Angel and Devil, Part Four: Crossing

Sebelumnya : Kali ini Kafka sangat keterlaluan dan menyakiti bukan hanya hati istrinya. Ia juga telah membahayakan calon anak yang susah payah dikandung Alice. Namun hingga saat terakhir ditengah rasa sakit yang menyerangnya, Alice masih meminta Kafka untuk menyelamatkan anak mereka. Angel and Devil, Part Three : Turning Point http://t.co/X1f4en1jVz

Part Four

Dengan langkah bergegas pemuda tampan berwajah sendu, yang mengenakan mantel biru memasuki gedung rumah sakit. Ia bertanya pada seorang suster dan diarahkan menuju sayap timur bangunan. Yang merupakan bangsal pasien melahirkan. Ia melanjutkan perjalanannya sambil menguatkan hati, melihat apapun yang akan ia temui.

Pemuda berambut cokelat cerah itu tidak memperhatikan pandangan memuja para wanita yang berpapasan dengannya sepanjang jalan. Baik itu pasien, suster, tamu pasien bahkan Dokter berjenis kelamin perempuan semuanya terpesona dengan sosok dan wajah tampannya. Dengan tubuh tinggi ramping bagai model catwalk dia terlihat begitu menawan.

Kyle De Luzt.

Begitu mendengar kabar Alice yang masuk rumah sakit, ia segera pulang memakai penerbangan pertama dari Macau ke Berlin. Firasat tidak enak yang sudah lama ia rasakan, makin memperkuat dugaan buruknya. Bahwa Alice kembali menghadapi kekejaman Kakak lelakinya.

Awalnya Kyle pikir jika ia mengikuti semua perintah Kakaknya dan menjauhi Alice, wanita itu akan aman. Tetapi perkiraannya salah. Kakaknya benar-benar sudah kehilangan kewarasannya. Dan ia merasa Kafka harus diberi pelajaran.

Kyle menatap pintu kamar ruang rawat VVIP yang tertutup. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh handle besi. Pelan ia menarik besi itu ke bawah dan mendorong pintu ke dalam.

Hal pertama yang ia lihat adalah Alice yang terbaring di ranjang pasien, ditengah kamar mewah yang tampak didesain minimalis serta elegan. Gadis itu terlihat damai dan tertidur dengan tenang. Cantik sekali dengan rambut hitam yang tersampir di bantal. Ada rona merah muda mewarnai pipi mulusnya. Sekilas Alice terlihat baik-baik saja.

Kyle menatapnya sedih. Hatinya penuh dengan kerinduan dan rasa iba.

Alice Marion Black-Luzt, gadis yang paling ia cintai. Satu-satunya.

Dengan langkah lunglai, pemuda itu memasuki kamar dan mendekati ranjang tempat gadis yang sangat diinginkannya.

“Alice…”

Kyle menunduk. Jari-jari panjang tangan kirinya, mengelus pipi sebelah kanan gadis yang tampak bagai tertidur ini. Mata sang pemuda yang biru tampak bersinar dalam.

Ia melihat kearah perut gadis tersebut yang kini kembali datar.

Ya. Alice sudah melahirkan. Meski susah payah dan penuh kesakitan, ia dan bayinya selamat.

Kafka sudah mempunyai seorang putera dari wanita ini. Yang terlahir prematur hingga harus mendapatkan perawatan khusus dan selalu di inkubator.

Kyle berdoa semoga bayi itu sehat dan bisa melewati masa-masa sulit ini. Karena ia tahu hal tersebutlah yang paling diinginkan Alice.

Tetapi Alice keadaanya tidak baik. Meski jantungnya sempat terhenti dan telah melewati masa kritis, ia belum pernah sadar usai melahirkan. Semua ini berkat riwayat kesehatannya yang buruk, kehamilannya yang bermasalah, tekanan psikologis dan yang paling utama adalah Kafka pasti telah melakukan sesuatu yang membuatnya begitu terpukul.

“Kau sudah datang?”

Kyle menoleh. Kafka memasuki kamar tanpa suara. Penampilannya rapi dan tampan seperti biasa. Dan kali ini ia juga mengenakan mantel biru panjang, seperti yang Kyle gunakan. Tetapi meski mengenakan pakaian yang sama, ketampanan masing-masing pria ini sangat berbeda.

Betapa pun Kyle membenci perlakuan buruk Kakaknya terhadap Alice, semua kemarahannya luruh begitu melihat mata tajam Kafka. Dan entah mengapa kali ini ada yang berbeda. Oh, Kafka masih tampak seperti Kafka De Luzt yang mengintimidasi. Tetapi Kyle merasa aura mengancam Kafka seperti melembut saat pria itu mendekati Alice di sisi ranjang satunya.

Kafka menatap wajah Alice dengan pandangan yang belum pernah dilihat oleh Kyle.

“Apa yang terjadi, Kak?”

Kafka melirik pada Adik lelakinya, Kyle yang menuntut jawaban secepatnya.

“Dia… persalinan buruk. Dokter nyaris tak dapat menyelamatkan siapapun. ”

Untuk sekejap Kyle seperti melihat kilasan rasa sakit di wajah lelaki ini.

“Apa…itu?”

¤¤¤¤¤

“Bagaimana keadaan bayinya?”

Kyle duduk di hadapan Kafka, menyilangkan kakinya dan tangan terlipat di dada. Wajahnya tampak keras meskipun sinar matanya selalu sendu.

Sedangkan Kafka duduk dengan santai. Kaki panjangnya menumpuk di sebelah kaki lainnya. Wajahnya tampak datar dan tak terbaca. Seperti selama ini sikapnya dalam menghadapi semua hal yang mengganggunya.

“Ia mewarisi darah keluarga De Luzt. Dia kuat dan akan bertahan, seperti kita. ”

“Lalu Ibunya?”

Kafka melihat ke sekeliling kedai yang menyediakan berbagai macam minuman terbuat dari kopi serta beberapa roti dan kue manis. Coffee shop ini terletak di lantai bawah rumah sakit dan kini sedang sepi oleh pengunjung.

“Ibunya juga pasti akan selamat. ”

“Apa yang akan Kakak lakukan saat Alice bangun?”

“Mengapa kau bertanya? Ini bukan urusanmu lagi Kyle. ”

Kyle menatap Kafka yang memicingkan matanya, tidak senang. Tetapi bukan Kyle bila tidak bisa berkeras bila sudah memutuskan sesuatu.

“Aku.. Rasanya hampir mati saat mendengar kabar Alice. ”

Ia meletakkan tangan kanannya di dada sebelah kiri. Sebuah senyuman pahit tersungging dibibirnya.

“Sakit sekali disini, Kak. ”

“Dia istriku, Kyle. ” Ujar Kafka dingin.

“Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal-hal yang ada dipikiranmu saat ini. Karena kupastikan dia yang akan menerima semua akibat dari tindakanmu. ”

¤¤¤¤¤

Kafka memandang wajah Alice yang baru saja dibersihkan oleh perawat. Rambut hitamnya tersisir rapi, mengumpul dibahu gadis itu. Ia memerintahkan siperawat untuk selalu memakaikan pelembab pada istrinya sehingga wajahnya tampak lembut dan ronanya sehat.

Dokter mengatakan keadaan kritisnya sudah lewat dan seluruh organ vitalnya dalam keadaan sempurna. Ketidak sadaran Alice mungkin lebih disebabkan oleh tekanan psikis yang ia terima sebelum melahirkan. Dan secara defensif otaknya memerintahkan tubuhnya untuk beristirahat. Itulah yang sedang ia lakukan.

Kafka mendesah.

Sebelum menuju kamar ini, ia terlebih dahulu melihat puteranya di ruang inkubator. Keadaannya baik dan Dokter sudah berhasil menaikkan berat badannya sebanyak 250 gram. Bayi itu keliatan sehat dengan kulit semerah udang rebus serta tangisan kencang yang tampak bandel.

Ia tertawa.

Mungkin bayi itu mewarisi sifat keras kepala serta kekerasan hatinya. Bayi yang tangguh seperti Ibunya.

“Kapan kamu sadar?”

“Anak itu lebih butuh Ibunya daripada aku. “

Dengan gerakan pelan dan lembut, ia meraih jemari Alice. Menggenggamnya dengan kedua belah tangannya. Serta mengosok-gosok pungggung tangan wanita itu.

¤¤¤¤¤

“Alice….”

Gadis itu menggumam tidak jelas. Kelopak matanya bergerak dan bulu mata panjangnya bergetar lemah. Pelan ia membuka matanya lalu segera merasa silau karena cahaya.

“Alice. ”

Ia mengerjapkan matanya. Berusaha fokus pada wajah di hadapannya. Sebuah wajah yang menatapnya penuh kerinduan dan sukacita.

“Kau… disini?”

Alice merasakan tenggorokannya sangat kering.

“Alice dengar aku. Saat ini aku tidak bisa menjelaskan apa-apa padamu. Tapi percayalah semua ini demi kebaikanmu. ”

Gadis itu mengerjapkan matanya tidak mengerti. Bingung dan belum bisa berkonsentrasi.

“Apa?”

Lalu tubuhnya terasa terangkat. Karena pria dihadapannya saat ini meraihnya dalam gendongannya. Alice berpegangan pada lengan kokoh itu dan menyandarkan kepalanya pada bahu kekar yang memeluknya.

“Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Seharusnya aku melakukan hal ini dari dulu. ”

Dengan ringan ia membopong tubuh ringkih Alice dan membawanya keluar dari kamar rumah sakit.

¤¤¤¤¤

Kafka berteriak marah. Seluruh benda yang tadinya berada di atas meja kerjanya, kini berserakan ke seluruh penjuru ruangan. Foto, hiasan kristal, pelat nama, pena, komputer jinjing, dokumen dan lain-lain sudah menjadi pelampiasan rasa frustasinya. Dan tak ada yang dapat menghentikan kemarahannya saat ini.

Terdengar ketukan pintu. Lalu sosok Kyle muncul dari balik pintu ganda ruang kantor Kafka.

Ia melihat sekeliling dengan pandangan datar. Dan menoleh pada Kafka dengan berani.

“Dimana Alice?”

Kafka mendekatinya dan mencengkram kerah kemeja Adik lelakinya. Namun Kyle tampak tidak merasa terintimidasi sama sekali.

“Alice aman bersamaku. ”

“Kau… Kalian ingin melarikan diri?”

Kafka tersenyum mengerikan dengan mata menyala penuh kemarahan. Tangannya yang mencengkram Kyle tampak bergetar. Dan ia masih menahan emosinya.

“Aku sudah bilang jangan ikut campur, Kyle. ” Ancamnya dengan nada berbahaya.

“Aku tidak bisa. ”

“Bugh!”

Tanpa peringatan ataupun basa-basi seseblumnya Kafka meninju ulu hati Kyle. Hingga membuat pemuda itu terbungkuk kesakitan.

Kyle mendongak menatapnya, tersenyum sinis. Lalu Kafka kembali meninjunya tepat di atas dagunya, dekat bibir. Sehingga sudut bibir pemuda ini pecah dan darahnya mengalir.

Kyle masih menyeringai dan mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Ia tertawa pelan.

“Jadi begini…” Gumamnya.

“Aku tidak akan membunuhmu karena kau adalah Adikku. Jadi cepat katakan dimana kau sembunyikan Alice. ”

Kyle tertawa. Tidak memperdulikan ucapan Kakaknya yang kini menatapnya dengan nafsu membabi buta, ingin menghajarnya habis-habisan. Dan tanpa diduga ia melayangkan tinju kirinya ke wajah Kafka dengan telak. Mengenai hidung mancungnya.

Kafka memaki keras. Pukulan Kyle memang tidak sampai mematahkan hidungnya tetapi rasanya sangat sakit dan membuatnya semakin emosi.

“Aku sudah bilang, aku akan mati bila kau terus-terusan menyiksa Alice. Aku sudah mati, Kak. Dan kau yang membunuhku. Berkali-kali. ”

Kyle tampak sangat menderita saat mengatakan hal tersebut.

“Aku mencintai gadis itu. Tak bisa lagi melihatnya dipermainkan olehmu. Sekali lagi kau mengganggunya, aku akan bunuh diri di hadapanmu. Kupastikan itu. ”

Kafka menggeram marah.

“Kau mengancamku?”

Kyle tersenyum pedih dengan mata berkaca-kaca.

“Kau tahu aku selalu memegang ucapanku. Jadi semua keputusan ada ditanganmu, Kak. ”

Ia segera berbalik. Dan meninggalkan kekacauan yang telah ia buat pada Kafka.

¤¤¤¤¤

“Kyle ada apa?”

Pemuda itu tersenyum dan menarik tubuh gadis itu yang beraroma wangi khas. Alice yang sedang bersandar di kepala ranjang tampak merasa khawatir melihat wajahnya yang babak belur.

“Tidak apa-apa, sayang. ”

Gadis itu menarik tubuhnya dari pelukan Adik iparnya ini.

“Apa Kafka memukulmu?”

Ia menatap Kyle dengan pandangan bersalah. Dan tak perlu jawaban atas pertanyaannya itu.

“Aku ingin pulang, Kyle. Aku ingin melihat bayiku. ”

Namun Kyle malah menarik tubuh gadis cantik ini untuk lebih erat ia peluk. Ia harus melakukan ini.

“Maafkan aku, Alice. ” Gumamnya berkali-kali.

Alice bingung namun ia diam dalam pelukan Kyle. Perasaannya mengatakan bahwa pemuda ini benar-benar membutuhkan pelukannya untuk menenangkan diri. Lalu ia mengusap-usap punggung lebar Kyle.

“Alice….bayimu meninggal. ”

Perkataan Kyle membuat gerakan Alice membeku. Ia berharap telinganya salah mendengar ucapan Kyle barusan.

“Bayimu meninggal, Alice. Maafkan aku. ”

“Tidak…tidak…tidak. ”

Alice menggeleng cepat. Ia menarik dirinya dan mendongak, menatap Kyle dengan mata melebar tidak percaya.

“Itu tidak benar. ”

Tubuhnya gemetar dan wajahnya begitu pucat, seolah peredaran darahnya berhenti tiba-tiba.

“Aku sudah meminta Kafka untuk menyelamatkan bayi kami.”

Alice memejamkan matanya frustasi. Air matanya merebak dan tangisnya tak terbendung lagi.

“Oh Tuhan, baby….”

Gadis malang itu menjerit-jerit histeris dan Kyle berusaha menenangkannya. Ia memeluk Alice erat-erat dan membiarkan sang gadis memukulinya, mencakar serta memakinya.

“Bayiku…bayiku, Kyle. ” Isaknya dengan sangat menyedihkan.

Kyle menangis bersama Alice.

“Maafkan aku, sayang. Maaf. ” Hanya kata-kata itulah yang bisa ia ucapkan berkali-kali pada gadis yang sangat ia cintai.

“Aku akan membawamu jauh. Jauh sekali hingga Kakakku tidak akan pernah bisa menemukan kita. ”

“Aku sangat mencintaimu, Alice. Karena itu aku harus memastikan kau bahagia, sayangku. ”

¤¤¤¤¤

Cerita selanjutnya : Kafka berhasil menemukan Alice yang keadaannya buruk, sama seperti dirinya. Dan ada kenyataan yang harus Alice ketahui juga Kafka terima. Tetapi bukan Kafka bila tidak memaksakan diri, membuat segala hal harus mengikuti kemauannya. Simak cerita mereka dalam Angel and Devil, Part Five : The Lies Behind.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s