CURSED – Lara yang Berduka

Cinta itu tidak jatuh begitu saja. Juga tidak diberikan dengan cuma-cuma. Tetapi semakin aku berusaha keras untuk mendapatkannya, semakin aku kehilangan banyak hal.

Jadi aku memilih pasrah dan menunggu. Bila ia datang, ia akan datang. Bila tidak, aku tak akan kehilangan, sesuatu yang bukan dan belum pernah jadi milikku. Lara Marcia Frost

Tidak dicintai dan selalu diabaikan oleh satu-satunya orang tua yang tersisa, Lara pikir dengan menerima perjodohan dengan Aaron Kohler semuanya akan berubah. Sang Ayah akan mulai memperhatikannya dan ia akhirnya memiliki seseorang yang benar-benar peduli, seorang pendamping yang mencintainya.

Tetapi anggapan Lara salah.

Ayahnya, tetap tidak memandangnya dan hanya menjadikan kepatuhannya sebagai alat untuk pertukaran dalam bisnis. David Median Frost dalam diamnya selalu membenci putri sulungnya ini dan memperlakukannya kejam.

Dan dibalik sikap sopan dan penuh kasih sayang yang diberikan Aaron selama setahun belakangan ini pada Lara. Sungguh tak terbayangkan olehnya tepat satu jam sebelum pernikahan mereka, ia menemukan sang pengantin pria dan salah seorang pendamping wanita yang merupakan salah seorang teman, sedang bergumul dengan pakaian masih lengkap namun kemaluan menempel erat.

Lara, gadis itu terkejut. Dan hanya bisa tertohok diam, tanpa bisa mengalihkan wajah dari pria bejat yang sesaat lagi akan menjadi suaminya. Serta wanita pirang yang selama ini menjadi tempat curahan keluh-kesahnya.

Ia terpaku dengan wajah sepucat mayat. Tubuh gadis itu gemetar dalam dingin. Tangan kirinya mencengkeram dadanya yang kini terasa sesak, dia kehilangan nafasnya dan limbung.

Sesaat sebelum tubuh langsingnya yang mengenakan gaun pengantin putih roboh, sepasang lengan kokoh menangkap bahunya. Menyelamatkan gadis itu dari kerasnya lantai.

Lara mendongak lemah, menoleh pada penolongnya.

“Sepupu. ”

Pria tampan dengan rahang tegas itu, menatap tajam melewati puncak kepala gadis itu, jauh ke dalam ruangan baca yang terbuka. Tempat dimana Aaron dan Grace Helga masih saling berkejaran dalam menikmati nafsu mereka.

Caleb Romain Frost, memalingkan wajahnya kembali dan menatap wajah Lara dalam pelukannya. Gadis itu tampak begitu terpukul dan sangat kasihan. Pucat, berkeringat, dingin, mata berkaca-kaca, dan tampak seperti ingin muntah.

Lara menelan ludahnya. Mencoba membasahi kerongkongannya yang kering.

“Tolong —- ” bisiknya serak, putus asa.

Caleb membanting pintu dengan keras. Dan setengah menyeret tubuh gadis itu menyusuri lorong, menjauhi ruangan terkutuk tersebut. Tak ada kelembutan dalam sikapnya. Ia bahkan tidak peduli bahwa kelakuannya menyakiti Lara.

Saat ini ia teramat sangat marah.

Sementara Lara dalam goyah dan tak berdaya, bersandar lelah pada lengan kukuh itu. Membiarkan air matanya merembes perlahan, membasahi wajah mulus tanpa rona itu.

Ia menangis tanpa suara. Menekan kuat isakan dibibirnya dan menelan semua air matanya dalam-dalam.

“Jangan menangis untuk lelaki seperti itu. ” Geram Caleb mengancam.

Lara mengerling pada sepupunya yang paling tampan ini. Jemarinya yang gemetar mengusap wajah basahnya. Ia mencoba tersenyum meski itu terlihat sangat konyol dan bodoh.

Calem kembali mengeram.

Saat ini sungguh ingin menampar gadis di hadapannya dan menguncang-gungcang tubuh rapuhnya. Ia benci melihat kelemahan yang selalu ditunjukkan Lara. Sengaja ataupun tidak.

Namun sebelum ia melakukan apapun, Lara sudah jatuh melemah. Gadis itu kehilangan kesadarannya dan pingsan.

¤¤¤¤¤

“Papa, aku tidak mau melanjutkan rencana pernikahan ini. ”

David Frost menatap tajam penuh perhitungan pada gadis usia 22 tahun yang duduk dengan ragu, di sofa ruang kerjanya. Ia mendengar perkataan putrinya dengan jelas, namun belum memberikan reaksi apapun.

“Aku melihat sendiri — Aaron dan Helga. Bahkan sepupu —–, Caleb juga melihatnya. ”

Lara tampak ragu dan berusaha tegar dengan menatap langsung pada seraut wajah dingin berambut putih menua, sesosok lelaki usia 57 tahun yang duduk mengancam di kursi kerja.

“Apa kau pikir, aku menikahkanmu demi romantisme? Berhenti melakukan hal bodoh. Pernikahan ini cuma bisnis untuk mengakuisisi dan merger perusahaan. ”

Ucapan David yang penuh dengan ketenangan itu meski sudah dapat ditebak masih membuat Lara tersentak. Kedua bola mata hitamnya tampak bersinar pedih. Jari-jari gadis itu bertaut dalam genggamannya.

“Papa — ” bisiknya sedih.

“Kau tidak menginginkan aku — bahagia?”

David berdecak meremehkan.

“Jangan jadi Naif, Lara. ” Kecamnya menusuk.

Mati-matian gadis itu menahan debur jantungnya yang berdetam. Dengan pelupuk basah penuh air mata menggumpal, ia menunduk. Sebuah hukuman mati telah ditetapkan dan Lara tidak bisa menolaknya.

Gadis itu membeku dalam diam. Serta menyesap keputusan tak terbantahkan dari ayahnya.

¤¤¤¤

“Lara, ada apa?”

Lucky menegur kakak sulungnya yang sedari tadi hanya diam disisinya. Lara mengelus rambut adik lelakinya yang berbaring dan menyandarkan kepala dipangkuannya.

Lara tersenyum lembut padanya. Menepuk-tepuk kening Lucky dan menyanyikan lullaby seperti yang pernah dilakukan ibu mereka dahulu.

Pemuda berusia 16 tahun ini menangkap tangannya dan menatap tajam kakaknya, dengan mata biru seperti ayah mereka. Ia bangkit dan menyentuh bahu gadis muda ini.

“Katakan padaku, Lara. Apa yang membuatmu tampak begitu sedih? Dan apa yang terjadi saat hari pernikahanmu, mengapa kau jatuh pingsan?”

Mereka saling menatap. Lalu si gadis menarik nafas panjang. Tersenyum lemah. Sebelah tangannya terulur menyentuh kulit wajah Lucky.

“Kau adalah satu-satunya alasan aku berbahagia, adikku. “

Dengan gerakan lamban Lara mengusap anak rambut di kening remaja berwajah manis ini.

“Aku tidak memintamu menjadi kekuatanku, tetapi — cepatlah dewasa dan —- tolong aku. “

Tangisnya tumpah tanpa suara dan Lucky segera menarik kakak yang sangat ia cintai ke dalam pelukannya.

Ketika ibu mereka mati saat usia muda, Laralah yang bertindak sebagai pengganti wanita itu sejak umur 12 tahun. Kekasih ayah datang silih berganti, tetapi tidak ada satupun yang memperhatikan mereka. Hanya karena asuhan serta kasih sayang kakaknya, pemuda ini tumbuh bahagia dan sehat.

Tetapi tidak bagi Lara. David Frost tidak pernah menganggapnya ada. Perlakuan dingin yang selalu ia tunjukkan meski anak perempuannya sudah berusaha menunjukkan kelebihannya, kepintaran serta kepatuhannya. Namun berbeda hal dengan apa yang diterima oleh Lucky. David begitu memanjakan serta memuja anak lelakinya ini.

Kepada Lucky, ia menghujani perhatian dan kasih sayang berlebih. Tetapi pada Lara, ia tidak pernah memberikan apapun selain kesepian. Bahkan saat gadis itu masih kecil, David sering mencambuki kaki Lara bila menemukannya melakukan hal yang tak disukainya atau terkadang mengurungnya di gudang. Bukan hanya David, Emily istrinya pun tidak pernah menunjukkan cintanya pada putri sulungnya ini. Dari awal Lara sudah menyadari itu.

Lama gadis itu menangis dalam pelukan adik lelakinya. Betapa banyak pertanyaan yang menghantuinya sedari sejak ia bisa berpikir. Lara tidak pernah tahu alasan mengapa ayahnya begitu beda memperlakukan mereka. Tidak ada yang memberi tahunya dan lebih menyakitkan lagi, tidak ada yang peduli dengan kenyataan ini.

Dulu ada seseorang yang pernah menunjukkan sedikit perhatian tulus padanya. Namun ketika Lara ingin bergantung padanya, orang tersebut mendorongnya dengan keras. Setelah kejadian itu si gadis menyedihkan ini, hanya berani menatap orang tersebut dari kejauhan.

Cinta pertamanya.

¤¤¤¤¤

Aaron menemui Lara di sebuah cafe kecil yang mempunyai konsep green garden. Ia memangdang ke sekeliling saat memasuki ruangan teduh itu. Bell di atas pintu berklening membuat Lara menoleh padanya. Dan pria tampan berambut keemasan itu tersenyum lebar.

Ia melangkah lebar dan duduk tanpa basa-basi di kursi, tepat di hadapan gadis cantik berambut hitam lurus ini. Mengedarkan pandangan kekiri dan kanan, mencari-cari pelayan cafe.

Seorang pelayan yang mengenakan apron hitam mendekat dan Aaron memesan segelas kopi black americano tanpa gula. Lalu pandangannya kembali pada wajah cantik Lara.

Aaron menyeringai.

“Apa kabar cantik?”

Lara menelan air ludahnya dan entah mengapa merasa terintimidasi dengan pandangan pria ini. Aaron yang ia kenal bukan sosok seperti ini. Sedangkan pria dihadapannya ini adalah pribadi yang ia tak dikenal dengan aura berbahaya. Ia merasa sedikit takut.

“Aku — tidak mengerti. ” Ujar gadis itu tercekat.

“Selama ini, kupikir kau — ”

“Aku berbohong, Lara. ” Potongnya cepat dan tanpa rasa bersalah.

“Kupikir bila aku menunjukkan diriku yang asli, kau akan langsung menghindar. Jadi aku menipumu. Tetapi karena kini semua sudah ketahuan, aku tidak perlu menutupi apapun lagi. ”

Pria tampan yang mempunyai senyum mempesona ini, memandang Lara dengan bibir tipis terkatup rapat.

Si gadis menarik nafas panjang. Mencoba menjinakkan keterkejutannya yang membayang di wajah pucatnya.

“Mengapa?” Tanyanya dengan tegar.

Aaron tertawa mendengar pertanyaan gadis itu, seolah ia sudah menanyakan hal bodoh.

“Kau cantik dan sangat naif, sayangnya bukan tipikal gadis yang kukencani. Tetapi pernikahan bisnis ini, akan menguntungkan bagi keluarga Frost dan Kohler. Lalu —– mengapa tidak?”

Gadis itu menunduk usia mendengar jawaban Aaron. Memejamkan matanya dengan sebelah jari tangan kiri mencengkeram pergelangan tangan kanannya, erat.

“Jadi — semua sikap baikmu selama ini, palsu?” Gumamnya pelan.

“Jangan cengeng, Lara. Dan tolong jangan dimasukkan kehati, tetapi Helga memang sangat — ” ia menyeringai sebelum menyambung perkataannya “— hot. Kau tidak tahu betapa menggoda wanita itu. ”

Lara menahan gemetar tubuhnya. Rasa malu, marah dan terhina yang ia rasakan, tidak seberapa dengan betapa hancur hatinya mendengar ucapan Aaron yang tidak memandang dirinya. Ia merasa bagai seonggok daging tak berharga.

Pelayan datang dan meletakkan pesanan Aaron. Dengan senyum lebar pria itu mengucap terima kasih dan segera meneguk minumannya.

Lara menoleh padanya, tatapannya penuh tekad dan ia sudah memutuskan.

“Apa rencanamu selanjutnya?”

Pria itu tersenyum. Meletakkan cangkirnya dan bersandar pada bahu kursi. Melipat kedua belah tangannya di dada dan menatap Lara seksama.

“Tidak ada yang akan menghentikan pernikahan kita, Lara. ”

“Karena itu, kumohon. Aku tidak ingin menikah denganmu. ”

Aaron mendengar nada suara gadis itu yang bergetar, penuh emosi.

“Coba berikan alasan yang bisa aku terima. ” Ujarnya dengar nada berbahaya.

Aaron dan Lara saling menatap, menilai diri masing-masing.

“Karena pernikahan bukan permainan bagiku.”

Pria itu tertawa lirih.

“Ini memang bukan permainan, Lara. Ini murni bisnis. ”

“Justru karena itu, pernikahan adalah hal sakral bagiku. Dan aku ingin melakukannya bersama dengan orang yang juga berpikir seperti itu. Tapi kamu —- jelas bukan orang itu. ”

Aaron menyeringai, sudut bibirnya menajam. Dan ada aura gelap menyelimuti suasana keduanya.

“Ini yang kubenci darimu. Kekanak-kanakan. ”

“Ini soal hidupku, Aaron. ” Bisiknya sedih.

“Dan sejak kapan hidupmu adalah keputusanmu. Yang aku ketahui, ayahmu tampak begitu semangat mencampakkanmu dalam pernikahan ini. ”

Gadis itu tertohok. Kesedihan membayang dengan cepat dimata indahnya yang mengerjap kaku. Bibirnya gemetar menahan kelu yang menghujam kerongkongannya.

Aaron menamparnya dengan kenyataan yang tak bisa ia bantah.

“Kau bisa tenang, Lara. Setelah menikah denganku, kau akan bebas dari kungkungan ayahmu. Kita jalani saja hidup kita dengan cara masing-masing. Bagiku pernikahan ini hanya status di depan keluarga dan mata umum. Bagimu, ini adalah jalan satu-satunya. ”

Pria itu kembali menyeringai lebar. Memamerkan gigi-giginya yang putih dan rapi.

¤¤¤¤¤

Footnote : I’m back.
Aku menantang diriku, untuk kembali membawa cerita yang akan kuposting secara berkesinambungan. Kali ini aku membawa cerita yang berbeda dengan Angel and Devil. Semoga kalian suka dan nggak pelit ngasih komentar. 🙂

Advertisements

Anjing Bener Nih PLN

Pertama sekali, saya ingin menyatakan bahwa sesungguhnya saya bukanlah orang yang suka memaki ataupun mengucap kata-kata kotor. Saya orang yang berpendidikan dan dididik ketat oleh Nenek tercinta, tidak boleh memaki/mengucap kata-kata tidak sopan dengan ancaman mulut bakal dicabein kalau melanggar. Dan bila ternyata saya sampai sudah mengucap kata Anjing pada sesuatu yang bukan Anjing, anggaplah itu puncak dari kekesalan saya yang paling berat. Dan tolong maafkan saya.

Dimana cerita ini harus dimulai?

Well, saya tinggal di provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Asahan dan tepat di sebuah desa bernama Pulau Rakyat Tua. Ketika listrik di Sumut mengalami pemadaman bergilir selama beberapa jam, beberapa kali dalam satu hari setelah bertahun-tahun belakangan ini, saya masih bisa bersabar dan menerimanya tanpa perlu mencaci maki para pejabat PLN yang tertangkap korupsi Mark Up harga dalam pengadaan alat listrik di Sumut.

Dan saya pun tidak pernah mengucap kata-kata buruk, menyumpahi saat listrik lebih rajin mati dibandingkan pasien rumah sakit makan obat.

Tetapi beberapa hari lalu, tepatnya Kamis tanggal 20 Februari 2014 datanglah petugas PLN menagih rekening listrik ke rumah orang tua saya. Memang keluarga kami tidak rutin membayarnya setiap bulan, terkadang 3-4 bulan sekaligus dibayarkan. Kebetulan saat itu saya sedang tidak ada di rumah dan petugas PLN meminta harus dibayar saat itu juga, meski sudah diminta keringanan sampai hari Senin tanggal 24 Februari 2014. Lalu karena tidak mau listrik diputus sementara, Adik saya mendatangi kantor PLN setempat dan menyerahkan 350 ribu rupiah dari 380 ribu jumlah tagihan.

Kami sama sekali tidak bermaksud untuk tidak membayar kekurangannya. Yah, kalau memang tidak ada, nggak bisa dipaksain kan? Nggak mungkin ngerampok orang atau jual diri cuma untuk bayar tagihan listrik yang kurang 30 ribu. Dan bila pun tidak segera dibayar, bukankah masih ada kesempatan melunasinya pada saat membayar tagihan listrik di bulan selanjutnya?

Tetapi yang terjadi adalah hari ini, Selasa tanggal 25 Februari 2014 siang, petugas PLN memutus aliran listrik di rumah saya, dengan ID Pelanggan 125120230170. Cuma gara-gara tagihan listrik dibayar kurang 30 ribu rupiah.

Lalu yang pertama terlintas dipikiran saya saat mengetahui kejadian ini, “Anjing Bener Nih PLN. ”

Saya tidak pernah menuntut pelayanan maksimal dari Perusahaan Listrik Negara yang lebih cocok disebut PERUSAHAAN LILIN NASIONAL. Tetapi PLN memaksa pembayaran tepat waktu serta tidak memberi kesempatan konsumen yang telah bertahun-tahun lamanya mendapatkan pelayanan terbaik dari mereka.

Sumpah, kalau ada perusahaan listrik lainnya dinegara ini saya akan memilih pindah memakai jasa mereka dan bukan PLN lagi.

Saya kecewa dan marah. Sehingga semua ketidak mampuan PLN selama ini begitu menyakitkan bagi nurani saya. Bukan hanya karena listrik di rumah saya terputus hanya karena pembayaran yang belum lunas. Bukan hanya karena tingkat kebakaran rumah naik dan memakan korban gara-gara listrik yang korslet (arus pendek akibat listrik mati dan hidup tiba-tiba) di wilayah Sumut. Bukan hanya karena beberapa nyawa melayang akibat menghirup karbon dioksida dari mesin genset yang dihidupkan karena pemadaman listrik di rumah-rumah rakyat. Tetapi karena betapa tak berdayanya saya dalam memiliki kesempatan memilih penyedia listrik yang lebih baik di Indonesia ini. Dan sampai kapan pemadaman listrik akan terus terjadi di wilayah Sumatera Utara?

Jadi saya sampai pada kesimpulan, kalau negara memang sudah tidak mampu menyediakan listrik bagi rakyatnya, mengapa tidak memberi kesempatan pada pihak swasta untuk meramaikan penyedia listrik di Indonesia? Bukankah semakin banyak pilihan semakin baik. Rakyat boleh memilih memakai PLN yang katanya bersubsidi namun ketersediaan energinya tanggung-tanggung atau pihak swasta yang mungkin mahal namun memberikan service yang memuaskan.

Sekian dari saya di kegelapan.

Review 28

Today is Today

Aku bukan lagi orang yang antusias dengan peringatan hari lahirku. Bagiku nggak penting, selain mengingatkan bertambahnya usia, yang artinya lo tambah tua cuy.

Ck, tapi ya tetap hari ulang tahun nggak bisa dilupain gitu aja. Apalagi kalo jatuhnya tepat pas hari-hari penting, kayak besok, 14 Februari. Pasti ramai yang ingat dan ngucapin doa (mungkin). Eh, kira-kira para mantan ingat nggak yah kalo besok itu —- lupain. Halah, ingat juga nggak penting lah kalo nggak ngasih kado. Hahaha.

So, malam ini aku me-review 28 tahun hidupku yang panjang. Apa aja yang udah aku lakukan? Apa yang belum? Apa yang kuinginkan? Apa yang tidak? Apa yang kusesali? Dan apa yang aku syukuri?

Dan kesimpulan yang aku ambil adalah aku ingin sedikit bersikap egois. Mulai besok, aku ingin hidup untuk diri aku sendiri. Bukan buat siapa-siapa dan apa. Tapi untuk diriku, Yona Sukmalara. Yah, walau aku ragu sih apa bisa setega itu.

Here’s a message I wrote for you know Who :

Dear God, I think I need a little romantic situation in my suck life, can you give me that? Someone says if there no ups and downs in your life it means you are dead. So I won’t dead because I still alive. Am I ?

By the way thank you for taking care of me all this time. For meal, air, health, life, family, education, friends, love, sick, feeling, tears, joy, happiness, sorrow, everything. Thank you. And I love you. XOXO

MARS : Malaikat di Ladang Pembantaian

Setiap manusia pasti punya kegelapan dalam hatinya, tetapi tidak semua orang bisa selalu mengikuti cahaya dan menolak jadi budak rahasia.

Bagian Pertama :

“Sheng —- Kau sudah datang?”

Chen Sheng tersenyum tipis pada sosok ramping dengan rambut hitam sepunggung. Han Xi Luo, gadis manis dengan wajah teduh, tunangan dari Chen Ling saudara kembar pemuda ini. Keduanya berpelukan sekilas dan dengan senang hati gadis berusia 22 tahun ini menyeretnya masuk kedalam apartment sederhana mereka.

Xi Luo meletakkan barang belanjaannya pada meja batu di dapur. Sedangkan Sheng mengamati seluruh isi apartment Ling secara seksama. Apartment ini jauh dari kesan mewah. Berbeda sekali dengan rumah tempat Ling dan Sheng dibesarkan selama ini. Walau sederhana dan minimalis, namun ada kehangatan terpancar disini. Seolah kau merasa pulang ke tempat yang kau sayang.

Sheng tersenyum. Ia mengerti mengapa Ling begitu betah tinggal disini dibandingkan rumah keluarga Chen yang begitu mewah dan besar. Bahkan untuk menuju kamar Ibu, mereka harus berjalan 15 menit dan melewati jembatan yang melintasi ngarai yang dalam. Yang memisahkan bangunan rumah lama dan bangunan rumah baru yang lebih modern dan dinamis.

Sheng menoleh pada sisi lain. Ia tersenyum melihat beberapa lukisan milik Xi Luo yang diletakkan di salah satu sudut ruangan.

Chen Sheng adalah pemuda yang tenang dan cenderung pendiam begitu juga dengan sosok Xi Luo, namun entah karena karakter mereka yang sama, keduanya begitu cocok dan bersahabat. Hingga terkadang Ling mengatakan bahwa seharusnya Sheng dan Xi Luo yang lebih tepat disebut kembar dibanding dirinya.

“Aku senang kau datang. Ling juga pasti sangat senang. Ia sudah bersiap-siap menyambut kedatanganmu. ”

Xi Luo tersenyum lembut dan menghidangkan teh panas untuk kembaran kekasihnya yang baru saja tiba di Taiwan. Setelah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkuliah di Paris Sorbonne University, jurusan seni lukis. Kini Shen sedang libur panjang dan mengunjungi Ayah dan satu-satu Kakak lelakinya yang ia miliki.

Sheng adalah pelukis muda berbakat, sama seperti Xi Luo. Hanya saja Sheng sudah menjadi pelukis profesional sedangkan Xi Luo adalah amatir yang baru memenangkan penghargaan pendatang baru berbakat di kementrian budaya. Oleh sebab itu ia tak putus-putusnya mengajak Xi Luo untuk ikut dengannya, belajar di Sorbonne.

“Aku lihat lukisan Mars milikmu, diulas baik oleh majalah Horizon. ”

Wajah manis Xi Luo perlahan memerah. Ia tampak malu-malu mendengarnya. Mereka duduk di karpet biru tebal, tempat biasanya menjamu para tamu yang datang kemari.

“Ah — itu. ”

“Kau sudah melihatnya? Masih dipamerkan di gedung seni kementrian budaya. ”

Sheng kembali tersenyum lembut dan menatap balik Xi Luo.

“Akan menyenangkan bila kau menemaniku, kesana. ”

“Hei —- Kau tidak mencoba merayu tunangan Kakakmu kan?”

Keduanya serentak menoleh pada sosok Ling, yang baru saja muncul dan berjalan. Memasuki apartment tipe studio tanpa sekat dan kamar ini.
“Ling —-” Seru Sheng dan Xi Luo bersamaan dengan nada riang.

Ling tertegun melihat reaksi kompak mereka berdua.

“Benar-benar seperti kembar. ” Cetusnya mengejek.

Sheng bangkit dari duduknya dan mendekati kembarannya. Ia memeluk Kakaknya dengan kerinduan sementara Ling membalas pelukannya dengan tak kalah hangat. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tulus.

Xi Luo tersenyum menatap kedua pemuda tampan yang kembar identik ini. Bila dilihat secara pintas, tidak ada hal yang dapat membedakan diantara keduanya. Postur badan, wajah, model rambut serta senyumannya begitu sama persis. Hanya sifat, cara berpakaian dan kesukaan mereka saja yang berbeda.

Xi Luo adalah satu-satunya orang selain Ibu mereka, yang bisa membedakan mana Sheng dan yang mana Ling, kekasihnya. Karena cuma Ling yang disaat tertawa, alis kirinya lebih tinggi sebelah.

“Papa mengundang kalian makan malam. ”

Ucap Sheng setelah mereka kembali duduk di karpet tebal. Mengelilingi meja bulat. Ling duduk di sebelah Xi Luo dan meminum teh milik gadis itu tanpa permisi.

“Ah, restoran jepang itu lagi. ”

Ling meringis. Teringat pada kejadian terakhir kali ia makan bersama dengan Ayahnya. Ling marah dan meninggalkan restoran tersebut bahkan sebelum menyelesaikan makannya.

“Sudahlah, datang saja. ”

Xi Luo tersenyum, menyemangatinya.

“Ck —- Papa terus mendesakku untuk segera menikah dan memberikan cucu yang banyak. Dia bilang, aku tak perlu mengurus anak-anakku. Serahkan saja padanya. ”

“Memangnya aku anjing, semudah itu disuruh beranak. Lagipula Xi Luo masih belum menyelesaikan kuliahnya. Ibunya akan membunuhku bila menghamilinya sebelum menikah. ”

Ling merepet panjang lebar pada kembarannya. Xi Luo hanya tersenyum-senyum dengan wajah merah padam, mendengar kekasihnya menumpahkan kekesalannya pada saudaranya, yang jarang ia temui ini.

“Ling, ada yang ingin kubicarakan. ” Kata Sheng dengan wajah serius saat Xi Luo meninggalkan mereka berdua saja.

Gadis itu sedang menyiapkan makan siang untuk mereka. Sementara Ling dan Sheng memutuskan mengobrol di balkon apartmentnya.

“Belakangan ini — aku — mimpi buruk — lagi. ”

Ling menatap getir pada seraut wajah yang teramat persis dengan miliknya. Ada kesedihan yang dalam, terpancar dibola mata hitam Adik kembarnya ini.

“Kau masih mengunjungi Psikiater kan?” Tanyanya dengan prihatin.

Sheng mengangguk. Sejak percobaan bunuh dirinya yang gagal diusia 16 tahun, Ayahnya memaksa Sheng untuk secara berkala menemui Psikiater dan menjalani terapi kejiwaan hingga sekarang.

“Ling, apakah ada yang salah denganku?”

Ia menatap kembarannya dengan wajah ingin menangis.

“Aku masih sering berpikir untuk — mati. Kurasa —- terapi yang kujalani — tidak begitu —- berpengaruh. ”

Kembarannya membalas tatapannya dengan prihatin. Ia tahu betapa tersiksanya Sheng dikarenakan menahan hasrat ingin membunuh dirinya sendiri. Sheng menderita gangguan depresi yang sangat parah dari kecil. Kelainan ini diturunkan oleh Ibu kandung mereka yang juga mengidap penyakit yang sama. Yang menyebabkan kematian pada wanita cantik itu.

Ya. Benar.

Ibu mereka mati bunuh diri setelah bertahun-tahun dirawat disebuah Rumah sakit jiwa di distrik Neihu. Meninggalkan anak kembar lelakinya dan seorang suami yang begitu terpuruk dengan kematiannya, hingga tidak sanggup merawat anak-anaknya. Itulah sebabnya hingga berusia 15 tahun Ling dan Sheng diasuh oleh sepasang suami istri, sepupu Ayahnya yang begitu menyayangi mereka.

“Jangan lakukan itu — Papa akan sangat bersedih. Kau adalah anak kesayangannya. ” Ujar Ling menasihatinya.

Sheng hanya mengangguk setuju. Ayah mereka sebenarnya sangat menyayangi keduanya, namun karena Sheng lebih patuh dan penurut, ia jauh lebih dekat dengan Ayah mereka. Dibandingkan Ling yang begitu hiperaktif dan pemberontak.

“Bagaimana denganmu?” Tanya Sheng padanya.

“Apa kau masih —- ingin membunuh?”

Ling memejamkan matanya. Ingatannya kembali pada kenangan saat Ibu mereka baru saja meninggal dunia dan mereka dibawa sepupu Ayah mereka, tinggal di California. Ketika itu usia mereka baru 8 tahun. Sebagai anak baru dilingkungannya, terlebih lagi keduanya merupakan orang Asia, mereka sering diganggu dan dibully oleh anak-anak yang lain.

Sampai suatu hari Ling yang begitu pemberani dan suka berkelahi, menghajar anak yang menjadi ketua komplotan pembully di sekolah hingga nyaris mati. Dan Ling sama sekali tidak berhenti memukulinya meski anak tersebut sudah tak berdaya, pingsan serta babak belur.

Ling sangat marah pada anak lelaki berusia 14 tahun itu. Ia selalu mengganggu Sheng yang tampak lebih mudah diganggunya di belakang Ling. Belum lagi ia selalu mengumpat dengan makian kotor setiap kali Ling dan Sheng lewat di depan kelompok mereka.

Saat Ling lepas kendali tersebut, untung saja segera ditemukan oleh orang dewasa lain. Butuh 4 orang dewasa untuk bisa melepaskan Ling dan membuatnya tenang dari tantrum. Dan setelah kejadian itu Ling sempat dimasukkan rehabilitas untuk mengendalikan amarahnya.

“Jujur saja, terkadang keinginan itu begitu menggodaku saat ada —- orang-orang menyebalkan yang tidak kusukai. ”

Ling mengingat sosok Ayah tiri Xi Luo yang pernah melecehkan gadis itu saat ia masih di kelas 9. Lalu seraut wajah Dosen mata kuliah bahasa Inggris di kampus, yang masih muda dan terkenal simpatik namun punya kecenderungan melecehkan gadis-gadis lemah seperti Xi Luo. Dan Xi Luo nyaris kembali menjadi korbannya.

Untuk sesaat Ling kembali merasakan api membakar perasaannya. Ia sangat menikmati gelenyar itu dan sebuah senyum dingin terpatri diwajahnya. Sebuah senyum dengan sorot mata gila yang sangat berbahaya.

“Oh, aku sangat ingin membunuh mereka. ” Geramnya.

Sheng bergidik melihat perubahan raut wajah kembarannya. Juga suaranya yang terdengar begitu jauh, seolah bukan diucapkan oleh pemuda ini.

Ling menarik nafas panjang. Dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Lalu perlahan ekspresinya kembali normal dan sebuah senyum menyeringai tersungging dibibirnya.

“Tapi aku berpikir panjang. ”

Pemuda itu memandang Sheng dengan pandangan menilai dan hati-hati. Ling tidak pernah menyembunyikan apapun pada Sheng, begitu juga sebaliknya. Ikatan mereka terlalu kuat untuk diputuskan oleh keabnormalan sifat mereka masing-masing.

“Kalau aku tidak bisa menahan diri, siapa yang akan melindungi Xi Luo dan kau. ”

“Dan seandainya aku membunuh mereka maka aku akan jatuh kelevel yang sama rendahnya dengan manusia-manusia bejat itu. Aku tidak mau seperti mereka. ”

“Karena —- aku berbeda dengan sosok munafik yang menyembunyikan sisi gelap mereka dalam-dalam, serta hanya bisa menindas siapa saja yang lebih lemah dari mereka. ”

“Aku bukan mereka. ”

Dengusnya sinis dengan nada jijik.

¤¤¤¤¤

Sheng berdiri di depan lukisan minyak Xi Luo yang di pamerkan usai memenangkan penghargaan dari Mentri budaya.

Judulnya Mars*. Dewa perang.

*Mars : Dewa perang dalam mitologi Romawi. Putra dari Jupiter dan kekasih dari Venus.

Xi Luo menggambarkan seorang pemuda tampan dengan rambut cokelat hangat. Bertelanjang dada. Dengan raut wajah dingin namun mempesona. Yang terbakar dan dikelilingi oleh api membara bagai kiamat.

Chen Ling.

Pemuda itu adalah jelmaan malaikat yang rela kehilangan kesuciannya dan mengotori tangannya dengan darah. Demi melindungi hal-hal yang ia cintai.

Malaikat berwajah tanpa dosa, yang berlumuran darah di padang pembantaian.

Ling.

“Ini lukisan Ling yang paling aku sukai. ”
Ia menoleh pada Xi Luo yang berada di sampingnya. Tersenyum tulus pada gadis manis yang mengenakan dress baby blue sederhana.

“Meski aku sering melukis Ling serta menjadikannya model lukisanku. Tak ada yang bisa menggambarkan Chen Ling begitu kuat, seperti ini. ”

“Sepertinya kau sudah menemukan Muse*-mu ya. ”

*Muse : Dewi dalam mitologi Yunani yang menguasai sembilan simbol seni.

Sheng dan Xi Luo tertawa geli. Saling berpandangan satu sama lain.

“Ya. Chen Ling adalah Museku. ”

“Dan siapa Musemu, Sheng?”

Xi Luo tersenyum hangat pada Chen Sheng. Pemuda ini menggeleng dengan senyum tipis, tidak jelas.

“Kuharap, kau segera menemukannya. ”
Xi Luo tampak begitu tulus mendoakannya. Hingga membuat Sheng jadi ikut berharap hal itu akan terjadi padanya.

“Semoga. ” Bisiknya pada diri sendiri.

¤¤¤¤¤

Footnote : kalau ada yang tahu drama Taiwan Mars yang dibintangi Vic Zhou dan Barbie Hsu, yeah, cerita ini ditulis berdasarkan film tersebut.
Mars adalah film favoritku walau aku tidak ngefans dengan Vic. Justru temanku Jinnie yang ngefans banget sama Vic. So, cerita ini aku persembahkan buat Jie.

Bukan Dongeng 1001 Malam

Bagaimana bisa kau jatuh dalam pelukanku, sayang? Kau jauh di awang-awang, tak terjangkau olehku yang bergelut dalam kubangan tanah.
Meski kita melupakan jarak yang ada, apakah dengan begitu perbedaan tidak akan terasa?

Mari kembalilah pada kesadaran. Tak akan ada hari esok untuk seorang dengan masa depan cemerlang dan seorang yang bahkan ayah serta ibunya, memaki dirinya keras-keras. Tak akan ada tawa setelah sekian lama dirimu dibebankan oleh sang upik abu. Tidak akan pernah cocok, wajah penuh binar dengan muka tercoreng peluh dan arang.

Sayangku, maaf…. tapi mimpi biarkanlah berakhir malam ini. Dan semoga esok kau terbangun dengan perasaan lelah namun lupa telah melakukan apa. Lalu aku? Aku tak apa. Bagiku, cukuplah kau menjadi salah satu malam terbaik dalam hidup sahaya ini.

Angel and Devil, Part Six: The Last Decision

Cerita Sebelumnya : Alice akhirnya mengetahui bahwa Kyle berbohong padanya soal kematian bayinya. Dan ia memilih kembali pada suaminya tetapi ternyata tidak sesederhana itu karena Kafka harus menghadapi gugatan cerai yang diajukan oleh istrinya ini.

Satu hal yang dapat dipastikan bahwa hubungan diantara Kyle dan Alice benar-benar mencapai akhirnya. Kyle akhirnya sadar, ia sudah kehilangan Alice sejak saat ia tak memperjuangkan gadis itu. Dan Alice telah menemukan tujuan lain dari hidupnya.

Here’s they are, the last chapter about Alice, Kafka and Kyle (Thanks to Sidar Majid, yang selalu suka dengan tulisanku dan gelisah menunggu cerita selanjutnya. Dan jujur saja aku menyukai menulis Angel and Devil).

Part Six

“Saya menolak untuk bercerai. ”

Kafka menatap langsung pada Alice, yang didampingi oleh kuasa hukumnya. Keduanya bertemu saat mediasi secara tertutup yang digagaskan oleh hakim dan masing-masing pengacara.

“Yang mulia, saya tetap ingin berpisah dengan suami saya. ”

“Nyonya Alice Black-Luzt. Bisakah anda menjelaskan alasan anda mengajukan gugatan ini?”

Alice menoleh pada Kafka. Raut wajahnya tampak tenang dan sorot matanya tidak terbaca. Dengan hati-hati ia mulai berbicara.

“Pernikahan saya dan Kafka De Luzt diawali dengan niat yang salah. ”

Kafka dan Alice saling memandang satu sama lain. Dengan pergumulan batin masing-masing serta begitu sibuk dengan pikiran mereka sendiri.

“Selama beberapa tahun pernikahan kami, tidak seharipun diantara kami ada yang merasa bahagia. Terlebih lagi suami saya, Kafka.”

“Saya menghormatinya dan berusaha untuk selalu patuh padanya sampai akhir. Tetapi pada kenyataannya saya menyadari bahwa kehadiran saya dalam hidupnya, sama sekali tidak membawa kebaikan bagi suami saya, Kafka. ”

Kafka menatap Alice tanpa berkedip sedikit pun. Dan Alice tetap menunjukkan sikap tenangnya meski ia banyak menarik nafas panjang karena sama sekali tidak merasa lega.

“Jadi saya ingin meluruskan semuanya. Sudah cukup semua tanggung jawab saya terima dengan lapang dada dan Kafka harus menerima. Saya ingin masa depan yang lebih baik dengan anak kami. Begitupun saya mengharapkan yang terbaik buat kebahagiaan Ayahnya Gabriel. ”

“Kafka, mengertilah. Aku pikir semua dendammu tidak akan pernah ada habisnya bila kau tidak menghentikannya. Dan aku sudah cukup membayar kesalahan Ayahku yang membuatmu kehilangan banyak hal. Tetapi bahkan jika aku memberikan nyawaku, apa yang telah hilang tidak bisa kembali lagi. Jadi… hentikanlah. Demi Gabriel. “

“Gabriel pantas mendapatkan hal terbaik dari kedua orang tuanya. Dan kita bisa tetap melakukan itu tanpa bersama-sama. Kumohon. ”

“Jangan gunakan Gabriel sebagai alasan untuk berpisah. ”

Kafka nampak geram dan tidak terima. Ingatannya kembali ke seminggu lalu sebelum hari ini. Ia menemui Alice dan memintanya membatalkan gugatan perceraiannya. Namun apa yang dikatakan istrinya setelah ia mencoba membujuknya :

“Setelah semua yang hal terjadi, setelah aku bangun dari koma, setelah aku sadar ternyata bayiku masih hidup, untuk pertama kali aku menemukan hal yang benar-benar berharga untukku. Bukan rasa bersalah, pengorbanan diri, nama baik atau bahkan seorang anak. ”

“Tapi hidup. ”

Alice menatap Kafka dalam-dalam. Ia kembali berbicara dengan nada teratur dan begitu tenang. Seolah sudah memikirkan keputusan ini sejak lama.

“Aku baru menyadari bahwa hidupku begitu berharga dan singkat. Jadi kali ini aku tidak mau menyia-nyiakannya lagi untuk alasan apapun. ”

“Aku ingin hidup untuk diriku sendiri, Kafka. ”

Semua perkataan Alice tersebut membuatnya mati kutu. Dan tidak dapat mengatakan apapun. Kesalahannya begitu berat dan Alice berhak melanjutkan hidupnya. Tanpa Kafka.

“Saya tetap ingin bercerai, yang mulia. Bagaimanapun sebuah pernikahan yang apabila salah satu pihak sudah tidak menghendakinya, tidak akan bisa berjalan dengan baik. ”

Alice kembali menegaskan perkataannya. Membuat Kafka sadar dari lamunannya. Ia kembali menahan emosinya yang terbakar.

Pengacara Alice menyodorkan berkas surat perjanjian kesepakatan perceraian pada Hakim dan pengacara pihak tergugat, yaitu suami.

Hakim perempuan yang menangani kasus perceraian mereka memakai kaca matanya dan membaca butir-butir kesepakatan yang telah dirancang oleh kuasa hukum dan disetujui oleh pihak penggugat, Alice Marion Black. Yang sebentar lagi tidak akan mengenakan nama De Luzt di belakang nama keluarganya.

“Nyonya yakin ingin menyerahkan seluruh aset ini?” Tanya sang Hakim dengan ekspresi sedikit terkejut.

Alice menarik nafas pelan sebelum menjawab ya. Ia melirik pada Kafka yang kini berwajah sangat marah padanya.

“Saya tidak peduli dengan seluruh harta tersebut, suami saya lebih baik dalam mengelolanya sebelum akhirnya akan dimiliki oleh putera kami saat ia dewasa. ”

“Yang saya inginkan hanya hak asuh sampai putera kami berusia 18 tahun. Dan saya tidak akan menghalangi Ayahnya untuk tetap berhubungan dengan Gabriel. ”

Hakim perempuan paruh baya tersebut, memandang pada Kafka yang duduk di sebelah kanan ruang sidang. Ia tampak tidak dapat berbuat apapun lagi selain menyetujui perceraian ini.

“Tuan De Luzt, sepertinya semua persyaratan sudah terpenuhi dan saya memutuskan gugatan ini disetujui. Keputusan ini disahkan pada tanggal 23 Februari 2014. ”

Hakim mengetuk palu sidang. Dan mempersilahkan kedua belah pihak untuk menanda tangani surat cerai.

¤¤¤¤¤

“Bercerai, huh?”

Kyle dan Kafka duduk di Bar Berghain, tempat biasa mereka hangout dengan lingkup kecil sahabat mereka. Namun untuk kali ini, hanya ada mereka berdua disini. Duduk, menikmati minuman dan mengobrol layaknya saudara yang telah lama tidak berjumpa.

Kafka menyesap minumannya, vodka ditambah gin tonik. Dan ini sudah gelas keempatnya. Sangat jarang baginya untuk minum melebihi batas kemampuan kesadarannya.

Kyle memperhatikan keadaan Kafka yang tidak seperti biasanya. Ia terlihat kacau dan liar meski masih terlihat rapi serta tampan seperti biasanya. Yeah, perceraian itu memukulnya dengan telak meski sudah nyaris delapan bulan yang lalu.

“Mengapa bisa semudah itu kau menerimanya? Seperti bukan dirimu saja. ”

Kafka menoleh pada Adik semata wayangnya. Kyle baru saja pulang dari Macau dan langsung menemuinya.

“Aku sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan melakukan ini padaku. Bercerai, hah…”

Kyle mendengus kasar.

“Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Tetapi tidak secepat ini. Wajar saja, kau tidak pernah memperlakukannya dengan baik. ”

“Apa kau menyumpahiku?”

Adiknya menoleh padanya dengan pandangan mengejek. Lalu ia tertawa melihat ekspresi wajah Kakaknya yang seperti serigala terluka.

“Kau sendiri apa sudah menyerah terhadapnya?” Tanya Kafka bernada sarkastis.

Kyle menarik nafas panjang. Dan menegak minumannya perlahan.

“Jujur aku masih mencintai dia. ”

Ia kembali melirik pada Kafka, Kakak lelakinya. Yang kini kembali melotot kesal mendengar pengakuannya.

“Tapi aku sadar…. sejak ia tak mau lagi bersandar padaku, aku sudah lama kehilangan dirinya. Dan semua itu adalah kesalahanku yang tidak memperjuangkannya dari awal. ”

“Apa yang kau lakukan sekarang?” Tanya Kyle dengan serius.

Kafka mengangkat bahunya.

“Banyak hal. ”

“Seperti?”

Kyle mengernyitkan keningnya, tidak mengerti.

“Menyuruh orang mengawasinya secara diam-diam. Mendatangi kediamannya setiap hari dengan alasan bertemu dengan Gabriel. Memaksanya menerima tunjangan perceraian. Dan menendang bokong pria-pria yang memelototinya setiap kali ia keluar rumah.”

Wajah Kyle tampak shock lalu tawanya meledak dengan keras, hingga wajahnya menelungkup di meja bar.

“Apa yang salah?” Tanya Kafka tidak senang.

“Kau mencintainya. ” Ujar Kyle dengan wajah lucu.

“Aku tidak. ”

“Ya. Itu sudah jelas. Kau hanya tidak menyadarinya, Kakakku yang terhormat. ”

“Aku hanya masih menganggapnya milikku. Dan aku tak suka orang lain memilikinya bahkan termasuk dirimu. ”

“Kau memang aneh. ”

Kyle bergumam tidak jelas.

“Setelah menyiksanya selama pernikahan kalian, mungkin kau telah jatuh hati padanya. Siapa yang tidak?”

“Dia wanita baik yang sangat sempurna. Yang tanpa sadar membuatmu mencintainya. Kalau tidak buat apa kau menyesali perceraian ini dan menghalangi lelaki lain mendekatinya. ”

Kyle menepuk bahu kakaknya. Dan menatapnya dengan serius.

“Kuberi kau nasihat gratis. Jangan menyesal seperti diriku yang sudah tak punya harapan lagi dengannya. Kau berbeda. Kalian punya Gabriel sebagai pengikat. ”

“Go, get her. Jadikan dia milikmu. Nggak ada yang nggak mungkin dalam cinta dan perang, selama kau masih mau berjuang dengan siasat yang tepat. “

“Bukannya kau yang bilang begini padaku, ‘Kau harus belajar merelakan apa yang bukan milikmu, tidak akan pernah jadi milikmu meski kau memaksa semesta berkonspirasi’. ”

Kyle menggeleng dengan wajah memerah setengah mabuk. Ia menggerakkan bahunya dengan acuh.

“Itu hanya berlaku untukku. Aku sudah pernah mencobanya Kak, tapi gagal. Sedangkan kau, belum pernah berbuat apapun untuk dia. ”

“Alice belum pernah melihat yang terbaik darimu. Dan aku yakin bila dia tahu itu tak ada alasan baginya untuk tidak jatuh cinta padamu. Kau hanya perlu memperlihatkan dirimu yang sebenarnya. ”

¤¤¤¤¤

“Kyle…”

Alice menyambutnya hangat saat menemukan pria tampan dengan rambut cokelat cerah, berdiri di pintu apartmentnya.

Kyle tersenyum dan langsung memeluknya erat.

“Kau terlihat cantik, sayang. ”

Alice tertawa mendengar pujiannya.

“Dimana keponakanku yang nakal?”

“Jangan bilang Gabriel seperti itu. ” Hardik Kafka dengan masam.

Pria itu mengikuti langkah Kyle dan Alice memasuki ruangan apartment mewah ini.

“Wow, tempatmu lumayan juga. ”

Kyle bersiul melihat keseluruh ruangan.

“Kafka memaksaku pindah dua bulan yang lalu. ” Ujar Alice malu-malu.

“Tentu saja. Apartmentmu yang lama begitu sederhana dan lingkungannya kurang aman. ”

Kyle berdecak, mengejek.

“Dan apartment yang ini lebih dekat dari kantor serta hanya 10 menit dari rumahmu. Hah…tentu saja. ”

Kafka melengos, masam. Ia segera beranjak memasuki sebuah kamar yang terletak disebelah kiri ruang tengah.

“Baby… Daddy datang. ”

Alice melirik pada Kyle yang tersenyum jahil.

“Ayo kubuatkan kopi. ”

Alice menggandengnya ke dapur. Dan mantan Adik iparnya ini tidak menolak.

“Bagaimana kabarmu?”

Wanita cantik di hadapannya ini tersenyum sumringah. Ia terlihat begitu hidup dan bahagia.

“Kafka menyesal. ”

Kyle mengawasi perubahan raut wajah Alice usai ia mengucapkan hal itu.

“Dia mungkin baru sadar setelah kehilangan dirimu. ”

“Kyle, antara aku dan Kafka, berbeda dengan apa yang pernah terjadi pada kita. Tidak pernah ada perasaan yang terjadi diantara kami. ”

“Tapi dia berubah, Alice. Mengapa kau tidak mau memberinya kesempatan?”

Alice menatap Kyle dengan pandangan sedikit terintimidasi. Ada sisa-sisa trauma dalam bahasa tubuhnya.

“Aku… takut. ” Bisiknya pelan.

“Kafka tidak pernah mengatakan apapun.. lagipula ….., ia tidak menunjukkan apa-apa. Bagaimana mungkin….. ”

“Alice….”

Kyle menyentuh bahu wanita kesayangannya ini.

“Bukankah aku pernah bilang padamu, Kakakku telah banyak menderita jadi ia harus menjadi kuat. Dan cinta adalah hal yang paling tidak ia percaya. Ia menganggap cinta melemahkannya. Makanya ia bersikap kejam pada siapapun. Kecuali aku, Gabriel dan sekarang dirimu. ”

“Pernahkah kau berpikir, bahwa perceraian ini terjadi karena belas kasihannya padamu. Demi kebahagiaanmu. Meski itu bukan hal yang sangat ia inginkan. Kalau ia masih Kafka yang begitu membencimu, mudah saja ia menyeret dan membungkammu. Tapi tidakkan?”

Alice menunduk, menekuri jari-jarinya yang diletakkan di meja makan. Tempat keduanya sedang duduk bersisian.

“Apa bagimu Kafka tidak berarti apapun, Alice?”

¤¤¤¤¤

“Alice kau dimana?” Tanya Kyle dengan gusar saat panggilannya diangkat oleh wanita itu.

“Aku sudah menghubungimu sejak dua jam yang lalu. ”

“Maaf, ponselku mati. Aku baru saja menghidupkannya. Ada apa?”

Kyle berdecak kesal.

“Kafka tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke New York. ”

Ia tidak mendengar reaksi apapun dari Alice. Jadi ia menambahkan kata-katanya.

“Ia tidak akan kembali sampai waktu yang tidak ditentukan. ”

“Apa… maksudmu?” Gumam Alice pelan.

“Ia memaksaku menggantikannya di Berlin dan menjaga kalian selama ia tak ada. Kau mengertikan?”

“Ia…. pergi. ”

Lalu terdengar suara keributan dan hening.

“Alice… Alice….”

Kyle memanggil dengan panik. Ia mencoba menelfon kembali nomor ponsel Alice namun tidak tersambung. Kali ini ia sangat cemas.

“Oh, Tuhan… Alice. ”

“Kafka… Aku harus menghubungi Kakak. Semoga ia belum berangkat dan mematikan ponselnya. ”

Kyle menghubungi nomor kakaknya dengan tergesa. Ia merapalkan semua doa yang ia ingat dan berjanji akan menjadi lebih baik pada Tuhan, asalkan diberi kesempatan kali ini. Dan mungkin doannya dijawab. Karena pada dering ketujuh, Kafka mengangkat panggilannya.

“Ada apa?” Sentak Kafka marah.

“5 menit lagi pesawat akan take off dan kau merecokiku. Walau ini private jetku tetap saja……”

“Alice… Aku tidak tahu apa yang terjadi apa padanya. ”

Kyle cepat-cepat berbicara memotongnya.

“Apa maksudmu?” Tanya Kafka tidak mengerti.

“Kurasa sesuatu yang buruk terjadi padanya. ”

Tiba-tiba Kafka merasa lambungnya menjadi dingin dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

“Oh, Tuhan. ” Pekiknya lemah.

¤¤¤¤¤

“Alice… Alice…”

Wanita cantik yang mengenakan jaket hitam tebal itu menoleh. Dan sebelum ia melihat siapa yang memanggilnya, sosok itu sudah menenggelamkannya dalam pelukan posesifnya.

“Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?”

Alice tampak sangat pucat dan terlihat shock dengan apa yang terjadi.

“Aku tidak bisa menghubungimu. Dan Kyle bilang terjadi sesuatu padamu. ”

“Ehm…”

Sebuah suara menyadarkan sosok yang belum melepaskan pelukannya dari Alice.

“Anda siap, Pak?” Tanya pria gendut yang merupakan perwira polisi. Di resort ini dan menangani kasus yang menimpa Alice.

Kafka menoleh pada pria tersebut.

“Saya suaminya, Pak. Anda menghubungi saya tadi. ”

Pria itu tampak paham. Dan tersenyum menenangkan.

“Istri anda tidak apa-apa. Hanya pingsan karena ditabrak pengendara sepeda yang…”

“Apa??”

“Sepertinya ia sedang melamun sehingga tidak melihat ada sepeda yang meluncur cepat kearahnya. ”

“Apa yang kau lakukan?”

Kafka melotot marah pada Alice yang kini tampak semakin ketakutan di hadapannya. Tetapi ia tidak melepaskan tubuh dalam pelukannya.

“Kau…disini? Lalu New York… penerbanganmu?” Gumamnya semakin bingung dan takut.

“Oh, yeah. Dia membatalkan penerbangannya dan hampir meloncat bahkan sebelum jetnya berhenti di landasan. Lalu terburu-buru membawa mobil hingga membuat Roll Royce itu lecet. Bayangkan lecet karena terserempet taksi sialan. ”

“Benar-benar bukan Kakakku yang kukenal. ”

“Diam Kyle. ” Bentak Kafka pada Kyle yang muncul belakangan.

“Dan ada apa kalian berdua?”

Kyle menatap mereka dengan pandangan sakit hati yang kentara. Seolah Kafka dan Alice sudah membunuh kucing milik Paus di Vatican.

“Kalian sama-sama kecelakaan? Oh, betapa berjodohnya. ”

“Kyle… tutup mulutmu. Tolong buat dirimu lebih berguna. ”

Kyle diam. Dengan wajah kesal ia segera menemui opsir polisi gendut yang tadi menemani Alice.

“Dan kau… Apa yang terjadi padamu?”

Kafka nyaris menggeram, menatap Alice seolah ingin menelannya bulat-bulat.

“Aku hampir mati ketakutan. Ini alasannya kenapa aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja. ”

Alice dengan wajah pucat, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menangis tanpa suara. Tampak ketakutan sekali.

“Maaf… Aku…”

Kafka bingung harus berkata apa. Ia menyesal sudah membentak Alice yang baru saja bangun dari pingsannya.

‘Kupikir…tidak bisa…melihatmu lagi. Aku…bingung….takut. ”

Lalu Kafka kembali memeluk Alice. Kali ini penuh rasa syukur karena tak terjadi hal serius yang menimpa wanita tersebut.

¤¤¤¤¤

Kafka duduk di bar dapur kering, memperhatikan Alice yang sedang menata makanan di meja.

“Bagaimana perkembangan terapimu?”

Alice tersenyum lembut padanya. Dan Kafka membalasnya dengan hangat.

“Yeah, Yusack mengatakan ada kemajuan. Aku sudah bisa mengatasi kemarahanku. Juga keinginanku untuk menyakiti orang-orang. ”

“Dan hei, apa kau mau rujuk denganku?”

“Hah?”

Alice melongo, mendengar ucapannya yang tiba-tiba. Seketika rona merah menjalari wajah cantiknya.

“Kurasa aku tidak sanggup berjauhan dengan Gabriel. Kurasa aku juga tidak bisa jauh dari Mommynya Gabriel. ”

“Aku minta maaf atas kelakuanku dahulu. Kupikir, dulu aku benar-benar tidak termaafkan. Padahal bukan kau yang bersalah. ”

“Aku menyesal Alice. ”

Alice menunduk, lebih memberi perhatian pada motif taplak meja di hadapannya.

“Kau sudah mengatakan itu dari dua tahun yang lalu. ” Gumamnya lirih.

“Tapi kau belum juga menerimaku kembali. Padahal kau juga maukan? Buktinya kau tidak pernah berkencan dengan pria lain. ”

Kafka berjalan mendekatinya. Ia meraih bahu Alice dan memaksanya untuk melihat langsung padanya.

“Bagaimana aku mau berkencan, kalau kau selalu menempeliku seperti lintah.”

“Tapi kau tidak terlihat keberatan. ”

Kafka mencebik kesal, mendengar perkataan Alice padanya.

“Itu karena kau tidak memberiku kesempatan. Menggunakan Gabriel menjadi alasanmu. ”

Alice menggeleng dan mengibaskan lengan pria bermata biru ini. Ia mundur dan kembali ke dapur.

“Hei, kalian lebih parah dibandingkan anak kindergarten berkelahi. Ini tidak baik buat perkembangan Gabriel. ”

Kyle muncul dengan menggendong sikecil Gabe yang menggapai-gapai kearah Ibunya.

“Tutup mulutmu, Kyle. ” Geram Kafka kesal, karena kemunculannya terasa mengganggu.

“Aw… Aku sakit hati pada kalian berdua. Lihat Gabe, Daddy dan Mommy begitula cara mereka saling mencintai. ”

“Diam Kyle. ” Kali ini Alice yang bersuara.

“Astaga, mengapa kalian tidak rujuk saja sih. Tidak kasihan padaku, sudah dua tahun aku tidak berkencan gara-gara mengurusi masalah kalian yang tak pernah selesai. Aku tidak mau mati sebagai bujangan lapuk. ”

“Hei, Alice. Apa kurangnya Kakakku? Dia tampan, kaya dan begitu menyayangi keluarganya. Kau tidak akan menyesal menikahinya. Terlebih Gabriel sudah mulai pintar, aku takut ia akan bertanya mengapa Mommy dan Daddynya hidup terpisah. ”

Kyle dengan senyuma lebarnya mencoba mempromosikan saudara laki-lakinya, bagai sales barang dagangan yang handal.

Alice hanya tertawa gugup dengan wajah sangat memerah. Ia cepat-cepat mendudukkan Gabriel pada kursi bayi yang tinggi.

“Kurasa ….. sebuah upacara pernikahan kecil dan sederhana …. tidak masalah. ”

Kafka tertegun mendengar perkataan lirih Alice, yang diucapkannya sambil lalu dan tanpa melihat wajah siapapun.

“Em… bagaimana menurutmu?” Tanyanya dengan malu-malu pada pria yang shock, masih tidak mempercayai pendengarannya.

¤Tamat¤

Angel and Devil, Part Five : The Lies Behind

Cerita sebelumnya : Kyle membawa Alice lari dari rumah sakit, membuat Kafka marah besar. Mereka berkelahi hebat dan diakhiri dengan ancaman Kyle yang akan membunuh dirinya bila Kafka masih menggangu wanita itu lagi. Dan Kafka tahu bahwa Adiknya sangat serius dengan ucapannya.

Alice bersedih dengan kenyataan yang diungkapkan Kyle, bayi yang ia lahirkan ternyata meninggal dunia. Ia terpuruk dan Kyle yang mencintainya menangis bersamanya. Lihat di Angel and Devil, Part Four: Crossing http://t.co/DEb8MioyJE.

Part Five

Kyle menatap iba pada Alice yang berbaring, membelakanginya. Sudah beberapa hari ini ia menangis terus dan tidak memperdulikan apapun. Ia begitu terpukul dengan berita kematian anak yang ia lahirkan.

Alice bahkan menolak untuk berbicara dengan Kyle. Dan menghukum dirinya sendiri. Menyalahkan diri atas kemalangan yang bertubi-tubi datang mendera hidupnya.

Kyle tak dapat berbuat apapun selain menyesal. Mengapa tak dari dahulu mencoba menyelamatkan Alice. Sehingga kejadian menyedihkan ini tidak menimpa gadis itu.

“Alice, kita harus bersiap untuk pergi. ”

Ia menatap punggung gadis itu yang masih mengisak. Tak akan mudah bagi seorang ibu kehilangan anak yang baru saja ia lahirkan dengan susah payah mengandung selama ini.

“Untuk apa?” Tanya Alice dengan suara serak.

“Aku bahkan tidak peduli bila Kafka menemukanku. ”

Kyle mendesah.

“Jangan seperti itu, sayang. Kita bisa memulai hidup yang baru. Kau dan aku. Kita akan bahagia. ”

Pemuda itu berupaya membujuk Alice agar mengikutinya dengan suka rela.

“Kyle…”

Ia menolehkan wajahnya yang sembab dan beruraian air mata. Dan bangkit duduk di ranjang.

“Sudah cukup. Jangan menyia-nyiakan hidupmu untukku. Kembalilah pada Kakakmu, kasih sayangnya terlalu besar untuk bisa membuangmu begitu saja. ”

“Alice….”

Kyle maju dan ingin menyentuhnya. Namun gadis itu mundur dan menolak untuk didekatinya.

Pria ini tertegun tak mau memaksakan keberuntungannya. Alice sedang dalam keadaan tak baik dan ia sangat memakluminya.

“Kyle…. Maafkan aku. Sepertinya…. Aku harus menyelesaikan semua ini, sendiri. “

Alice menatap satu-satunya pria yang pernah mengisi hatinya, namun tak berjodoh dengannya. Akhir yang indah selalu tak berujung pada mereka.

“Aku mungkin akan pergi, tapi tidak bersamamu. ”

“Maafkan aku….”

¤¤¤¤¤

Kafka melihat sosok wanita yang sudah berhari-hari menjadi target pencarian anak buahnya. Alice sedang duduk sendirian di sebuah coffee shop yang terletak di dekat taman kota. Ia sendiri yang menghubungi Kafka dan meminta berjumpa.

Alice tidak terlihat baik. Wajahnya bengkak karena terlalu banyak menangis. Dan tampak begitu muram. Tetapi Kafka tidak akan tertipu lagi, gadis ini bisa saja berpura-pura untuk mencari simpati darinya. Meski sejujurnya ia bertanya-tanya, seharusnya Alice tak seperti ini. Seharusnya Alice tak menghubunginya setelah lari. Seharusnya Alice, istrinya bahagia dengan Kyle yang mencintainya setengah mati.

“Jadi ini pilihanmu?”

Kafka tersenyum mengejek pada seraut muka yang memerah karena menahan tangisnya lagi. Ada sebuah plester pembalut luka menempel dihidungnya. Akibat pukulan tinju Kyle yang bersarang di wajahnya.

Tatapan mata istrinya menelusuri wajah tampannya. Ada rasa bersalah, kecewa juga kasihan disorot mata wanita ini.

“Apa yang kau katakan pada Kyle, sampai ia berani memukulku bahkan mengancam untuk bunuh diri?”

“Apa kau tega meninggalkan bayi kita?”

Alice menggeleng dengan cepat. Air matanya menetes perlahan. Ia duduk dengan gelisah di hadapan suaminya. Kedua tangannya bertaut diatas pangkuannya. Cemas.

“Kau benar-benar akan pergi dengannya?”

“Kali ini, apa kau akan pergi meninggalkanku?”

“Apa tidak ada harapan buatku?”

Tatapan Kafka begitu menusuk. Seolah-olah Alice adalah tersangka penyebab segala kekacauan dalam hidupnya dan membuat ia kehilangan kontrol terhadap dunianya. Ia duduk dengan tubuh condong ke arah gadis itu, sedikit mengancam.

“Aku tidak tau. ”

Alis tebal Kafka bertaut. Dan ia semakin marah mendengar ucapan Alice yang tampak begitu tidak berpendirian.

“Jangan bilang kau dipaksa Kyle. Kau bisa memilih untuk tetap bersamaku dan anak kita, tapi kau memilih lari. ”

“Maaf….maafkan aku. Bayi kita….baby…”

Alice menumpahkan segala tangis kesedihannya. Kedua lengannya terlipat memeluk perutnya, tempat dimana ia pernah mengandung seorang bayi.

“Jangan bersikap seolah kau peduli, Alice. ”

“Kalau kau memikirkan bayi kita, maka kau tidak akan pergi, Alice.”

Dengan terisak, ia menatap Kafka marah.

“Aku sudah memohon padamu, … untuk menyelamatkan bayi kita. Mengapa kau…mengapa aku yang diselamatkan?”

“Kau kejam. ”

“Kau sengaja melakukan ini untuk menyiksaku dengan perasaan bersalah?”

“Bayiku…”

“Apa-apaan wanita ini?”

Kafka mengusap mulutnya dengan gerakan kasar. Ia menatap Alice dengan pandangan keras. Dan lelaki ini teramat marah pada sosok di hadapannya. Wanita ini bertindak seolah tidak tahu apapun dan itu sangat menyebalkan dimatanya.

“Kau benar. Aku meminta Dokter untuk menyelamatkanmu. Dan aku tidak menyesali itu. ”

Alice menatapnya terbelalak. Tidak mempercayai pendengarannya.

“Ya Tuhan… Kafka. ”

“Mengapa kau tidak membiarkan saja aku mati bersama bayi kita. ” Jerit Alice dengan rasa frustasi yang memuncak.

“Apa maksudmu?”

Kafka meraih bahunya dan menguncang tubuhnya. Tangannya mencengkram bagai jepitan dipundak lemah istrinya. Wajahnya menggelap dan sarat akan aroma kekesalan.

“Aku ingin mati dengan bayiku. Aku ingin mati. ”

Pria ini tersentak dengan perkataan Alice yang membuatnya bingung. Ia kembali menggoyang bahu wanita beremosi labil, yang merupakan Ibu dari puteranya.

“Alice… Alice…”

“Apa yang Kyle katakan? Bayi kita masih hidup. ”

“Kau bohong. Kau pasti berbohong. Kyle bilang anakku sudah mati. Oh, bayiku… Anakku. ”

Alice kembali meratap dengan wajah bersimbah air mata. Ia menunduk dan lengannya terkunci, memeluk perutnya yang kini datar.

“Alice, anak kita masih hidup. Kyle berbohong padamu. ”

Gadis itu menatapnya dengan ragu. Ia terlihat bingung dan tidak terfokus dengan benar.

“Dengarkan aku, Alice. Anak kita masih hidup. Kembalilah ke rumah dan kau akan melihatnya. Ia baik-baik saja dan bertumbuh. Kurasa ia membutuhkan dan merindukan Ibunya. Jadi, pulanglah. ”

“Kau…tidak bohong?”

Kafka menarik nafas lega. Lalu mengangguk.

“Oh Tuhan. Sepertinya aku salah mengira Alice meninggalkan bayi kami. Ia pikir aku sengaja tidak menyelamatkan anak kami untuk menyakitinya lebih lanjut. ”

Ia berusaha untuk meyakinkan Alice lagi. Agar tidak mengikuti Kyle dan memilih untuk tidak meninggalkan bayi mereka serta dirinya, juga.

“Anak kita hidup, Alice. ”

¤¤¤¤¤

“Kyle…. Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa anakku, bayiku … Dan mengajakku lari, meninggalkan baby yang masih hidup. ”

“Oh, Kyle… Apa yang harus kulakukan padamu?”

Alice menggendong buah hatinya dengan pandangan takjub dan sangat bersyukur. Bayi merah dalam pelukannya tampak begitu tenang dan sehat.

Berkali-kali wanita yang kini telah jadi seorang Ibu ini mengucap terimakasih pada Tuhan. Dan mengusap air mata harunya.

“Bagaimana keadaan Nyonya?”

Tanya Dokter yang telah menangani persalinannya waktu itu. Wanita paruh baya yang berwajah tenang dan keibuan ini bersikap profesional padanya.

“Apa air susu Nyonya sudah keluar?”

Alice melirik Kafka yang juga berada di ruangan periksa sang Dokter. Wajah wanita ini tampak jengah dan memerah.

“Em.. Payudara saya sakit, Dok. ” Ucapnya setengah berbisik.

“Rasanya keras sekali. ”

Dokter itu tersenyum menenangkan. Ia mengerti bahwa ini persalinan pertama Alice dan pasangan muda ini tampak masih malu-malu.

“Itu wajar. Tandanya asi anda harus dikeluarkan. ”

“Apakah anda akan menyusui bayi anda? Itu hal terbaik yang dapat dilakukan agar payudara anda tidak sakit lagi. ”

“Benarkah?”

Alice bertanya meyakinkan. Ia sama sekali tidak berpengalaman masalah ini dan tak ada orang yang bisa ia tanyakan tentang persalinan dan menyusui.

“Tentu saja saya mau. ” Katanya dengan tegas.

Kafka yang dari tadi diam dan mengawasinya. Tidak berkata apapun. Namun dirinya menyadari bahwa Alice begitu bersemangat dan tampak sangat cocok berperan sebagai seorang ibu. Ibu dari anak Kafka.

Pikiran seperti itu kali ini, entah mengapa bisa menenangkan Kafka. Dan ia memandang Alice dengan berbeda.

¤¤¤¤¤

“Apa yang kau lakukan Alice? Mengapa kau kembali? Tidakkah kau tahu apa yang sudah kulakukan untuk membawamu keluar dari rumah ini?”

Kyle mencecarnya dengan banyak pertanyaan saat Alice menghubunginya. Ia segera menemui gadis itu dan mendesaknya untuk segera ikut dengannya.

“Aku tahu Kyle. Dan aku sangat berterimakasih padamu. ”

Alice tersenyum lembut padanya. Penampilannya jauh lebih baik dan ia terlihat sangat cantik.

“Tetapi kau tidak akan mengikutiku?”

Mereka berpandangan. Lalu Alice menyentuh lengan Kyle dan menggenggam tangannya.

“Aku tidak bisa meninggalkan anakku. ”

“Jadi kau memilih tetap bersama Kakakku dan menerima perlakuan buruknya lagi?” Geram pemuda ini tidak terima.

Ia sangat marah dengan keputusan yang diambil Alice. Tetapi ia juga sudah menduga bahwa Alice akan melakukan hal ini demi bayinya. Oleh sebab itu akhirnya ia memilih mengatakan bahwa bayinya sudah meninggal.

“Tidak Kyle ….., Tidak begitu. ”

Alice menatapnya dengan tajam. Bagaimanapun ia tidak bisa menerima kebohongan yang telah dilakukan Kyle dan semudah itu memaafkannya.

“Aku kembali untuk anakku. Dan kali ini aku punya rencana untuk masa depan kami.”

“Apakah… Aku termasuk di dalamnya, Alice?”

Keduanya saling bertatapan dengan intens. Kyle menatapnya masih dengan gulatan rasa cinta yang besar. Sedangkan Alice, sorot matanya begitu bertekad.

“Aku sudah menemukan tujuan hidupku. Dan kupikir Kafka harus berhenti sekarang. ”

“Kyle…. Terimakasih sudah mencintaiku begitu dalam. Dan sudah memberikanku keberanian. Aku sangat berharap kau segera menemukan kebahagiaan sejatimu. Selamat tinggal …. sayang. “

“Alice, sayangku. Maaf. Aku mengerti pada akhirnya kau menyerah dan semua itu bukan salahmu. Seharusnya aku memperjuangkanmu dari awal. Maaf….aku benar-benar minta maaf. “

¤¤¤¤¤

“Apa ini?”

Kafka nyaris meledak membaca kertas yang ada di hadapannya. Ia melotot marah pada pria setengah baya yang berpakain resmi dan menyatakan diri sebagai pengacara dari Alice Marion Black-Luzt.

Lelaki tua yang sudah berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai penasihat hukum keluarga Black itu berdehem.

“Seperti yang anda lihat, Nyonya Alice mengajukan gugatan perceraian. Beliau tidak akan menuntut apa-apa serta menyerahkan seluruh aset berharga miliknya kepada anda. Yang ia inginkan hanyalah hak asuh puteranya sampai usia 18 tahun. Dan ia tidak akan membatasi serta menghalang-halangi anda untuk berhubungan dengan putera kalian. ”

“APA??”

Kafka menggeram marah. Ia sama sekali tidak menyangka Alice akan melakukan hal ini padanya.

“Atas dasar apa ia menuntut perceraian dariku?”

Ia menyeringai dengan wajah buas pada pria tua yang duduk di ruang kerja Kafka, di pentahouse lantai 32 gedung Goethestraße. Sebuah perkantoran yang terletak di kawasan termahal kota Berlin.

“Nyonya Alice tidak menyebutkan alasan perceraiannya. Beliau mengatakan bahwa semua ini dilakukannya demi kebaikan semua pihak. Saya tidak bisa mengatakan hal apapun tetapi penawaran ini sangat menguntungkan pihak anda. ”

Kafka memejamkan matanya. Mencoba menahan kemarahan yang menjalar di sekujur tubuhnya hingga membuatnya gemetar. Ia sangat sanggup melakukan apa saja saat ini. Apalagi menghajar pria tua, yang telah kurang ajar membawa berita buruk untuknya.

“Aku menolak. ”

Pengacara tua tersebut, tersenyum dengan arif. Lalu menarik nafas panjang. Ia sudah menduga hal ini akan sulit.

“Kalau begitu sampai jumpa dipengadilan. ”

“Apa kamu pikir…. Kalian punya kesempatan?” Katanya mengejek.

Pria itu bangkit dari duduknya dan bersiap undur diri dari hadapan Kafka.
“Nyonya bersedia melakukan apa saja, demi berpisah dengan anda. Termasuk merendahkan dirinya. ”

“Sejujurnya saya tidak tahu apa yang terjadi dalam pernikahan kalian, tetapi melihat tekad Nyonya yang begitu kuat serta keinginannya untuk tidak mempersulit anda, pasti ada sesuatu yang salah dalam hubungan kalian. Sesuatu yang begitu krusial hingga membuatnya rela memberikan apa saja demi sebuah kebebasan. ”

Ucapan dari seorang pria tua yang tidak dikenalnya dengan akrab ini begitu menohok hati Kafka. Hingga ia tidak dapat berkata apapun untuk membalasnya. Karena ia tahu kenyataan selama ini, bagaimana pernikahan mereka berjalan.

“Saya harap anda dapat memikirkan hal ini dengan masak-masak. Kita dapat membicarakannya setelahnya. Saya permisi Tuan De Luzt. Selamat siang. ”

Sepeninggal pengacara tersebut, Kafka masih terduduk di sofa kulit tempat ia biasa menerima tamu di kantornya. Ia masih memikirkan soal gugatan cerai yang diajukan oleh istrinya.

“Apa yang Alice pikirkan? Membawa lari anaknya?”

“Apa ia pikir aku akan melepaskannya semudah itu? “

“Aku pikir dengan kehadiran Gabriel, akan mengikat Alice lebih erat. Tetapi kenyataannya Alice malah berani melakukan hal ini padanya. “

Kafka masih bergulat dengan berbagai pertanyaan tanpa jawaban yang pasti dalam benaknya. Dan ia tidak mempunyai gambaran hal apa yang membuat istrinya mengambil keputusan seekstrim ini.

¤¤¤¤¤

Cerita selanjutnya : Alice bahagia. Ia menjadi Ibu terbaik yang pernah dimiliki Gabriel. Dan Kafka menyadarinya dan hal itu, entah mengapa begitu membuatnya bersedih. Dia bukan lagi bagian dari kehidupan Alice.

“Kau harus belajar merelakan apa yang bukan milikmu, tidak akan pernah jadi milikmu meski kau memaksa semesta berkonspirasi. “

Lihat cerita terakhir dari perjalanan kisah Alice, Kafka dan Kyle di Angel and Devil, Part Six : The Last Decision http://t.co/FrbiC4mOs8.