CURSED – Lara yang Berduka

Cinta itu tidak jatuh begitu saja. Juga tidak diberikan dengan cuma-cuma. Tetapi semakin aku berusaha keras untuk mendapatkannya, semakin aku kehilangan banyak hal.

Jadi aku memilih pasrah dan menunggu. Bila ia datang, ia akan datang. Bila tidak, aku tak akan kehilangan, sesuatu yang bukan dan belum pernah jadi milikku. Lara Marcia Frost

Tidak dicintai dan selalu diabaikan oleh satu-satunya orang tua yang tersisa, Lara pikir dengan menerima perjodohan dengan Aaron Kohler semuanya akan berubah. Sang Ayah akan mulai memperhatikannya dan ia akhirnya memiliki seseorang yang benar-benar peduli, seorang pendamping yang mencintainya.

Tetapi anggapan Lara salah.

Ayahnya, tetap tidak memandangnya dan hanya menjadikan kepatuhannya sebagai alat untuk pertukaran dalam bisnis. David Median Frost dalam diamnya selalu membenci putri sulungnya ini dan memperlakukannya kejam.

Dan dibalik sikap sopan dan penuh kasih sayang yang diberikan Aaron selama setahun belakangan ini pada Lara. Sungguh tak terbayangkan olehnya tepat satu jam sebelum pernikahan mereka, ia menemukan sang pengantin pria dan salah seorang pendamping wanita yang merupakan salah seorang teman, sedang bergumul dengan pakaian masih lengkap namun kemaluan menempel erat.

Lara, gadis itu terkejut. Dan hanya bisa tertohok diam, tanpa bisa mengalihkan wajah dari pria bejat yang sesaat lagi akan menjadi suaminya. Serta wanita pirang yang selama ini menjadi tempat curahan keluh-kesahnya.

Ia terpaku dengan wajah sepucat mayat. Tubuh gadis itu gemetar dalam dingin. Tangan kirinya mencengkeram dadanya yang kini terasa sesak, dia kehilangan nafasnya dan limbung.

Sesaat sebelum tubuh langsingnya yang mengenakan gaun pengantin putih roboh, sepasang lengan kokoh menangkap bahunya. Menyelamatkan gadis itu dari kerasnya lantai.

Lara mendongak lemah, menoleh pada penolongnya.

“Sepupu. ”

Pria tampan dengan rahang tegas itu, menatap tajam melewati puncak kepala gadis itu, jauh ke dalam ruangan baca yang terbuka. Tempat dimana Aaron dan Grace Helga masih saling berkejaran dalam menikmati nafsu mereka.

Caleb Romain Frost, memalingkan wajahnya kembali dan menatap wajah Lara dalam pelukannya. Gadis itu tampak begitu terpukul dan sangat kasihan. Pucat, berkeringat, dingin, mata berkaca-kaca, dan tampak seperti ingin muntah.

Lara menelan ludahnya. Mencoba membasahi kerongkongannya yang kering.

“Tolong —- ” bisiknya serak, putus asa.

Caleb membanting pintu dengan keras. Dan setengah menyeret tubuh gadis itu menyusuri lorong, menjauhi ruangan terkutuk tersebut. Tak ada kelembutan dalam sikapnya. Ia bahkan tidak peduli bahwa kelakuannya menyakiti Lara.

Saat ini ia teramat sangat marah.

Sementara Lara dalam goyah dan tak berdaya, bersandar lelah pada lengan kukuh itu. Membiarkan air matanya merembes perlahan, membasahi wajah mulus tanpa rona itu.

Ia menangis tanpa suara. Menekan kuat isakan dibibirnya dan menelan semua air matanya dalam-dalam.

“Jangan menangis untuk lelaki seperti itu. ” Geram Caleb mengancam.

Lara mengerling pada sepupunya yang paling tampan ini. Jemarinya yang gemetar mengusap wajah basahnya. Ia mencoba tersenyum meski itu terlihat sangat konyol dan bodoh.

Calem kembali mengeram.

Saat ini sungguh ingin menampar gadis di hadapannya dan menguncang-gungcang tubuh rapuhnya. Ia benci melihat kelemahan yang selalu ditunjukkan Lara. Sengaja ataupun tidak.

Namun sebelum ia melakukan apapun, Lara sudah jatuh melemah. Gadis itu kehilangan kesadarannya dan pingsan.

¤¤¤¤¤

“Papa, aku tidak mau melanjutkan rencana pernikahan ini. ”

David Frost menatap tajam penuh perhitungan pada gadis usia 22 tahun yang duduk dengan ragu, di sofa ruang kerjanya. Ia mendengar perkataan putrinya dengan jelas, namun belum memberikan reaksi apapun.

“Aku melihat sendiri — Aaron dan Helga. Bahkan sepupu —–, Caleb juga melihatnya. ”

Lara tampak ragu dan berusaha tegar dengan menatap langsung pada seraut wajah dingin berambut putih menua, sesosok lelaki usia 57 tahun yang duduk mengancam di kursi kerja.

“Apa kau pikir, aku menikahkanmu demi romantisme? Berhenti melakukan hal bodoh. Pernikahan ini cuma bisnis untuk mengakuisisi dan merger perusahaan. ”

Ucapan David yang penuh dengan ketenangan itu meski sudah dapat ditebak masih membuat Lara tersentak. Kedua bola mata hitamnya tampak bersinar pedih. Jari-jari gadis itu bertaut dalam genggamannya.

“Papa — ” bisiknya sedih.

“Kau tidak menginginkan aku — bahagia?”

David berdecak meremehkan.

“Jangan jadi Naif, Lara. ” Kecamnya menusuk.

Mati-matian gadis itu menahan debur jantungnya yang berdetam. Dengan pelupuk basah penuh air mata menggumpal, ia menunduk. Sebuah hukuman mati telah ditetapkan dan Lara tidak bisa menolaknya.

Gadis itu membeku dalam diam. Serta menyesap keputusan tak terbantahkan dari ayahnya.

¤¤¤¤

“Lara, ada apa?”

Lucky menegur kakak sulungnya yang sedari tadi hanya diam disisinya. Lara mengelus rambut adik lelakinya yang berbaring dan menyandarkan kepala dipangkuannya.

Lara tersenyum lembut padanya. Menepuk-tepuk kening Lucky dan menyanyikan lullaby seperti yang pernah dilakukan ibu mereka dahulu.

Pemuda berusia 16 tahun ini menangkap tangannya dan menatap tajam kakaknya, dengan mata biru seperti ayah mereka. Ia bangkit dan menyentuh bahu gadis muda ini.

“Katakan padaku, Lara. Apa yang membuatmu tampak begitu sedih? Dan apa yang terjadi saat hari pernikahanmu, mengapa kau jatuh pingsan?”

Mereka saling menatap. Lalu si gadis menarik nafas panjang. Tersenyum lemah. Sebelah tangannya terulur menyentuh kulit wajah Lucky.

“Kau adalah satu-satunya alasan aku berbahagia, adikku. “

Dengan gerakan lamban Lara mengusap anak rambut di kening remaja berwajah manis ini.

“Aku tidak memintamu menjadi kekuatanku, tetapi — cepatlah dewasa dan —- tolong aku. “

Tangisnya tumpah tanpa suara dan Lucky segera menarik kakak yang sangat ia cintai ke dalam pelukannya.

Ketika ibu mereka mati saat usia muda, Laralah yang bertindak sebagai pengganti wanita itu sejak umur 12 tahun. Kekasih ayah datang silih berganti, tetapi tidak ada satupun yang memperhatikan mereka. Hanya karena asuhan serta kasih sayang kakaknya, pemuda ini tumbuh bahagia dan sehat.

Tetapi tidak bagi Lara. David Frost tidak pernah menganggapnya ada. Perlakuan dingin yang selalu ia tunjukkan meski anak perempuannya sudah berusaha menunjukkan kelebihannya, kepintaran serta kepatuhannya. Namun berbeda hal dengan apa yang diterima oleh Lucky. David begitu memanjakan serta memuja anak lelakinya ini.

Kepada Lucky, ia menghujani perhatian dan kasih sayang berlebih. Tetapi pada Lara, ia tidak pernah memberikan apapun selain kesepian. Bahkan saat gadis itu masih kecil, David sering mencambuki kaki Lara bila menemukannya melakukan hal yang tak disukainya atau terkadang mengurungnya di gudang. Bukan hanya David, Emily istrinya pun tidak pernah menunjukkan cintanya pada putri sulungnya ini. Dari awal Lara sudah menyadari itu.

Lama gadis itu menangis dalam pelukan adik lelakinya. Betapa banyak pertanyaan yang menghantuinya sedari sejak ia bisa berpikir. Lara tidak pernah tahu alasan mengapa ayahnya begitu beda memperlakukan mereka. Tidak ada yang memberi tahunya dan lebih menyakitkan lagi, tidak ada yang peduli dengan kenyataan ini.

Dulu ada seseorang yang pernah menunjukkan sedikit perhatian tulus padanya. Namun ketika Lara ingin bergantung padanya, orang tersebut mendorongnya dengan keras. Setelah kejadian itu si gadis menyedihkan ini, hanya berani menatap orang tersebut dari kejauhan.

Cinta pertamanya.

¤¤¤¤¤

Aaron menemui Lara di sebuah cafe kecil yang mempunyai konsep green garden. Ia memangdang ke sekeliling saat memasuki ruangan teduh itu. Bell di atas pintu berklening membuat Lara menoleh padanya. Dan pria tampan berambut keemasan itu tersenyum lebar.

Ia melangkah lebar dan duduk tanpa basa-basi di kursi, tepat di hadapan gadis cantik berambut hitam lurus ini. Mengedarkan pandangan kekiri dan kanan, mencari-cari pelayan cafe.

Seorang pelayan yang mengenakan apron hitam mendekat dan Aaron memesan segelas kopi black americano tanpa gula. Lalu pandangannya kembali pada wajah cantik Lara.

Aaron menyeringai.

“Apa kabar cantik?”

Lara menelan air ludahnya dan entah mengapa merasa terintimidasi dengan pandangan pria ini. Aaron yang ia kenal bukan sosok seperti ini. Sedangkan pria dihadapannya ini adalah pribadi yang ia tak dikenal dengan aura berbahaya. Ia merasa sedikit takut.

“Aku — tidak mengerti. ” Ujar gadis itu tercekat.

“Selama ini, kupikir kau — ”

“Aku berbohong, Lara. ” Potongnya cepat dan tanpa rasa bersalah.

“Kupikir bila aku menunjukkan diriku yang asli, kau akan langsung menghindar. Jadi aku menipumu. Tetapi karena kini semua sudah ketahuan, aku tidak perlu menutupi apapun lagi. ”

Pria tampan yang mempunyai senyum mempesona ini, memandang Lara dengan bibir tipis terkatup rapat.

Si gadis menarik nafas panjang. Mencoba menjinakkan keterkejutannya yang membayang di wajah pucatnya.

“Mengapa?” Tanyanya dengan tegar.

Aaron tertawa mendengar pertanyaan gadis itu, seolah ia sudah menanyakan hal bodoh.

“Kau cantik dan sangat naif, sayangnya bukan tipikal gadis yang kukencani. Tetapi pernikahan bisnis ini, akan menguntungkan bagi keluarga Frost dan Kohler. Lalu —– mengapa tidak?”

Gadis itu menunduk usia mendengar jawaban Aaron. Memejamkan matanya dengan sebelah jari tangan kiri mencengkeram pergelangan tangan kanannya, erat.

“Jadi — semua sikap baikmu selama ini, palsu?” Gumamnya pelan.

“Jangan cengeng, Lara. Dan tolong jangan dimasukkan kehati, tetapi Helga memang sangat — ” ia menyeringai sebelum menyambung perkataannya “— hot. Kau tidak tahu betapa menggoda wanita itu. ”

Lara menahan gemetar tubuhnya. Rasa malu, marah dan terhina yang ia rasakan, tidak seberapa dengan betapa hancur hatinya mendengar ucapan Aaron yang tidak memandang dirinya. Ia merasa bagai seonggok daging tak berharga.

Pelayan datang dan meletakkan pesanan Aaron. Dengan senyum lebar pria itu mengucap terima kasih dan segera meneguk minumannya.

Lara menoleh padanya, tatapannya penuh tekad dan ia sudah memutuskan.

“Apa rencanamu selanjutnya?”

Pria itu tersenyum. Meletakkan cangkirnya dan bersandar pada bahu kursi. Melipat kedua belah tangannya di dada dan menatap Lara seksama.

“Tidak ada yang akan menghentikan pernikahan kita, Lara. ”

“Karena itu, kumohon. Aku tidak ingin menikah denganmu. ”

Aaron mendengar nada suara gadis itu yang bergetar, penuh emosi.

“Coba berikan alasan yang bisa aku terima. ” Ujarnya dengar nada berbahaya.

Aaron dan Lara saling menatap, menilai diri masing-masing.

“Karena pernikahan bukan permainan bagiku.”

Pria itu tertawa lirih.

“Ini memang bukan permainan, Lara. Ini murni bisnis. ”

“Justru karena itu, pernikahan adalah hal sakral bagiku. Dan aku ingin melakukannya bersama dengan orang yang juga berpikir seperti itu. Tapi kamu —- jelas bukan orang itu. ”

Aaron menyeringai, sudut bibirnya menajam. Dan ada aura gelap menyelimuti suasana keduanya.

“Ini yang kubenci darimu. Kekanak-kanakan. ”

“Ini soal hidupku, Aaron. ” Bisiknya sedih.

“Dan sejak kapan hidupmu adalah keputusanmu. Yang aku ketahui, ayahmu tampak begitu semangat mencampakkanmu dalam pernikahan ini. ”

Gadis itu tertohok. Kesedihan membayang dengan cepat dimata indahnya yang mengerjap kaku. Bibirnya gemetar menahan kelu yang menghujam kerongkongannya.

Aaron menamparnya dengan kenyataan yang tak bisa ia bantah.

“Kau bisa tenang, Lara. Setelah menikah denganku, kau akan bebas dari kungkungan ayahmu. Kita jalani saja hidup kita dengan cara masing-masing. Bagiku pernikahan ini hanya status di depan keluarga dan mata umum. Bagimu, ini adalah jalan satu-satunya. ”

Pria itu kembali menyeringai lebar. Memamerkan gigi-giginya yang putih dan rapi.

¤¤¤¤¤

Footnote : I’m back.
Aku menantang diriku, untuk kembali membawa cerita yang akan kuposting secara berkesinambungan. Kali ini aku membawa cerita yang berbeda dengan Angel and Devil. Semoga kalian suka dan nggak pelit ngasih komentar.🙂

One thought on “CURSED – Lara yang Berduka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s