Nurani Prabowo Patut Dipertanyakan?

Seorang teman bertanya, “Kamu anti Prabowo ya?” usai ia membaca tulisanku —> Kenapa Saya Tidak Mau Prabowo Jadi Presiden Indonesia? http://t.co/Y4otWdO3vT.

Sebenarnya aku bukan anti Prabowo sih. Aku cuma tidak menyukai pilihan dan tindakannya menculik dan menghilangkan manusia lain. Intinya aku membenci kelakuannya bukan orangnya. Karena menurutku dengan alasan apapun, Prabowo tidak berhak mengambil kekebasan orang lain (culik), menghilangkan keberadaan orang lain (sekap?, bunuh? Mungkin). Yang boleh melakukan penangkapan dan mengambil kebebasan/nyawa orang lain adalah HUKUM, Undang-Undang beserta alatnya (Polisi, Jaksa, Pengadilan). Sedangkan Prabowo tentarakan? Fungsi tentara nasional adalah melindungi negara ini, sementara negara ini adalah RAKYAT. Yang diculik dan dihilangkan itu rakyat juga, dengan alasan apa mereka harus diperlakukan seperti itu? Dan dengan kuasa apa, Prabowo berhak melakukan itu? Prabowo bukan Hukum.

Temanku bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu tentang ini?” —->
“Lucu ya liat para komen di FPnya Prabowo, yang bawa-bawa tragedi 98′, penculikan aktivis dan pelanggaran HAM. Padahal kalo dipikir-pikir dulu tuh damai, jarang ada keributan. Jarang keliatan preman, atau anak-anak punk punk gembel berkeliaran di tempat umum. Jadi gue pikir itu tindakan yang tepat untuk melenyapkan kelompok-kelompok yang memang berniat merusak kedamaian, ntah itu Prabowo atau siapapun. Buktinya pasca reformasi, hampir tiap hari kerusuhan. Hahaha. Ya inilah warisan orang-orang yang memperjuangkan “reformasi” Semoga aja, tindakan yang sama dilakukan kepada koruptor terbukti bersalah dilenyapkan dari dunia. HAM tidak berlaku buat manusia jahanam.”

Aku mencoba menjawab, “Dijaman Soeharto, jauh sebelum Mei 98 keadaan memang tenang tetapi bukan ‘aman’. Aceh, Timor, Papua, Poso banyak terjadi konflik dan militer memberangusnya tanpa ribut-ribut. Media belum setransparan sekarang dan keadaan ini tidak terblow-up. Jadi suasana memang terlihat tenang tetapi tidak benar-benar aman, karena gerakan separatis (pemberontakan) dilakukan di bawah tanah. Kekerasan dan pemaksaan keadaan tidak membuat rakyat patuh, tetapi ketakutan. Rakyat hidup dalam keadaan takut. ”

“Jadi kalau dibilang keadaan dulu jauh lebih baik dibandingkan sekarang, itu salah menurutku. Jaman Orde Baru, kita tidak bisa bebas berkumpul dan mengeluarkan pendapat karena kita dipaksa sependapat/sama (pns, guru, pegawai BUMN, polisi, tentara, dll diwajibkan memilih Golkar). Kita bisa tiba-tiba diculik, hilang dan nggak akan ada kabarnya lagi. Masih Bisa Bilang Enakan Dizaman Orba, Setelah Baca Ini? http://wp.me/p2SQIe-a6”

Kemudian temanku kembali bertanya, “Memangnya kalau Prabowo jadi presiden, keadaan akan kembali seperti zaman Orba?”

“Yang paling kutakutkan, bukanlah kembali kezaman itu. Tetapi rezim baru (Prabowo) nggak akan kalah buruknya dengan Pak Harto. Kenapa? Karena Prabowo (mengakui) melakukan penculikan dan tidak merasa bersalah (karena diperintahkan oleh atasannya). Bayangkan bagaimana otoriter pemerintahan Prabowo seandainya ia berkuasa. Ia tidak akan segan-segan memerintah dengan gaya militer dimana kekerasan, disiplin dan pemaksaan akan diterapkan. Hak azasi manusia dilemparkan ke dalam selokan. Lah, wong masih jadi Letjen saja sudah berani menculik 28 aktivis dan menghilangkan sebagaiannya. Kalau jadi Presiden, ada yang protes/kritik dan menolak sepaham dengan pemerintahan, apa jaminannya ia tidak kembali melakukan kekerasan dan pelanggaran HAM? Karena pribadi Prabowo bukanlah orang yang bisa diajak diskusi dan beramah tamah diplomasi dengan orang-orang yang tak sependapat dengannya. Ia orang militer taktis yang lebih menggunakan serangan langsung. ”

“Bukankan ia yang merangkul Hercules, preman yang berkedok organisasi kepemudaan? Bahkan Prabowo Setuju Kepala Daerah Kerjasama dengan FPI via @detikcom http://de.tk/5GJVJ —-> (FPI adalah organisasi yang sering bertindak anarkis mengatas namakan islam). Sepertinya beliau memang dekat dengan kekerasan dan tidak bermasalah dengan itu.”

“Kalau Prabowo berkuasa, aku pribadi merasa takut. Bila aku bersuara lantang, tidak sepaham, mengkritisi pemerintahan yang bobrok beserta presidennya, aku akan diculik dan menghilang. ”

“Prabowokan cuma mengikuti perintah atasannya?”

“Terlepas dari militer, Prabowo manusiakan? Beragamakan? Punya otak buat mikir? Punya hati nuranikan? Kenapa tidak punya pertimbangan atas hal-hal tersebut sebelum memutuskan mengikuti perintah atasannya? Beliaukan tidak ditodongkan pistol dikepalanya (tidak diancam mati) untuk melakukan itu? Secara Prabowo juga bukan orang sembarangan, mertuanya adalah orang nomor satu di negara ini pada saat itu. Ia bisa saja menolak perintah atasannya, meskipun seandainya ternyata yang nyuruh mertuanya, Soeharto nggak mungkin membunuh menantunya yang tidak mematuhi perintahnya. Kalau cuma mengikuti loyalitas terhadap atasan dan pekerjaan. Artinya beliau cuma mau menyelamatkan bokongnya saja dari atasannya. Padahal ia seharusnya lebih loyal terhadap rakyat, melindungi rakyat. Bukan malah menculik dan menghilangkannya secara paksa. ”

“Yang diculik bukan penjahat, bukan teroris, tidak bersenjata. Mereka hanyalah mahasiswa, aktivis pergerakan dan LSM. Mereka adalah pentolan gerakan rakyat yang menginginkan perubahan bagi Indonesia serta jenuh dengan pemerintahan tangan besi Soeharto. Jadi demi mempertahankan status quo, mereka sengaja dihilangkan agar gerakan rakyat bisa diredam karena kehilangan pemimpin atau karena teror ketakutan akan diculik juga. ”

“Selain itu Prabowo sama sekali tidak memperlihatkan penyesalannya apa lagi menganggap hal ini salah. Yah, kalau menculik dan menghilangkan orang saja dianggap bukan perbuatan salah, hal seekstrim apalagi yang bisa dianggapnya salah?”

Benar dan salah batasannya jelas, nurani. Kalau nurani sudah tidak bisa membedakan hal yang benar dan hal yang salah secara gamblang, apa yang membuatmu masih menjadi manusia?

Prabowo mengakui penculikan dan penghilangan aktivis 98. Ia bersalah (menurut pengadilan militer) dan dipecat secara tidak hormat. Pengadilan militer saja sudah menyatakan beliau salah, apalagi orang awam seperti aku. Beliau tidak pantas dan tidak boleh memimpin negeri ini (amit-amit kalau ia menang pada Pilpres 9 Juli 2014).

“Lalu pemimpin macam apa yang baik untuk Indonesia?”

Rasa takut memang membawa kepatuhan. Tetapi tidak dengan respek, kesetiaan dan cinta. Aku berharap pemimpin selanjutnya orang baik yang bisa mendapatkan rasa hormat, kesetiaan dan cinta dari rakyat. Seorang pemimpin yang tidak berambisi menguasai negeri ini demi kepentingan pribadinya serta kroninya. Pemimpin yang tidak membenarkan kekerasan dan pelanggaran HAM dalam menjalankan roda pemerintahan. Pemimpin yang bisa merangkul seluruh masyarakat tanpa harus sepaham dan tetap mencintai keragaman Indonesia. Pemimpin yang memilih melakukan hal benar meski dalam keadaan sangat sulit serta tidak menyerah untuk melakukan hal yang benar meskipun terlambat. Pemimpin seperti itu yang harusnya kita miliki.

11 thoughts on “Nurani Prabowo Patut Dipertanyakan?

  1. Kayaknya salah baca ya, Prabowo mengakui di DKP dia dapat perintah daftar 6 aktivis yg harus diamankan dr polisi, 3 org “salah tangkap”. 9 org yang ditangkap semua dibebaskan. Dan bohong kalau dalam kondisi tidak baik, Haryanto Taslam, salah satu eks korban yg pasang badan buat prabowo malah dapat dokter dan menu khusus karena dia hipertensi waktu “so-called kidnapping” atau yang dulu disebut penahanan pencegahan itu terjadi.

    Yang diperintahkan untuk “menahan” bukan cuma tim mawar dan prabowo, ada petinggi TNI lain termasuk FT dan W. Jadi, prabowo tidak mungkin bisa menjelaskan 13 orang lainnya ada dimana. Daftar itu bagi masing2 petinggi yg menerima pasti rahasia.

    Begini, “penggebukan” aktivis sudah terjadi mungkin sejak Pak Harto presiden. Yang paling terkenal peristiwa Malari tahun 1974. Tersangkanya Jenderal AM. Prabowo baru lulus AKABRI. Sejak ’80an banyak aktivis hilang, Prabowo masih nganter nyawa di perbatasan TIM2, daerah konflik. Nanti anda bilang salah Prabowo juga. Jadi saya menangkap, bukan Prabowo yg tidak mau ke Mahmil. Tapi di atas 50% petinggi TNI termasuk atasan2nya yg nggak akan mau ada Mahmil.

    “Yang diculik bukan penjahat, bukan teroris, tidak bersenjata. Mereka hanyalah mahasiswa, aktivis pergerakan dan LSM. Mereka adalah pentolan gerakan rakyat yang menginginkan perubahan bagi Indonesia serta jenuh dengan pemerintahan tangan besi Soeharto. Jadi demi mempertahankan status quo, mereka sengaja dihilangkan agar gerakan rakyat bisa diredam karena kehilangan pemimpin atau karena teror ketakutan akan diculik juga. “
    Eh, jangan salah. Naif sekali kalau anda mengatakan begitu. Aktivis2 ini, bisa menciptakan makar, bisa menggerakkan massa, ada bbrp yang merancang bom juga. Pergerakan massa yang tidak terkendali berujung demo anarkis, bentrok fisik dengan aparat dan situasi chaos. Demonstran juga banyak yang menyerang aparat dengan benda tumpul. Dan itu juga berbahaya. Anda pikir: Aparat bukan manusia yang bisa terluka dan berdarah?

    Asal tau saja, AR petinggi parpol itu sudah merancang aksi massa menduduki gedung parlemen saat itu. Digagalkan sama Pabowo dan KZ, diultimatum biar mundur. Nggak kebayang kalo P dan KZ nggak cegah, mungkin sudah tumpah darah lebih awal di Senayan. (walaupun pada akhirnya tetep berhasil diduduki juga) Dan soal penembakan mahasiswa di DPR/MPR itu, peluru yg ditemukan adalah milik Brimob, tapi Bowo juga yang dituduh perintah. Tuduhan lagi. Sampai Bowo datang ke rumah salah satu korban HH, yg org tuanya purnawirawan TNI juga. Mengambil sumpah di bawah Al Qur’an dia TIDAK memerintahkan penembakan tersebut.

    “Terlepas dari militer, Prabowo manusiakan? Beragamakan? Punya otak buat mikir? Punya hati nuranikan? Kenapa tidak punya pertimbangan atas hal-hal tersebut sebelum memutuskan mengikuti perintah atasannya? Beliaukan tidak ditodongkan pistol dikepalanya (tidak diancam mati) untuk melakukan itu? Secara Prabowo juga bukan orang sembarangan, mertuanya adalah orang nomor satu di negara ini pada saat itu. Ia bisa saja menolak perintah atasannya, meskipun seandainya ternyata yang nyuruh mertuanya, Soeharto nggak mungkin membunuh menantunya yang tidak mematuhi perintahnya. Kalau cuma mengikuti loyalitas terhadap atasan dan pekerjaan. Artinya beliau cuma mau menyelamatkan bokongnya saja dari atasannya. Padahal ia seharusnya lebih loyal terhadap rakyat, melindungi rakyat. Bukan malah menculik dan menghilangkannya secara paksa. “

    Pertama, saya sipil anda juga sipil. Tapi biar adil saya kasih sudut pandang militer: setiap ancaman keamanan dan stabilitas negara adalah wewenang TNI untuk menumpas.
    Massa yang sudah chaos akibat provokasi ya tanggung jawab mereka untuk membereskan. Kalau semua tindakan dinilai dengan HAM, mereka tidak bisa menjalankan tugas.

    Lagipula sudah saya jelaskan dia terima 6 tambah 3 “kecelakaan” diculik lalu dibebaskan. Dibanding petinggi lain, ada sumber yang menyebutkan. Prabowo-lah yg paling sering melepaskan aktivis.

    Anda mungkin tidak lihat latar belakang Prabowo. Tau pemberontakan PRRI/Permesta di zaman Soekarno? Itu bukan gerakan separatis. Lebih kepada org2 yang tidak puas akan kebijakan politik dan ekonomi BK yang merapat ke blok timur. Siapa yang mendanai? Prof. Sumitro, begawan ekonomi, bapak Prabowo. Dan tahu apa yang dilakukan pemerintahan BK saat itu terhadap gerakan tersebut? OPERASI MILITER buat menumpas. Perang senjata. Prof. sumitro dkk exile ke luar negeri dengan stigma “pemberontak”. Padahal apa yang beliau ungkapkan betul adanya. BK mulai bersikap diktator dan dekat dengan komunis. BK mulai menyebut diri Sang Pemimpin Besar Revolusi.
    Prabowo hidup exile di LN sebagai predikat anak “buron”. Bahkan sampai masuk AKABRI, TNI masih ada sentimen anti PSI (partai bapaknya Prabowo).

    Itulah aktivis, Pak Mitro dkk berani mati dan berperang demi keyakinan. Jangan mau enak2 provokasi, menciptakan makar, menggiring opini massa, mengganggu stabilitas nasional, tapi ketika dijatuhi sanksi teriak2 HAM.

    Pesan saya; gunakan dua sudut pandang, anda pikir kenapa demo bisa berujung rusuh?
    Karena ada yg menunggangi dan memprovokasi massa jadi anarkis.

    • Mereka yang berdemo itu rakyat juga loh (dan kenapa mereka melakukan demo, pasti ada alasannya seperti ketidakpuasan terhadap pemerintah saat itu). Dan kalau rakyat juga dianggap sebagai ancaman, lalu siapa yang ingin mereka lindungi? Atasan mereka? Orang-orang dipemerintahan yang takut kekuasaannya tercerabut karena gerakan rakyat?
      Anda juga harus lihat keadaan Indonesia pada saat itu, kenapa terjadi demo besar-besaran? Kenapa rakyat dan mahasiswa bersatu dan sampai bisa menduduki gedung mpr/dpr RI? Tanpa gerakan massa besar-besaran itu, nggak akan terjadi reformasi dan penurunan Soeharto. Nggak akan ada perubahan berarti bagi rakyat.

      • “Mereka yang berdemo itu rakyat juga loh (dan kenapa mereka melakukan demo, pasti ada alasannya seperti ketidakpuasan terhadap pemerintah saat itu). Dan kalau rakyat juga dianggap sebagai ancaman, lalu siapa yang ingin mereka lindungi? Atasan mereka? Orang-orang dipemerintahan yang takut kekuasaannya tercerabut karena gerakan rakyat?”

        Makanya saya katakan anda terlalu naif. Demonstrasi besar-besaran saat itu tidak bisa dikatakan sepenuhnya keinginan rakyat. Aktivis mahasiswa, ormas-ormas dan tokoh-tokoh pro reformasi yang menggalang massa, dan memprovokasi terjadinya demo besar-besaran. Bukan hanya demo. Massa juga dikerahkan untuk menjarah dan membakar. Juga menyerang aparat, Maka terjadilah chaos. Bahkan ada sumber menyebutkan provokator penjarah ini bekerja dengan sistematis, juga merancang bom molotov. Banyak sumber yang menduga ini ikut dirancang pula oleh pihak asing.

        Dengan kata lain:people power ini memang dirancang berdarah-darah, dan Prabowo di plot sebagai kambing hitam.

        Pemecatan prabowo dari militer juga terkesan simbolis, karena dia menantu Suharto. Menghabisi dia berarti menghabisi Orba. Nyatanya nonsense. Masih banyak pihak-pihak yang bertanggung jawab melenggang sampai sekarang.

      • Ah, anda terlalu banyak mengkhayal kalau bilang ‘people power ini memang dirancang berdarah-darah, dan Prabowo di plot sebagai kambing hitam’. Reformasi tahun 98 terjadi karena rakyat sudah jenuh dengan pemerintahan 30 tahun lebih oleh Soeharto sama kayak yang terjadi di Libya, Mesir. Rakyat muak dengan tiran yang pada akhirnya tidak lagi berpihak dengan kepentingan rakyat dan hanya mementingkan keberlangsungan kekuasaannya saja.

        Prabowo itu salah memberikan kesetiaannya. Kalau memang ada pelaku lain, kenapa beliau nggak koar-koar dan menyebutkan satu-satu? Bukannya dia hebat, jujur, tegas dan kuat? Kok malah merasa jadi korban. Yang jadi korban tuh ibu-ibu kamisan sampai sekarang.

  2. Oia, temen baik Bowo salah satunya Soe Hok Gie (alm) cek aja. Ada sumbernya, google aja. Bowo juga pendiri LSM pertama di Indonesia namanya Lembaga Pembangunan waktu belum masuk AKABRI. Hal ini dibenarkan aktivis Jusuf AR dan wartawan senior Aristides Katoppo (dia menyebut Bowo sebagai pihak yg dipersalahkan atas tragedi 98).

    Fakta juga bahwa Bowo dekat dengan aktivis pro reformasi seperti AR dan (alm) GD.

    Jadi baiknya pelajari dulu sebelum nge-judge. Habibie aja yang tadinya nuduh bowo mau kudeta dia atas bisikan Wiranto, ngajak Bowo baikan. Habibie yang mengundang Bowo makan di rumah, di Jerman. Cek di google ada buktinya.

    • Fakta bahwa Bowo berteman dengan Dalai lama, Bunda Theresa atau Yesus sekalipun nggak akan membuat stigma bahwa penculikan adalah hal yang bisa dibenarkan. Dengan alasan apapun juga.🙂

  3. Anda mengaburkan esensi hal-hal yang saya sampaikan. “Penculikan tidak dibenarkan dengan alasan apapun”
    Lalu? Apa yang harus dilakukan aparat untuk mengamankan aktivis yang menciptakan makar berbahaya?
    Lalu? Apa yang harus dilakukan aparat saat demonstrasi mulai anarkis?
    Bagaimana kalau situasi sudah terlanjur chaos karena massa ditunggangi pihak-pihak tertentu yang menginginkan hal tersebut?

    Anda bertahan dengan kata penculikan tapi tidak mengerti sedikitpun tentang “so called kidnapping” tersebut? Lucu sekali.

    Catatan: saya tidak membenarkan penculikan, tapi saya menolak menyalahkan pihak yang telah mengambil resiko bertanggung jawab atas kesalahan seluruh instansi dan atasannya. Dalam hal ini Prabowo.

    Perlu diingat: Perintahnya tidak sekedar culik.

    Penculikan pada masa itu adalah penahanan pencegahan. Sesuatu yang dimungkinkan akibat kewenangan Soeharto yang tidak terbatas. Penghilangan aktivis di masa2 pendahulu Prabowo jauh lebih parah. Anda tahu Petrus (penembakan misterius) dan siapa dalangnya? Peristiwa Malari? Peristiwa Tanjung Priok? Nanti anda bilang Prabowo lagi? *Ngakak*

    Makanya pahami dulu sejarah militer pada masa OrBa, anda akan paham.

    Rekomendasi Tim Ad Hoc Komnas HAM tahun 2006, sudah menjawab itu. Bahwa penculikan adalah operasi besar gabungan Militer-Polri. Kopassus sudah bertanggung jawab melepas semua tawanan, dan menerima detensi, Sedangkan tim lain yg “diduga” menghilangkan nyawa justru tidak tersentuh hukum sama sekali.

    Tragedi 1998 bukan soal penculikan dan hati nurani. Kalo penilaian anda sedangkal itu, anda jelas tidak mau mempelajari fakta sejarah dan memilih menyerang pribadi orang tanpa dasar.

    Saya nggak bawa2 Tuhan ya. Saya bicara kejadian berdasarkan data, fakta dan temuan. Kalau anda mau berargumen, yang logis.

    Saran saya, Anda harus menguasai data dan fakta dari pemaparan tulisan anda.

    • Ada banyak cara untuk menangani masalah demonstasri/gerakan massal dan tidak dengan cara kekerasan (apalagi sampai mengangkangi kemerdekaan orang lain. Berpikir, berbicara dan memilih adalah kebebasan yang dimiliki tiap orang sejak lahir) tanpa tapi hanya tiranlah yang takut dengan rakyatnya sendiri sampai memberangus gerakan sekecil apapun (takut dimakar sehingga kehilangan kekuasaannya). Dan seperti yang anda bilang, Prabowo adalah bagian dari tiran Orba ini. Entah sebagai pemain besar atau kecil, ia tetap bersalah karena menjadi pelaku. Salah ya salah, nggak mungkin bisa berubah jadi benar meski tidak menjalani hukuman. Maka dari itu hal yang membedakan cuma nurani aja.

  4. Bnar apa kata sekarangnamanyaASN…sharusnya anda mencantumkan 2 sudut pandang…tidak bisa anda menyudutkan prabowo bgitu saja…jngan2 anda nih relawan bayarannya jokowi ya ? Yg sengaja ingin menciptakan opini buruk untuk pasangan prabowo~hatta ya ? Sehingga masyarakat mau memilih pasangan jokowi~jk…seharusnya anda bisa netral dan seimbang memberitakannya ni…disamping mencantumkan sisi negatifnya pak prabowo bgitu juga hrus mencantumkan sisi positifnya…k’lo perlu juga untuk jokowi~jk juga…biar masyarakat bisa menilai dengan baik…

    • Mas, saya nggak dibayar buat bela-belain jokowi (tapi kalau dibayar, mungkin saya juga mau. He3x). Kan udah banyak juga yang jelek-jelekin jokowi, bilang dia ini dan itu. Tapi sejelek-jeleknya jokowi, doi nggak pernah tuh sampai melanggar hak azasi manusia (nyulik, bunuh dll).🙂

      Menciptakan opini buruk buat prabowo? Nah itu baru lucu. :)) saya cuma mengingatkan karena apa yang saya tulis ada fakta-faktanya, bahwa prabowo memang mengakui penculikan tersebut meski menurutnya itu perintah atasannya. Terlepas prabowo disuruh atau enggak, dia bukan korbannya loh, dia pelaku juga. Yang jadi korban itu, ibu-ibu kamisan di depan istana negara kita. Coba pikirkan itu.

  5. hahaha… intinya jangan pilih orang pandai bersandiwara baik tu dia jadi antagonis maupun protagonis, apalagi ampe akting nyemplung got! mending nyoblos yonasukmalara aja timbang yang lain…. hehe…. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s