Bahagia Itu Bukan Akhir

Seumur hidup saling mengenal. Berteman dari kecil. Dua tahun berpacaran. Dan mungkin inilah saat yang sangat ditunggu-tunggu Marion Laurent De Luzt sepanjang kehidupannya.

Gabriel Black De Luzt melamarnya.

Tepat dihari ulang tahunnya ke 19 tahun dan ditempat pertama kali pemuda tampan dengan mata elang ini, memproklamirkan si gadis adalah kekasihnya. Yeah, Gabe tidak pernah menyatakan cintanya dan selalu memutuskan segalanya sendirian.

Cahaya lembut lilin yang mengelilingi mereka, tidak dapat menyembunyikan kecantikan Marion dimatanya.

Gabe dan sang gadis saling menatap, duduk berdampingan di lantai yang dilapisi karpet, perpustakaan pribadi mansion keluarga De Luzt. Keduanya bersandar pada rak buku dan hanya ada sepi serta bayangan lilin yang bergerak perlahan.

Gadis dengan mata dan rambut sehitam malam dan bibir penuh berwarna kemerahan ini, tampak tertegun. Dengan mata setengah basah dan wajah sedikit pucat.

“Apa —- ” ia menoleh pada pria tampan bertampang dingin lalu kembali menatap pada cincin bermata biru yang sangat indah di jemari tangannya.

Ekspresi gadis cantik ini tercampur antara terkejut, tak percaya dan juga bahagia. Sementara sang pria tetap dengan coolnya memasang raut wajah yang tak bisa dikenali apa artinya.

“Gabe — ini — cantik ”

Terpatah-patah ia bersuara. Lalu tanpa diduga melemparkan dirinya, memeluk tubuh berotot setinggi 180an lebih itu.

Marion menyembunyikan wajah memerah bahagianya di dada kekasih tampannya.

Seulas senyum terkembang di wajah Gabriel. Hal yang jarang sekali ia perlihatkan pada orang lain. Pria ini memang terkenal selalu berekspresi datar dan sifatnya terlalu dingin.

“Yang kuinginkan, seumur hidup ada disisiku —- adalah kamu. —- Menikahlah denganku, Marion. ”

Genggaman Marion mengerat di lengan pria ini. Ia mendongak dengan mata berkabut air mata, memandang raut wajah Gabriel. Dan mulai menangis.

Sebuah tangisan haru dan bahagia.

“I will. ” Bisiknya tercekat penuh emosi.

Perlahan sang pria tersenyum lembut. Menunduk pada gadisnya dan mengecup bibir merah itu dengan segel janji. Saling memiliki satu sama lain.

¤¤¤¤¤

Kyle, pria setengah baya dengan rambut mulai memutih dan garis-garis kerut yang malah membuatnya tampak semakin bijaksana.

Ia duduk di kursi empuk ruang bacanya yang lenggang. Sementara Gabriel, keponakan satu-satunya yang sangat ia sayangi duduk gelisah di sofa seberang meja.

Pria tua ini sudah menghabiskan lebih dari setengah waktu hidupnya mengurus Gabe dan perusahaan keluarga De Luzt. Dan baru beberapa tahun ini ia bisa pensiun dan menyerahkan seluruh urusan bisnis pada ponakan kesayangannya ini.

Walau terkadang ia masih memberikan kontribusi sebagai penasihat dewan direksi sesekali. Tetapi ia yakin dan puas dengan kemampuan sang ponakan serta cenderung mendukung semua keputusannya.

“Apakah ada sesuatu yang terjadi?”

Kyle De Luzt, melepas kaca mata bacanya dan meletakkannya diatas buku dipangkuannya. Ia menatap sang ponakan dengan pandangan sayang dan penuh perhatian.

“Paman, —- ”

Pemuda tampan yang begitu mirip dengan sosok ayahnya ini tampak gugup. Membuat pamannya semakin menatapnya lekat, karena hal ini tak biasa. Dalam keadaan apapun Gabriel selalu bisa mengendalikan situasi tetapi tidak kali ini.

“Tolong, izinkan aku menikah dengan Marion. ” Ia meminta dengan tegas dan berani.

Sejenak Kyle masih belum mempercayai pendengarannya.

Ingatan pria tua ini kembali pada saat usia ponakannya masih 5 tahun dan kecelakaan tragis menimpa kakak dan iparnya, Kafka dan Alice De Luzt. Keduanya wafat dengan secara bersamaan dan meninggalkan sang anak yang secara ajaib bisa selamat tanpa terluka.

Masa-masa itu begitu berat baginya apalagi untuk seorang anak kecil yang begitu dekat dan dicintai kedua ayah dan ibunya. Gabriel terpukul dan menutup diri, bahkan pada Kyle, satu-satunya keluarga yang tersisa.

Hingga saat mereka bertemu Felicia Laurent, seorang psikolog anak. Dengan sabar Felicia membantu Gabriel dan diam-diam Kyle mulai menyukainya. Terlebih sejujurnya Felicia tidak hanya menyelamatkan ponakannya, ia juga telah menyelamatkan Kyle yang juga goyah karena kehilangan tiba-tiba.

Kyle melamar Felicia dan mereka menikah. Walau ini bukan pernikahan pertama wanita itu, tetapi mereka sangat bahagia. Gabriel juga tampak senang menerima Felicia berserta putrinya Marion.

Sejak awal Kyle menyadari kedekatan ponakannya dan anak tirinya dari kecil. Tetapi ia sungguh tidak memikirkan bahwa hubungan mereka pada akhirnya berkembang menjadi sepasang kekasih. Kalaupun benar, ia pikir keduanya merupakan pasangan sempurna yang melengkapi.

“Gabe, —- kau bertanya sebagai seorang ponakan atau sebagai calon suami bagi Marion putriku?”

Pemuda bermata tajam dengan rahang kukuh ini tersenyum kecil. Perlahan ia mulai tampak rileks dan kembali menjadi pria yang penuh percaya diri.

“Sebagai keduanya. ”

Kyle tersenyum mendengar jawaban Gabriel yang serakah. Tentu saja ia tetap seorang De Luzt yang cerdas dan selalu mengambil kesempatan terbaik yang ia miliki.

“Well, —- ” Kyle mendesah.

“Beri, aku alasan mengapa harus merestui kalian. ”

Pria setengah baya ini tersenyum dan menangkupkan tangannya di bawah dagunya.

“Aku mencintainya. ”

Kyle terkesiap dengan alis sebelah mata naik.

Sungguh tidak menyangka kata cinta bisa keluar dari mulut ponakannya yang tabiatnya melebihi dinginnya sikap ayahnya, Kafka De Luzt.

Gabe tersenyum dan nyaris tertawa melihat reaksi pamannya.

“Reaksi Paman melukai egoku. ”

Keduanya lalu terkekeh dan tertawa.

“Tapi itu benar jadi tolong restuilah kami. ”

Kyle merasakan kegelisahan dalam suara ponakannya ini. Meski ia mencoba menutupinya dengan bersikap santai.

“Marion memang bukan puteri kandungku, Gabe. Tetapi aku menyayanginya sama seperti aku menyayangimu dan Merrick. ”

“Aku tahu Paman. Karena itu Paman bisa memegang janjiku, aku akan membahagiakan dia dan menjaganya. Dan Marion tidak akan pernah menyesal sudah memilihku. ”

Kyle tersenyum. Lalu bersandar pada bahu kursi empuknya lagi.

“Apa kau sudah melamar Marion?”

Pemuda ini tersenyum lebar dan rona bahagia terpancar jelas di wajahnya. Kyle bahkan mengenali kilau di mata Gabe yang tampak polos dan jujur.

“Ya. ” Desahnya puas.

“Dan Marion —- hmm, tentu saja ia sangat senang. Dari dulu ia begitu mengagumimu dan menempel bagai lintah selama ini. ” Ucapnya masam dan tidak rela.

“Aku baru bersama puteriku selama 15 tahun dan kini kau sudah mau merebutnya. ”

Gabe tertawa lirih.

“Paman merestui kami bukan?” Tanyanya lagi.

Kyle tersenyum arif.

“Tentu. Bagaimana bisa aku menolak kebahagiaan putera dan puteriku. ”

Pemuda berusia 23 tahun ini bangkit dari duduknya. Ia segera berjalan mendekati Kyle dan memeluknya hangat. Yang disambut dengan tak kalah erat oleh pria tua ini.

“Berbahagialah anak-anakku. ” Bisiknya dengan mata berair. Haru.

¤¤¤¤¤

Kyle, pria tua dengan rambut mulai memutih ini menatap puas pada pasangan berbahagia, Gabe dan Marion. Tak putus-putus ia memanjatkan syukur kepada Tuhan atas kebahagiaan yang melingkupi ponakan dan anak tirinya.

“Kakak lihatkan, Gabe sudah menemukan kebahagiaannya seperti Kakak dulu menemukan Alice. ”

“Dan Marion, puteriku. Bila Kakak ipar sempat mengenalnya, ia akan langsung jatuh cinta pada gadis ini. Ia begitu sempurna melengkapi Gabe kita yang pernah kehilangan besar. ”

“Aku benar-benar berharap dan mendoakan kebahagiaan buat mereka. Kakak dan Kakak ipar, tenang dan berbahagialah disana. ”

Ia mengusap matanya yang basah sambil memeluk bahu istrinya yang mungil. Felicia menoleh pada suaminya dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Oh sayang — ” ia berjingkat dan mengecup bibir suaminya.

“Aku sudah tahu, sejak bertemu denganmu, kau adalah sumber kesenanganku yang tak putus-putus. Aku mencintaimu, Kyle. ”

Sang suami tersenyum dan balas mencium sekilas pipi istrinya.

“Terimakasih sayang, telah hadir dalam hidupku dan membawa —– ” ia mengibaskan tangannya kesamping “semua kebahagiaan ini ke dalam hidup kita. ”

Keduanya saling memandang dengan senyum dibibir.

Kyle menggenggam jemari istrinya. Kembali menatap Marion dan Gabe yang masih menerima banyak ucapan selamat dari para tamu yang hadir.

“Kau tahu Kyle, siapa gadis yang paling berbahagia dan pria yang sangat beruntung di dunia ini?”

Tanya Kafka suatu hari, ketika mereka sedang bersantai di teras belakang kediaman keluarga De Luzt.

Kyle menoleh pada kakaknya yang sedang menatap Alice, istrinya yang menggendong Gabe kecil di taman.

Ia dengan cepat menemukan binar-binar bintang disorot mata kakak lelakinya ini. Tampak jelas bahwa bagi pria ini, istri dan anaknya adalah seluruh semesta rayanya. Dunianya berpusat. Dan Kyle bisa mengerti setelah semua hal yang pernah terjadi diantara mereka, semua. (Baca di Angel and Devil, Part One : MISERY http://t.co/SJKkA21CgA)

“Siapa?”

Ia balas bertanya dengan nada malas, setelah menyesap minumannya.

Kafka menoleh padanya dan tersenyum hangat. Kakaknya memandangnya penuh rasa kasih.

” Mereka yang saling mencintai dan terikat dalam pernikahan. ”

“Bahagia dan beruntung. ”

Ia tertawa mendengar perkataan pria yang paling ia hormati ini. Kata-kata yang diucapkannya sungguh bukan khas kakak kesayangannya, yang selalu realistis dan cenderung praktis.

“Kau akan mengerti, Kyle, saat kau sudah menemukannya. ”

Kyle tersenyum.

“Sekarang, aku mengerti Kak. “

¤¤¤¤¤

Cerita ini dipersembahkan buat semua orang yang membaca dan menyukai serial Angel and Devil (Part One : MISERY http://t.co/SJKkA21CgA). Terimakasih sudah berkomentar, kritik dan saran melalui chat, facebook dan twitter.

One thought on “Bahagia Itu Bukan Akhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s