Angel and Devil, Part Six: The Last Decision

Cerita Sebelumnya : Alice akhirnya mengetahui bahwa Kyle berbohong padanya soal kematian bayinya. Dan ia memilih kembali pada suaminya tetapi ternyata tidak sesederhana itu karena Kafka harus menghadapi gugatan cerai yang diajukan oleh istrinya ini.

Satu hal yang dapat dipastikan bahwa hubungan diantara Kyle dan Alice benar-benar mencapai akhirnya. Kyle akhirnya sadar, ia sudah kehilangan Alice sejak saat ia tak memperjuangkan gadis itu. Dan Alice telah menemukan tujuan lain dari hidupnya.

Here’s they are, the last chapter about Alice, Kafka and Kyle (Thanks to Sidar Majid, yang selalu suka dengan tulisanku dan gelisah menunggu cerita selanjutnya. Dan jujur saja aku menyukai menulis Angel and Devil).

Part Six

“Saya menolak untuk bercerai. ”

Kafka menatap langsung pada Alice, yang didampingi oleh kuasa hukumnya. Keduanya bertemu saat mediasi secara tertutup yang digagaskan oleh hakim dan masing-masing pengacara.

“Yang mulia, saya tetap ingin berpisah dengan suami saya. ”

“Nyonya Alice Black-Luzt. Bisakah anda menjelaskan alasan anda mengajukan gugatan ini?”

Alice menoleh pada Kafka. Raut wajahnya tampak tenang dan sorot matanya tidak terbaca. Dengan hati-hati ia mulai berbicara.

“Pernikahan saya dan Kafka De Luzt diawali dengan niat yang salah. ”

Kafka dan Alice saling memandang satu sama lain. Dengan pergumulan batin masing-masing serta begitu sibuk dengan pikiran mereka sendiri.

“Selama beberapa tahun pernikahan kami, tidak seharipun diantara kami ada yang merasa bahagia. Terlebih lagi suami saya, Kafka.”

“Saya menghormatinya dan berusaha untuk selalu patuh padanya sampai akhir. Tetapi pada kenyataannya saya menyadari bahwa kehadiran saya dalam hidupnya, sama sekali tidak membawa kebaikan bagi suami saya, Kafka. ”

Kafka menatap Alice tanpa berkedip sedikit pun. Dan Alice tetap menunjukkan sikap tenangnya meski ia banyak menarik nafas panjang karena sama sekali tidak merasa lega.

“Jadi saya ingin meluruskan semuanya. Sudah cukup semua tanggung jawab saya terima dengan lapang dada dan Kafka harus menerima. Saya ingin masa depan yang lebih baik dengan anak kami. Begitupun saya mengharapkan yang terbaik buat kebahagiaan Ayahnya Gabriel. ”

“Kafka, mengertilah. Aku pikir semua dendammu tidak akan pernah ada habisnya bila kau tidak menghentikannya. Dan aku sudah cukup membayar kesalahan Ayahku yang membuatmu kehilangan banyak hal. Tetapi bahkan jika aku memberikan nyawaku, apa yang telah hilang tidak bisa kembali lagi. Jadi… hentikanlah. Demi Gabriel. “

“Gabriel pantas mendapatkan hal terbaik dari kedua orang tuanya. Dan kita bisa tetap melakukan itu tanpa bersama-sama. Kumohon. ”

“Jangan gunakan Gabriel sebagai alasan untuk berpisah. ”

Kafka nampak geram dan tidak terima. Ingatannya kembali ke seminggu lalu sebelum hari ini. Ia menemui Alice dan memintanya membatalkan gugatan perceraiannya. Namun apa yang dikatakan istrinya setelah ia mencoba membujuknya :

“Setelah semua yang hal terjadi, setelah aku bangun dari koma, setelah aku sadar ternyata bayiku masih hidup, untuk pertama kali aku menemukan hal yang benar-benar berharga untukku. Bukan rasa bersalah, pengorbanan diri, nama baik atau bahkan seorang anak. ”

“Tapi hidup. ”

Alice menatap Kafka dalam-dalam. Ia kembali berbicara dengan nada teratur dan begitu tenang. Seolah sudah memikirkan keputusan ini sejak lama.

“Aku baru menyadari bahwa hidupku begitu berharga dan singkat. Jadi kali ini aku tidak mau menyia-nyiakannya lagi untuk alasan apapun. ”

“Aku ingin hidup untuk diriku sendiri, Kafka. ”

Semua perkataan Alice tersebut membuatnya mati kutu. Dan tidak dapat mengatakan apapun. Kesalahannya begitu berat dan Alice berhak melanjutkan hidupnya. Tanpa Kafka.

“Saya tetap ingin bercerai, yang mulia. Bagaimanapun sebuah pernikahan yang apabila salah satu pihak sudah tidak menghendakinya, tidak akan bisa berjalan dengan baik. ”

Alice kembali menegaskan perkataannya. Membuat Kafka sadar dari lamunannya. Ia kembali menahan emosinya yang terbakar.

Pengacara Alice menyodorkan berkas surat perjanjian kesepakatan perceraian pada Hakim dan pengacara pihak tergugat, yaitu suami.

Hakim perempuan yang menangani kasus perceraian mereka memakai kaca matanya dan membaca butir-butir kesepakatan yang telah dirancang oleh kuasa hukum dan disetujui oleh pihak penggugat, Alice Marion Black. Yang sebentar lagi tidak akan mengenakan nama De Luzt di belakang nama keluarganya.

“Nyonya yakin ingin menyerahkan seluruh aset ini?” Tanya sang Hakim dengan ekspresi sedikit terkejut.

Alice menarik nafas pelan sebelum menjawab ya. Ia melirik pada Kafka yang kini berwajah sangat marah padanya.

“Saya tidak peduli dengan seluruh harta tersebut, suami saya lebih baik dalam mengelolanya sebelum akhirnya akan dimiliki oleh putera kami saat ia dewasa. ”

“Yang saya inginkan hanya hak asuh sampai putera kami berusia 18 tahun. Dan saya tidak akan menghalangi Ayahnya untuk tetap berhubungan dengan Gabriel. ”

Hakim perempuan paruh baya tersebut, memandang pada Kafka yang duduk di sebelah kanan ruang sidang. Ia tampak tidak dapat berbuat apapun lagi selain menyetujui perceraian ini.

“Tuan De Luzt, sepertinya semua persyaratan sudah terpenuhi dan saya memutuskan gugatan ini disetujui. Keputusan ini disahkan pada tanggal 23 Februari 2014. ”

Hakim mengetuk palu sidang. Dan mempersilahkan kedua belah pihak untuk menanda tangani surat cerai.

¤¤¤¤¤

“Bercerai, huh?”

Kyle dan Kafka duduk di Bar Berghain, tempat biasa mereka hangout dengan lingkup kecil sahabat mereka. Namun untuk kali ini, hanya ada mereka berdua disini. Duduk, menikmati minuman dan mengobrol layaknya saudara yang telah lama tidak berjumpa.

Kafka menyesap minumannya, vodka ditambah gin tonik. Dan ini sudah gelas keempatnya. Sangat jarang baginya untuk minum melebihi batas kemampuan kesadarannya.

Kyle memperhatikan keadaan Kafka yang tidak seperti biasanya. Ia terlihat kacau dan liar meski masih terlihat rapi serta tampan seperti biasanya. Yeah, perceraian itu memukulnya dengan telak meski sudah nyaris delapan bulan yang lalu.

“Mengapa bisa semudah itu kau menerimanya? Seperti bukan dirimu saja. ”

Kafka menoleh pada Adik semata wayangnya. Kyle baru saja pulang dari Macau dan langsung menemuinya.

“Aku sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan melakukan ini padaku. Bercerai, hah…”

Kyle mendengus kasar.

“Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Tetapi tidak secepat ini. Wajar saja, kau tidak pernah memperlakukannya dengan baik. ”

“Apa kau menyumpahiku?”

Adiknya menoleh padanya dengan pandangan mengejek. Lalu ia tertawa melihat ekspresi wajah Kakaknya yang seperti serigala terluka.

“Kau sendiri apa sudah menyerah terhadapnya?” Tanya Kafka bernada sarkastis.

Kyle menarik nafas panjang. Dan menegak minumannya perlahan.

“Jujur aku masih mencintai dia. ”

Ia kembali melirik pada Kafka, Kakak lelakinya. Yang kini kembali melotot kesal mendengar pengakuannya.

“Tapi aku sadar…. sejak ia tak mau lagi bersandar padaku, aku sudah lama kehilangan dirinya. Dan semua itu adalah kesalahanku yang tidak memperjuangkannya dari awal. ”

“Apa yang kau lakukan sekarang?” Tanya Kyle dengan serius.

Kafka mengangkat bahunya.

“Banyak hal. ”

“Seperti?”

Kyle mengernyitkan keningnya, tidak mengerti.

“Menyuruh orang mengawasinya secara diam-diam. Mendatangi kediamannya setiap hari dengan alasan bertemu dengan Gabriel. Memaksanya menerima tunjangan perceraian. Dan menendang bokong pria-pria yang memelototinya setiap kali ia keluar rumah.”

Wajah Kyle tampak shock lalu tawanya meledak dengan keras, hingga wajahnya menelungkup di meja bar.

“Apa yang salah?” Tanya Kafka tidak senang.

“Kau mencintainya. ” Ujar Kyle dengan wajah lucu.

“Aku tidak. ”

“Ya. Itu sudah jelas. Kau hanya tidak menyadarinya, Kakakku yang terhormat. ”

“Aku hanya masih menganggapnya milikku. Dan aku tak suka orang lain memilikinya bahkan termasuk dirimu. ”

“Kau memang aneh. ”

Kyle bergumam tidak jelas.

“Setelah menyiksanya selama pernikahan kalian, mungkin kau telah jatuh hati padanya. Siapa yang tidak?”

“Dia wanita baik yang sangat sempurna. Yang tanpa sadar membuatmu mencintainya. Kalau tidak buat apa kau menyesali perceraian ini dan menghalangi lelaki lain mendekatinya. ”

Kyle menepuk bahu kakaknya. Dan menatapnya dengan serius.

“Kuberi kau nasihat gratis. Jangan menyesal seperti diriku yang sudah tak punya harapan lagi dengannya. Kau berbeda. Kalian punya Gabriel sebagai pengikat. ”

“Go, get her. Jadikan dia milikmu. Nggak ada yang nggak mungkin dalam cinta dan perang, selama kau masih mau berjuang dengan siasat yang tepat. “

“Bukannya kau yang bilang begini padaku, ‘Kau harus belajar merelakan apa yang bukan milikmu, tidak akan pernah jadi milikmu meski kau memaksa semesta berkonspirasi’. ”

Kyle menggeleng dengan wajah memerah setengah mabuk. Ia menggerakkan bahunya dengan acuh.

“Itu hanya berlaku untukku. Aku sudah pernah mencobanya Kak, tapi gagal. Sedangkan kau, belum pernah berbuat apapun untuk dia. ”

“Alice belum pernah melihat yang terbaik darimu. Dan aku yakin bila dia tahu itu tak ada alasan baginya untuk tidak jatuh cinta padamu. Kau hanya perlu memperlihatkan dirimu yang sebenarnya. ”

¤¤¤¤¤

“Kyle…”

Alice menyambutnya hangat saat menemukan pria tampan dengan rambut cokelat cerah, berdiri di pintu apartmentnya.

Kyle tersenyum dan langsung memeluknya erat.

“Kau terlihat cantik, sayang. ”

Alice tertawa mendengar pujiannya.

“Dimana keponakanku yang nakal?”

“Jangan bilang Gabriel seperti itu. ” Hardik Kafka dengan masam.

Pria itu mengikuti langkah Kyle dan Alice memasuki ruangan apartment mewah ini.

“Wow, tempatmu lumayan juga. ”

Kyle bersiul melihat keseluruh ruangan.

“Kafka memaksaku pindah dua bulan yang lalu. ” Ujar Alice malu-malu.

“Tentu saja. Apartmentmu yang lama begitu sederhana dan lingkungannya kurang aman. ”

Kyle berdecak, mengejek.

“Dan apartment yang ini lebih dekat dari kantor serta hanya 10 menit dari rumahmu. Hah…tentu saja. ”

Kafka melengos, masam. Ia segera beranjak memasuki sebuah kamar yang terletak disebelah kiri ruang tengah.

“Baby… Daddy datang. ”

Alice melirik pada Kyle yang tersenyum jahil.

“Ayo kubuatkan kopi. ”

Alice menggandengnya ke dapur. Dan mantan Adik iparnya ini tidak menolak.

“Bagaimana kabarmu?”

Wanita cantik di hadapannya ini tersenyum sumringah. Ia terlihat begitu hidup dan bahagia.

“Kafka menyesal. ”

Kyle mengawasi perubahan raut wajah Alice usai ia mengucapkan hal itu.

“Dia mungkin baru sadar setelah kehilangan dirimu. ”

“Kyle, antara aku dan Kafka, berbeda dengan apa yang pernah terjadi pada kita. Tidak pernah ada perasaan yang terjadi diantara kami. ”

“Tapi dia berubah, Alice. Mengapa kau tidak mau memberinya kesempatan?”

Alice menatap Kyle dengan pandangan sedikit terintimidasi. Ada sisa-sisa trauma dalam bahasa tubuhnya.

“Aku… takut. ” Bisiknya pelan.

“Kafka tidak pernah mengatakan apapun.. lagipula ….., ia tidak menunjukkan apa-apa. Bagaimana mungkin….. ”

“Alice….”

Kyle menyentuh bahu wanita kesayangannya ini.

“Bukankah aku pernah bilang padamu, Kakakku telah banyak menderita jadi ia harus menjadi kuat. Dan cinta adalah hal yang paling tidak ia percaya. Ia menganggap cinta melemahkannya. Makanya ia bersikap kejam pada siapapun. Kecuali aku, Gabriel dan sekarang dirimu. ”

“Pernahkah kau berpikir, bahwa perceraian ini terjadi karena belas kasihannya padamu. Demi kebahagiaanmu. Meski itu bukan hal yang sangat ia inginkan. Kalau ia masih Kafka yang begitu membencimu, mudah saja ia menyeret dan membungkammu. Tapi tidakkan?”

Alice menunduk, menekuri jari-jarinya yang diletakkan di meja makan. Tempat keduanya sedang duduk bersisian.

“Apa bagimu Kafka tidak berarti apapun, Alice?”

¤¤¤¤¤

“Alice kau dimana?” Tanya Kyle dengan gusar saat panggilannya diangkat oleh wanita itu.

“Aku sudah menghubungimu sejak dua jam yang lalu. ”

“Maaf, ponselku mati. Aku baru saja menghidupkannya. Ada apa?”

Kyle berdecak kesal.

“Kafka tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke New York. ”

Ia tidak mendengar reaksi apapun dari Alice. Jadi ia menambahkan kata-katanya.

“Ia tidak akan kembali sampai waktu yang tidak ditentukan. ”

“Apa… maksudmu?” Gumam Alice pelan.

“Ia memaksaku menggantikannya di Berlin dan menjaga kalian selama ia tak ada. Kau mengertikan?”

“Ia…. pergi. ”

Lalu terdengar suara keributan dan hening.

“Alice… Alice….”

Kyle memanggil dengan panik. Ia mencoba menelfon kembali nomor ponsel Alice namun tidak tersambung. Kali ini ia sangat cemas.

“Oh, Tuhan… Alice. ”

“Kafka… Aku harus menghubungi Kakak. Semoga ia belum berangkat dan mematikan ponselnya. ”

Kyle menghubungi nomor kakaknya dengan tergesa. Ia merapalkan semua doa yang ia ingat dan berjanji akan menjadi lebih baik pada Tuhan, asalkan diberi kesempatan kali ini. Dan mungkin doannya dijawab. Karena pada dering ketujuh, Kafka mengangkat panggilannya.

“Ada apa?” Sentak Kafka marah.

“5 menit lagi pesawat akan take off dan kau merecokiku. Walau ini private jetku tetap saja……”

“Alice… Aku tidak tahu apa yang terjadi apa padanya. ”

Kyle cepat-cepat berbicara memotongnya.

“Apa maksudmu?” Tanya Kafka tidak mengerti.

“Kurasa sesuatu yang buruk terjadi padanya. ”

Tiba-tiba Kafka merasa lambungnya menjadi dingin dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

“Oh, Tuhan. ” Pekiknya lemah.

¤¤¤¤¤

“Alice… Alice…”

Wanita cantik yang mengenakan jaket hitam tebal itu menoleh. Dan sebelum ia melihat siapa yang memanggilnya, sosok itu sudah menenggelamkannya dalam pelukan posesifnya.

“Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?”

Alice tampak sangat pucat dan terlihat shock dengan apa yang terjadi.

“Aku tidak bisa menghubungimu. Dan Kyle bilang terjadi sesuatu padamu. ”

“Ehm…”

Sebuah suara menyadarkan sosok yang belum melepaskan pelukannya dari Alice.

“Anda siap, Pak?” Tanya pria gendut yang merupakan perwira polisi. Di resort ini dan menangani kasus yang menimpa Alice.

Kafka menoleh pada pria tersebut.

“Saya suaminya, Pak. Anda menghubungi saya tadi. ”

Pria itu tampak paham. Dan tersenyum menenangkan.

“Istri anda tidak apa-apa. Hanya pingsan karena ditabrak pengendara sepeda yang…”

“Apa??”

“Sepertinya ia sedang melamun sehingga tidak melihat ada sepeda yang meluncur cepat kearahnya. ”

“Apa yang kau lakukan?”

Kafka melotot marah pada Alice yang kini tampak semakin ketakutan di hadapannya. Tetapi ia tidak melepaskan tubuh dalam pelukannya.

“Kau…disini? Lalu New York… penerbanganmu?” Gumamnya semakin bingung dan takut.

“Oh, yeah. Dia membatalkan penerbangannya dan hampir meloncat bahkan sebelum jetnya berhenti di landasan. Lalu terburu-buru membawa mobil hingga membuat Roll Royce itu lecet. Bayangkan lecet karena terserempet taksi sialan. ”

“Benar-benar bukan Kakakku yang kukenal. ”

“Diam Kyle. ” Bentak Kafka pada Kyle yang muncul belakangan.

“Dan ada apa kalian berdua?”

Kyle menatap mereka dengan pandangan sakit hati yang kentara. Seolah Kafka dan Alice sudah membunuh kucing milik Paus di Vatican.

“Kalian sama-sama kecelakaan? Oh, betapa berjodohnya. ”

“Kyle… tutup mulutmu. Tolong buat dirimu lebih berguna. ”

Kyle diam. Dengan wajah kesal ia segera menemui opsir polisi gendut yang tadi menemani Alice.

“Dan kau… Apa yang terjadi padamu?”

Kafka nyaris menggeram, menatap Alice seolah ingin menelannya bulat-bulat.

“Aku hampir mati ketakutan. Ini alasannya kenapa aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja. ”

Alice dengan wajah pucat, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menangis tanpa suara. Tampak ketakutan sekali.

“Maaf… Aku…”

Kafka bingung harus berkata apa. Ia menyesal sudah membentak Alice yang baru saja bangun dari pingsannya.

‘Kupikir…tidak bisa…melihatmu lagi. Aku…bingung….takut. ”

Lalu Kafka kembali memeluk Alice. Kali ini penuh rasa syukur karena tak terjadi hal serius yang menimpa wanita tersebut.

¤¤¤¤¤

Kafka duduk di bar dapur kering, memperhatikan Alice yang sedang menata makanan di meja.

“Bagaimana perkembangan terapimu?”

Alice tersenyum lembut padanya. Dan Kafka membalasnya dengan hangat.

“Yeah, Yusack mengatakan ada kemajuan. Aku sudah bisa mengatasi kemarahanku. Juga keinginanku untuk menyakiti orang-orang. ”

“Dan hei, apa kau mau rujuk denganku?”

“Hah?”

Alice melongo, mendengar ucapannya yang tiba-tiba. Seketika rona merah menjalari wajah cantiknya.

“Kurasa aku tidak sanggup berjauhan dengan Gabriel. Kurasa aku juga tidak bisa jauh dari Mommynya Gabriel. ”

“Aku minta maaf atas kelakuanku dahulu. Kupikir, dulu aku benar-benar tidak termaafkan. Padahal bukan kau yang bersalah. ”

“Aku menyesal Alice. ”

Alice menunduk, lebih memberi perhatian pada motif taplak meja di hadapannya.

“Kau sudah mengatakan itu dari dua tahun yang lalu. ” Gumamnya lirih.

“Tapi kau belum juga menerimaku kembali. Padahal kau juga maukan? Buktinya kau tidak pernah berkencan dengan pria lain. ”

Kafka berjalan mendekatinya. Ia meraih bahu Alice dan memaksanya untuk melihat langsung padanya.

“Bagaimana aku mau berkencan, kalau kau selalu menempeliku seperti lintah.”

“Tapi kau tidak terlihat keberatan. ”

Kafka mencebik kesal, mendengar perkataan Alice padanya.

“Itu karena kau tidak memberiku kesempatan. Menggunakan Gabriel menjadi alasanmu. ”

Alice menggeleng dan mengibaskan lengan pria bermata biru ini. Ia mundur dan kembali ke dapur.

“Hei, kalian lebih parah dibandingkan anak kindergarten berkelahi. Ini tidak baik buat perkembangan Gabriel. ”

Kyle muncul dengan menggendong sikecil Gabe yang menggapai-gapai kearah Ibunya.

“Tutup mulutmu, Kyle. ” Geram Kafka kesal, karena kemunculannya terasa mengganggu.

“Aw… Aku sakit hati pada kalian berdua. Lihat Gabe, Daddy dan Mommy begitula cara mereka saling mencintai. ”

“Diam Kyle. ” Kali ini Alice yang bersuara.

“Astaga, mengapa kalian tidak rujuk saja sih. Tidak kasihan padaku, sudah dua tahun aku tidak berkencan gara-gara mengurusi masalah kalian yang tak pernah selesai. Aku tidak mau mati sebagai bujangan lapuk. ”

“Hei, Alice. Apa kurangnya Kakakku? Dia tampan, kaya dan begitu menyayangi keluarganya. Kau tidak akan menyesal menikahinya. Terlebih Gabriel sudah mulai pintar, aku takut ia akan bertanya mengapa Mommy dan Daddynya hidup terpisah. ”

Kyle dengan senyuma lebarnya mencoba mempromosikan saudara laki-lakinya, bagai sales barang dagangan yang handal.

Alice hanya tertawa gugup dengan wajah sangat memerah. Ia cepat-cepat mendudukkan Gabriel pada kursi bayi yang tinggi.

“Kurasa ….. sebuah upacara pernikahan kecil dan sederhana …. tidak masalah. ”

Kafka tertegun mendengar perkataan lirih Alice, yang diucapkannya sambil lalu dan tanpa melihat wajah siapapun.

“Em… bagaimana menurutmu?” Tanyanya dengan malu-malu pada pria yang shock, masih tidak mempercayai pendengarannya.

¤Tamat¤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s