Angel and Devil, Part Three : Turning Point

Cerita sebelumnya : Kafka (mungkin sedikit) cemburu mendengar Kyle mengajak Alice untuk kabur. Lalu ia mengirim Adiknya ke Macau dan menyiksa Alice lebih parah lagi. Tetapi rencananya kacau karena istrinya ternyata hamil dan nyaris keguguran.

Alice senang dengan keberadaan anak dalam perutnya meski ia tahu keadaannya tidak terjamin akan membaik. Setidaknya gadis ini tetap melakukan hal terbaik yang bisa ia lakukan, yaitu mempertahankan janinnya. Lihat cerita selengkapnya di Angel and Devil, Part Two : SALVATION http://t.co/0CvHdDgFqk

Part Three

Kafka mengacuhkan Alice.

Itu lebih baik daripada ia kembali membuat hidup gadis ini dalam kesulitan. Untuk pertama kalinya semenjak Alice hidup bersamanya, dia bisa merasa lega. Dan yah… sedikit bahagia. Semua ini karena kehadiran calon bayi dalam kandungannya.

Alice mengusap perutnya yang menonjol dibalik gaun longgar yang ia kenakan. Jari-jari tangannya yang halus membentuk pola lingkaran di atas kulitnya.

“Baby… kau diberkahi oleh banyak cinta. Mommy menyayangimu nak. Tumbuhlah dengan baik dan lahirlah dengan selamat. ”

Wanita cantik yang duduk dikursi berlengan empuk di sudut sebuah ruangan baca yang nyaman ini, tampak tersenyum sambil bersenandung lirih.

Alice bahagia. Wajah cantiknya bersinar dan mata bulat besarnya tampak berkilat. Sebuah senyuman tak putus-putus menghiasi bibir merah alaminya. Tubuhnya yang dahulu sempat kurus dan penuh guratan lebam, kini kembali terisi dan bertambah indah.

Ia tak sabar menantikan buah hatinya hadir. Anaknya dan Kafka.

Alice mengerjapkan mata, mengingat lelaki itu. Suaminya yang penuh dendam. Yang begitu membencinya hingga kesumsum tulang belakangnya.

Kafka.

Pria itu sebenarnya sangat tampan walau ekspresi wajahnya selalu dingin. Tubuhnya jangkung dengan otot-otot terlatih. Bila dibandingkan dengan Kyle, Kafka lebih tinggi beberapa cm. Ia berhasil membangun kerajaan bisnisnya sendiri dan berhasil menjadi pengusaha muda paling kaya di Jerman dan termasuk 15 pengusaha paling berpengaruh di Eropa. Kafka memang jenius dan pekerja keras. Tidak ada yang meragukan kemampuannya.

“Alice, kumohon bersabarlah pada Kafka. Kakakku telah menghadapi begitu banyak kesedihan untuk mencapai posisinya saat ini. Dan dendamnya pada pembunuh kedua orang tua kami adalah motivasi terbesarnya, yang bisa membuatnya sekuat sekarang. Kau bisa mengertikan?”

Kyle dengan mata sendunya, mengenggam jemari ramping Alice. Menahan keinginannya untuk kembali memeluk wanita yang sangat ia cintai ini. Serta melindungi Alice dari kekejaman Kakak kandung yang sangat ia hormati.

“Kakak sebenarnya adalah orang yang baik dan hangat. Ia selalu menjagaku dan memberikan hal terbaik yang bisa ia berikan padaku. Aku yakin di dalam hatinya ia tidak berubah. Ia masih Kafka De Luzt yang begitu mencintai keluarganya. Hanya saja saat ini ia begitu mabuk dengan dendam pada Ayahmu hinggah tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Meski sudah merebut semua yang Arron Black miliki. ”

Alice mendongak, menatap Kyle dengan pandangan terluka. Ia menyadari bahwa Ayahnya memang bukan orang suci. Diam-diam ia tahu bahwa bisnis keluarga Black memang dibangun atas darah dan penderitaan orang lain, yang kalah oleh Ayahnya. Oleh sebab itu Alice akhirnya menerima perlakuan tidak baik dari Kafka, karena ia sadar apa yang terjadi pada keluarga De Luzt dahulu memang salah Ayahnya. Dan ia harus bertanggung jawab.

” Aku minta maaf, Kyle. Karena Ayahku, kalian harus mengalami hal buruk. ”

Wajah Kyle mengeras. Senyum dibibirnya menjadi kaku. Dan remasan tangannya terlepas.

“Demi Tuhan, Alice. Itu bukan salahmu. ”

“Yah, Ayahmu memang bersalah. ”

Kemarahan tampak menguar dalam ekspresi pemuda yang lebih tua setahun dari Alice ini.

“Tetapi Kakakku tidak boleh melampiaskannya padamu. ”

¤¤¤¤¤

Kafka mengawasi Alice dalam diam. Gadis itu tidak menyadari bahwa pria menakutkan itu sedari tadi berada di depan pintu yang terbuka. Melihatnya dengan pandangan tidak terbaca serta mengira-ngira, apa yang sedang Alice pikirkan saat ini.

“Dia menyayangi bayi itu. Dan aku yakin, dia akan jadi Ibu yang baik. Mungkin yang terbaik, yang bisa bayi itu dapatkan. “

“Kak, aku mencintai Alice. ”

Kafka mengingat wajah Kyle saat mengatakan hal tersebut, sebelum keberangkatannya ke Macau.

“Aku tidak berharap bisa kembali padanya. Yang kuinginkan gadis itu bisa sedikit saja berbahagia dalam hidupnya. ”

“Kakak…. tidak pernah tahu apa yang dialaminya bahkan sebelum kita mengacaukan dunianya. ”

“Alice sudah banyak menderita, Kak. ”

Lalu mengejutkannya, Kyle tiba-tiba berlutut di hadapan Kafka, yang sedang duduk di ruang kerjanya. Membuat Kafka menatapnya marah dan tidak senang.

“Apa yang kau lakukan?” Sentaknya kasar.

“Kumohon, jangan sakiti Alice lagi Kak. Setiap Kakak berbuat jahat padanya, aku merasakan hal yang lebih sakit daripada yang Alice rasakan. ”

Kyle menatapnya dengan pandangan yang nyaris menangis dan wajah sangat menderita. Kafka memejamkan matanya. Tidak ingin melihat bola mata biru yang sama persis dengan yang ia punyai, bersinar begitu menyedihkan.

“Pergilah. ”

“Kak…”

“Aku bilang pergi, Kyle. ”

Kafka menggeram marah.

Kyle menunduk. Membiarkan air mata yang ia tahan, tumpah dengan sendirinya. Masih berlutut dengan tangan terkepal.

“Di dunia ini, Kakak adalah penyelamatku. Apapun yang Kakak katakan, aku akan mempercayainya. Apapun yang Kakak perintahkan, aku langsung melakukannya tanpa bertanya. Karena Kakak adalah Tuhan bagiku. Tapi Alice…..”

Ia tersenyum lembut dengan wajah tersiksa dan mata basah.

“Dia malaikat Kak. Dia sumber bahagia buatku. Satu-satunya. ”

Semua perkataan Kyle itu membuat Kafka menyadari, bahwa Adiknya lebih memilih Alice dibandingkan dirinya.

Kafka marah. Sangat marah, hingga perlu menggertakkan rahangnya untuk menahan diri agar tak memukul wajah Kyle. Yang ia pikir telah mengkhianatinya.

“Walaupun begitu, aku tidak akan pernah meninggalkan Kakak. Aku tak bisa memilih diantara kalian. Kakak dan Alice adalah dua orang terpenting bagiku, didunia ini. ”

¤¤¤¤¤

Kafka dan Alice sedang duduk di meja makan. Menikmati makan malam yang dihidangkan oleh pelayan. Belakangan ini Kafka mengizinkan istrinya untuk menemaninya makan malam, selama ia berada di rumah. Bahkan ia membebaskan Alice untuk pergi kedokter kandungan sebulan sekali.

Alice duduk dikursi sebelah kirinya, menunduk dan hanya memperhatikan piring makanannya yang hampir selesai disantap. Kafka melirik tanpa sepengetahuannya.

Ia mengingat ulang Josh yang baru saja menghubunginya. Memberikan ucapan selamat kepadanya. Karena tadi sore tanpa sengaja bertemu Alice di rumah sakit.

Josh langsung menyadari bahwa istrinya sedang hamil besar dan menyalahkannya mengapa tidak membagikan berita bahagia ini pada sahabat-sahabatnya. Yeah, siapa yang bisa mengetahui hal itu karena setelah menikah dengannya Alice tak pernah muncul dimuka publik.

“Bung, hidupmu sungguh diberkahi. Punya istri yang begitu sempurna dan sedang hamil pula. Ah, kurasa aku bersedia menukar seluruh mobil mewah di dunia ini untuk berada diposisimu. Suami dari tuan puteri Alice Marion Black. ”

“Dan kau tahu apa yang dikatakan Eric?”

“Dia bilang kau bajingan paling beruntung di jagad raya ini. ”

Kafka tertawa mendengar penuturan Joshua Carter. Mereka tertawa dengan lepasnya.

Kini pria itu menarik nafas panjang. Ia memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Tahun-tahun berat yang ia lalui setelah kehilangan orang tuanya hingga saat ini. Ia bukan lagi bocah usia 10 tahun yang menangis sambil memeluk balita usia 4 tahun yang belum mengerti arti kematian.

Yah, Kafka dan Kyle harus hidup dan bertahan diusia semuda itu tanpa orang dewasa mengawasi mereka. Kafka bekerja apa saja untuk bisa memberi makan Adiknya. Belajar jauh lebih keras untuk mendapatkan beasiswa. Meninggalkan studi kedokteran dan pindah kemanajemen bisnis, agar lebih cepat menghasilkan uang banyak. Demi Kyle. Supaya Adik semata wayangnya ini tak merasakan kesusahan dan mendapatkan hidup yang lebih baik. Dengan mengingat semua penderitaan dan seluruh kejahatan Arron Black, Kafka memupuk dendam yang membuatnya semakin kuat.

Ia tumbuh menjadi kuat, cerdas dan berkuasa. Tak ada yang tak mungkin dilakukannya, tak ada yang dapat menolaknya serta tak ada yang bisa menghalangi keinginannya. Tapi kini dengan segala hal yang mereka miliki, setelah orang yang telah mencuri kebahagiaan mereka mati secara tiba-tiba serta nasib puteri tunggalnya berada dalam genggaman Kafka, ia masih tidak puas. Belum. Ia tak bahagia.

Dan entah mengapa setiap melihat tubuh Alice lemah di bawahnya, memerah di kedua belah pipinya atau bagian lain dari kulit mulusnya. Ataupun mendengar jeritan tertahannya serta isakan pilunya, Kafka merasa begitu penuh semangat. Hasrat tergelapnya terpenuhi dan ia menginginkannya lagi dan lagi. Bagai kecanduan.

Kafka tidak menginginkan kematian Alice tetapi ia lebih suka gadis itu hidup tersiksa dalam genggamannya. Dan yang membuat Kafka lebih puas lagi adalah penyerahan diri Alice seutuhnya padanya.

“Gadis bodoh…”

“Sampai dimana kau bisa bertahan, aku ingin melihatnya. ”

Ia tersenyum. Memikirkan sebuah rencana yang dengan mudah tersusun rapi dan menunggu waktu yang tepat.

¤¤¤¤¤

“Kafka…”

Alice berdiri di depan pintu yang terbuka. Wajah cantiknya memucat dengan mata terbeliak, kaget dan … terluka. Kedua lengannya memegang perut buncitnya, insting melindungi diri dan anak dalam kandungannya.

Sementara suaminya duduk di sofa kulit, menatap tajam padanya dengan senyum sinis. Seorang wanita cantik dengan telanjang dada berada di pangkuannya, bersandar pada bahu lebarnya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kafka menggelegar.

Alice masih terpaku dengan pandangan terkunci, di bawah tatapannya. Tubuhnya gemetar hebat.

“Seharusnya…aku yang bertanya begitu. ”

Kafka tergelak. Menyeringai berbahaya. Dan Alice langsung saja merasakan bulu kuduknya merinding.

“Bukankah kau tahu apa artinya keadaanku saat ini. ”

Ia tidak memperdulikan keadaannya dan ketelanjangan wanita dalam pelukannya, dihadapan wanita lain yang berstatus istri sahnya.

“Kau..suamiku. Kita… menikah. Bayi….”

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa semua itu akan menghentikanku, Alice?”

Alice terhenyak oleh kenyataan yang terlontar dari bibir suaminya. Pahit dan menyakitkan meski ia tak pernah berharap lebih baik.

Ia menyentuh pegangan pintu dan mencengkramnya erat. Tiba-tiba saja pandangannya berat dan kakinya seperti berubah menjadi agar-agar lembek namun ia mencoba bertahan.

“Kafka…”

Alice meneguk air ludahnya. Membersihkan pita suaranya yang terasa kering.

“Meski kau membenciku, juga pernikahan ini … tapi aku istrimu. Yang kau lakukan … salah. Tidak benar. ”

Pria berwajah tampan dengan tulang pipi tinggi serta rahang yang tegang itu, menyeringai pada Alice istrinya. Yang telah memergokinya dengan perempuan lain.

“Apa yang salah Alice? Perzinahan ini? ”

“Bagaimana ya, dengan keadaanmu seperti itu, aku punya kebutuhan sayang. Dan yah, aku memuaskan diriku dengan perempuan lain. Tak ada bedanya bukan, pelacur ataupun dirimu, sama saja. ”

Sekali lagi raut wajah cantik Alice memucat dengan pasti. Ekspresi yang terpancar darinya benar-benar sangat menyedihkan.

Terpukul. Kecewa. Marah serta malu. Berkumpul menjadi satu. Kafka benar-benar tahu cara membuat dirinya merasa seperti kotoran. Tak berharga.

Tiba-tiba Alice merasa sengatan aneh di rahimnya. Ada gerakan janin dalam kandungannya.

Ia bersandar di pintu dan menaruh tangannya pada puncak perutnya. Lalu serbuan rasa sakit menghantamnya. Dan perlahan tanpa bisa ia cegah, bagian bawah tubuhnya basah oleh cairan. Yang terus menuruni paha bagian dalam hingga ke betis mulusnya.

Alice menunduk. Namun pandangannya terhalangi gundukan dada dan perutnya yang menjulang. Kakinya lemas dan tak dapat merasakan apa-apa.

“Bayi…” Lirihnya takut.

Kafka yang dari tadi menikmati melihatnya menderita, kini mulai menyadari posisinya yang janggal. Ia menatap tajam pada rembesan cairan yang muncul di bawah gaun istrinya.

“Ketuban. “

“Kandungan Alice belum sembilan bulan. “

Ia berpikir keras sambil semakin fokus pada apa yang terjadi pada Alice. Ada yang salah dan firasatnya memberitahukan hal buruk sedang terjadi. Cairan itu semakin banyak mengalir hingga ke lantai dan kini mulai berwarna.

Merah.

“Dan darah…..!”

Kafka terkesiap. Ia bangkit dan mendorong begitu saja tubuh perempuan tidak dikenal tersebut. Hingga terjungkal di karpet Persia warna merah. Wanita itu menjerit dan memakinya namun Kafka tidak memperdulikannya. Cepat, bagai melompat ia mendekati Alice yang semakin pucat dan lemah.

“Alice… Alice…”

Gadis itu mendongak, menatapnya dengan mata bingung.

“Bayi…” Gumamnya lemah.

Kafka memegang lengannya. Lalu melingkari pinggang Alice dengan tangan kirinya. Dan mengangkatnya dalam gendongan seolah tubuh istrinya begitu ringan.

Ia berteriak memanggil pelayan dan memerintahkan sopir menghidupkan mobil. Kafka membopong tubuh Alice dalam pelukannya dan berjalan ke bagian depan rumahnya.

Gadis itu ditengah rasa sakit dan kebingungannya akan apa yang telah terjadi pada tubuhnya, memegang leher Kafka dengan erat.

“Kafka… Kafka..” Bisiknya lemah meminta perhatian sang suami.

“Bayi…. kumohon, selamatkan…. bayi kita.. Kafka. ” Ucapnya pelan dan hampir menangis.

Kafka berlari sambil menggendongnya erat-erat, menunduk melihat wajah istrinya yang mulai kehilangan kesadarannya. Ada tusukan sakit di dadanya saat mendengar perkataan Alice yang terpatah-patah.

“Demi Tuhan, bahkan Alice hanya peduli dengan keselamatan bayinya. ”

“Bayi kita…”

Lalu semuanya memudar bagi gadis itu. Ia luruh dalam rasa sakit yang membakar inti tubuhnya. Remasan kepedihan memompa aliran darahnya.
Alice menjerit lalu kemudian pingsan.

¤¤¤¤¤

“Nyonya harus melahirkan saat ini juga karena bayinya terjerat placenta dan sungsang. Bayinya bersikeras dilahirkan hingga lengannya sudah keluar duluan. Oleh sebab itu Nyonya tidak dapat dioperasi. ”

Kafka menatap nanar ketua tim jaga ICU, Dokter yang tadi mengobservasi istrinya. Sebagai bekas mahasiswa kedokteran ia tahu ini persalinan yang sangat buruk dan beresiko tinggi. Terlebih kandungan Alice belum cukup umur, kesehatannya yang tidak baik, serta keadaan tergoncangnya yang membuatnya mendadak melahirkan.

“Kemungkinan selamat bagi ibu dan anak hanya 40%. ”

Kafka mendesah. Ia tahu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Dokter ini dan keputusan yang harus ia ambil.

“Siapa yang anda ingin selamatkan terlebih dahulu, ibu atau anaknya?”

Pria yang sedang kalut ini merasakan jantungnya dicengkram kuat. Hingga sulit bernafas.

Sepanjang 30 tahun hidupnya, baru kali ini ia menghadapi situasi yang begitu menyesakkan baginya. Selain saat kematian kedua orang tuanya.

“Sir, anda ingin menyelamatkan siapa?”

Pria ini mengusap wajahnya, gelisah dan cemas. Ia tahu yang diinginkan oleh istrinya adalah menyelamatkan bayi mereka. Dan dokter membutuhkan jawaban secepatnya.

Ia ragu.

“Sir?”

Dokter tersebut mendesaknya dengan gelisah. Ia tak punya banyak waktu bila ingin menyelamatkan pasiennya.

Kafka memejamkan matanya. Lalu sebuah kata meluncur begitu saja dari bibirnya.

“Si ibu. ”

Keputusan sudah dibuat. Sang Dokter segera masuk ke dalam ruangan ICU tempat Alice yang sedang ditangani oleh tim Dokter.

Terdengar suara Alice yang menjerit kesakitan. Erangan kerasnya serta seruan-seruan dari petugas medis, yang sibuk menyelamatkannya.

Kafka, pria itu tertegun di depan pintu yang tertutup rapat. Pertama kali ia merasakan cemas untuk wanita itu dan berharap dengan tulus untuknya.

“Alice….”

¤¤¤¤¤

Apakah Alice selamat? Dan bagaimana dengan bayinya?

Mengapa Kafka lebih memilih menyelamatkan Alice dan bukan anaknya?

Cerita selanjutnya : Angel and Devil, Part Four : Crossing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s