Angel and Devil, Part Five : The Lies Behind

Cerita sebelumnya : Kyle membawa Alice lari dari rumah sakit, membuat Kafka marah besar. Mereka berkelahi hebat dan diakhiri dengan ancaman Kyle yang akan membunuh dirinya bila Kafka masih menggangu wanita itu lagi. Dan Kafka tahu bahwa Adiknya sangat serius dengan ucapannya.

Alice bersedih dengan kenyataan yang diungkapkan Kyle, bayi yang ia lahirkan ternyata meninggal dunia. Ia terpuruk dan Kyle yang mencintainya menangis bersamanya. Lihat di Angel and Devil, Part Four: Crossing http://t.co/DEb8MioyJE.

Part Five

Kyle menatap iba pada Alice yang berbaring, membelakanginya. Sudah beberapa hari ini ia menangis terus dan tidak memperdulikan apapun. Ia begitu terpukul dengan berita kematian anak yang ia lahirkan.

Alice bahkan menolak untuk berbicara dengan Kyle. Dan menghukum dirinya sendiri. Menyalahkan diri atas kemalangan yang bertubi-tubi datang mendera hidupnya.

Kyle tak dapat berbuat apapun selain menyesal. Mengapa tak dari dahulu mencoba menyelamatkan Alice. Sehingga kejadian menyedihkan ini tidak menimpa gadis itu.

“Alice, kita harus bersiap untuk pergi. ”

Ia menatap punggung gadis itu yang masih mengisak. Tak akan mudah bagi seorang ibu kehilangan anak yang baru saja ia lahirkan dengan susah payah mengandung selama ini.

“Untuk apa?” Tanya Alice dengan suara serak.

“Aku bahkan tidak peduli bila Kafka menemukanku. ”

Kyle mendesah.

“Jangan seperti itu, sayang. Kita bisa memulai hidup yang baru. Kau dan aku. Kita akan bahagia. ”

Pemuda itu berupaya membujuk Alice agar mengikutinya dengan suka rela.

“Kyle…”

Ia menolehkan wajahnya yang sembab dan beruraian air mata. Dan bangkit duduk di ranjang.

“Sudah cukup. Jangan menyia-nyiakan hidupmu untukku. Kembalilah pada Kakakmu, kasih sayangnya terlalu besar untuk bisa membuangmu begitu saja. ”

“Alice….”

Kyle maju dan ingin menyentuhnya. Namun gadis itu mundur dan menolak untuk didekatinya.

Pria ini tertegun tak mau memaksakan keberuntungannya. Alice sedang dalam keadaan tak baik dan ia sangat memakluminya.

“Kyle…. Maafkan aku. Sepertinya…. Aku harus menyelesaikan semua ini, sendiri. “

Alice menatap satu-satunya pria yang pernah mengisi hatinya, namun tak berjodoh dengannya. Akhir yang indah selalu tak berujung pada mereka.

“Aku mungkin akan pergi, tapi tidak bersamamu. ”

“Maafkan aku….”

¤¤¤¤¤

Kafka melihat sosok wanita yang sudah berhari-hari menjadi target pencarian anak buahnya. Alice sedang duduk sendirian di sebuah coffee shop yang terletak di dekat taman kota. Ia sendiri yang menghubungi Kafka dan meminta berjumpa.

Alice tidak terlihat baik. Wajahnya bengkak karena terlalu banyak menangis. Dan tampak begitu muram. Tetapi Kafka tidak akan tertipu lagi, gadis ini bisa saja berpura-pura untuk mencari simpati darinya. Meski sejujurnya ia bertanya-tanya, seharusnya Alice tak seperti ini. Seharusnya Alice tak menghubunginya setelah lari. Seharusnya Alice, istrinya bahagia dengan Kyle yang mencintainya setengah mati.

“Jadi ini pilihanmu?”

Kafka tersenyum mengejek pada seraut muka yang memerah karena menahan tangisnya lagi. Ada sebuah plester pembalut luka menempel dihidungnya. Akibat pukulan tinju Kyle yang bersarang di wajahnya.

Tatapan mata istrinya menelusuri wajah tampannya. Ada rasa bersalah, kecewa juga kasihan disorot mata wanita ini.

“Apa yang kau katakan pada Kyle, sampai ia berani memukulku bahkan mengancam untuk bunuh diri?”

“Apa kau tega meninggalkan bayi kita?”

Alice menggeleng dengan cepat. Air matanya menetes perlahan. Ia duduk dengan gelisah di hadapan suaminya. Kedua tangannya bertaut diatas pangkuannya. Cemas.

“Kau benar-benar akan pergi dengannya?”

“Kali ini, apa kau akan pergi meninggalkanku?”

“Apa tidak ada harapan buatku?”

Tatapan Kafka begitu menusuk. Seolah-olah Alice adalah tersangka penyebab segala kekacauan dalam hidupnya dan membuat ia kehilangan kontrol terhadap dunianya. Ia duduk dengan tubuh condong ke arah gadis itu, sedikit mengancam.

“Aku tidak tau. ”

Alis tebal Kafka bertaut. Dan ia semakin marah mendengar ucapan Alice yang tampak begitu tidak berpendirian.

“Jangan bilang kau dipaksa Kyle. Kau bisa memilih untuk tetap bersamaku dan anak kita, tapi kau memilih lari. ”

“Maaf….maafkan aku. Bayi kita….baby…”

Alice menumpahkan segala tangis kesedihannya. Kedua lengannya terlipat memeluk perutnya, tempat dimana ia pernah mengandung seorang bayi.

“Jangan bersikap seolah kau peduli, Alice. ”

“Kalau kau memikirkan bayi kita, maka kau tidak akan pergi, Alice.”

Dengan terisak, ia menatap Kafka marah.

“Aku sudah memohon padamu, … untuk menyelamatkan bayi kita. Mengapa kau…mengapa aku yang diselamatkan?”

“Kau kejam. ”

“Kau sengaja melakukan ini untuk menyiksaku dengan perasaan bersalah?”

“Bayiku…”

“Apa-apaan wanita ini?”

Kafka mengusap mulutnya dengan gerakan kasar. Ia menatap Alice dengan pandangan keras. Dan lelaki ini teramat marah pada sosok di hadapannya. Wanita ini bertindak seolah tidak tahu apapun dan itu sangat menyebalkan dimatanya.

“Kau benar. Aku meminta Dokter untuk menyelamatkanmu. Dan aku tidak menyesali itu. ”

Alice menatapnya terbelalak. Tidak mempercayai pendengarannya.

“Ya Tuhan… Kafka. ”

“Mengapa kau tidak membiarkan saja aku mati bersama bayi kita. ” Jerit Alice dengan rasa frustasi yang memuncak.

“Apa maksudmu?”

Kafka meraih bahunya dan menguncang tubuhnya. Tangannya mencengkram bagai jepitan dipundak lemah istrinya. Wajahnya menggelap dan sarat akan aroma kekesalan.

“Aku ingin mati dengan bayiku. Aku ingin mati. ”

Pria ini tersentak dengan perkataan Alice yang membuatnya bingung. Ia kembali menggoyang bahu wanita beremosi labil, yang merupakan Ibu dari puteranya.

“Alice… Alice…”

“Apa yang Kyle katakan? Bayi kita masih hidup. ”

“Kau bohong. Kau pasti berbohong. Kyle bilang anakku sudah mati. Oh, bayiku… Anakku. ”

Alice kembali meratap dengan wajah bersimbah air mata. Ia menunduk dan lengannya terkunci, memeluk perutnya yang kini datar.

“Alice, anak kita masih hidup. Kyle berbohong padamu. ”

Gadis itu menatapnya dengan ragu. Ia terlihat bingung dan tidak terfokus dengan benar.

“Dengarkan aku, Alice. Anak kita masih hidup. Kembalilah ke rumah dan kau akan melihatnya. Ia baik-baik saja dan bertumbuh. Kurasa ia membutuhkan dan merindukan Ibunya. Jadi, pulanglah. ”

“Kau…tidak bohong?”

Kafka menarik nafas lega. Lalu mengangguk.

“Oh Tuhan. Sepertinya aku salah mengira Alice meninggalkan bayi kami. Ia pikir aku sengaja tidak menyelamatkan anak kami untuk menyakitinya lebih lanjut. ”

Ia berusaha untuk meyakinkan Alice lagi. Agar tidak mengikuti Kyle dan memilih untuk tidak meninggalkan bayi mereka serta dirinya, juga.

“Anak kita hidup, Alice. ”

¤¤¤¤¤

“Kyle…. Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa anakku, bayiku … Dan mengajakku lari, meninggalkan baby yang masih hidup. ”

“Oh, Kyle… Apa yang harus kulakukan padamu?”

Alice menggendong buah hatinya dengan pandangan takjub dan sangat bersyukur. Bayi merah dalam pelukannya tampak begitu tenang dan sehat.

Berkali-kali wanita yang kini telah jadi seorang Ibu ini mengucap terimakasih pada Tuhan. Dan mengusap air mata harunya.

“Bagaimana keadaan Nyonya?”

Tanya Dokter yang telah menangani persalinannya waktu itu. Wanita paruh baya yang berwajah tenang dan keibuan ini bersikap profesional padanya.

“Apa air susu Nyonya sudah keluar?”

Alice melirik Kafka yang juga berada di ruangan periksa sang Dokter. Wajah wanita ini tampak jengah dan memerah.

“Em.. Payudara saya sakit, Dok. ” Ucapnya setengah berbisik.

“Rasanya keras sekali. ”

Dokter itu tersenyum menenangkan. Ia mengerti bahwa ini persalinan pertama Alice dan pasangan muda ini tampak masih malu-malu.

“Itu wajar. Tandanya asi anda harus dikeluarkan. ”

“Apakah anda akan menyusui bayi anda? Itu hal terbaik yang dapat dilakukan agar payudara anda tidak sakit lagi. ”

“Benarkah?”

Alice bertanya meyakinkan. Ia sama sekali tidak berpengalaman masalah ini dan tak ada orang yang bisa ia tanyakan tentang persalinan dan menyusui.

“Tentu saja saya mau. ” Katanya dengan tegas.

Kafka yang dari tadi diam dan mengawasinya. Tidak berkata apapun. Namun dirinya menyadari bahwa Alice begitu bersemangat dan tampak sangat cocok berperan sebagai seorang ibu. Ibu dari anak Kafka.

Pikiran seperti itu kali ini, entah mengapa bisa menenangkan Kafka. Dan ia memandang Alice dengan berbeda.

¤¤¤¤¤

“Apa yang kau lakukan Alice? Mengapa kau kembali? Tidakkah kau tahu apa yang sudah kulakukan untuk membawamu keluar dari rumah ini?”

Kyle mencecarnya dengan banyak pertanyaan saat Alice menghubunginya. Ia segera menemui gadis itu dan mendesaknya untuk segera ikut dengannya.

“Aku tahu Kyle. Dan aku sangat berterimakasih padamu. ”

Alice tersenyum lembut padanya. Penampilannya jauh lebih baik dan ia terlihat sangat cantik.

“Tetapi kau tidak akan mengikutiku?”

Mereka berpandangan. Lalu Alice menyentuh lengan Kyle dan menggenggam tangannya.

“Aku tidak bisa meninggalkan anakku. ”

“Jadi kau memilih tetap bersama Kakakku dan menerima perlakuan buruknya lagi?” Geram pemuda ini tidak terima.

Ia sangat marah dengan keputusan yang diambil Alice. Tetapi ia juga sudah menduga bahwa Alice akan melakukan hal ini demi bayinya. Oleh sebab itu akhirnya ia memilih mengatakan bahwa bayinya sudah meninggal.

“Tidak Kyle ….., Tidak begitu. ”

Alice menatapnya dengan tajam. Bagaimanapun ia tidak bisa menerima kebohongan yang telah dilakukan Kyle dan semudah itu memaafkannya.

“Aku kembali untuk anakku. Dan kali ini aku punya rencana untuk masa depan kami.”

“Apakah… Aku termasuk di dalamnya, Alice?”

Keduanya saling bertatapan dengan intens. Kyle menatapnya masih dengan gulatan rasa cinta yang besar. Sedangkan Alice, sorot matanya begitu bertekad.

“Aku sudah menemukan tujuan hidupku. Dan kupikir Kafka harus berhenti sekarang. ”

“Kyle…. Terimakasih sudah mencintaiku begitu dalam. Dan sudah memberikanku keberanian. Aku sangat berharap kau segera menemukan kebahagiaan sejatimu. Selamat tinggal …. sayang. “

“Alice, sayangku. Maaf. Aku mengerti pada akhirnya kau menyerah dan semua itu bukan salahmu. Seharusnya aku memperjuangkanmu dari awal. Maaf….aku benar-benar minta maaf. “

¤¤¤¤¤

“Apa ini?”

Kafka nyaris meledak membaca kertas yang ada di hadapannya. Ia melotot marah pada pria setengah baya yang berpakain resmi dan menyatakan diri sebagai pengacara dari Alice Marion Black-Luzt.

Lelaki tua yang sudah berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai penasihat hukum keluarga Black itu berdehem.

“Seperti yang anda lihat, Nyonya Alice mengajukan gugatan perceraian. Beliau tidak akan menuntut apa-apa serta menyerahkan seluruh aset berharga miliknya kepada anda. Yang ia inginkan hanyalah hak asuh puteranya sampai usia 18 tahun. Dan ia tidak akan membatasi serta menghalang-halangi anda untuk berhubungan dengan putera kalian. ”

“APA??”

Kafka menggeram marah. Ia sama sekali tidak menyangka Alice akan melakukan hal ini padanya.

“Atas dasar apa ia menuntut perceraian dariku?”

Ia menyeringai dengan wajah buas pada pria tua yang duduk di ruang kerja Kafka, di pentahouse lantai 32 gedung Goethestraße. Sebuah perkantoran yang terletak di kawasan termahal kota Berlin.

“Nyonya Alice tidak menyebutkan alasan perceraiannya. Beliau mengatakan bahwa semua ini dilakukannya demi kebaikan semua pihak. Saya tidak bisa mengatakan hal apapun tetapi penawaran ini sangat menguntungkan pihak anda. ”

Kafka memejamkan matanya. Mencoba menahan kemarahan yang menjalar di sekujur tubuhnya hingga membuatnya gemetar. Ia sangat sanggup melakukan apa saja saat ini. Apalagi menghajar pria tua, yang telah kurang ajar membawa berita buruk untuknya.

“Aku menolak. ”

Pengacara tua tersebut, tersenyum dengan arif. Lalu menarik nafas panjang. Ia sudah menduga hal ini akan sulit.

“Kalau begitu sampai jumpa dipengadilan. ”

“Apa kamu pikir…. Kalian punya kesempatan?” Katanya mengejek.

Pria itu bangkit dari duduknya dan bersiap undur diri dari hadapan Kafka.
“Nyonya bersedia melakukan apa saja, demi berpisah dengan anda. Termasuk merendahkan dirinya. ”

“Sejujurnya saya tidak tahu apa yang terjadi dalam pernikahan kalian, tetapi melihat tekad Nyonya yang begitu kuat serta keinginannya untuk tidak mempersulit anda, pasti ada sesuatu yang salah dalam hubungan kalian. Sesuatu yang begitu krusial hingga membuatnya rela memberikan apa saja demi sebuah kebebasan. ”

Ucapan dari seorang pria tua yang tidak dikenalnya dengan akrab ini begitu menohok hati Kafka. Hingga ia tidak dapat berkata apapun untuk membalasnya. Karena ia tahu kenyataan selama ini, bagaimana pernikahan mereka berjalan.

“Saya harap anda dapat memikirkan hal ini dengan masak-masak. Kita dapat membicarakannya setelahnya. Saya permisi Tuan De Luzt. Selamat siang. ”

Sepeninggal pengacara tersebut, Kafka masih terduduk di sofa kulit tempat ia biasa menerima tamu di kantornya. Ia masih memikirkan soal gugatan cerai yang diajukan oleh istrinya.

“Apa yang Alice pikirkan? Membawa lari anaknya?”

“Apa ia pikir aku akan melepaskannya semudah itu? “

“Aku pikir dengan kehadiran Gabriel, akan mengikat Alice lebih erat. Tetapi kenyataannya Alice malah berani melakukan hal ini padanya. “

Kafka masih bergulat dengan berbagai pertanyaan tanpa jawaban yang pasti dalam benaknya. Dan ia tidak mempunyai gambaran hal apa yang membuat istrinya mengambil keputusan seekstrim ini.

¤¤¤¤¤

Cerita selanjutnya : Alice bahagia. Ia menjadi Ibu terbaik yang pernah dimiliki Gabriel. Dan Kafka menyadarinya dan hal itu, entah mengapa begitu membuatnya bersedih. Dia bukan lagi bagian dari kehidupan Alice.

“Kau harus belajar merelakan apa yang bukan milikmu, tidak akan pernah jadi milikmu meski kau memaksa semesta berkonspirasi. “

Lihat cerita terakhir dari perjalanan kisah Alice, Kafka dan Kyle di Angel and Devil, Part Six : The Last Decision http://t.co/FrbiC4mOs8.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s