, Ananta. ” Ujar Alex sambil menggelengkan kepala. Namun tak urung senyuman istrinya menular padanya.

“Kau yang mengajariku, Tuan. ” Balasnya dengan muka bandel.

“Ayo kita pulang ke rumah, Ananta.” Ajak Alex serius sambil mengusap-usap lengan telanjang istrinya.

Ananta tersenyum sangat manis lalu menjawab, “pulang kemana? Kau adalah rumahku. ”

Alex tertegun dengan perkataan istrinya. Ia menatap lekat-lekat wanita cantik yang sangat ia cintai ini dan bersyukur sekali bisa memilikinya.

“Terimakasih, sayang. ” Bisiknya sambil kembali memeluk istrinya.

Kesalahan sudah dimaafkan dan kebahagiaan yang lebih besar, sudah menanti mereka. Keluarga yang bersatu dan seorang bayi mungil yang akan hadir dalam kehidupan Ananta dan Alexander.

Ananta adalah wanita cerdas, daripada memilih berpisah dengan suami yang sebenarnya sangat mencintainya, ia mengambil keputusan yang lebih baik. Jadi ia memaafkan Alex dan menerimanya kembali, bukan karena untuk kebahagiaan semua orang tapi untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Egois sekali memang tapi inikan hidupnya, ia boleh melakukan apa saja kan?

Hm…apakah kisah Ananta dan Alexander berakhir disini? Aku belum tahu. Bagaimana menurut kalian? Silahkan berkomentar dan aku akan mempertimbangkan saran kalian. Terimakasih sudah membaca tulisanku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s