Angel and Devil, Part Two : SALVATION

Cerita sebelumnya : Kafka menyekap Alice di kamar mandi dan tidak memberinya makan selama sebelas hari. Hingga akhirnya gadis cantik itu pingsan dan ditemukan Kyle.

Kyle tidak dapat melupakan Alice dan menderita melihatnya diperlakukan buruk oleh Kafka yang tak lain adalah Kakak kandungnya. Dan Kyle ikut bersalah dalam semua hal buruk yang terjadi pada Alice. Baca cerita sebelumnya di Angel and Devil, Part One : MISERY http://t.co/SJKkA21CgA

Part Two :

Suara musik yang teredam, tak dapat menembus ke dalam ruangan yang dirancang khusus untuk tamu-tamu penting. Tempat ini adalah sudut terbaik untuk menikmati suasana malam di club ini tanpa harus bergabung dengan riuhnya pengunjung di venue bawah. Dan disinilah Kafka berada.

Ia berkumpul dengan Eric Bennet dan Joshua Carter. Keduanya merupakan teman lama dan pernah sama-sama kuliah di Freie Universitat Berlin. Usia mereka sepantaran sekitar awal 30an serta tentu saja berpenampilan menarik. Tentu jangan lupakan bahwa teman-teman Kafka juga berprofesi sebagai pengusaha muda yang sukses. Eric mempunyai usaha yang bergerak di bidang perbankan sedangkan Josh adalah putra tunggal pemilik pabrikan mobil berlambang bintang mercy.

Awal pertemuan pertama mereka dimulai saat Kafka mahasiswa fakultas kedokteran yang banting stir, pindah ke manajemen bisnis. Mahasiswa cerdas yang dikagumi banyak orang. Pekerja keras yang ambisius membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol, membuat Eric dan Josh tertarik dan segera saja mereka akrab menjadi teman sampai sekarang.

Pria-pria tampan ini sedang menikmati minuman dan bersantai di ruang VVIP Berghain, sebuah club dan bar ternama di Berlin. Dalam sebulan sekali terbiasa meluangkan waktu berkumpul di tempat ini untuk saling bertukar kabar dan informasi tentang dunia bisnis yang mereka geluti.

Dan ada tiga orang gadis cantik serta berpakaian seksi menemani masing-masing lelaki ini, bergelayut manja dilengan dan pangkuan mereka. Menyemarakkan suasana ruang club yang tampak remang-remang.

“Sesekali ajaklah istrimu yang sangat cantik itu. Sejak menikah denganmu, aku tak pernah melihat lagi tuan puteri Alice Marion Black-Luzt yang mulia. ”

“Yeah. Alice itu seorang tuan puteri dikehidupan nyata dan banyak pria yang tergila-gila padanya. Kau bajingan sangat beruntung mendapatkannya, Bung. ”

Kafka tertawa menanggapi omongan kedua temannya ini. Meski tak ingin membenarkan namun apa yang mereka katakan adalah kenyataan. Alice memang dijuluki tuan puteri karena kecantikan dan kelembutannya. Tutur kata dan kelakuannya tak mempunyai cela, belum lagi sifat religius dan sosialnya yang tinggi. Seharusnya Kafka memang merasa beruntung mendapatkan wanita seperti istrinya ini.

Karena Alice Black dididik dan dibesarkan dengan sangat baik oleh Arron Black. Ia bertumbuh menjadi gadis cantik, berpendidikan, terhormat serta bermoral. Tetapi pria tua itu pasti tidak dapat menebak bahwa putrinya yang sangat ia sayang dan jaga, pada akhirnya harus menerima kekejaman Kafka sebagai suaminya.

Hanya Kafka yang mengetahui betapa pasrah dan penurutnya Alice di bawah kakinya. Apapun yang ia lakukan gadis itu tidak pernah memberontak, membuat balas dendam yang Kafka lakukan berjalan mulus dan mudah. Bahkan terlalu mudah hingga membuatnya terkadang lupa batas dalam menyakiti Alice.

Kafka kembali tersenyum dengan mata bersinar jahat. Ia ingat saat pertama kali bertemu dengan Alice, pada makan malam mewah di sebuah restoran Italy. Gadis itu duduk di hadapannya dengan gelisah. Memintanya dengan sopan agar menolak perjodohan mereka karena dia sudah memiliki kekasih.

Ia tertawa dengan keras, melihat betapa naifnya gadis cantik itu. Dan mengejeknya di dalam hati karena tak menyadari bahwa kekasihnya adalah Adik kandung Kafka, yang ia perintahkan untuk menggoda Alice sebelumnya.

“Mengapa anda tertawa? Saya serius mengatakan bahwa saya punya kekasih dan ingin menikah dengannya. Saya tidak bercanda, Tuan Luzt. ”

Alice menatapnya dengan pandangan takut bercampur bingung.

“Saya juga, Nona Black. Tetapi tak ada yang dapat menghalangi pernikahan ini. ”

“Saya mencintai orang lain. ” Ungkapnya dengan berani.

Dan orang lain itu adalah Adikku, gadis bodoh. Kafka menyeringai senang melihat reaksi Alice yang gugup dibawah tatapannya.

“Saya tidak peduli dengan itu. Kita menikah seminggu lagi. ”

Alice kecewa dan tampak ingin menangis. Mata hijaunya berkaca-kaca namun malah membuatnya semakin cantik jelita. Kafka menyadari bahwa gadis ini memang sangat cantik serta begitu lembut.

“Mengapa anda begitu memaksa? Apakah karena bisnis dan seluruh harta keluarga Black? Atau karena alasan lain. ”

Kafka menyunggingkan senyum terbaiknya. Ternyata ia tak sebodoh yang ia kira. Kali ini ia memandang gadis itu dengan pandangan meremehkan.

Tubuh Alice mengejang terperangkap dalam jangkauan mata buas Kafka. Instingnya menyatakan bahwa pria ini punya maksud jahat padanya.

“Bagaimana kalau kubilang karena alasan lain. ”

Ia merasa kegembiraannya memuncak, bisa mempermainkan Alice dengan mudahnya.

Selanjutnya Kafka tidak bisa melupakan raut wajah Alice yang terkejut sekaligus terluka saat melihat Kyle yang muncul usai pernikahan mereka. Sebuah pemahaman terbit dikesadarannya dan ia menoleh pada suaminya, yang menyeringai senang.

“Kyle… Apakah itu termasuk rencanamu?”

“Benar. Ia berpura-pura jatuh cinta padamu. ”

Alice tampak goyah dengan kenyataan yang baru saja menamparnya. Ia menarik nafas panjang namun paru-parunya tetap tak merasa lega.

“Mengapa?” Gumamnya lirih, entah pada siapa.

“Karena kau puteri Arron Black. ”

Gadis yang baru saja berusia 21 tahun itu, menatap pada Kafka dengan pandangan memaklumi. Dan langsung menyadari tujuan tersembunyi suaminya, selama ini. Sama sekali tidak terkejut atau pun marah dan bukan jenis reaksi yang ingin dilihat Kafka. Ini membuatnya tidak senang.

“Aku tahu Ayahku bukan orang yang baik dan mungkin suatu hari hasil perbuatannya akan menimpaku. ”

Kafka terkejut dengan penuturan gadis di hadapannya.

“Lalu apapun yang akan kalian lakukan padaku, kurasa memang pantas untuk diterima. Sebagai puteri tunggal Ayahku, aku minta maaf atas kesalahannya. Aku benar-benar menyesali apapun kesalahannya. ”

Kafka semakin terkejut dan saling berpandangan dengan Kyle, yang kini raut wajahnya seperti akan mati. Ia tidak menyangka semudah itu penerimaan Alice.

Sementara bagi Kyle, pemuda itu dihimpit rasa bersalah dan kesedihan yang dalam, meski ia menyadari bahwa Kakaknya akan sangat membenci apa yang ada dipikirannya saat ini.

Kakaknya mungkin tidak menyadari bahwa Alice adalah gadis yang benar-benar baik hati. Berbeda sekali dengan Ayahnya, Arron Black. Tetapi walaupun Kafka mengetahuinya apa ia akan melupakan rencara balas dendamnya pada gadis malang ini.

Lalu sejak hari itu dimulailah hari-hari penyiksaan bagi Alice. Hidupnya berubah bagai di neraka. Kafka memperlakukannya buruk serta kasar. Kata-kata yang diucapkan suaminya selalu penuh hinaan menyakitkan. Kafka bahkan tidak segan-segan menampar, mendorong serta menjambak rambut gadis itu. Ia sudah tuli dengan tangisan dan rintihan kesakitan istrinya.

Sedangkan Kyle hanya bisa menahan perasaannya, melihat wanita yang sangat ia cintai menderita. Setiap malam ia tak bisa tidur, matanya nyalang menatap langit-langit kamarnya. Sementara jeritan dan permintaan tolong serta isakan Alice yang lolos dari kamar utama selalu menghantui dirinya.

Alice selalu terkurung di kamar Kakaknya dan hanya sesekali muncul. Dan setiap kehadirannya ia tak pernah dalam keadaan baik. Terkadang wajahnya lebam, luka dan berdarah. Lain kali jalannya tertatih dan tubuhnya penuh bilur-bilur pukulan.

Kyle nyaris tak pernah berbicara dengan Alice. Dan gadis itu pun tak pernah mau menatap matanya lagi. Ia selalu menunduk, menyembunyikan wajahnya serta mengepalkan jemarinya pedih. Kyle tidak dapat membaca perasaannya namun ia yakin, apapun itu Alice tidak bahagia.

Alice berhasil menyembunyikan keadaannya hingga kematian Ayahnya yang tiba-tiba setahun lalu. Namun ternyata Kafka tak juga berhenti menyakitinya. Gadis itu kini sudah berusia 23 tahun. Pernikahan mereka sudah berjalan beberapa tahun dan selama itu Alice tak hanya terperangkap. Ia juga terluka secara mental serta fisik, dan entah sampai kapan suaminya bosan hingga mau melepaskannya.

¤¤¤¤¤

Terdengar suara batuk-batuk yang tak berkesudahan. Setiap malam Alice mengalami batuk parah hingga terkadang mengeluarkan darah. Untungnya karena hal ini Kafka jadi jijik menyentuhnya dan membiarkannya tidur sendirian.

Meski sudah diobati, Alice belum sembuh benar. Tubuhnya masih kurus, kulitnya pucat dan dadanya sering sesak bila bernafas. Terkadang terasa nyeri merajam organ pernafasannya dan itu sangat menyiksa.

Hanya Kyle yang mau mendekatinya serta membantunya tanpa takut tertular. Selama ia dirawat di rumah sakit pun, pemuda ini yang setia menjaganya. Seperti hari ini Kyle membawakan obat antibiotiknya serta segelas air hangat. Alice tersenyum dan meminum obatnya dengan patuh.

Saat Kyle akan beranjak keluar kamar, gadis itu mengucapkan terimakasih dengan lirih.

Kyle menoleh padanya dengan raut wajah tidak terbaca.

“Kau selalu baik. Terimakasih. ”

Pemuda itu merasakan bola matanya memanas dan jantungnya diremas.

“Alice, dulu semua hal yang terjadi pada kita nyata. Aku tidak berbohong soal perasaanku. ”

Gadis itu menatapnya lembut seolah memaklumi.

“Syukurlah. Aku tidak menyesal akan dirimu. ”

“Kau tidak marah padaku?”

“Aku mengerti, Kyle. ”

Pemuda itu merasa semakin sedih dengan kebesaran serta kebaikan hati tanpa batas yang Alice perlihatkan selama ini. Bagaimana bisa Arron Black memiliki seorang puteri yang begitu berbeda dengannya? Dan bagaimana mungkin Kafka, kakaknya tak bisa melihat Alice yang begitu sempurna?

“Alice… sayangku. ”

“Bagaimana kalau kita melarikan diri saja?”

Kyle menatapnya sendu, penuh harapan. Saat ini ia benar-benar serius dengan perkataannya dan rela meninggalkan semuanya termasuk Kafka, untuk satu-satunya wanita yang begitu ia cintai.

Alice tertegun. Lalu sebuah senyum perlahan menghiasi wajahnya. Sudah lama sekali ia tidak tersenyum sebahagia ini. Hatinya tergetar oleh perkataan bekas kekasihnya, yang tulus padanya.

“Kyle, terimakasih. ”

Bening-benir air mata menetes satu persatu, menelusuri wajah cantik Alice Marion Black-Luzt.

“Aku sangat bahagia, mendengarnya. ”

Kyle tidak dapat menahan dirinya lagi. Pemuda itu setengah berlari menuju gadis yang berbaring di tempat tidur. Menarik tubuh lemah Alice ke dalam pelukannya. Dan berkali-kali ia mengecup puncak rambut gadis ini.

“Kumohon, ikutlah denganku Alice. ”

Alice menangis tanpa suara di dada Kyle. Ada bahagia membuncah dalam hatinya, mengetahui perasaannya masih dibalas serta Kyle peduli dengannya.

“Kau tahu aku sangat ingin. Tetapi aku tak bisa, Kyle. Kafka akan memburuku sampai ke ujung dunia dan ia sanggup menyakiti orang banyak demi mendapatkanku lagi. Termasuk dirimu.”

Kyle mendesah kalah. Ya, dia menyadari hal tersebut. Bahwa Kafka, Kakaknya tidak akan melepaskan Alice meski Adiknya sendiri yang meminta serta memohon.

“Apa yang harus kulakukan untukmu, Alice? Aku tak dapat melihatmu seperti ini. Kafka sudah sangat keterlaluan padamu. ”

Pria ini memeluk tubuh sang gadis lebih erat. Seperti merasa takut tiba-tiba saja gadis ini bisa menghilang dan berubah menjadi debu.

“Hidup bahagialah untukku. ”

¤¤¤¤¤

Kafka tersenyum masam di depan pintu kamar Alice. Ia sudah lama berdiri disana dan cukup mengerti apa pembicaraan yang telah terjadi diantara istri dan adiknya.

“Jadi kau menggoda Adikku ya?”

“Dasar sundal. Apa belum cukup semua penderitaan yang kau rasakan dan sekarang berani-beraninya kau ingin merusak hubunganku dengan Kyle. Baiklah, Alice Marion Black, kau ingin tahu apa itu neraka? Akan kuberikan neraka untukmu. Hingga kau menyesal telah dilahirkan. “

Pria yang selalu berpenampilan rapi dengan setelan kemeja, vest dan jas merk terkenal tersebut segera menyingkir dari tempat itu. Namun sebelum menghilang dari balik pintu ruang kerjanya, wajahnya memancarkan aura berbahaya.

Apapun yang saat ini terlintas dibenak Kafka pasti bukan sebuah rencana yang baik bagi Alice maupun Kyle. Dan lagi-lagi orang yang akan menjadi korban paling tersakiti adalah istrinya.

¤¤¤¤¤

Alice bersandar pada dinding lembab, tempat dimana tangannya dirantai ke atas. Sudah 21 jam lamanya ia berada dalam ruangan gelap dan dingin ini, yang sungguh benar-benar tidak diketahui dimana letaknya. Bahkan gadis yang belum sembuh benar dari penyakitnya ini, tidak ingat bagaimana ia bisa berada di tempat ini.

Tetapi Alice yakin, apapun yang terjadi saat ini Kafka adalah pelaku utama dari kejadian ini. Gadis itu sudah jatuh tertidur beberapa kali, dan lengannya sangat sakit. Mungkin lecet akibat rantai yang membelengunya sudah berdarah, karena menjadi penopang berat tubuhnya.

“Apa Kafka tahu traumanya terhadap ruangan bawah tanah gelap?”

Alice memejamkan matanya, merasa lelah dan takut. Bayangan buruk yang dulu pernah menghantuinya kini kembali mendatanginya. Hingga membuatnya menjerit ketakutan dalam ketaksadarannya.

Ya, saat Alice berusia 12 tahun ia pernah diculik dan disekap di ruang basement sebuah gudang tak terpakai. Ketika Polisi menemukan tempat penyekapannya, penculik tersebut berhasil membawanya kabur. Dalam aksi kejar-kejaran, mobil yang ditumpangi Alice menabrak pembatas jalan. Terguling beberapa kali hingga pada akhirnya jatuh kedalam danau yang airnya membeku.

Alice berhasil melalui penculikan tersebut dengan selamat tetapi trauma akibat kejadian itu begitu membekas diingatannya. Ia baru menyadari bahwa Ibunya ternyata tewas akibat ditikam sang penculik saat mempertahankan dirinya. Dan Ayahnya nyaris kehilangan dirinya yang tenggelam di danau beku.

Sejak saat itu, dunia gadis ini berubah. Arron Black menjadi begitu paranoid dengan keselamatan puterinya. Alice selalu dijaga oleh beberapa bodyguard, dan tidak bisa sembarang pergi ketempat umum serta dibatasi berteman dengan siapapun. Jadilah sang gadis hidup terkucilkan dan tak punya teman.

“Kafka sudah merencanakan semuanya. Makanya ia menyuruh Kyle pergi ke Macau untuk mengurusi manajeman Hotel dan Kasino Royal. Jadi tidak akan ada orang yang akan membantuku lagi. “

Alice tertawa miris. Betapa ia merasa tidak berharga. Suaminya, orang yang dipilih Ayahnya, adalah sumber dari semua derita yang dialaminya hingga kini. Syukurlah sebelum Ayahnya menyadari kenyataan ini, Tuhan sudah menjemputnya. Jadi pria tua itu tidak pernah tahu keadaan puterinya sesungguhnya.

Kafka tidak pernah muncul disini tetapi Alice sadar, bahwa pria itu selalu mengawasinya. Entah bagaimana caranya. Beberapa kali Alice terbangun dengan sekujur tubuh pedih karena bekas sabetan cambuk. Lain kali ia terbangun karena seseorang yang tidak dikenalnya menyiramkan air dingin kewajahnya. Dan menyuruhnya makan seadanya.

Kini Alice sudah tak mengingat lagi, berapa lama waktu sudah ia habiskan disini. Yang jelas tangan dan kakinya mati rasa. Dan nyeri diparu-parunya semakin menjadi-jadi tetapi bahkan untuk batuk saja ia sudah tidak sanggup lagi. Alice lebih banyak tidak sadarkan diri dan sudah tak merespon apapun.

Untuk kali ini Alice tak peduli, ia sudah menyerah.

¤¤¤¤¤

Kafka mendapat laporan bahwa Alice mengalami pendarahan. Dan saat melihat dengan mata kepala sendiri, gadis itu, istrinya tampak memejamkan mata dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya kotor dan lemah. Ada darah yang mengalir di sepanjang betis putihnya. Membuat Kafka tercekat.

“Apa Alice hamil? Keguguran?”

Ia tidak pernah menginginkan wanita itu hamil dan mengandung anaknya. Meski ia tak menampik bahwa tubuh dan kecantikan Alice selalu menggoda dan ia menikmatinya dengan puas. Tetapi ia sudah mengusahakan Alice untuk steril. Kafka tak sudi darah keluarga De Luzt bercampur dengan darah bajingan Black. Tidak akan pernah.

“Kau hamil. ”

Alice yang baru saja sadar dari tidur panjangnya, melihat kearahnya dengan tidak fokus.

“Kau hamil. Dan aku tak yakin itu anakku. ”

Kafka menatapnya penuh dengan intimidasi, seperti yang selalu ia lakukan. Alice tampak diam, tidak begitu memperhatikan raut wajah suaminya yang kejam. Perlahan jemari tangannya yang ramping menyentuh perutnya yang masih tampak datar, meski telah hamil 3 bulan.

Alice tersenyum lembut dan matanya berbinar. Tiba-tiba saja emosinya meningkat dan ia tak sadar pelupuk matanya telah penuh dengan air mata.
“Gugurkan. Aku tidak mau anak darimu. ”

Dengan gerakan pelan, gadis yang tubuhnya penuh dengan lebam dan bilur ini, menoleh pada suaminya. Menatap Kafka dengan pandangan polos serta tidak mempercayai apa yang baru saja ia katakan. Ia sudah menduga Kafka akan memintanya aborsi, tetapi tak urung mendengarnya secara langsung membuat hatinya tertusuk perih.

“Ini anakku. Kamu tidak berhak membunuhnya. ”

Perkataan Alice mengejutkan Kafka. Hingga tanpa sadar matanya menyipit tajam dan semakin memperkuat aura kelamnya.

“Bukankah kamu tidak yakin, ini anakmu atau bukan. Yang jelas ini anakku dan aku akan mempertahankannya, Kafka. ”

Kafka menyeringai dingin. Ada kilatan berbahaya di matanya dan Alice menyadari hal tersebut, sebagai alarm pertanda hal buruk akan terjadi.

“Kamu mau mengikatku dengan anak itu?”

Alice menarik nafas panjang dan menggeleng. Wajahnya tampak bimbang.

“Tidak. Tentu saja tidak begitu. ”

“Lalu, apa kamu tidak takut anak tersebut akan kujadikan alat untuk semakin membuat hidupmu menderita. ”

Dengan lemah Alice tersenyum lembut. Ia bangkit dari tidurnya dan memegang perutnya dengan posesif. Seolah melindunginya dari Kafka, sang ayah calon bayi.

“Mungkin saja. Tetapi aku akan tetap mempertahankan bayi ini. Aku memang takut, entah apa yang akan kau lakukan padaku. Namun anakku harus tetap hidup, Kafka. Aku yang akan melindunginya. ”

Kafka mengawasi raut wajah Alice yang bahagia meski masih tanpa rona dan terlihat sakit. Diam-diam ia kembali sedikit kagum dengan sifat Alice, yang selalu melakukan hal benar walaupun keadaannya sangat sulit.

“Kau tidak membencinya? Ada darahku mengalir dalam darah bayi itu. ”

Alice membalas tatapan Kafka, keduanya saling berpandangan dalam diam. Masing-masing saling menilai dan mempertimbangkan apa yang hendak mereka katakan.

“Tidak. Anak ini tidak bersalah. Tidak pernah salah. ”

¤¤¤¤¤

Alice mempertahankan kehamilannya dengan susah payah. Kesehatannya memburuk akibat lemah secara fisik dan mental, tetapi ia merasa bahagia. Beberapa bulan lagi, akan ada seorang bayi lahir. Dan itu adalah anaknya, anak kandungnya.

Dengan pengawasan intensif dari dokter, ia harus beristirahat total sampai usia kandungan 7 bulan. Dan untuk pertama kalinya Kafka tidak lagi memperlakukannya dengan buruk. Lelaki itu membiarkannya saja dan bersikap masa bodoh. Walau diam-diam terkadang ia memperhatikan Alice yang entah bagaimana terlihat jauh lebih hidup dan semakin cantik dalam kehamilannya.

“Sial. Mengapa ia jadi tampak sangat…., aku ingin menyeretnya ke tempat tidur. “

¤¤¤¤¤

Cerita selanjutnya : Sepanjang pernikahan Alice dan Kafka, baru kali ini ia benar-benar merasa lepas dan… bahagia (mungkin). Semua itu karena kehadiran calon bayi diperutnya. Tapi kembali Kafka melakukan sesuatu hal, yang membuat Alice terpukul dan berakibat pada kesehatannya yang lemah.

Kafka, entah apa yang merasukinya saat melihat Alice yang meski telah ia lukai namun tetap memperlakukannya dengan baik dan terhormat, layaknya pada seorang suami. Ia menggila. Kembali ingin menghancurkan Alice hingga berkeping-keping.

Kali ini kisah mereka bergulir di Angel and Devil, Part Three : Turning Point http://t.co/X1f4en1jVz .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s