Takdir yang Tak Berpihak

Jadi, apakah inilah saatnya? Dimana kita bertemu, bertatapan satu sama lain namun tidak saling menyapa. Berselisihan jalan dan bersikap seperti tak saling mengenal.

Aku masih sakit serta masih berdebar hanya dengan melihatmu. Apa hanya aku yang seperti itu? Dan engkau sudah tak rasakan hal yang sama.

Tercekik oleh tali yang bernama kerinduan, membuatku sekarat. Hidup yang kujalani lebih menyedihkan dari pada mati. Aku berantakan, terjatuh dan kembali terjatuh karenamu. Kamu adalah duniaku dan seluruh semestaku berputar untukmu. Jadi semestinya kamu pun menyadari bahwa tanpamu, aku bukan apa-apa.

Lalu bisakah ini disebut perpisahan, bila kuyakin kita masih memegang erat-erat perasaan yang membuat kita satu. Mengapa tidak ada jalan bagi kita untuk kembali, bila masa depan tak pernah ada bagi aku dan kamu.

Kau tahu apa yang membuatku bertahan hingga saat ini? Aku merapal mantra “aku mencintaimu! ” berulang-ulang, ribuan kali. Tak apa kita tak bisa bersama asal kau baik-baik saja dan aku masih bisa melihatmu sesekali. Tak apa aku tak bisa menyentuhmu, menjadikanmu milikku, yang penting kau masih bisa tersenyum meski tanpa aku disisimu lagi.

Seperti itulah aku memilih untuk bertahan. Berpisah hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang saling tidak cinta lagi, lalu kita apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s