MELEPAS

Dalam kehilangan, aku tak memiliki apapun untuk menebus kebahagiaan bagimu.
Lucu kalau kau masih menginginkanku bertanggung jawab sementara hati dan mimpiku telah kau rusaki. Dan bagaimana bisa kumenolongmu, bila mengobati luka yang kau sebabkan saja aku tak mampu lagi.

Aku tidak baik-baik saja.
Kau adalah orang yang kusayangi setengah mati setelah ibu bapakku, kupilih kau diantara lelaki-lelaki lain, kuberikan kau izin menguasai bilik kecil bernama hati. Tapi kau tak memilihku sebagai kini dan masa depanmu. Kau menjegalku dari semua itu, sayang.

Lalu entah bagaimana ingatan tentangmu malah mengental dipikiranku. Aku tak bilang menginginkanmu tapi jahanamnya aku masih merasakan betapa hangat dan lembut kecupan bibir itu. Betapa menyenangkan berada dalam lenganmu yang posesif. Dan betapa dulu pandangan memujamu, membuatku merasa akulah satu-satunya semesta bagimu. Bodohnya hatiku menggenggam kenangan itu.

Aku harus bagaimana untuk berbahagia lagi?
Jelas itu harus tanpa ada kamu dan tak mesti bersama seseorang lain. Aku ingin berdamai dengan diriku sendiri, menerima keadaan berikut apa adanya aku ini. Hidup yang tak mudah kujalani namun tetap bisa ku bersyukur dengan apa-apa yang ada serta tak ada, meski dalam cintamu aku tak beruntung, tak seberharga itu.

4 thoughts on “MELEPAS

  1. Seandainya mantan aku baca tulisan ini, pasti dia tiba-tiba menangis karena aku ada lagi dalam kepalanya. *aelah Gusti mah orangnya emang suka kepedean* *tapi ngangenin* =’P

    tapi lengan posesif, itu bukan aku. X’))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s