Unbroken : Killing Me Inside

“Siapa itu? Bekas kekasihmu?”

Bumi melirik gadis mungil yang bertanya dengan suara tercekat padanya. Sosok yang berdiri rapuh disampingnya dan mengharapkan jawabannya. Yang tiba-tiba muncul saat ia baru saja selesai berbicara dengan seseorang ditelefon.

Berapa lama gadis ini disini? Seberapa banyak yang sudah ia dengar? Pikir pria ini berhati-hati sambil mengawasinya.

“Kau masih mencintai diakan, mantan kekasihmu itu?” Tuntut Maha, gadis yang mendesak pria tampan ini.

“Kalau iya, memangnya kenapa?” Ujar Bumi menantang, dengan ekspresi wajah tidak peduli. Membuang tatapannya ke arah lain.

Dan reaksi gadis itu sangat mudah ditebak. Wajah manisnya memerah, menahan tangis yang ingin tumpah.

“Kita..sudah bertunangan selama 2 tahun, masa kau masih…”

“Kita bertunangan karena dijodohkan, bukan karena aku menyukaimu. ” Potong Bumi tanpa basa-basi. “Dan kau benar, aku masih mencintai mantan kekasihku. Kuharap kau bisa sadar bahwa tak akan ada romantisme dalam hubungan kita. ”

Kembali, perkataan pemuda berwajah tampan setinggi 184 centimeter ini semakin membuat gadis ini terpukul dan menahan rasa sedih yang tak dapat ia tutupi dengan mudah.

“Tolong jangan bermimpi apapun tentang diriku. Kau akan sangat terluka dan aku tidak mau bertanggung jawab.” Desis Bumi dengan sangat dingin ditelinganya kemudian meninggalkan gadis ini, sendirian.

Maha masih terpaku, ditempat Bumi berhasil kembali membuatnya merasa seperti seonggok sampah tidak berharga. Diam-diam gadis berambut ikal alami ini menyesap kesedihannya. Tersenyum dengan mata bulat yang tampak terluka dan malu.

“Tidak bisakah, sedikit saja kau bersikap baik padaku. ” Gumamnya perlahan entah pada siapa.

Dengan gontai Maha berjalan ke arah dimana Bumi tadi menghilang.

Tunangannya yang tidak pernah menganggapnya ada dan menghargainya dengan pantas. Bagi pria itu, Maha hanyalah sebuah alat untuk mencapai kesuksesannya. Dan ia tak perlu repot-repot menutupi kenyataan tersebut dari gadis ini.

¤¤¤¤

“Nanti malam, undang Bumi makan disini. Ada yang harus kami bicarakan. ” Perintah Tuan Mahendra Leksono pada putrinya, di meja makan saat sarapan pagi. “Dan jangan lupa pesta yang diadakan di hotel Melia sabtu ini. Kalian harus pergi berdua. ”

Maha memandang Ayahnya dengan pandangan takut-takut. Ia mencengkram ujung bajunya dibawah meja.

“Baik, Ayah. ” Ia sudah kehilangan nafsu makannya dan memutuskan kembali ke kamarnya.

Sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu, ia menoleh ke belakang sesaat menatap ke arah meja makan yang ditinggalkannya. Ayahnya tampak tidak terusik dengan kepergiaannya serta tetap menikmati sarapannya.

“Apa Ayah menyayangiku? Mengapa selalu bersikap seolah aku hanyalah aset baginya?”

Gadis itu berwajah seperti ingin menangis. Tapi ia menahan perasaannya seperti menggenggam erat kedua belah jemarinya, bertaut gemetar.

¤¤¤¤

“Bisakah aku tidak ikut?” Tanya Maha dengan wajah pucat dan berkeringat saat tunangannya menjemputnya di rumah besar milik Ayahnya.

Bumi menatapnya dengan kesal. Ia sudah menunggu gadis ini lebih dari setengah jam di ruang tamu, namun kini Maha malah menyuruhnya pergi sendiri.

“Tidak bisa. ” Ucapnya dingin, tidak berperasaan.

“Aku tidak enak badan. ” Gumam Maha sambil mengusap peluh dikeningnya yang berkilat, basah.

Mata Bumi menyipit, pandangan matanya tajam dan menusuk pada gadis yang tampak tak berdaya ini.

“Jangan cengeng. ”

Maha memejamkan matanya sejenak. Berdiri dengan tubuh goyah. Lalu menarik nafas panjang.

“Ayolah…” Bumi menariknya sedikit memaksa. Dan Maha mengikutinya dengan langkah limbung.

Sepanjang acara gadis itu hanya diam, disisi pria berkaca mata ini. Sesekali ia bersandar pada lengan tunangannya, yang membuat Bumi mengernyit tidak suka namun membiarkannya saja.

Maha tidak terlihat baik. Ia benar-benar sakit tetapi pria berdarah dingin ini tak peduli dengan keadaannya. Baginya Maha harus mengikuti semua keinginannya tanpa harus menolak. Karena memang sudah seharusnya gadis itu bersikap begitu padanya.

“Bumi, bisakah kita pulang sekarang?” Bisik Maha dengan suara bergetar. Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya berkeringat.

Tunangannya melihat ke arah gadis itu dengan pandangan tidak suka.

“Bisakah kau tidak merengek seperti anak kecil?” Balasnya dengan mata bersinar kelam dan bibir yang terkatup rapat.

Ada banyak orang penting yang harus ia sapa dan harus menjalin relasi baik. Mengapa gadis ini bersikap kekanak-kanakan dan merepotkanya? Pikirnya masam.

Maha memejamkan matanya. Mengusap keringat diwajah dengan punggung tangannya yang telanjang. Gadis ini sungguh merasa lelah dan sakit.

Ia memutuskan permisi ke kamar kecil dan meninggalkan sejenak pesta yang dihadiri oleh para pengusaha besar dan berbagai macam orang yang punya keterkaitan erat dengan dunia bisnis.

Maha mencuci wajahnya yang tampak seputih kertas. Ia melihat bayangan rupanya dicermin. Cantik, pucat dan lemah. Tapi tidak ada satu orangpun yang mau menyadari betapa ia benar-benar sudah menahan diri untuk tak tumbang.

Gadis itu menyandar pada wastafel dan mencengkram pinggiran batu. Menarik nafas perlahan dan satu-satu, mencoba mengenyahkan rasa sakit dan lelah yang dari tadi sudah menyerangnya dan kini semakin membuatnya tersiksa.

Tes. Tes.

Setitik cairan menetes di ubin putih westafel. Maha terbeliak takut serta kaget, menatap warna merah kental yang entah dari mana asalnya. Gadis itu menunduk dan menyadari mulutnya terasa asin. Dan ia menyentuh bibirnya.

Ia menoleh pada bayangannya dikaca. Ternyata ada darah yang mengalir dari hidungnya hingga ke bibir atasnya. Dan cairan itulah yang menetes diubin.

Maha mimisan. Dan melihat darah yang kini menempel pada tangan yang tadi mengusap hidungnya, membuatnya semakin pusing. Ia lelah dan pandangannya mengabur. Gadis ini merasa sangat ingin tidur.

Bruk.

Tubuh gadis itu jatuh ke lantai. Ia merasa benturan itu tidak terlalu buruk. Setidaknya kepalanya tetap lengket dibadannya, hanya saja rasa dinginnya ubin kamar mandi membuatnya tidak nyaman. Tetapi ia sudah tidak peduli, ia lelah sekali.

Setengah jam kemudian Bumi akhirnya menyadari Maha sudah terlalu lama pergi, bersamaan dengan keributan yang terjadi disalah satu toilet terdekat dari ballroom. Seorang gadis pingsan dengan wajah berdarah.

Bumi mendapatkan firasat buruk. Dan benar saja, ia melihat Maha diangkat keluar dari toilet dengan keadaan tak baik. Ia mendekati pria yang memondong tubuh gadis itu dan memintanya dengan sopan, untuk menggantikan.

“Dia tunanganku. ” Katanya singkat.

Bumi mengangkat Maha dan merasakan bobot gadis itu ternyata tidak berat. Ia menunduk melihat wajah gadis itu yang pucat, berkeringat dan berbekas darah.

“Benar-benar menyusahkan. ” Geramnya perlahan.

“Maaf…” Gumam gadis itu dengan suara lemah dan setengah sadar.

¤¤¤¤

Maha duduk di sudut tangga darurat rumah sakit. Sebuah tempat yang sepi dan jarang didatangi oleh orang lain. Ia sering mengunjungi tempat ini saat menginap di rumah sakit, usai perawatan dan merenung dalam diam.

Gadis ini divonis terkena kanker lambung stadium 2. Ia lalu memutuskan menjalani pengobatan dengan memakan obat anti kanker serta rangkaian kemoterapi. Dan kini sudah memasuki perawatan ketiga kalinya. Sejauh ini pengobatannya memberi efek yang menjanjikan.

Trek.

Terdengar pintu keluar terbuka. Dan ada langkah berjalan di lantai bawah, tangga darurat.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Ujar seorang gadis.

“Aku merindukanmu. ” Jawab suara seorang pria.

Maha merasa malu karena mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar. Tapi ia terjebak disini dan tak bisa pergi karena takut menimbulkan suara. Siapapun yang sedang berada dilantai bawah, pasti sedang melakukan pembicaraan pribadi.

“Mengapa kau mengabaikan semua pesan dan panggilanku, Kartika?” Tanya pria itu dengan suara lembut.

“Apa itu perlu dipertanyakan? Kita sudah berpisah dan kamu sudah bertunangan dengan orang lain. Seharusnya kamu tidak menggangguku lagi. ”

Maha tercekat, sepertinya ini Dokter Kartika yang cantik serta populer itu. Beliau adalah Dokter spesialis anak. Mungkin lelaki yang sedang berbicara dengannya adalah mantan kekasihnya.
“Kamu tahu aku terpaksa bertunangan dengannya. Aku cuma cinta sama kamu. Bersabarlah dan tunggu aku. ” Kata lelaki itu dengan suara tenang dan terkendali.

“Berbaik-baiklah pada gadis itu, Bumi. ” Dokter Kartika tampak menasihati pria tersebut.

Bumi.

Maha mendesah.

Ada berapa banyak pria dengan nama yang sama. Ia tersenyum. Setidaknya pria ini tampak benar-benar mencintai Dokter Kartika yang cantik. Tidak seperti Bumi tunangannya yang terang-terangan membencinya.

“Gadis itu tidak berarti apapun. Kalaupun aku sampai menikahinya, suatu saat aku akan menceraikannya. Dan kembali padamu. ”

Maha tercekat.

Kasihan sekali gadis yang dijodohkan dengan pria bernama Bumi ini. Mungkin keadaannya sama dengan dirinya. Ternyata pria yang bernama Bumi ini pun bersikap sama seperti tunangannya yang tak pernah mencintainya.

“Aku tidak peduli, Bumi. Itu urusan kamu. ” Sentak Kartika dengan suara dingin.

Namun terdengar suara benturan. Ada apa? Pikir gadis itu penasaran.

Maha memberanikan diri mengintip ke bawah. Dan yang ia lihat, membuatnya merasa sangat terkejut hingga nyaris mendapat serangan jantung.

Dokter Kartika berada dalam pelukan seorang pria. Dan mereka berciuman dengan panas serta dalam. Penuh hasrat dan kerinduan. Tampak sekali keduanya saling mencintai. Hingga membuat rikuh Maha yang diam-diam memperhatikan mereka.

Dan ketika pria itu melepas pagutannya dengan puas, karena Dokter Kartika membalas ciumannya dengan hasrat yang sama. Pria itu tertawa lirih. Tampak sangat bahagia karena menyadari reaksi wanita dalam pelukannya.

“Kau juga masih mencintaikukan?” Gumam pria itu terdengar yakin.

Ia kembali memeluk wanita dihadapannya. Dan wajahnya menoleh ke samping, penuh senyuman.

Saat itulah Maha merasakan darahnya berhenti mengalir. Ia melihat wajah pria itu dengan jelas dan ia mengenalinya.

Bumi Sakalangit.

Gadis itu menarik nafas berat. Tercekat dan hatinya sesak.

Perlahan ia tertawa lirih. Getir mewarnai wajahnya dengan pasti. Jadi seperti ini? Batinnya sedih di dalam hati.

Hidup ini lucu, pikir gadis itu. Dan takdir memang begitu rumit.

Ia memang tahu bekas kekasih tunangannya adalah seorang Dokter. Tapi ia benar tidak tahu siapakah gadis itu, apalagi menyangka wanita itu adalah Kartika.

Dan mengapa ia harus melihat semua adegan ini dengan mata kepalanya sendiri?

Maha kembali tertawa. Matanya bersinar sedih. Ia berusaha keras menyembunyikannya rapat-rapat bersama air mata yang ia telan.

¤¤¤¤

Bumi menatap sekilas pada sosok gadis yang berdiri di depan jendela ruang tunggu kantornya.

Maha tampak manis mengenakan gaun biru sederhana, yang tampak kontras dikulit pucatnya.

Gadis itu diam sambil mengatupkan kedua belah tangannya, bagai sedang berdoa. Maha sedang melihat ke arah lain dan tak menyadari kehadirannya.

Ia tampak kurus dan pucat. Tapi sejak kapan Bumi peduli dengan apapun hal yang terkait dengan gadis ini.

Lalu Maha menoleh padanya. Tersenyum lemah dan tampak tulus padanya. Ia terlihat tidak baik-baik saja.

“Pemandangan dari sini terlihat indah. “Gumamnya dengan suara riang, memulai percakapan.

“Mau apa kau kemari?” Tanya Bumi tanpa berbasa-basi.

Gadis itu mengerjapkan bulu matanya yang panjang. Berusaha mengusir kesedihan yang muncul, akibat perlakuan tunangannya yang selalu sinis padanya.

“Apa pelu alasan untuk bertemu denganmu?” Maha malah balik bertanya pada pria di hadapannya.

Bumi berdecak, sangat kesal. Merasa membuang-buang waktu percuma.

“Pulanglah. Aku sibuk, tak punya waktu bermain denganmu. ” Ia berbalik hendak meninggalkan gadis yang sudah menunggunya tiga jam lebih.

“Bumi…!” Maha bersikeras memanggilnya, membuat langkah Bumi terhenti. Menoleh padanya.

“Bumi Sakalangit, kita batalkan saja pertunangan ini. Aku tidak bisa melanjutkannya lagi. ” Pinta gadis itu dengan nada tenang dan terukur.

“Kau gila ya?” Sergah pria itu tidak senang. “Kita tetap akan menikah. ”

Maha tersenyum. “Ayah akan tetap memaksaku, menikah denganmu. Tapi berbeda kalau kau yang menolak. Kumohon, bebaskanlah aku. ”

Bumi menakar ucapan gadis itu, yang entah mengapa membuatnya sangat marah. Membuat mata pria ini semakin mengelam.

“Seharusnya kau merasa beruntung, bisa menikah dengan orang seperti aku. Meski kau putri tunggal Mahendra Leksono, kau tidak ada apa-apanya tanpa beliau. ” Kata pria itu dengan maksud menyakiti gadis yang tersenyum pedih itu.

Maha menahan semua hinaan yang selalu dilontarkan Bumi secara langsung padanya. Dan seringkali.

Pria ini tak pernah memperlakukannya dengan baik. Kata-katanya selalu ketus dan menyakiti.

Percuma ia menangis dan memohon belas kasihan, Bumi sudah gelap mata terhadapnya. Membencinya tanpa alasan sedari awal. Bahkan tak memberi ia kesempatan untuk bertanya, mengapa ia diperlakukan begitu buruk oleh tunangannya sendiri. Orang yang kelak akan menjadi suaminya.

“Aku sakit. ” Bisik Maha perlahan. ‘Aku sangat sakit, Bumi. ” Ulangnya sangat kasihan.

Pria dihadapannya hanya mendecih, tak mempercayainya. Lalu berbalik pergi tanpa berkata apapun. Meninggalkan Maha yang tak berdaya dalam kesedihan.

¤¤¤¤

Maha meringis kesakitan. Tubuh gadis itu meringkuk dalam tidurnya yang gelisah. Wajahnya pucat dan tubuhnya basah dengan keringat.

Tak ada yang tahu dengan penderitaan gadis malang ini. Tak ada yang meperdulikannya.

Ia menjalani pengobatannya sendiri tanpa ditemani siapapun. Menghadapi semua rasa sakit, keputus asaan juga kelelahan yang harus ia lalui dalam pengobatan yang memakan waktu. Gadis ini berusaha untuk tabah serta tegar. Meski sesungguhnya ia teramat sangat takut juga kesepian.

Hari-hari yang ia lalui sangat berat. Efek dari obat-obatan anti kanker serta kemoterapi tidaklah mudah. Ia tetap merasakan sakit, pusing, mual, tak bisa mengontrol moodnya serta selalu buang air berkali-kali.

Seringkali ia terbangun dengan perasaan takut dan depresi namun tak ada satu orangpun yang menenangkan kegelisahan gadis ini.

Ia menderita. Dan butuh pertolongan. Tapi tak ada siapapun yang datang.

Dan satu-satunya hal yang bisa dijanjikan oleh Bumi untuknya dihari pernikahan mereka hanyalah perceraian.

Pria itu mengirimnya jauh dari rumah setelah pernikahan mereka. Dengan kejam membiarkannya hidup sendirian di benua yang berbeda. Tetapi yang jauh lebih buruk adalah Ayahnya gadis ini, yang tega membiarkan semua hal ini terjadi pada Maha namun tak berbuat apapun untuk memperbaikinya.

Maha, sang gadis malang sudah berusaha untuk menolak pernikahan tidak bahagia ini. Tapi ia tak berdaya. Ditambah dengan penyakit yang dideritanya, mungkin Ayah dan Suaminya memang berharap kematiannya.

Kesakitan, penderitaan serta kesepian yang selalu setia menemaninya, pada akhirnya menempa gadis itu menjadi lebih kuat. Dua hal yang dapat ia petik dari pengalaman hidupnya yang pedih, jangan mempercayai siapa pun dan jangan bersandar selain pada diri sendiri. Dengan itu ia tidak akan lagi merasakan sakit serta kekecewaan karena berharap pada sesuatu yang tak nyata, seperti cinta mungkin.

¤¤¤¤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s