Story Of Ra, The Last Jomblo in 30th

Hey, aku cuma nambah tua bukannya mati.

“Kamu —- em, Paracha?”

Ra mendongak dari Mac putih di hadapannya, dan melotot pada pria yang berdiri di samping mejanya.

Wanita ini meringis.

“Wow, pria ini benar sudah berdiri?”

Ia memperhatikan dengan seksama, pria yang tingginya tidak sampai 160 dan berkulit hitam tersebut. Tampangnya tampak penuh percaya diri bahkan nyaris terlihat angkuh.

Ra menelan ludah dan mencoba tersenyum.

Pahit.

“Paty ingin membunuhku. “

“Ya. ”

“Aku Gerard, teman klub golf yang diikuti Patricia. ”

Ia mengulurkan tangannya pada Ra dan disambut gadis itu.

“Oh, aku Parachacaicua Soram. ”

Pria itu meringis, mendengar namanya yang tampak asing.

“Namamu — agak asing. ”

“Ayahku berasal dari Thailand. Kau bisa panggil aku Ra. Silahkan duduk. ”

Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan wanita berkaca mata minus ini.

Ra melepas kaca matanya dan menutup komputer jinjingnya. Dan memberi perhatian penuh pada teman kencannya ini.

Ya, teman kencan buta yang dirancang Paty untuknya. Seolah dia butuh saja.

Dan hampir satu jam kemudian dihabiskan Ra untuk mendengar seluruh omong kosong keberhasilan bisnis Gerard. Tanpa sama sekali bertanya apa-apa tentang Ra.

“Yeah, Paty mengira aku sebegitu putus asanya, sampai mengirim pria membosankan seperti ini. ”

“Kamu terlihat nggak tertarik pada pembicaraanku. ” Ujar pria itu dengan raut wajah berkerut.

“Uh, oh!”

Tampaknya pria ini selain suka membanggakan diri juga terlalu sensitif dengan orang lain.

“Hm —- tidak juga. ”

Ra menarik nafas panjang karena bosan. Yang merupakan sebuah tindakan salah dimata pria tersebut.

“Kamu kira apa aku senang datang kemari? Patricia memohon padaku agar mau melakukan kencan buta dengan sepupunya. Wanita usia 30 tahun, lajang dan seorang freelance. Seharusnya kau tidak bersikap sesombong itu Nona. ” Semburnya tiba-tiba, mengejutkan wanita teman kencannya.

“Hah?!”

Ra tercekat dengan alis menjungkit, mendengar perkataan pria menjengkelkan ini.

“Buang-buang waktu saja. ”

Pria itu ngedumel panjang lebar dengan wajah tidak senang. Tak memperdulikan semua perkataannya di dengar oleh Ra, yang duduk tepat di hadapannya.

“Dasar lelaki pendek dengan ego sebesar bola dunia. Bagaimana bisa Paty mengira aku akan cocok dengannya?”

“Berapa tinggimu Gerard?” Tanya Ra dengan wajah polos. “Kupikir tidak sampai 150 cm ya?”

Ra memperlihatkan perhatian yang berlebihan. Dan sengaja tanpa menyembunyikan seringai berandalan di wajahnya.

“Kurasa kau perlu menemui Dokter Orthopedi. Kabarnya diusia 35 tahun pun tinggimu masih bisa bertambah 1 atau 2 cm, itu lumayan kan buatmu?”

Gerard terbeliak dengan wajah memerah, bagai tersedak potongan besar steak.

Ra tersenyum dalam hati.

Bingo.

“Memangnya siapa yang butuh laki-laki sombong macam ini? Paty memang pantas dibunuh. “

“Pantas tidak ada lelaki yang mau dengan perawan tua sepertimu. Bicaramu kasar sekali. ” Geramnya kesal.

“Yeah, kau benar. Tetapi lebih baik aku mati perawan daripada bersama dengan lelaki berego besar namun —– ”
Paracha sengaja memotong perkataannya dan melempar senyum andalannya. Lalu menyambung perkataannya dengan nada dramatis.

” —- kemaluannya sekecil keberaniannya. Cuma bisa melawan wanita. ”

Ra tersenyum simpul, menyebarkan racun dalam kata-katanya yang menohok.

Wajah pria itu tampak memerah seperti ditampar. Ia segera bangkit dan berlalu secara tergesa-gesa dari coffee shop yang ramai ini. Bagai dikejar hantu.

Ra tertawa terbahak-bahak. Hingga meneteskan air mata.

“Hari ini sungguh lucu. ”

¤¤¤¤¤

Teman atau Lawan?

“Apa yang kau lakukan —- ya Tuhan Ra. Gerard menghubungiku dan marah besar. ”

Sambut Patricia saat Ra baru saja memasuki apartment mereka. Ia terlihat marah dan sangat terganggu. Tetapi bukan Paty saja yang marah, Ra jauh lebih marah pada sepupunya ini.

“Well, kau tidak tau apa yang dikatakannya padaku. Lagipula ngapain sih kau menjodoh-jodohkan aku dengan temanmu. Aku nggak suka, Paty. ”

“Aku cuma mau membantumu, Ra. ”

Ra berdiri, menatap Paty dengan tangan bersedekat.

“Apa yang membuatmu berpikir aku akan suka dengan pria macam Gerard. Kenapa nggak kau saja yang berkencan dengannya. ”

Paty melotot melihatnya. Gadis pirang yang berpenampilan modis itu tampak tersinggung.

“Aku sudah punya kekasih, kau tau itu. Gerard itu sudah mapan, uangnya banyak. Bahkan baru-baru ini dia membeli Ferrari. ”

Ra tersenyum sinis.

“Dan apabila kau single, apa pria seperti Gerard akan masuk dalam daftar pilihanmu?”

Paty tampak terdiam, tidak punya jawaban.

“Dengar, Paty. Berhentilah menjodoh-jodohkanku mulai sekarang. Aku single, aku bahagia. ”

“Yeah —- bahagia. ” Ulangnya dengan nada sarkastis.

“Sudah 5 tahun kau tidak berhubungan dengan siapapun, sejak — ”

“Cukup. ” Potong Ra kesal.

“Aku selama ini selalu bertanya-tanya, apa motivasimu menjodohkanku dengan pria-pria yang menurutmu cocok untukku. ”

Kali ini Ra menatapnya dengan pandangan tajam.

“Jimmy, pialang saham bermuka musang yang pada kencan pertama sudah mengajakku ke hotel. Leon, pria tambun berprofesi sebagai broker real estate yang tidak bisa menutup mulutnya selagi makan, gara-gara dia aku muntah selama seminggu. Edd, Dokter hewan yang tidak bisa menjaga tangannya di bawah meja. Masih ada yang lain. ”

“Kau sedang tidak sedang membantuku, Paty. ”

“Jadi kau berpikir seperti itu? Kau saja yang terlalu pemilih dan menganggap tinggi dirimu. Kau sudah 30 tahun, dan yah —- kau bahkan tidak punya pekerjaan tetap. Jangan berharap terlalu tinggilah. ”

Wajah Paty yang cantik tampak tersenyum mengejek dan ia memandang Ra dengan tatapan menilai rendah.

“Ck —, Patricia Simbolon. Apa kau iri dengan kebebasanku?”

“Apa??” Gadis itu terbelalak kaget.

“Aku memang sendiri tapi tidak pernah kesepian. Dan soal pekerjaan, kita sama-sama tau walau freelance, honorku menulis di beberapa media serta royalti dari berbagai bukuku, jauh lebih besar dari apa yang kau dapat sebagai supervisor di hotel. ”

“Kau —- ”

Wajah Paty tampak bagai ditonjok. Ia menyambar tasnya di sofa dan melangkah cepat keluar dari ruangan ini. Sengaja membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.

“Haha — ”

Ra mendengus melihat kelakuan sepupunya itu dan memutuskan untuk segera minum air putih. Setelah berdebat dengan Paty, siapa yang tidak akan haus?

¤¤¤¤¤

Siapa butuh lelaki, bila tanpanya kau sudah merasa cukup?

“Bagaimana, Ra? Apa kau ada waktu untuk minum kopi? ”

Stefan tersenyum lebar, memamerkan gigi-giginya yang besar dan berwarna sedikit kelabu akibat rokok.

Wanita ini hanya nyengir, mendengar rayuan pria yang bekerja sebagai editor di sebuah majalah ternama ibu kota.

“Sorry, Stef. ”

“Hmm —-, sebuah makan malam? ” Tawarnya lagi, dengan cengiran nakal.

Siapa tidak mengenal Stefan Malakiano yang suka merayu, semua mahluk berkelamin betina.

“Tidak, Stef. Tidak akan pernah terjadi. Dan bila diskusi kita telah selesai, aku mau permisi pulang. Jadi berhentilah merecokiku. ”

Ra bangkit dari duduknya dan melotot dibalik kaca mata minusnya. Ia selalu tanpa basa-basi menolak semua ajakan lelaki iseng macam Stefan.

Pria ini mengangkat bahu dan mengedipkan matanya pada Ra. Ia menerima jabatan tangan wanita ini dan mengantarkannya keluar pintu ruang kerjanya, yang elegan.

“Yeah, mungkin lain kali. ” Katanya ringan sambil menyaksikan gadis ini keluar dari kantor redaksi.

Ra menarik nafas panjang. Merasa lelah menghadapi pria berdarah Manado yang sebenarnya bertampang lumayan tersebut.

“Parachacaicua Soram, mengapa nasibmu begitu sial. Selalu menjadi magnet bagi pria-pria aneh seperti Stefan dan lainnya. “

Wanita berkulit cokelat mulus ini menggelengkan kepalanya. Hidupnya sudah rumit dengan desakan menikah dari Ibunya, perjodohan mengerikan dari sepupu yang tampaknya tidak tulus dan editor genit yang mengejarnya seolah ia mangsa empuk untuk dikunyah.

Selain itu, Ra merasa hidupnya sudah sempurna. Pekerjaan yang dicintainya, keuangan yang stabil dan ia bebas melakukan apa saja tanpa dibatasi oleh rutinitas. Ra menikmati waktunya.

Dia nggak butuh lelaki untuk membayarkan tagihannya, membelikannya barang mewah serta membawanya liburan. Ra cukup mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

Tidak seperti beberapa kenalan perempuannya yang berasal dari kalangan model dan beberapa selebriti kurang terkenal, yang menerima kemewahan dan para pejabat. Lalu pada akhirnya harus menghadapi panggilan KPK dan penyitaan aset, karena dianggap menerima uang korupsi. Memalukan bukan?

Dering telefon berlambang apel dengan gigitan dan suara cempreng berulang-ulang membahana, menyadarkan Ra dari lamunannya. Cepat ia merogoh dalam laci sling bag, Burberry hitamnya.

“Patrick dengar aku, ini aku —- Spongebob. Aku butuh bantuanmu. ”

“Patrick dengar aku, ini aku —- Spongebob. Aku butuh bantuanmu. ”

Beberapa penumpang busway melirik wanita dewasa berpenampilan semi formal ini. Dan mereka tersenyum-senyum saat Ra berhasil menemukan ponselnya dan memencet icon hijau di layar, membuat nada ringtone tersebut diam.

“Halo —- ” Ucapnya tanpa sempat melihat nama pemanggilnya.

“Ra — ”

“Cha — ” pekiknya kaget.

Pacharacaicua Soram.

Saudara kembarnya yang berjenis kelamin laki-laki. Selama ini Cha menetap di Bangkok dan ia lebih memilih menjadi warga negara Thailand, dibandingkan dengan Ra yang mengikuti kewarganegaraan ibunya.

“Ada apa Cha? Tumben kau menghubungiku? ”

Terdengar dengusan suara kembarannya tidak sabar. Sesuatu yang mendesak pasti sedang terjadi hingga Cha tampak tak sabaran seperti biasanya.

“Kau bisa ke Singapore malam ini?”

“Apa?!!”

Pacharacaicua alias Cha, sama seperti dirinya. Selalu bersikap praktis, tanpa basa-basi serta selalu berpikir rasional dalam keadaan apapun.

“Aku sudah membooking tiket pesawat, hotel dan lain-lainnya. Kau tinggal berangkat saja. ”

“Hei — hei, kenapa begitu mendadak? Apa ada hal gawat? ”

Ra tampak mengkhawatirkan kembarannya ini.

Menurut berita di televisi, suhu politik di Thailand memang sedang memanas. Tetapi Cha sudah meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja dan keadaan tak seburuk yang diberitakan CNN.

“Seorang artisku, sedang berada di Singapore dan terjebak tak bisa pulang untuk sementara. Kau bisa menjaganya untukku?”

Ra menarik nafas lega sekaligus kesal. Pacharacaicua adalah seorang manajer artis dari sebuah management terkenal di Thailand dan ia sangat sibuk, hingga saat Ra ingin menemuinya saja harus membuat janji terlebih dahulu.

“Aku tidak mau. ” Tolaknya kesal.

“Please, Ra. Aku nggak bisa ke Singapore dan nggak ada yang bisa kupercaya selain dirimu. ”

“Bahasa Thai-ku nggak lancar. ”

“Artisku lancar berbahasa Inggris. ”

Ra mendesah. Ia kembali berargumen dan memberikan alasan pada kembarannya.

“Aku nggak suka anak manja yang suka memerintahku, ini dan itu. ”

“Kau salah. ”

“Pachara Charathivat adalah anak cerdas dan sopan. Kelakuannya tidak tercela, dia artis kesayangan Thailand. ”

“Oh — oke. Sepertinya ini tidak akan berhasil. “

“Bukan itu —- aku nggak pernah bisa mengurus hewan peliharaan. Gimana bisa aku ngurus artismu? Lagipula yang namanya artis pasti bersikap seperti Diva. Aku nggak bakal tahan. ”

Cha menarik nafas lega. Dan Ra yakin ia sedang tersenyum disana.

“Dia bukan artis yang menyebalkan. Kau akan langsung menyukainya bila bertemu dengannya, aku jamin. ”

Wanita yang sedang duduk di salah satu bangku busway yang padat ini, mengigiti ujung-ujung kukunya. Sambil menatap keluar jendela kaca, memandang jalanan Jakarta yang macet setengah mati.

” Hm — kedengarannya menyenangkan. Aku bisa sedikit bersantai di Singapore dan bersenang-senang. “

“Seluruh akomodasi akan kutanggung. Aku akan memberimu komisi yang bagus. Kau cukup temani Peach dan menjaganya. Oh ya, ia sedang melakukan syuting iklan dan sekalian berlibur. Kalian pasti cocok. ”

Ra mendengus. Cha pasti sudah menduga ia tidak akan menolak.

“Baiklah. ” Putusnya.

Pacharacaicua lalu memberikannya beberapa informasi tentang perjalanannya dan berjanji akan mengirim semua detil serta beberapa dokumen penting artisnya ke akun email Ra. Serta menginstruksikan hal penting mengenai Pachara yang punya nama kecil Peach.

¤¤¤¤¤

“Oh, jadi kau mengutus adikmu untuk menemaniku? Hm — tak apa. Aku tidak keberatan. ”

Peach berbicara melalui sambungan langsung luar negeri dengan Cha, manajernya yang tak bisa menemaninya di Singapore. Meski ia telah berjanji akan menyusulnya sebelum syuting dimulai.

“Diakan adikmu, bukan orang asing. Aku tidak masalah kok. ”

Hands free bluetooth yang dikenakannya, membuatnya bebas menggunakan tangannya tanpa memegang ponsel hitam canggihnya. Ia terlihat mencari-cari sesuatu di dalam dompetnya.

Pemuda tampan bertubuh jangkung dan kulit seputih porselin ini tersenyum. Dia sudah menemukan hal yang ia cari.

“Ya sudah. Aku harap nanti malam ia sudah tiba dengan selamat. Dan besok pagi ia sudah siap menemaniku syuting. ”

“Baik. Oke. —– Bye, Cha. ”

Sepotong foto wanita. Wajahnya tampak manis namun ia tidak sedang tersenyum pada kamera. Sepertinya foto ini diambil secara diam-diam.

Wanita itu memakai kaca mata dan tampak serius menekuri komputer jinjing berwarna putih, dengan lambang apel tergigit bersinar biru.

“I got you, Ra! ”

Peach menyeringai pada wanita dalam foto tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s