Angel and Devil, Part One : MISERY


Part One

“Aku…sangat ..lapar!” Gumam seorang gadis berambut hitam lurus, dengan suara lirih yang pecah.

“Aku tahu. ” Balas lelaki bersuara dalam itu acuh.

Gadis itu sebenarnya berwajah sangat cantik namun kini tak ada lagi rona bahagia menghiasinya, membuat kulitnya sepucat mayat. Tubuh itu menggigil antara kedinginan juga rasa perih yang menggerogoti sampai ketulangnya. Pandangannya penuh keinginan tertuju pada makanan yang terhidang di meja bulat dan sedang dinikmati pria itu.

Sementara sang pria seperti sengaja menggoda gadis malang itu, memotong makanannya dengan gerakan terlatih dan anggun.

Wangi masakan menguar tajam di ruangan berukuran 5 x 4 meter ini. Berasal dari steak lembut dan dilumuri saus lezat, yang diolah langsung oleh seorang koki masakan Perancis. Ia sudah bertahun-tahun bekerja di sebuah hotel bintang 5 terkenal. Dan dengan kekuasaannya, pria ini sengaja meminta dimasakkan menu khusus kesukaannya.

Si gadis kembali menelan air ludah untuk membasahi kerongkongannya yang seret. Dan untuk kesekian kalinya perut gadis tersebut bergemuruh keras karena kelaparan.

Pria itu meringis, mendengar suara perutnya dengan jelas sekali namun tetap tidak peduli. Ia menyuapkan potongan daging sapi kualitas terbaik dan yang diolah sempurna. Setelah diiris-iris ke dalam mulutnya serta mengunyahnya perlahan-lahan dengan ekspresi puas.

“Kau ingin makan?”

Pria itu melirik tajam pada sigadis yang duduk gelisah di tepi ranjang.

“Ya. ” Desah gadis itu tercekat.

“Memohonlah. ”

Ia memandang wajah pria itu, dengan kesedihan serta rasa malu terpilin dimukanya. Sekejap ia menutup matanya dan mengerjap, mengusir sengatan panas dibola mata indahnya.

“Kafka…tolong, beri…aku…. makan. ” Pinta gadis itu dengan suara terputus-putus lemah namun nadanya masih penuh kesopanan.

Pria bernama Kafka itu akhirnya tersenyum sinis. Matanya yang tajam tampak terlalu dingin meski bibirnya kini membentuk senyuman lebar setelah berhasil membuat gadis itu meminta pertolongan padanya. Ia puas dan merasa sudah menang.

“Maaf, Alice sayang. Makanan ini tidak akan kubagikan padamu. Lebih baik aku membuangnya atau memberikan sisanya pada anjing di jalanan. ” Ucapnya kejam dan tanpa belas kasihan setitik pun.

Kafka bersorak dalam hati. Dan sama sekali tidak berniat meluluskan permintaan gadis itu dari semula.

Alice hanya diam dan ini membuatnya heran. Sama sekali tak tampak terkejut pada raut wajahnya, usai mendengar perkataan Kafka. Sepertinya ia sudah menduga pria itu akan menyiksanya lebih lanjut. Jadi lebih baik ia memejamkan matanya dan kembali menelan ludah, mencoba menawar tenggorokannya yang terasa pahit.

Sudah berhari-hari ia tidak mendapat makanan, barang sebutir nasi apalagi sekerat roti. Sebab itu ia telah berkali-kali mengisi perutnya dengan berliter air mentah, yang diteguknya langsung pada kran westafel kamar mandi. Ruangan tersebut terhubung dengan connecting door kamar tidur ini.

Kepasrahan tampak tergambar di raut wajah pucat pasi Alice. Ia sadar bahwa pria di hadapannya ini tidak akan puas dan kembali menghinanya meskipun ia memohon dan merendahkan dirinya.

Di dunia ini, Kafka adalah satu-satunya manusia yang begitu ingin membuatnya menderita sampai mati. Meski ia tidak menunjukkan perlawanan sedikit pun serta menerima semua siksa yang diderakan Kafka padanya, pria tesebut tidak akan berhenti.

“Mengapa kau diam, Alice? Tidakkah kau ingin membuatku berubah pikiran. ”

Kafka tersenyum mengejek, menatap lurus pada gadis yang sedang menautkan kedua belah jemari putih miliknya di atas pangkuan pahanya.

Tubuh ringkihnya masih gemetaran hebat diserang keroncongan namun ia bisa bersabar dan menahan godaan untuk merampas makanan pria ini.

“Walau.. aku.. berlutut…. bahkan.. menjilat.. kaki.. mu, kau… tetap.. tidak… akan.. kasih.. aku… makan… kan? ”

Pria yang berwajah tampan dengan rahang kukuh ini tergelak, mendengar pertanyaan terpatah-patah Alice yang lebih menyerupai pernyataan. Dan apa yang dikatakan Alice, benar adanya. Ia tidak akan memberikan keinginan gadis ini.

Ia meletakkan pisau dan garpunya dan menatap Alice dengan pandangan penuh. Seolah-olah gadis ini merupakan spesies menarik dan langka di bawah mikroskop laboraturium.

“Dan kau tetap akan mempertahankan harga dirimu yang tinggi itu…. meski kau setengah mati kelaparan. ” Katanya memastikan.

Alice mengangguk sekilas. Ia memutuskan untuk secara perlahan merangkak menaiki tempat tidur dengan sempoyongan. Gadis itu menyelinap ke dalam selimut dan berbaring lemah. Mencoba melupakan rasa lapar yang sudah berhari-hari ia rasakan dengan tertidur. Baginya sudah jelas, tidak ada sepotong kecil makanan yang akan mengisi perutnya yang meronta-ronta.

“Selamat…. malam…. Kafka. ” Bisiknya pelan.

Kafka tertegun. Bukan ini yang ia harapkan dengan makan di hadapan Alice. Tadinya setelah berhari-hari tak diberi makan, gadis itu akan menggila dan melakukan apa saja demi sesuap nasi.

Gadis yang tak pernah merasakan kesusahan sedari lahirnya dan selalu hidup mewah serta berkecukupan. Tetapi apa yang terjadi Alice bahkan dalam kelemahannya masih saja bertindak rasional dan sopan.

Api di dalam dada Kafka seketika berkobar dan kemarahannya bangkit hingga rasanya ia sanggup untuk mencekik leher Alice serta menyaksikannya sekarat saat ini juga.

Pria itu menjentikkan sendok dan garpunya geram hingga berkelontangan menyenggol piring.

“Bangun. ” Sergahnya keras.

Gadis itu menoleh padanya, bingung.

“Bangun. ”

Ulang Kafka berteriak tak sabar.

Dengan langkah berderap ia mendekati Alice yang mencoba bangkit. Kafka menangkap lengan kirinya kasar dan menjepitnya keras. Gadis itu mengeluh sakit tapi Kafka mana peduli.

Ia menarik tubuh Alice turun dari ranjang. Meski dibalut pakaian tidur dengan lengan panjang, seharusnya pria itu dapat menyadari betapa kecil dan lembeknya lengan gadis ini.

Kafka menyeret Alice yang tertatih ke dalam kamar mandi dan mendorongnya ke lantai yang dingin.

“Bruk. ”

Tubuh gadis itu jatuh berlutut tanpa perlawanan. Hanya terdengar pekikan pelan Alice lalu senyap.

Wajah pucatnya tampak dipenuhi keringat dingin, gaun yang digunakannya basah. Dan gemetarnya semakin kencang karena suhu dingin kamar mandi.

Tetapi saat Alice mendongak pada Kafka. Mata bulat besarnya bersinar polos dan tak ada rasa takut disana. Gadis itu hanya tampak bingung, lelah dan bertanya-tanya.

Kafka semakin geram. Melihat reaksi Alice yang tak berdaya namun entah mengapa masih bisa bersikap ‘terhormat’, membuat emosinya semakin kelam.

Ia kalap dan ingin membuat gadis itu menangis, menjerit serta memohon padanya agar dibebaskan. Ia ingin melihat ketakutan dimata itu, penyesalan serta keputus asaan hingga membuat gadis itu gila atau membunuh dirinya sendiri. Sayangnya hal itu tidak pernah terjadi.

Kafka berjongkok dan menunduk sehingga wajahnya sejajar dengan mata Alice. Mencengkram rahang gadis itu, memaksa untuk menatap langsung padanya.

“Ada.. apa?”

Sebuah senyum palsu terukir di wajah Kafka.

“Aku benci segala hal tentangmu. ”

Alice diam. Pandangannya semakin buram dan kepalanya terserang pening yang menusuk tajam. Dan ia sangat ingin muntah.

“Maaf….” Bisik Alice bersungguh-sungguh dari lubuk hatinya. Namun hal tersebut malah membuat Kafka semakin kesal.

“Diam. ” Geram Kafka sambil menyentakkan wajah gadis itu.

Ia bangkit dengan pandangan ingin membunuh Alice. Tangannya gatal ingin menghancurkan sesuatu, selain wajah pucat bagai tak dialiri darah milik Alice.

“Pelacur sialan… Brengsek..!” Makinya cepat.

Kafka berbalik dan menggebrak pintu dengan keras. Ia mengunci Alice di dalam kamar mandi dan meninggalkannya dengan kemarahan meluap dihatinya.

Alice merasakan sesak menghimpit dadanya saat mengambil nafas. Ia bernafas pelan dengan hati-hati. Perlahan air mata yang ia tahan sejak tadi pecah lalu menyusuri pipi mulus gadis itu. Bagaimanapun ia hanyalah perempuan biasa yang tak suka dikasari serta dihina sedemikan rupa. Tetapi apa daya, ia menanggung dosa begitu berat dan harus membayarnya dengan hidupnya.

Gadis ini duduk di lantai keramik yang dingin. Menarik kedua lututnya rapat lalu memeluknya dan bersandar pada dinding kaca shower. Tak ada selimut hangat disini apalagi sehelai handuk kering. Alice hanya bisa memeluk diri sendiri.

Rasa lapar menggigit serta dingin yang melingkupinya membuat giginya bergemelutuk. Dan jantungnya seolah malas memompakan darah menuju seluruh pembuluhnya.

Perlahan ia merasa damai yang asing menjajah kesadarannya dan memilih untuk lebur di dalamnya.

¤¤¤¤¤

Pagi hari di kediaman mewah Kafka De Luzt, terjadi keributan. Seorang pelayan menjerit menemukan sang nyonya rumah terkapar pingsan di lantai kamar mandi, dengan tubuh beku dan wajah nyaris biru.

Kyle De Luzt segera merangsek maju, menatap tidak percaya pada sosok gadis yang tak sadarkan diri. Pemuda yang rambutnya berwarna lebih terang dibandingkan Kakaknya ini, hatinya merasa sakit melihat keadaan Alice. Dan semua ini disebabkan oleh Kakak kandungnya, Kafka De Luzt.

Ia berteriak pada pelayan untuk menyiapkan mobil, lalu segera meraup tubuh Alice dalam gendongannya. Ia menyadari dibalik pakaian tidur yang Alice kenakan, tubuhnya sangat ringan dan tulang-tulangnya menonjol.

Berapa banyak ia kehilangan berat tubuhnya?

“Apa yang terjadi?” Tanya Dokter yang baru saja selesai memeriksa Alice.

Gadis itu tertidur dengan infus yang disuntikkan pada pembuluh darah di tangan kanannya.

“Malnutrisi* serta Pneumonia*. Apa dia sedang diet ketat? Bukan begitu caranya. ” Sambungnya dengan geram.

Dokter berusia setengah abad dengan rambut berwarna putih itu menatap tajam pada Kyle. Ada begitu banyak spekulasi yang ia tuduhkan pada pemuda yang membawa pasiennya ke rumah sakit ini. Dan semuanya bukanlah hal baik.

*Malnutrisi adalah suatu keadaan dimana tubuh kekurangan asupan gizi
*Pneumonia adalah radang paru-paru, dimana keadaan ini bisa membuat penderitanya terjangkit infeksi bakteri Tuberculosis yang menular

“Dan dalam keadaan apa, gadis itu bisa terkena Pneumonia? Memangnya ia tinggal di kolong jembatan. Kalau terlambat sedikit saja, ia bisa mati karena tak tertolong. Ya Tuhan, apa yang terjadi disini? ”

Kembali ia mencecar Kyle dengan pandangan mencela.

Pemuda berusia 24 tahun dengan wajah tampan bermata biru serta rambut cokelat hangat ini tampak terpukul.

Ia sama sekali tidak mengetahui selama hampir sebelas hari lamanya Alice tidak diberi makan. Dan untuk bertahan hidup gadis itu hanya meminum air dari keran. Lalu setelah keadaannya lemah, Kafka mengurungnya semalaman di kamar mandi yang dingin dengan baju tidur yang tipis.

Dokter tua itu menyadari ekspresi terluka di wajah Kyle. Sepertinya di dalam hati pemuda ini, ia merasa bersalah dan menanggung sakit seperti yang dirasakan oleh pasiennya. Dan itu membuatnya diam dan tak ingin menyalahkannya lagi.

Kyle duduk di samping tempat tidur Alice. Menatap wajah gadis itu dan menahan diri untuk tak menyentuhnya.

“Alice hampir mati, Kak. ”

Kafka yang baru saja muncul tanpa suara di belakangnya, tampak tidak peduli. Tampak sangat tampan dan mengancam dalam balutan setelan resmi yang mahal.

“Hanya hampir. ”

Kyle menoleh padanya, yang kini duduk di sofa dengan santai dan tanpa rasa bersalah. Kafka menyilangkan kakinya di atas meja kaca rendah di depan sofa. Menantang pandangan Adiknya.

“Apalagi yang kau inginkan, Kak? Semua hartanya sudah kau kuasai bahkan Ayahnya pun telah lama mati. Sampai kapan dendammu baru terbalaskan?”

“Seumur hidupnya tidak akan cukup membalas semua penderitaan yang kita alami. ”

Kyle menggeleng dengan wajah terpatri kesedihan.

“Alice tidak bersalah sama sekali. ”

“Dia bersalah karena ia anaknya Arron Black. Putri satu-satunya. ”

Kafka menatap adiknya dengan pandangan liar.

“Alice gadis baik, Kak. Jangan sakiti ia lagi. ” Pintanya dengan suara lembut.

Ada kilat tidak suka dimata Kafka saat mendengar permintaan Kyle, adik satu-satunya dan kesayangannya.

“Kau mencintainya? Benar-benar mencintainya ya? ” Dengusnya meremehkan.

Kyle membalas tatapannya dengan sinar mata bagai hewan terluka. Sebuah senyum getir mewarnai wajah tampannya. Dan Kafka tidak perlu jawaban lagi atas pertanyaannya.

“Kau boleh menidurinya, kita bisa berbagi. Aku tidak keberatan sama sekali. Perlakukan ia seperti boneka yang cantik untuk dimainkan tetapi tidak untuk dicintai, Adikku. ”

Pemuda itu nyaris menangis mendengar perkataan saudara lelakinya. Ia menoleh pada Alice yang masih belum sadar. Hatinya bukan saja sakit melihat gadis itu begitu dihina, sekaligus kecewa dengan kelakuan amoral Kakak yang sangat ia hormati.

“Waktu Kakak memintaku mendekatinya dan membuatnya jatuh cinta padaku, akulah yang jatuh cinta duluan. Dan setelah mengenalnya, aku menyadari ia bukan hanya sangat cantik. Ia gadis baik hati dan lembut. Berbeda sekali dengan Arron Black, Ayahnya. Hingga membuatku sampai saat ini tak menyesali memiliki perasaan itu padanya. ”

“Kumohon, Kak. Perlakukan Alice dengan baik. Atau bebaskanlah ia. Aku tak sanggup melihatnya menderita lagi. ”

“KYLE!”

Kafka bangkit dan menatapnya marah.

“Apa kau lupa bahwa Ayahnya yang sudah membunuh kedua orang tua kita? Yang membakar rumah serta membuat kita menjadi pengemis di jalanan. Membuatku mencari uang dengan menghalalkan segala cara, agar kita bisa punya tempat tinggal, makanan dan menyekolahkanmu. Apa kau lupa betapa sulitnya hidup kita selama 20 tahun ini?”

Kafka menatapnya nyalang dengan mata merah dan rahang berkedut, sangat marah.

Kedua bahu Kyle tampak jatuh. Ia menunduk, memejamkan matanya. Mengingat masa-masa terburuk dalam kehidupannya. Tak sedetik pun ia lupa dengan apa yang pernah terjadi. Apa yang sudah Kafka lakukan untuk bertahan hidup dan membesarkannya dengan sangat layak. Meski harus ditebus Kafka, mengorbankan masa muda dan menanggung tanggung jawab sebagai pengganti kedua orang tua mereka. Kyle sadar betapa berhutang budinya, ia pada satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

“Aku tidak pernah lupa, Kak. ”

“Bagus. Kalau begitu lupakan untuk berbuat baik pada wanita jalang ini. Ia tak pantas mendapat belas kasihan dari Adik kesayanganku. ” Putusnya tanpa memberi kesempatan pada Kyle untuk mengatakan apa-apa lagi.

Kafka melangkah keluar dari kamar rawat Alice dengan gusar. Ia merasa sangat marah bahwa kenyataannya Kyle mencintai wanita yang sangat ia benci. Saat ini ia ingin minum dan tahu kemana harus pergi.

¤¤¤¤¤

Cerita selanjutnya : Kafka tak pernah memberi Alice kesempatan untuk menunjukkan ketulusannya. Atau pria ini memang sudah dibutakan balas dendam sehingga tidak bisa melihat betapa berharganya gadis cantik ini.

Dan mengapa Alice menerima semua perlakuan buruk Kafka? Padahal ia bisa saja berbahagia dengan orang yang dicintainya. Bersambung ke bagian dua, Angel and Devil Part Two : SALVATION http://t.co/0CvHdDgFqk

¤¤¤¤¤

Footnote : Selamat datang Februari. Di bulan ini rencananya aku akan banyak memposting cerita pendek. Nggak melulu tentang cinta happy ending dan sama sekali nggak ada hubungannya dengan valentine day atau apalah itu.

Well, semoga kalian menyukai tulisanku. Dan dengan senang hati aku menunggu kritik dan saran di box komentar. Terimakasih.

2 thoughts on “Angel and Devil, Part One : MISERY

  1. Lanjut ya, penasaran. Sepertinya, entah di chapter berapa, kafka akan jatuh cinta sama Alice.

    Narasi awal agak bikin gimana gitu. Tapi semakin lama makin paham dan rapi. Hohoho. sukak!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s