Takdir yang Tak Berpihak

Jadi, apakah inilah saatnya? Dimana kita bertemu, bertatapan satu sama lain namun tidak saling menyapa. Berselisihan jalan dan bersikap seperti tak saling mengenal.

Aku masih sakit serta masih berdebar hanya dengan melihatmu. Apa hanya aku yang seperti itu? Dan engkau sudah tak rasakan hal yang sama.

Tercekik oleh tali yang bernama kerinduan, membuatku sekarat. Hidup yang kujalani lebih menyedihkan dari pada mati. Aku berantakan, terjatuh dan kembali terjatuh karenamu. Kamu adalah duniaku dan seluruh semestaku berputar untukmu. Jadi semestinya kamu pun menyadari bahwa tanpamu, aku bukan apa-apa.

Lalu bisakah ini disebut perpisahan, bila kuyakin kita masih memegang erat-erat perasaan yang membuat kita satu. Mengapa tidak ada jalan bagi kita untuk kembali, bila masa depan tak pernah ada bagi aku dan kamu.

Kau tahu apa yang membuatku bertahan hingga saat ini? Aku merapal mantra “aku mencintaimu! ” berulang-ulang, ribuan kali. Tak apa kita tak bisa bersama asal kau baik-baik saja dan aku masih bisa melihatmu sesekali. Tak apa aku tak bisa menyentuhmu, menjadikanmu milikku, yang penting kau masih bisa tersenyum meski tanpa aku disisimu lagi.

Seperti itulah aku memilih untuk bertahan. Berpisah hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang saling tidak cinta lagi, lalu kita apa?

Membatu Untukmu

Jalanan kosong yang penuh dengan orang-orang kesepian, aku adalah salah satunya. Sendirian serta merasa hidup tak punya arti sejak kau tak ada.
Aku mencoba untuk bertahan, menjaga kewarasan ini sementara tak sedetikpun kau tak pernah berhenti berlari dibenakku, menyiksaku.
Kau dan senyum penuh binar dimata. Kau dengan tawa berdenting sampai kehati.
Kau dan sentuhan lembut dikulit dan bibirku.
Tuhan tahu, aku menggila karena segala ingatan tentangmu.

Aku sudah berusaha, sangat keras. Mengenyahkanmu.
Mencoba menemui, menghabiskan waktu dengan orang lain. Berganti gaya. Pergi ke tempat-tempat yang tak pernah ada jejak kita.
Sayangnya, aku tetap tidak merasa baik. Aku tak pernah baik-baik saja sejak kita berpisah.
Aku marah, padamu, pada kebodohanku, pada hatiku yang tak dapat kukendalikan, pada kegetiran yang melandaku, pada kesempatan yang tak bisa kuraih denganmu. Dan setelah semua itu, aku masih merindukanmu.

Bukankah sudah kubilang, aku bodoh? Mempertahankan perasaan yang sudah kau lupakan. Aku tak bisa menemukan orang lain, aku sudah tak mau.
Jadi aku berhenti disini. Membeku dari ujung rambut hingga kesanubari, dalam kenangan masih bahagia bersamamu.
Aku tahu ini bodoh tetapi tak ada yang dapat kuusahakan lagi.
Kuharap, aku benar-benar bisa membatu untukmu. Agar kau kelak bisa melihat, seseorang pernah ada dan hancur olehmu. Namun kau tak punya waktu untuk mencegahnya. Ini kutukanku, agar jadi penyesalanmu.

*Footnote : terinspirasi oleh lirik lagu Who You : G-Dragon. Who You adalah lagu wajib bagi mereka yang belum bisa melupakan mantan kekasihnya.

Nurani Prabowo Patut Dipertanyakan?

Seorang teman bertanya, “Kamu anti Prabowo ya?” usai ia membaca tulisanku —> Kenapa Saya Tidak Mau Prabowo Jadi Presiden Indonesia? http://t.co/Y4otWdO3vT.

Sebenarnya aku bukan anti Prabowo sih. Aku cuma tidak menyukai pilihan dan tindakannya menculik dan menghilangkan manusia lain. Intinya aku membenci kelakuannya bukan orangnya. Karena menurutku dengan alasan apapun, Prabowo tidak berhak mengambil kekebasan orang lain (culik), menghilangkan keberadaan orang lain (sekap?, bunuh? Mungkin). Yang boleh melakukan penangkapan dan mengambil kebebasan/nyawa orang lain adalah HUKUM, Undang-Undang beserta alatnya (Polisi, Jaksa, Pengadilan). Sedangkan Prabowo tentarakan? Fungsi tentara nasional adalah melindungi negara ini, sementara negara ini adalah RAKYAT. Yang diculik dan dihilangkan itu rakyat juga, dengan alasan apa mereka harus diperlakukan seperti itu? Dan dengan kuasa apa, Prabowo berhak melakukan itu? Prabowo bukan Hukum.

Temanku bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu tentang ini?” —->
“Lucu ya liat para komen di FPnya Prabowo, yang bawa-bawa tragedi 98′, penculikan aktivis dan pelanggaran HAM. Padahal kalo dipikir-pikir dulu tuh damai, jarang ada keributan. Jarang keliatan preman, atau anak-anak punk punk gembel berkeliaran di tempat umum. Jadi gue pikir itu tindakan yang tepat untuk melenyapkan kelompok-kelompok yang memang berniat merusak kedamaian, ntah itu Prabowo atau siapapun. Buktinya pasca reformasi, hampir tiap hari kerusuhan. Hahaha. Ya inilah warisan orang-orang yang memperjuangkan “reformasi” Semoga aja, tindakan yang sama dilakukan kepada koruptor terbukti bersalah dilenyapkan dari dunia. HAM tidak berlaku buat manusia jahanam.”

Aku mencoba menjawab, “Dijaman Soeharto, jauh sebelum Mei 98 keadaan memang tenang tetapi bukan ‘aman’. Aceh, Timor, Papua, Poso banyak terjadi konflik dan militer memberangusnya tanpa ribut-ribut. Media belum setransparan sekarang dan keadaan ini tidak terblow-up. Jadi suasana memang terlihat tenang tetapi tidak benar-benar aman, karena gerakan separatis (pemberontakan) dilakukan di bawah tanah. Kekerasan dan pemaksaan keadaan tidak membuat rakyat patuh, tetapi ketakutan. Rakyat hidup dalam keadaan takut. ”

“Jadi kalau dibilang keadaan dulu jauh lebih baik dibandingkan sekarang, itu salah menurutku. Jaman Orde Baru, kita tidak bisa bebas berkumpul dan mengeluarkan pendapat karena kita dipaksa sependapat/sama (pns, guru, pegawai BUMN, polisi, tentara, dll diwajibkan memilih Golkar). Kita bisa tiba-tiba diculik, hilang dan nggak akan ada kabarnya lagi. Masih Bisa Bilang Enakan Dizaman Orba, Setelah Baca Ini? http://wp.me/p2SQIe-a6”

Kemudian temanku kembali bertanya, “Memangnya kalau Prabowo jadi presiden, keadaan akan kembali seperti zaman Orba?”

“Yang paling kutakutkan, bukanlah kembali kezaman itu. Tetapi rezim baru (Prabowo) nggak akan kalah buruknya dengan Pak Harto. Kenapa? Karena Prabowo (mengakui) melakukan penculikan dan tidak merasa bersalah (karena diperintahkan oleh atasannya). Bayangkan bagaimana otoriter pemerintahan Prabowo seandainya ia berkuasa. Ia tidak akan segan-segan memerintah dengan gaya militer dimana kekerasan, disiplin dan pemaksaan akan diterapkan. Hak azasi manusia dilemparkan ke dalam selokan. Lah, wong masih jadi Letjen saja sudah berani menculik 28 aktivis dan menghilangkan sebagaiannya. Kalau jadi Presiden, ada yang protes/kritik dan menolak sepaham dengan pemerintahan, apa jaminannya ia tidak kembali melakukan kekerasan dan pelanggaran HAM? Karena pribadi Prabowo bukanlah orang yang bisa diajak diskusi dan beramah tamah diplomasi dengan orang-orang yang tak sependapat dengannya. Ia orang militer taktis yang lebih menggunakan serangan langsung. ”

“Bukankan ia yang merangkul Hercules, preman yang berkedok organisasi kepemudaan? Bahkan Prabowo Setuju Kepala Daerah Kerjasama dengan FPI via @detikcom http://de.tk/5GJVJ —-> (FPI adalah organisasi yang sering bertindak anarkis mengatas namakan islam). Sepertinya beliau memang dekat dengan kekerasan dan tidak bermasalah dengan itu.”

“Kalau Prabowo berkuasa, aku pribadi merasa takut. Bila aku bersuara lantang, tidak sepaham, mengkritisi pemerintahan yang bobrok beserta presidennya, aku akan diculik dan menghilang. ”

“Prabowokan cuma mengikuti perintah atasannya?”

“Terlepas dari militer, Prabowo manusiakan? Beragamakan? Punya otak buat mikir? Punya hati nuranikan? Kenapa tidak punya pertimbangan atas hal-hal tersebut sebelum memutuskan mengikuti perintah atasannya? Beliaukan tidak ditodongkan pistol dikepalanya (tidak diancam mati) untuk melakukan itu? Secara Prabowo juga bukan orang sembarangan, mertuanya adalah orang nomor satu di negara ini pada saat itu. Ia bisa saja menolak perintah atasannya, meskipun seandainya ternyata yang nyuruh mertuanya, Soeharto nggak mungkin membunuh menantunya yang tidak mematuhi perintahnya. Kalau cuma mengikuti loyalitas terhadap atasan dan pekerjaan. Artinya beliau cuma mau menyelamatkan bokongnya saja dari atasannya. Padahal ia seharusnya lebih loyal terhadap rakyat, melindungi rakyat. Bukan malah menculik dan menghilangkannya secara paksa. ”

“Yang diculik bukan penjahat, bukan teroris, tidak bersenjata. Mereka hanyalah mahasiswa, aktivis pergerakan dan LSM. Mereka adalah pentolan gerakan rakyat yang menginginkan perubahan bagi Indonesia serta jenuh dengan pemerintahan tangan besi Soeharto. Jadi demi mempertahankan status quo, mereka sengaja dihilangkan agar gerakan rakyat bisa diredam karena kehilangan pemimpin atau karena teror ketakutan akan diculik juga. ”

“Selain itu Prabowo sama sekali tidak memperlihatkan penyesalannya apa lagi menganggap hal ini salah. Yah, kalau menculik dan menghilangkan orang saja dianggap bukan perbuatan salah, hal seekstrim apalagi yang bisa dianggapnya salah?”

Benar dan salah batasannya jelas, nurani. Kalau nurani sudah tidak bisa membedakan hal yang benar dan hal yang salah secara gamblang, apa yang membuatmu masih menjadi manusia?

Prabowo mengakui penculikan dan penghilangan aktivis 98. Ia bersalah (menurut pengadilan militer) dan dipecat secara tidak hormat. Pengadilan militer saja sudah menyatakan beliau salah, apalagi orang awam seperti aku. Beliau tidak pantas dan tidak boleh memimpin negeri ini (amit-amit kalau ia menang pada Pilpres 9 Juli 2014).

“Lalu pemimpin macam apa yang baik untuk Indonesia?”

Rasa takut memang membawa kepatuhan. Tetapi tidak dengan respek, kesetiaan dan cinta. Aku berharap pemimpin selanjutnya orang baik yang bisa mendapatkan rasa hormat, kesetiaan dan cinta dari rakyat. Seorang pemimpin yang tidak berambisi menguasai negeri ini demi kepentingan pribadinya serta kroninya. Pemimpin yang tidak membenarkan kekerasan dan pelanggaran HAM dalam menjalankan roda pemerintahan. Pemimpin yang bisa merangkul seluruh masyarakat tanpa harus sepaham dan tetap mencintai keragaman Indonesia. Pemimpin yang memilih melakukan hal benar meski dalam keadaan sangat sulit serta tidak menyerah untuk melakukan hal yang benar meskipun terlambat. Pemimpin seperti itu yang harusnya kita miliki.

Kenapa Saya Tidak Mau Prabowo Jadi Presiden Indonesia?

Seperti cinta, rasa benci juga butuh alasan untuk hadir. Melihat percakapan di twitter dan facebook tentang sanjungan, pembelaan dan fanatisme pendukung prabowo, saya merasa tertampar. Bukan dalam artian yang baik. Rasanya ingin menendang bokong orang-orang yang bilang Indonesia butuh orang militer untuk memimpin negara ini dengan tegas. Rasanya saya ingin mencakar wajah mereka yang bilang prabowo tidak bersalah atas penculikan para aktivis dan mahasiswa tahun 1998. Dan saya benar-benar ingin meludahi mulut-mulut yang mengatakan, setiap orang punya masa lalu buruk dan masa lalu hanya masa lalu.

Sudah berapa jenderal yang mimpin Indonesia? Sepengetahuanku dua. 32 tahun dipimpin Soeharto dan hampir 10 tahun dipimpin SBY, lihat apa yang mereka perbuat dengan negara kita. Pak Harto cuma mewariskan Golkar dan penyimpangan sejarah serta kerusakan sistemik terhadap hukum, pendidikan serta pemerintahan. Lalu SBY malah punya waktu luang menciptakan beberapa album yang gagal dipasaran, yang bahkan sebagai penikmat musik saya pribadi nggak tahu satu biji pun judul lagu milik beliau. Selain ia juga mewariskan kita orang seperti Soetan Batughana serta kumis Andi Malarangeng dan Roy Suryo. Tetapi yang paling parah dari segala pilihan Pak Beye adalah kalau benar Demokrat berkoalisi dengan Gerindra. Artinya SBY sama saja seperti Prabowo, menganggap nyawa rakyat tidak ada artinya demi menjalankan tugas.

So, masih mau negara ini dipegang oleh bekas militer? Yang menganggap kekerasan, keteraturan, disiplin adalah jalan untuk menciptakan kedamaian? Memangnya rakyat Indonesia seterbelakang itu sampai harus digebuki satu-satu biar aman?

Prabowo telah menculik dan menyekap aktivis, itu fakta yang benar dan sudah diakuinya (lihat wawancara majalah Panji ini http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1999/10/29/0084.html), bahkan menurutnya ia dan tim mawar seharusnya mendapatkan medali karena sudah melakukan tugas dengan baik. Kenyataan bahwa beliau melakukan penculikan inilah yang menyebabkannya dipecat secara tidak hormat dan dinyatakan bersalah (Prabowo Dipecat dari Militer karena Penculikan: http://t.co/GG3tO6lvl0). Untuk lebih lengkap, silahkan lihat website Kontras yang dengan rapi menyimpan berkas berita penculikan serta orang hilang (http://www.kontras.org/index.php?hal=dalam_berita&tahun=1998). Bahkan diwikipedia pun, tentang penculikan ini dicantumkan dalam biorgrafi sang letjen (id.m.wikipedia.org/wiki/Prabowo_Subianto).

Lalu kalau setelah baca semua link berita itu, masih mau menjadikan pelaku penculikan sebagai pemimpinmu, ini sama sekali bukan salah siapa-siapa lagi guys. Mungkin memang yang memilih itu nggak punya hati nurani dan pikiran waras.

Masalah penculikan itu pelanggaran hak azasi manusia. Dan korban-korbannya yang entah masih hidup atau dikubur dimana, adalah bukti nyata bahwa tindakan ini salah. Hingga kini setiap hari kamis ada puluhan orang berpakaian hitam-hitam yang melakukan aksi di depan istana negara, sejak belasan tahun lalu. Siapa mereka? Mereka adalah ibu-ibu, orang tua dari putra-putra terbaik, yang telah diculik dan menghilang hingga kini. Yang masih mencari keadilan serta kejelasan atas penculikan aktivis 98 yang dilakukan oleh tim mawar, yang notabene dipimpin oleh Prabowo Subianto.

Jadi jangan bilang tiap orang punya masa lalu buruk dan bisa dimaafkan. Dan masa lalu bukan hanya masa lalu. Justru masa lalulah yang menentukan saat ini dan masa depan. Kita tidak bisa membiarkan orang yang telah semena-mena, mengangkangi kemerdekaan orang lain, menguasai negeri ini. Memberinya akses kekuasaan yang besar, sama saja dengan membiarkan bayi bermain dengan nuklir. Sangat tidak bertanggung jawab dan gila.

Tolong diingat bahwa tindakan salah prabowo ini, telah mengakibatkan puluhan keluarga kehilangan anaknya. Nggak mesti kita dan keluarga sendiri yang menjadi korban, baru kita punya empati terhadap masalah ini. Apa harus mengalami sendiri diculik, sekap serta hilang, baru kita menyadari betapa berbahayanya pemimpin macam ini?

Semoga (dan aku harap) banyak rakyat indonesia yang masih punya hati nurani dan pikiran terbuka, menganggap penculik nggak pantas jadi presiden. Kita masih bisa memilih yang lain, setidaknya level kejahatannya nggak separah penjahat HAM. Misalnya bila disuruh milih antara Prabowo atau Bang Haji Rhoma, saya sudah pasti dukung si raja dangdut (ini cuma perumpamaan saja). Paling tidak Rhoma Irama nggak pernah melakukan kekerasan, penghilangan secara paksa, nggak pernah kabur keluar negeri saat dinyatakan bersalah.

Women Fall In Love

Jadi perempuan yang berani keluar rumah nggak pakai make up itu ada 2 macam :
1. Emang cantik banget.
2. Sama sekali nggak cantik.

Lalu termasuk golongan manakah kamu, ladies?

Hehehe……..

Tetapi lebih dari dua wanita yang kusebut di atas, aku pribadi lebih menginginkan menjadi perempuan yang sedang jatuh cinta.

Kenapa?

Karena tidak ada yang lebih indah dan mempesona dari seorang perempuan daripada saat ia sedang berada dalam puncak perasaannya. Wanita paling cantik tidak akan dapat menandingi keindahan perempuan yang sedang jatuh cinta dan dicintai balik. Dan kecantikan bukanlah patokan untuk seorang wanita bisa hidup bahagia. Sudah banyak contoh yang terjadi bahwa wanita tercantik di dunia pun hidupnya harus berakhir dengan tragis karena cinta, seperti Cleopatra dan Marie Antoinette.

Jadi tak perlu menjadi cantik untuk dicintai seseorang dan bahkan yang terjelek sekalipun akan tetap berharga bagi mereka yang mencintainya dengan tulus.

Pertanyaan selanjutnya yang masih menjadi misteri bagiku adalah, bagaimana cara membuat seseorang jatuh cinta pada diri kita?

Hahaha. Kurasa, tidak akan ada yang bisa menjawabnya dengan pasti. Hanya Tuhan sajalah yang mengetahui dan biarkanlah hal tersebut tetap menjadi urusannya.