Bukan Bicara Dendam

Maaf.
Dulu aku pernah bilang kita lewati ini bersama namun dalam perjalanan aku tetap meninggalkanmu dengan kejam. Meskipun telah kau memohon serta merutukiku kasar, menyumpahiku karma.

Aku tidak menyesal.
Bila waktu diulang kembali kemasa itu, aku tetap akan mengambil keputusan yang sama. Pergi dari hidupmu, sebuah keharusan.
Alasanku adalah akumulasi dari segala hal yang terjadi sepanjang hubungan kita. Semua pengkhianatan serta kebohongan yang pernah kau lakukan, pada akhirnya membuatku sadar, kau sama sekali tidak berharga untukku perjuangkan. Sebagai penutup, kejatuhanmu sebuah anugerah pukulan terakhir yang membuka mataku. Aku tak mau ikut hancur bersamamu.

Aku tidak menampik, kita pernah punya waktu bahagia. Tidak — tidak, mungkin cuma aku yang bahagia. Karena bila benar kau bahagia bersamaku, kau pasti cukup hanya denganku. Tak butuh perempuan-perempuan lain, di belakangku.

Selama denganmu, bagiku hanya ada kau. Segala hal selalu mengenai dirimu. Aku berikan hatiku, utuh. Dan seharusnya itu cukup untukmu, sebagai konpensasi rasa sakit yang belakangan kutinggalkan.

Kau boleh mengingatku seolah wanita dingin tak punya hati. Boleh juga memakiku seorang yang brengsek tanpa belas kasihan. Tapi ingatlah sayang, si tak punya hati yang brengsek ini, dulunya pernah menatapmu penuh cinta. Menganggapmu yang paling sempurna. Mengecup bibirmu seolah dengannya aku bisa bahagia. (K)

2 thoughts on “Bukan Bicara Dendam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s