MARS : Malaikat di Ladang Pembantaian

Setiap manusia pasti punya kegelapan dalam hatinya, tetapi tidak semua orang bisa selalu mengikuti cahaya dan menolak jadi budak rahasia.

Bagian Pertama :

“Sheng —- Kau sudah datang?”

Chen Sheng tersenyum tipis pada sosok ramping dengan rambut hitam sepunggung. Han Xi Luo, gadis manis dengan wajah teduh, tunangan dari Chen Ling saudara kembar pemuda ini. Keduanya berpelukan sekilas dan dengan senang hati gadis berusia 22 tahun ini menyeretnya masuk kedalam apartment sederhana mereka.

Xi Luo meletakkan barang belanjaannya pada meja batu di dapur. Sedangkan Sheng mengamati seluruh isi apartment Ling secara seksama. Apartment ini jauh dari kesan mewah. Berbeda sekali dengan rumah tempat Ling dan Sheng dibesarkan selama ini. Walau sederhana dan minimalis, namun ada kehangatan terpancar disini. Seolah kau merasa pulang ke tempat yang kau sayang.

Sheng tersenyum. Ia mengerti mengapa Ling begitu betah tinggal disini dibandingkan rumah keluarga Chen yang begitu mewah dan besar. Bahkan untuk menuju kamar Ibu, mereka harus berjalan 15 menit dan melewati jembatan yang melintasi ngarai yang dalam. Yang memisahkan bangunan rumah lama dan bangunan rumah baru yang lebih modern dan dinamis.

Sheng menoleh pada sisi lain. Ia tersenyum melihat beberapa lukisan milik Xi Luo yang diletakkan di salah satu sudut ruangan.

Chen Sheng adalah pemuda yang tenang dan cenderung pendiam begitu juga dengan sosok Xi Luo, namun entah karena karakter mereka yang sama, keduanya begitu cocok dan bersahabat. Hingga terkadang Ling mengatakan bahwa seharusnya Sheng dan Xi Luo yang lebih tepat disebut kembar dibanding dirinya.

“Aku senang kau datang. Ling juga pasti sangat senang. Ia sudah bersiap-siap menyambut kedatanganmu. ”

Xi Luo tersenyum lembut dan menghidangkan teh panas untuk kembaran kekasihnya yang baru saja tiba di Taiwan. Setelah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkuliah di Paris Sorbonne University, jurusan seni lukis. Kini Shen sedang libur panjang dan mengunjungi Ayah dan satu-satu Kakak lelakinya yang ia miliki.

Sheng adalah pelukis muda berbakat, sama seperti Xi Luo. Hanya saja Sheng sudah menjadi pelukis profesional sedangkan Xi Luo adalah amatir yang baru memenangkan penghargaan pendatang baru berbakat di kementrian budaya. Oleh sebab itu ia tak putus-putusnya mengajak Xi Luo untuk ikut dengannya, belajar di Sorbonne.

“Aku lihat lukisan Mars milikmu, diulas baik oleh majalah Horizon. ”

Wajah manis Xi Luo perlahan memerah. Ia tampak malu-malu mendengarnya. Mereka duduk di karpet biru tebal, tempat biasanya menjamu para tamu yang datang kemari.

“Ah — itu. ”

“Kau sudah melihatnya? Masih dipamerkan di gedung seni kementrian budaya. ”

Sheng kembali tersenyum lembut dan menatap balik Xi Luo.

“Akan menyenangkan bila kau menemaniku, kesana. ”

“Hei —- Kau tidak mencoba merayu tunangan Kakakmu kan?”

Keduanya serentak menoleh pada sosok Ling, yang baru saja muncul dan berjalan. Memasuki apartment tipe studio tanpa sekat dan kamar ini.
“Ling —-” Seru Sheng dan Xi Luo bersamaan dengan nada riang.

Ling tertegun melihat reaksi kompak mereka berdua.

“Benar-benar seperti kembar. ” Cetusnya mengejek.

Sheng bangkit dari duduknya dan mendekati kembarannya. Ia memeluk Kakaknya dengan kerinduan sementara Ling membalas pelukannya dengan tak kalah hangat. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tulus.

Xi Luo tersenyum menatap kedua pemuda tampan yang kembar identik ini. Bila dilihat secara pintas, tidak ada hal yang dapat membedakan diantara keduanya. Postur badan, wajah, model rambut serta senyumannya begitu sama persis. Hanya sifat, cara berpakaian dan kesukaan mereka saja yang berbeda.

Xi Luo adalah satu-satunya orang selain Ibu mereka, yang bisa membedakan mana Sheng dan yang mana Ling, kekasihnya. Karena cuma Ling yang disaat tertawa, alis kirinya lebih tinggi sebelah.

“Papa mengundang kalian makan malam. ”

Ucap Sheng setelah mereka kembali duduk di karpet tebal. Mengelilingi meja bulat. Ling duduk di sebelah Xi Luo dan meminum teh milik gadis itu tanpa permisi.

“Ah, restoran jepang itu lagi. ”

Ling meringis. Teringat pada kejadian terakhir kali ia makan bersama dengan Ayahnya. Ling marah dan meninggalkan restoran tersebut bahkan sebelum menyelesaikan makannya.

“Sudahlah, datang saja. ”

Xi Luo tersenyum, menyemangatinya.

“Ck —- Papa terus mendesakku untuk segera menikah dan memberikan cucu yang banyak. Dia bilang, aku tak perlu mengurus anak-anakku. Serahkan saja padanya. ”

“Memangnya aku anjing, semudah itu disuruh beranak. Lagipula Xi Luo masih belum menyelesaikan kuliahnya. Ibunya akan membunuhku bila menghamilinya sebelum menikah. ”

Ling merepet panjang lebar pada kembarannya. Xi Luo hanya tersenyum-senyum dengan wajah merah padam, mendengar kekasihnya menumpahkan kekesalannya pada saudaranya, yang jarang ia temui ini.

“Ling, ada yang ingin kubicarakan. ” Kata Sheng dengan wajah serius saat Xi Luo meninggalkan mereka berdua saja.

Gadis itu sedang menyiapkan makan siang untuk mereka. Sementara Ling dan Sheng memutuskan mengobrol di balkon apartmentnya.

“Belakangan ini — aku — mimpi buruk — lagi. ”

Ling menatap getir pada seraut wajah yang teramat persis dengan miliknya. Ada kesedihan yang dalam, terpancar dibola mata hitam Adik kembarnya ini.

“Kau masih mengunjungi Psikiater kan?” Tanyanya dengan prihatin.

Sheng mengangguk. Sejak percobaan bunuh dirinya yang gagal diusia 16 tahun, Ayahnya memaksa Sheng untuk secara berkala menemui Psikiater dan menjalani terapi kejiwaan hingga sekarang.

“Ling, apakah ada yang salah denganku?”

Ia menatap kembarannya dengan wajah ingin menangis.

“Aku masih sering berpikir untuk — mati. Kurasa —- terapi yang kujalani — tidak begitu —- berpengaruh. ”

Kembarannya membalas tatapannya dengan prihatin. Ia tahu betapa tersiksanya Sheng dikarenakan menahan hasrat ingin membunuh dirinya sendiri. Sheng menderita gangguan depresi yang sangat parah dari kecil. Kelainan ini diturunkan oleh Ibu kandung mereka yang juga mengidap penyakit yang sama. Yang menyebabkan kematian pada wanita cantik itu.

Ya. Benar.

Ibu mereka mati bunuh diri setelah bertahun-tahun dirawat disebuah Rumah sakit jiwa di distrik Neihu. Meninggalkan anak kembar lelakinya dan seorang suami yang begitu terpuruk dengan kematiannya, hingga tidak sanggup merawat anak-anaknya. Itulah sebabnya hingga berusia 15 tahun Ling dan Sheng diasuh oleh sepasang suami istri, sepupu Ayahnya yang begitu menyayangi mereka.

“Jangan lakukan itu — Papa akan sangat bersedih. Kau adalah anak kesayangannya. ” Ujar Ling menasihatinya.

Sheng hanya mengangguk setuju. Ayah mereka sebenarnya sangat menyayangi keduanya, namun karena Sheng lebih patuh dan penurut, ia jauh lebih dekat dengan Ayah mereka. Dibandingkan Ling yang begitu hiperaktif dan pemberontak.

“Bagaimana denganmu?” Tanya Sheng padanya.

“Apa kau masih —- ingin membunuh?”

Ling memejamkan matanya. Ingatannya kembali pada kenangan saat Ibu mereka baru saja meninggal dunia dan mereka dibawa sepupu Ayah mereka, tinggal di California. Ketika itu usia mereka baru 8 tahun. Sebagai anak baru dilingkungannya, terlebih lagi keduanya merupakan orang Asia, mereka sering diganggu dan dibully oleh anak-anak yang lain.

Sampai suatu hari Ling yang begitu pemberani dan suka berkelahi, menghajar anak yang menjadi ketua komplotan pembully di sekolah hingga nyaris mati. Dan Ling sama sekali tidak berhenti memukulinya meski anak tersebut sudah tak berdaya, pingsan serta babak belur.

Ling sangat marah pada anak lelaki berusia 14 tahun itu. Ia selalu mengganggu Sheng yang tampak lebih mudah diganggunya di belakang Ling. Belum lagi ia selalu mengumpat dengan makian kotor setiap kali Ling dan Sheng lewat di depan kelompok mereka.

Saat Ling lepas kendali tersebut, untung saja segera ditemukan oleh orang dewasa lain. Butuh 4 orang dewasa untuk bisa melepaskan Ling dan membuatnya tenang dari tantrum. Dan setelah kejadian itu Ling sempat dimasukkan rehabilitas untuk mengendalikan amarahnya.

“Jujur saja, terkadang keinginan itu begitu menggodaku saat ada —- orang-orang menyebalkan yang tidak kusukai. ”

Ling mengingat sosok Ayah tiri Xi Luo yang pernah melecehkan gadis itu saat ia masih di kelas 9. Lalu seraut wajah Dosen mata kuliah bahasa Inggris di kampus, yang masih muda dan terkenal simpatik namun punya kecenderungan melecehkan gadis-gadis lemah seperti Xi Luo. Dan Xi Luo nyaris kembali menjadi korbannya.

Untuk sesaat Ling kembali merasakan api membakar perasaannya. Ia sangat menikmati gelenyar itu dan sebuah senyum dingin terpatri diwajahnya. Sebuah senyum dengan sorot mata gila yang sangat berbahaya.

“Oh, aku sangat ingin membunuh mereka. ” Geramnya.

Sheng bergidik melihat perubahan raut wajah kembarannya. Juga suaranya yang terdengar begitu jauh, seolah bukan diucapkan oleh pemuda ini.

Ling menarik nafas panjang. Dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Lalu perlahan ekspresinya kembali normal dan sebuah senyum menyeringai tersungging dibibirnya.

“Tapi aku berpikir panjang. ”

Pemuda itu memandang Sheng dengan pandangan menilai dan hati-hati. Ling tidak pernah menyembunyikan apapun pada Sheng, begitu juga sebaliknya. Ikatan mereka terlalu kuat untuk diputuskan oleh keabnormalan sifat mereka masing-masing.

“Kalau aku tidak bisa menahan diri, siapa yang akan melindungi Xi Luo dan kau. ”

“Dan seandainya aku membunuh mereka maka aku akan jatuh kelevel yang sama rendahnya dengan manusia-manusia bejat itu. Aku tidak mau seperti mereka. ”

“Karena —- aku berbeda dengan sosok munafik yang menyembunyikan sisi gelap mereka dalam-dalam, serta hanya bisa menindas siapa saja yang lebih lemah dari mereka. ”

“Aku bukan mereka. ”

Dengusnya sinis dengan nada jijik.

¤¤¤¤¤

Sheng berdiri di depan lukisan minyak Xi Luo yang di pamerkan usai memenangkan penghargaan dari Mentri budaya.

Judulnya Mars*. Dewa perang.

*Mars : Dewa perang dalam mitologi Romawi. Putra dari Jupiter dan kekasih dari Venus.

Xi Luo menggambarkan seorang pemuda tampan dengan rambut cokelat hangat. Bertelanjang dada. Dengan raut wajah dingin namun mempesona. Yang terbakar dan dikelilingi oleh api membara bagai kiamat.

Chen Ling.

Pemuda itu adalah jelmaan malaikat yang rela kehilangan kesuciannya dan mengotori tangannya dengan darah. Demi melindungi hal-hal yang ia cintai.

Malaikat berwajah tanpa dosa, yang berlumuran darah di padang pembantaian.

Ling.

“Ini lukisan Ling yang paling aku sukai. ”
Ia menoleh pada Xi Luo yang berada di sampingnya. Tersenyum tulus pada gadis manis yang mengenakan dress baby blue sederhana.

“Meski aku sering melukis Ling serta menjadikannya model lukisanku. Tak ada yang bisa menggambarkan Chen Ling begitu kuat, seperti ini. ”

“Sepertinya kau sudah menemukan Muse*-mu ya. ”

*Muse : Dewi dalam mitologi Yunani yang menguasai sembilan simbol seni.

Sheng dan Xi Luo tertawa geli. Saling berpandangan satu sama lain.

“Ya. Chen Ling adalah Museku. ”

“Dan siapa Musemu, Sheng?”

Xi Luo tersenyum hangat pada Chen Sheng. Pemuda ini menggeleng dengan senyum tipis, tidak jelas.

“Kuharap, kau segera menemukannya. ”
Xi Luo tampak begitu tulus mendoakannya. Hingga membuat Sheng jadi ikut berharap hal itu akan terjadi padanya.

“Semoga. ” Bisiknya pada diri sendiri.

¤¤¤¤¤

Footnote : kalau ada yang tahu drama Taiwan Mars yang dibintangi Vic Zhou dan Barbie Hsu, yeah, cerita ini ditulis berdasarkan film tersebut.
Mars adalah film favoritku walau aku tidak ngefans dengan Vic. Justru temanku Jinnie yang ngefans banget sama Vic. So, cerita ini aku persembahkan buat Jie.

2 thoughts on “MARS : Malaikat di Ladang Pembantaian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s