Promise Me, Nothing

“Bisakah, kau berjanji satu hal padaku?”

Gadis dengan mata sendu, dengan iris berwarna hijau yang asing ini, bertanya pada pemuda yang sedang bermain dengan rambut cokelat halusnya.

“Apapun itu…” Ucap pemuda itu dengan wajah memuja sang gadis cantik.

Uluwatu, Bali. Sebuah resort pribadi. Pasangan pemuda dan gadis muda ini sedang bercengkrama sambil menatap senja yang memerah di laut Bali.

Sejenak kening gadis itu berkerut, tampak sedikit terganggu lalu ia kembali bertanya, “Maxie… Aku sangat serius. ”

“Aku juga sayang…” Ia tertawa dan membiarkan sepasang dekik indah, muncul di kedua belah pipinya.

Andrea menatapnya dengan pandangan sedih. Perlahan jemari tangannya yang halus mengusap ke dua belah pipi itu dan menangkup wajah tampan itu.

“Suatu saat, bila perasaanmu sudah berubah. Kau harus memberitahukanku terlebih dahulu, sebelum mengatakannya pada… wanita itu. ” Bisiknya dengan suara halus, yang bagai diucapkan dari tempat yang sangat jauh.

Maximillian menatap gadis itu dengan serius kali ini. Lalu sudut bibirnya tersenyum, mengejek. “Apa maksudmu berkata aneh seperti itu?” Ucapnya sambil mengucek rambut kekasihnya, yang juga berbaring di sisinya.

Andrea tersenyum penuh kesedihan, dan kabut dimatanya adalah hal yang paling tidak bisa dimengerti oleh Max.

“Kau hanya perlu mengingat kau sudah pernah berjanji ini padaku. Jangan lupakan. ” Ujar gadis cantik ini sambil memeluk Max lebih erat.

“Maxie… ” Panggilnya dengan suara mencicit, seperti ketakutan.

“Hm…” Desah pemuda itu dengan agak bingung, melihat kelakuan Andrea yang tak biasa.

“Aku mencintaimu….” Ungkapnya dengan suara putus asa.

Max tertawa lalu berkata, “Aku tahu…” Ia mengelus punggung gadis bertubuh langsing ini.

“Aku selalu mencintaimu…” Bisiknya lagi dengan suara bersedih, seolah-olah ia takut tak punya waktu untuk menyatakannya lagi.

Max mengeratkan pelukannya terhadap sosok rapuh beraroma vanila lembut ini. Ia merasa sedikit aneh namun tidak tahu hal apa yang telah membuat Andrea menjadi seperti ini. Yang bisa ia lakukan hanyalah membalas pelukan dengan lebih hangat.

¤¤¤¤

Dia tampan, sangat malah. Dengan raut wajah sempurna yang nyaris selalu tanpa ekspresi. Tubuh tinggi dan atletis, mengancam. Dengan kekayaan dan kekuasaan keluarganya, ia bisa mendapatkan semua hal terbaik yang mungkin tak berani diidamkan orang-orang. Ia hidup di lingkup dunia kelas atas dan hanya bergaul dengan lingkaran sesamanya. Dan hanya keajaibanlah, yang membuat Andrea bisa berada disisinya. Keajaiban itu bernama cinta.

Dia adalah Maximilian Muller, atau lebih dikenal sebagai Max. Pewaris kerajaan bisnis Muller yang meliputi pabrikan mobil mewah, jaringan hotel mewah serta sirkuit balap mobil di Avin, Berlin.

Ia mempunyai kecerdasan dan naluri bisnis yang tajam. Serta arogansi khas keturunan keluarga Muller yang memang sudah kaya, sejak beberapa generasi sebelumnya.

Tapi bukan karena semua hal ini, yang membuat Andrea bertekuk lutut di hadapan Max. Andrea hanyalah gadis yatim piatu yang sangat mandiri. Sejak kecil ia sudah terbiasa tidak menyusahkan orang lain. Meski ia tak punya keluarga, tak pernah diadopsi dan dibesarkan di panti asuhan hingga berusia 17 tahun . Ia tak pernah merasa hidup ini tak adil untuknya.

Dan ketika Max memilihnya, ia benar-benar memberikan seluruh hatinya pada pria ini. Andrea, untuk pertama kali dalam hidupnya, memiliki tempat untuk pulang. Maximilian adalah rumah baginya.

¤¤¤¤

“Andrea… Andrea…” Lamat-lamat suara Moses menyadarkannya.

Bulu mata gadis itu bergetar, matanya berkedip dan pandangannya akhirnya fokus pada pria di hadapannya. Tampak cemas dengan pandangan mata kasihan.

Ya, Andrea mengenali sorot mata seperti itu. Sorot mata kasihan dan rikuh. Seperti yang sering diperlihatkan anak-anak yang dengan orang tua lengkap, menyerahkan sumbangan pada panti asuhan. Sorot mata penuh rasa iba, ketika orang-orang mengetahui ia yatim piatu dan dibesarkan di panti. Ia sudah terbiasa dipandangi seperti itu.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Moses dengan nada prihatin.

Andrea tersenyum lalu menunduk. Kedua belah jemarinya bertautan dan tampak gemetar.

“Aku pernah baik. ” Ucapnya dengan suara lembut. “Dan aku tak akan pernah melupakan, bagaimana rasanya baik-baik saja. ” Tambahnya di dalam hati.

Andrea, gadis berambut cokelat lembut dengan mata hijau yang berbeda, menoleh pada Moses. Dan tersenyum lebar.

“Tak apa… ” Bisiknya halus.

Moses menatapnya dengan emosi yang bercampur aduk. Betapa rapinya gadis ini berusaha menutupi jejak perasaannya yang terluka, pria di hadapannya tahu dengan jelas. Meski Andrea tetap tersenyum dan bertahan.

Keduanya lalu duduk dalam diam, di sudut kafe jalanan. Menatap berbagai manusia yang lalu lalang dan tumpah ruah di.

“Seandainya ada yang dapat kulakukan untukmu..” Ucap Moses tulus padanya.

“Maukah kau membantuku? Untuk terakhir kali. ” Tanya Andrea bersungguh-sungguh.

“Aku janji, hal ini tak akan membuatmu mendapat kesulitan. ” Tambahnya lagi, saat melihat keraguan dimata pria yang sudah banyak berbuat baik padanya.

¤¤¤¤

“Mengapa kau suka sekali mengajak aku, makan siang disini?” Tanya Max pada Moses, sekertaris sekaligus teman terpercayanya.

“Hmm… ” Moses tersenyum lalu menyesap minumannya perlahan. “Kurasa aku suka saja dengan suasananya. ” Ia menatap restoran yang ramai dengan orang-orang sedang makan. Moses selalu memilih tempat yang berbaur, bukan yang private.

Max menatap Moses dengan seksama, ia tahu apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh pria ini.

“Kau tidak akan menceramahiku, kan?” Max tersenyum simpul. Sepasang lesung pipi dalam, tercetak di pipinya.

Moses meliriknya dan tampak tertekan. Juga sedikit bersedih.

“Aku tidak tahu harus berkata apa. Kau sudah memutuskan dan tak ada yang dapat mengubah keputusanmu. ” Ucapnya perlahan dan berhati-hati.

Max menatap gelas di tangannya dan menggoyang-goyangkan cairan anggur itu, terlihat bosan.

“Aku tak ingin membicarakannya. ” Gumamnya dengan suara rendah.

“Aku tahu…” Moses mendesah, kecewa. “Aku juga tahu betapa dalam kau melukainya. Demi Tuhan, Max. Dia hanyalah seorang gadis tanpa keluarga. Dan dia.. sedang sakit. ” Bisik Moses di dalam hatinya.

Ia bersedih untuk gadis itu. Yang kini ada di kursi di balik tempat duduk Max. Yang demi kerinduan dan cinta tak terbalasnya, rela menjadi bayangan tak terlihat di mata lelaki yang sudah meninggalkannya.

Moses dapat membayangkan raut wajah gadis itu. Pucat dengan bibir terkatup rapat. Tangan yang saling menggenggam di bawah meja. Dan tubuh gemetar dengan kesedihan yang tertahan.

Gadis itu tidak akan menangis. Tak akan ada air mata yang turun dari bola matanya. Dan tidak ada isakan dari mulut manisnya. Ia akan diam dan dengan tubuh sempoyongan, berjalan tanpa tentu arah. Ia selalu begitu.

¤¤¤¤

“Jangan diam dan menahan semuanya sendirian. ” Ucap Moses saat menemukannya terduduk di sudut sebuah chapel. “Rebut ia dan lakukan segala cara untuk membuatnya jatuh cinta lagi padamu.”

Andrea menoleh dan tersenyum simpul. Ada kesedihan yang nyata, tertera di wajah dan mata sendu itu.

“Terimakasih…” Katanya dengan nada lembut. “Kau teman yang baik dan sudah banyak membantuku. ”

Moses mendesah, merasa iba sekaligus kesal. Bagaimana bisa Max berubah setelah bertahun-tahun lamanya hubungannya dengan Andrea. Ia tahu dengan benar, betapa besar artinya bagi gadis malang ini. Dan hanya ada lelaki itu satu-satunya untuk Andrea, tapi mungkin tidak bagi sebaliknya.

“Moses, bisakah kau berjanji satu hal untukku?” Tanya Andrea sambil menatapnya lurus.

Pemuda dengan wajah tampan berkaca mata minus ini, kembali mendesah resah. “Apa saja…” Ucapnya melemah.

“Jangan katakan apapun padanya. ” Andrea menunduk dan mempermainkan ujung sweater kashmirnya.

“Aku akan menghilang seperti putri duyung yang menjadi gelembung. ” Gadis cantik ini tertawa kecil, seolah-olah perkataannya adalah sebuah lelucon yang lucu.

“Ini tidak lucu…” Moses meliriknya tajam.

Andrea menarik nafas panjang lalu memejamkan matanya.

“Kau tahu…. , aku tak bisa melupakannya. ” Andrea mengucapkan perkataan itu dengan sungguh-sungguh. “Pesta sudah selesai dan upik abu harus kembali ke tungku. ”

“Aku tidak mengerti mengapa kau tak mau mempejuangkannya. ” Sergahnya dengan suara keras.

“Karena aku sudah tahu hal seperti ini akan datang dan tak terelakkan lagi. ” Ucap gadis itu di dalam hati.

“Kau tak pelu mengerti, Moses. ” Gumamnya pelan.

¤¤¤¤

Pesta kebun private, di rumah musim panas keluarga Gritch. Sore yang indah, keluarga dan teman dekat berkumpul dalam pernikahan Moses Gritch dan gadis yang sudah dipacarinya sejak lima tahun lalu, Josephine.

Pengantin yang berbahagia, berbaur dengan seluruh tamu dan keluarga. Moses sedang berbincang dengan sahabat sekaligus bestmannya, Max.

“Dia berbeda dengan semua gadis yang pernah kutemui. ” Max menatap Solana dengan pandangan rakus dan memuja.

Moses yang sedang menjadi pusat perhatian di pesta ini hanya mendesah. Ini hari sangat penting baginya dan Josephine.

“Kau juga bilang begitu saat melihat Andrea. ” Kata Moses dengan nada jemu.

“Apa kabar gadis itu?” Pikirnya di dalam hati. Setelah pertemuan mereka di chapel, Moses tak pernah lagi melihatnya. Dan itu sudah 2 tahun yang lalu.

“Mengapa kau menyebut namanya lagi?” Tanya Max dengan wajah serius pada sahabatnya ini. “Apa kau menyukainya?” Tambahnya curiga.

Moses berdecak, kesal. “Karena aku kasihan pada gadis malang itu. Dan itu alasannya aku berhenti bekerja denganmu. ”

Max menatapnya dengan pandangan heran. “Aku dan Andrea sudah lama berakhir. Kau tahu itukan?” Ucapnya dengan nada tidak suka.

“Kau tahu kabar tentangnya?” Tanya Moses tidak peduli.

“Dia menghilang. ” Ucap Max datar.

“Kau tidak khawatir? Dia tak punya siapapun selain dirimu, Maxie. ” Cecar Moses dengan suara tertahan.

Max menoleh pada Solana yang sedang tertawa pada Josephine, di meja utama dan dikelilingi beberapa gadis lain. Moses mengikuti pandangannya dan mendesah, prihatin.

“Solana selalu menolakku. ” Ungkapnya dengan nada sedikit terluka. “Ia tak pernah mau memandang sedikitpun padaku. Ia mengabaikan kehadiranku, meski aku telah berbuat apa saja untuknya. ”

“Mungkin itu karma karena perbuatanmu pada Andrea, kuharap begitu….” Katanya tanpa bermaksud kejam.

Solana menoleh pada mereka, dan mengerling tajam pada Max. Josephine berbisik padanya dan gadis keras kepala tersebut, entah apa yang mereka bicarakan. Namun raut wajah Solana tampak mengeras. Ia menghindari pandangan Max dengan sengaja.

¤¤¤¤

Max menatap sekeliling dengan pandangan mencela. Ukuran flat gadis ini hanya seluas kamar mandinya yang megah, dan meskipun ditata apik masih tampak sederhana untuk Max.

“Jadi… Kau hidup di tempat seperti ini..” Ucapnya tidak percaya. “Kau menolak apartment yang kuberikan, hanya untuk…”

“Kau datang kemari hanya untuk mengatakan itu?” Desis Solana dengan kesal. “Sebaiknya kau pulang…” Tambahnya dingin sambil bersedekap.

“Mengapa kau membenciku?” Max menatapnya dengan pandangan tajam.

“Mengapa aku perlu alasan untuk menyukaimu?” Balas Solana tidak perduli.

Maxie mendesah, merasa kalah sebelum berdebat dengan Solana. Gadis berdarah setengah Italy dan setengah Indonesia. Kecantikan dan kekerasan hatinya adalah perpaduan unik yang membuatnya sangat berbeda dengan gadis-gadis lain.

“Tidak bisakah kau bersikap sedikit lembut, terhadapku?” Pinta Max dengan perlahan.

Gadis itu mengerutkan keningnya, tampak sangat terganggu.

“Kau…. ” Ia menggeleng dengan keras. “Sudah kubilang, jangan pernah menggangguku lagi. ”

Max menatapnya dengan pandangan terluka. “Mengapa kau selalu bilang aku mengganggumu?” Tanyanya dengan nada bersabar.

Solana berdecak tak sabar. “Untuk apa kau kirim barang-barang itu?” Balasnya dengan bertanya kesal. ”

“Aku ingin memberikannya untukmu. ” Max tersenyum, mencoba melunakkan hati gadis di hadapannya.

“Aku tidak membutuhkannya. Dan jangan coba-coba melakukannya lagi. Atau aku akan langsung membuangnya tepat di wajahmu. ” Geram Solana tanpa basa-basi.

“Dan jangan pernah mencoba memberikan apapun, karena aku tidak akan pernah mau menerima pemberianmu. ”

“Termasuk hatiku?” Max menatapnya lurus, bersungguh-sungguh.

Solana membalas tatapannya dengan teguh. “Ya. Termasuk hatimu. ” Ucapnya kejam.

¤¤¤¤

“Kau pasti akan menyukainya…” Bisik Andrea dengan suara pelan.

Solana mendengus, memalingkan wajah dari sepotong gambar di tangan gadis bermata hijau ini.

“Tidak akan pernah….” Gumamnya dengan masgul. Ia tidak mungkin bisa menyukai pria yang tak dikenal, apalagi pria tersebut adalah orang yang mematahkan hati Andrea.

“Kau tak bisa menghindar dari takdir, kalian sangat berjodoh..” Ujar Andrea dengan suara yang semakin pelan.

Solana mendesah, lalu menghampiri gadis cantik yang tampak pucat dan kurus ini. Ia menyayangi Andrea dan khawatir padanya. Mereka tumbuh dan besar bersama, hingga ketika terpisah karena Solana dijemput Bibinya.

“Kudengar ini kemoterapimu yang ke sembilan. Bagaimana perasaanmu?” Ujarnya mengalihkan pembicaraan. Bagi Solana kesembuhan Andrea jauh lebih penting untuk mereka perbincangkan.

Andrae tersenyum lemah. “Rasanya kacau. ” Ungkapnya jujur.

Solana menatapnya dengan pandangan curiga. Ia baru saja menemui Dokter yang merawat gadis ini, sejauh ini semua pengobatannya berjalan dengan sesuai rencana. Hanya saja,…. tak cukup dengan segala obat, operasi dan treatment penyinaran. Pasien juga harus tetap bertekad untuk sembuh. Dan hal itu yang diragukan Dokter pada Andrea.

Ia memang mengikuti semua prosedur menyakitkan ini dan bertahan dengan semua penderitaan penyakitnya. Tapi ia melakukannya hanya karena ini harus dilakukan. Bukan karena memang ingin hidup lebih lama lagi.

“Aku tahu kau akan berkata apa..” Andrea menatap Solana dengan lembut.

Terkadang Solana tak habis mengerti, mengapa gadis cantik bermata hijau ini bisa menebak pikirannya. Bahkan beberapa kali Andrea bisa menebak hal-hal yang belum terjadi.

“Lalu, kau akan menjawab apa?” Tanya Solana dengan pandangan menyipit, tajam.

“Tidak akan ada yang berubah, aku sudah tahu sejak lama. ” Ujarnya seperti berbisik.

“Kau harusnya memilih untuk tetap hidup dan melihat kejatuhannya. ” Geram gadis berambut hitam berkilat dan kulit sehalus zaitun ini. Sifat keras khas wanita Italinya mulai mendominasi.

Andrea tertawa kecil. “Memang apa yang telah ia lakukan padaku? Ia tak bersalah, Solana. ”

Solana menatapnya skeptis. “Apa?” Tanyanya tercekat.

“Siapa yang bisa mengarahkan hati?” Andrea menggeleng lemah. “Tidak ada yang bisa. Tidak aku, juga dia. ”

¤¤¤¤

Solana menatap sebuah gambar dalam pigura kayu. Andrea yang tersenyum hangat dan dirinya yang tanpa ekspresi, menatap kamera tajam.

“Sudah berapa tahun, Andrea?” Gumamnya pada diri sendiri. “Dan kau masih tersenyum, seperti orang bodoh. ”

Hatinya sedih serta sakit. Mengingat hingga saat-saat terakhir Andrea yang penuh penderitaan. Gadis itu selalu menatap ke arah pintu dengan pandangan berharap, seolah-olah ada sesuatu yang sedang ia tunggu. Dan Solana tahu dengan pasti siapa yang ia harapkan kedatangannya.

Andrea sampai pada akhir masih mencintai pria brengsek itu, yang mematahkan hatinya. Max.

Solana mengutuki pria itu bahkan jauh sebelum pertemuan tidak disengaja mereka, juga saat Max mengejarnya dengan penuh semangat. Dan ia bertekad akan tetap memperlakukan Max seperti itu selamanya.

Andrea boleh saja memaafkannya dan mencintainya dengan tulus. Tapi Solana tidak akan melupakan pandangan terluka dan pasrah gadis itu. Sampai mati ekspresi Andrea akan terpatri dihatinya. Menguatkannya untuk membalas perlakukan Max sebisa yang ia lakukan.

Ia benci walau Andrea selalu mengatakan bahwa Solana punya takdir yang tak terputus dengan pria itu. Meski dirinya menyadari gadis yang merupakan sahabat sekaligus saudaranya satu-satunya, dipanti asuhan yang membesarkan mereka, mempunyai kelebihan penglihatan akan masa depan, yang tak pernah meleset. Andrea bisa melihat masa depan.

“Andrea, kau bilang Max adalah jodohku. Baiklah aku akan menikahinya. ” Ujar Solana dengan wajah tenang pada pigura ditangannya.

Ia membelai gambar Andrea. Dan matanya tampak penuh kabut kesedihan.

“Aku akan bersamanya seumur hidupku. Kalau benar seperti yang kau katakan bahwa Max sangat mencintaiku, maka kupastikan ia menyadari bahwa aku tidak akan pernah membalas perasaannya. ”

“Itulah yang bisa kujanjikan padamu. ” Bisiknya bertekad.

One thought on “Promise Me, Nothing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s