Karena Nyeri Itu Setiap Hari Bukan Lima Tahun Sekali

Pelanggaran HAM akan selalu menjadi kerikil dalam sepatu bagi seorang Prabowo Subianto. Sampai batas tertentu, boleh-boleh saja Prabowo merasa kesal dan mendamprat lawan-lawan politiknya yang telah mempolitisasi isu HAM untuk kepentingan politik praktis pemilihan presiden.

Tentu saja benar jika ada anggapan bahwa teriakan tentang HAM terdengar lebih nyaring menjelang pemilihan presiden. Ini soal momentum: ada kalanya perlawanan dilakukan dengan hening, ada kalanya perlawanan digerakkan dengan gegap gempita.

Saat seseorang yang tersangkut kasus pelanggaran HAM tinggal satu tangga lagi untuk menjadi penguasa, memangnya apa yang harus dilakukan oleh keluarga yang kerabatnya pernah menjadi korban pelanggaran HAM? Diam?

Soalnya sederhana saja: jika orang-orang yang tersangkut dengan kasus-kasus pelanggaran HAM belum berkuasa saja kasus-kasus HAM di masa lalu tidak terungkap, apalagi jika orang-orang tersebut kelak berkuasa? Ini kecemasan yang sangat masuk akal. Sukar diterima akal sehat jika ada orang yang tidak bisa memahami kecemasan seperti ini.

Ini jelas “kampanye negatif” bagi Prabowo, tapi karena ini faktual maka jelas juga ini bukan fitnah, bukan pula kampanye hitam. Ada beda yang terang antara kampanye negatif dengan fitnah apalagi kampanye hitam. Karena Prabowo tersangkut pelanggaran HAM itu memang faktual, dan itulah sebabnya dia diberhentikan dari militer oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP).

Andai pun tidak ada kasus-kasus HAM di masa lalu yang belum terungkap, andai saja tidak ada orang-orang hilang yang belum kembali, andai saja Prabowo tak maju sebagai calon presiden, isu HAM tetap relevan dibicarakan untuk memastikan presiden terpilih punya sikap yang jelas dan terang benderang tentang hak hidup, hak beribadat sesuai keyakinan, hak untuk tidak diintimidasi dan tidak ditakut-takuti.

Ingat, Pansus Orang Hilang DPR-RI pada 2009 lalu sudah merekomendasikan beberapa hal, salah duanya adalah pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc dan merekomendasikan agar Presiden serta segenap institusi pemerintah serta pihak-pihak terkait untuk segera melakukan pencarian terhadap 13 orang yang oleh Komnas HAM masih dinyatakan hilang.

Dua hal itu belum terlihat dilakukan secara serius oleh pemerintahan SBY. Pengadilan HAM ad-hoc entah bagaimana nasibnya. Pencarian yang serius dan masif terkait nasib 13 orang yang belum kembali juga tak pernah dilakukan. Maka menjadi penting untuk memastikan presiden terpilih mau secara serius melakukan dua hal itu.

Dan ini bukan permintaan partai, tapi rekomendasi parlemen. Jadi bicara tentang pengadilan HAM ad-hoc dan mencari 13 orang yang hilang itu bukanlah lagu lama yang terus menerus diputar, karena lagunya bahkan belum disetel sama sekali.

Hari-hari belakangan ini, argumen semacam “rakyat tidak butuh HAM karena rakyat lebih butuh sembako” makin sering terdengar. Dalam kerangka argumentasi macam itu, sering kita dengar ucapan bahwa orang-orang yang sudah telanjur mati dan hilang jangan sampai menghalangi upaya memperbaiki masa depan bangsa.

Mengurus 200 juta rakyat, dalam argumen seperti itu, sering dianggap lebih penting daripada mengurusi apa yang sudah telanjur terjadi – termasuk “segelintir” nyawa (13 orang) yang sudah telanjur entah di mana dan ke mana.

Saya enggan percaya dengan model argumentasi macam itu. Karena hanya perlu membaca biografi para diktator dunia (dari Soeharto, Hitler, Pol Pot, Idi Amin, Stalin, dll) untuk paham betapa jargon “demi kejayaan negara”, “demi kesejahteraan rakyat”, “demi harga diri bangsa” seringkali hanyalah dalih untuk menutupi perilaku despotik dan sewenang-wenang.

Siapapun tak bisa berbusa-busa bicara tentang visi misi pendidikan dan kesehatan gratis jika untuk soal mendasar (jaminan untuk tak diambil paksa, diculik dan ditembak di luar hukum dan dengan sewenang-wenang) tak bisa dipenuhi.

Untuk apa imunisasi gratis jika setelah dewasa nyawa seorang anak bisa diambil dengan percuma? Untuk apa pendidikan gratis jika setelah seorang anak jadi cerdas dan lantas mengambil sikap kritis lalu bisa diambil begitu saja dengan alasan mengganggu ketertiban dan mengganggu Sidang Umum MPR? Untuk apa lapangan kerja jika setelah bersusah payah membangun rumah hasil bekerja sekian lama akhirnya harus terusir hanya karena keyakinan yang berbeda?

Lagi pula, pernyataan bahwa HAM tak lebih dari “isu yang digoreng lima tahun sekali” hanyalah dalih yang mencoba menutupi apa yang terjadi pada hari-hari biasa ketika tak ada pemilu atau pemilihan presiden.

Kepada mereka yang menganggap perkara HAM sebagai “isu yang digoreng lima tahun sekali”, kalian hanya perlu untuk mencari tahu apa yang terjadi setiap hari Kamis sore di depan Istana Presiden di Jalan Merdeka Utara. Kelak jika pemilihan presiden yang riuh rendah ini sudah selesai, tengoklah ibu-ibu yang berdiri di sana, lihatlah mereka yang berdiri dalam diam sembari mengenakan pakaian hitam dan payung hitam, pada setiap Kamis sore.

Kalian boleh datang akhir Juli, boleh menengok akhir Agustus, boleh menjenguk akhir 2014 atau awal 2014. Kapan saja kalian sempat. Pokoknya kalian tengok, deh, bagusnya setelah pemilihan presiden, agar tak sembarangan melecehkan perjuangan orang-orang yang menuntut kejelasan nasib orang-orang terkasih yang hilang, mati, dan diperkosa sebagai “isu yang digoreng lima tahun sekali”.

Untuk diketahui, mereka sudah berdiri setiap Kamis sore di depan Istana Negara sejak 18 Januari 2007. Mereka melakukannya setiap pekan, setiap bulan, setiap tahun. Tanpa putus. Tanpa jeda. Setiap Kamis sore. Sekali lagi: setiap Kamis sore.

Kepada yang berdalih kenapa isu HAM tidak diangkat saat Prabowo berpasangan dengan Megawati dalam pemilihan presiden 2009, dalih itu sangat pas ditujukan kepada para politisi PDIP atau pendompleng wacana HAM yang baru bicara soal ini karena berkepentingan dengan pemilihan presiden 2014.

Silakan kalian sorongkan cermin kepada mereka-mereka yang tebang pilih itu. Termasuk pada Megawati yang masih memberi tempat terhormat pada Hendropriyono yang namanya tak bisa dilupakan begitu saja dalam insiden pembantaian di Talangsari. [Jika karena esai ini saya dianggap mempraktikkan tebang pilih, silakan baca esai saya sebelumnya, PDIP dan Politik Ingatan https://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/pdip-dan-perkara–politik-ingatan-062104678.html%5D

Tapi dalih kalian tidak pernah bisa ditodongkan kepada mereka yang berdiri di depan Istana Negara setiap Kamis sore. Asal kalian tahu, mereka tetap berdiri di sana di hari-hari menjelang pemilihan presiden 2009 ketika Prabowo maju sebagai calon wakil presiden berpasangan dengan Megawati. Dan itulah kenapa Megawati dihukum kalah telak dari SBY pada pemilihan presiden 2009.

Tuduhan bahwa mereka diam saat Megawati menggandeng Prabowo pada 2009 sama sekali tak berdasar. Mereka, termasuk Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi), saat itu mengedarkan pernyataan sikap meminta publik untuk tidak memilih caleg, parpol dan capres/cawapres pelaku pelanggar HAM, pelindung pelanggar HAM, atau yang tidak punya agenda HAM.

Betapa tak berperasaannya mulut yang dengan entengnya meledek aksi-aksi menuntut keadilan itu sebagai “orang-orang yang belum move-on”. Kalian kira berdiri setiap Kamis sore di depan istana selama hampir 8 tahun itu seperti ABG-ABG yang meratap-ratap karena ditinggal pacar yang selingkuh dengan anak kelas sebelah?

Siapa yang sanggup melakukan aksi yang sama terus menerus selama 8 tahun? Hanya cinta yang begitu kuat dan dalam yang sanggup menyuplai energi tak terperi sehingga mereka bisa terus melakukannya.

Dan mereka, ibu-ibu dengan pakaian dan payung hitam itu, akan tetap berdiri di depan Istana Negara. Jokowi sekali pun, andai dia akhirnya yang menjadi presiden dan terbukti tak serius menegakkan rasa keadilan, akan tetap “diganggu” oleh pemandangan pakaian dan payung hitam tiap kali menengok ke halaman istana pada Kamis sore.

Karena untuk sebuah cinta yang dalam, kehilangan akan selalu aktual. Karena untuk kerinduan yang menahun, kehilangan tak akan pernah basi (seperti yang pernah dikatakan Ahok saat membela bos di partainya). Hilangnya boleh tahun 1975 atau 1998, tapi nyerinya bisa datang kapan saja sampai entah.

Bagi mereka yang kehilangan orang-orang tercinta karena kekerasan yang dilakukan negara dan aparatusnya, HAM bukanlah pasal-pasal dalam konstitusi atau kalimat-kalimat indah nan bersayap dalam sebait puisi. Bagi mereka, HAM adalah sesuatu yang konkrit dan sehari-hari.

HAM adalah ketika bangun pagi dan mendapati kamar anak tercinta masih kosong tak berpenghuni. HAM adalah isak sedih dalam hati saat menatap foto suami yang sudah mati. HAM adalah mulut yang diam terkunci tiap kali ada anak bertanya: Bu, bapak kapan pulang?

Untuk setiap perasaan rindu pada keadilan, akan selalu ada Kamis sore nan hitam di depan Istana Negara. Setiap Kamis sore, setiap Kamis sore.

Esai oleh Zen. RS alamat link asli https://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/karena-nyeri-itu-setiap-hari-bukan-lima-tahun-sekali-075850029.html

Advertisements

I’m Sorry and I Love You

“Sendirian — di ruang tertutup, — tidak ada saksi dan cctv. Fiuh! Pembunuhan sempurna. ”

Hanya ada Farah disini, gadis usia sembilan belas tahun tanpa nama belakang keluarga, cantik dengan darah Asia yang kental. Mata dan rambut hitam berkilat-kilat bagai mutiara hitam serta kulit berwarna yang halus.

Ia sedang berdiri di depan rak buku, dengan wajah menoleh, terpaku pada pemuda berwajah khas aristokrat bangsawan dengan mata tajam menusuk, Crescent Frost. Yang entah kapan sudah berada di dalam ruangan ini dan mengawasinya dalam diam.

Gadis itu tercekat di bawah tatapan pemuda Frost, menelan air ludahnya karena untuk sesaat tekanan yang ia terima membuat tenggorokannya kering bagai gurun pasir. Gemetar kedua belah tangannya memegang sebuah buku, yang baru saja ia ambil dari rak yang paling atas.

“Halo, Farah. ”

Frost mendekatinya dengan langkah ringan dan hati-hati seperti macan kumbang telah menyudutkan mangsanya yang gemetar ketakutan, pasrah menunggu maut.

Gadis itu hanya diam dengan wajah memucat. Bahkan ketika tubuh tinggi atletis Frost melingkupinya dengan kedua lengan di kiri dan kanan sisi kepala gadis itu.

Farah dapat merasakan panas yang terpancar dari tubuh pemuda Frost, juga bau cendana bercampur citrus yang membaur bersama udara di sekitar pemuda ini. Frost merapatkan tubuhnya pada bagian belakang tubuh sang gadis, hingga punggung Farah menempel pada perutnya.

Frost menunduk. Menyesap wangi buah yang terpancar dari rambut si gadis yang disanggul acak-acakan, memamerkan tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus kasat mata. Pemuda Frost mendesah karena harus menahan hasratnya, melabuhkan bibir dan lidah kasarnya pada kulit yang terpampang di hadapannya.

Ia memejamkan mata dengan jakun yang naik turun karena gairah.

“Sial. ” Geramnya dengan suara rendah.

“Apa yang harus kulakukan padamu?” Sambungnya putus asa.

Bahkan tanpa menyentuhmu, aku sudah sangat —- tidak terkontrol. Dan aku membenci keadaan ini.

“Bi — biarkan a-aku pergi. ” Pinta gadis itu yang mempunyai suara jernih, bagai kanak-kanak.

Kegugupannya malah membuat ia tampak lugu dan rapuh dimata pemuda ini. Semakin membangkitkan keinginan mendominasi sang pemuda.

“Tidak. ” Frost menggeleng. “Kau tidak tahu betapa lama aku menantikan kesempatan ini, dimana kau sendirian dan aku menyudutkanmu seperti ini. ”

“Apa yang mungkin terjadi dalam posisi ini, sayang?”

Gemetar tubuh sang gadis makin menjadi. Ia jelas ketakutan dengan perilaku mengintimidasi pemuda Frost. Dan kenyataan itu membuat pemuda Frost bersemangat dan bahagia, bahwa keberadaannya selalu begitu mempengaruhi si gadis cantik.

“Ku — kumohon. ” Bisik si cantik.

“Kumohon apa?” Balas si pemuda ikut berbisik di telinga sang gadis.

” —- biarkan aku pergi. ”

Pemuda Frost tertawa tanpa suara, sebuah seringai menghiasi wajah tampannya. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Farah, menghembuskan napas panas dan berbisik.

“Dengan sebuah ciuman, aku akan melepaskanmu. ”

Si gadis memejamkan matanya. Ia sudah menduga perkataan sang pemuda Frost namun tetap saja merasa terkejut dengannya.

“To — tolong, ja-jangan seperti ini. ”

Pemuda Frost kembali tertawa mendengar suara si gadis yang seperti ingin menangis. Mengganggu Farah dan membuatnya ketakutan adalah kesenangan bagi Crescent Frost.

“Kupikir, aku nggak bisa berhenti ganggu kamu sampai kapanpun. Kenapa yah?”

Kau tidak akan mengerti, tapi — suatu hari aku akan membuatmu memakai nama keluargaku dibelakang nama itu. Farah Frost. Dan ketika saat itu tiba, kau akan menjadi milikku selama-lamanya, janjinya penuh rasa percaya diri.

Si gadis membeku di tempatnya berdiri. Walau sudah tak dapat merasakan lagi kakinya yang seperti menjadi agar-agar. Ia takut setelah mendengarkan seperti ada ancaman tersembunyi dari perkataan pemuda itu, karena menyadari itu keputusan yang pasti akan dilakukan Frost.

“Mengapa? Aku salah apa padamu? ”

Crescent menggeram, melihat ekspresi wajah gadis itu yang tak berdaya. Dimatanya Farah tampak begitu lezat dan ia harus menahan diri untuk tidak runtuh dengan desakan gelora sebagai lelaki muda.

Sial. Dia membuatnya jauh lebih sulit.

Sebelah lengannya melingkari bahu dan leher si gadis, menariknya erat dalam pelukannya tanpa celah. Pemuda Frost menarik gulungan rambut Farah dan menguburkan hidungnya disana.

Tubuh gadis ini tepat dalam pelukannya. Bau khas yang selalu menyertai Farah, selalu memabukkan baginya. Dan keberadaan sang gadis selalu dan selalu saja, menimbulkan perasaan asing bagi dirinya, keinginan untuk mempermainkan dan menguasai gadis ini seutuhnya, tanpa berbagi pada dunia.

“Bagaimana kalau kubilang, jawabannya tidak akan memuaskanmu, cantik. ” Ujarnya dengan suara serak dan rendah.

Crescent mengusap lengan Farah yang dibalut katun tipis. Ia masih dapat merasakan kulit si gadis yang merinding di bawah telapak tangannya. Sebuah seringai kembali meluncur dibibirnya.

“Be ready, Farah. ”

¤¤¤¤

“Kamu tahu apa yang paling bodoh?”

Crescent menatap Luna dengan pandangan bosan. Tetapi wanita yang lebih tua 5 tahun dari dirinya ini tidak terpengaruh. Kalau ada perempuan yang tidak bisa ia intimidasi selain ibunya, satu-satunya adalah wanita tersebut.

“Apa?” Ia menaikkan alis, sekedar ingin memuaskan rasa superior kakak perempuannya.

“Berpura-pura jahat dan mengganggu gadis yang kau sukai, seperti anak TK saja. ”

Luna terkekeh dengan wajah menghina.

Crescent mendengus kesal namun telinganya tampak merah padam.

Kakak perempuannya adalah wanita yang cantik, cerdas dan paling keras kepala yang pernah ia temui. Walau pun selalu bersikap menyebalkan, sesungguhnya ia sangat menyayangi adik lelakinya ini, sama seperti kedua orang tua mereka yang terlalu memanjakan Crescent. Maka tidak aneh kalau akhirnya pria ini tumbuh jadi sosok egois yang selalu melakukan hal yang diinginkannya.

“Kau sebenarnya mau memberikanku alamatnya tidak? Aku sibuk dan ini masih jam kantor. ” Gerutu pria yang menjabat sebagai kepala bagian perencana proyek di Frost Enterprise selama satu tahun belakangan ini.

Wanita cantik yang bekerja dibagian legal perusahaan ini menyeringai. Tidak akan semudah itu berurusan dengan Luna. Bila ada kesempatan untuk membuat Crescent merasa sengsara, ia akan berada di daftar paling atas.

Luna duduk di kursi kerjanya dan ekspresi wajahnya tampak puas, melihat kekesalan adiknya.

“Ini tidak gratis loh. ”

“Aku tahu. ” Geram Crescent sambil menunduk di atas meja kayu mahoni, yang memisahkan tubuh kakak beradik ini.

“Apa yang akan kau lakukan setelah mendapatkan informasi ini?’

“Bukan urusanmu. ” Sergah pria ini kesal.

“Well, —- ” Luna kembali menyeringai jahat “Aku harus tahu, karena gara-gara kelakuan bodoh adikku, seorang gadis menghabiskan masa mudanya dalam ketakutan dan terkucilkan. Menghilang sesaat usai wisuda dan hidup tanpa interaksi sosial serta masih menjalani terapi kejiwaan. Aku wajib tahu. ”

Pria ini mengusap rambut cokelatnya yang berpotongan mahal, gusar setelah mendengar pernyataan kakaknya yang menyudutkannya, hingga ke tepi.

“Dia hidup seperti itu? ” Tanyanya tercekat, ada sesuatu yang nyata menusuk-nusuk batinnya.

“Ya. Dan kalau kau mencoba muncul dihadapannya, aku takut dia akan menghilang lagi. ”

Crescent tampak kembali terpukul. Bahunya jatuh dan hal tersebut tidak sesuai dengan kepribadiannya selama ini.

Selama 5 tahun aku mencarinya seperti orang gila dan akhirnya mengetahui keberadaannya tetapi kenyataan bahwa keadaannya menjadi seperti ini karena kesalahanku, membuatku merasa menjadi sampah.

Untuk pertama kali, Luna merasa terenyuh melihat raut wajah adik lelakinya. Adiknya tampak seperti sedang disiksa oleh api neraka. Crescent tidak pernah tampak seperti ini untuk urusan apapun bahkan oleh pekerjaan yang sangat ia cintai. Hanya sekali saja ia tampak begitu terpukul, saat usai wisuda dan Luna baru mengetahui alasannya beberapa hari lalu.

Crescent menyukai seorang perempuan di kelasnya sejak usia 6 tahun namun selalu mengganggunya bahkan hingga mereka melanjutkan kuliah di Saint Michael. Gadis itu yatim piatu dari panti asuhan dan penerima beasiswa penuh. Adikknya mengganggu gadis itu bahkan nyaris sepanjang hidup gadis itu, membuatnya sengsara di sekolah bahkan kampus. Pantas saja akhirnya Farah trauma dan memerlukan konseling.

Luna menggelengkan kepala, membayangkan hal-hal jahat apa yang dilakukan Crescent sampai gadis itu menjadi pribadi yang anti sosial. Farah tidak punya teman, dan melakukan pekerjaan yang tidak mengharuskannya keluar rumah. Ia seorang penulis, penerjemah buku dan editor handal dari sebuah penerbitan besar.

“Aku menyesal. ” Ucap Crescent dengan mata abu-abunya yang bersinar sendu.

Aku ingin bilang aku salah dan meminta maaf. Aku ingin bilang, sudah lama aku menyukainya — serta masih, menyukainya.

“Kau yakin hanya ingin mengatakan itu?” Kali ini nada suara kakak perempuannya melembut.

Crescent menatap balik mata abu-abu besar yang dibingkai bulu mata lentik milik Luna Frost, yang sejak 3 tahun lalu telah berganti nama menjadi Luna Khan semenjak menikah dengan Ibrahimovic Khan.

Luna menyentuh tangan adiknya dan meremasnya lembut, seolah memberikan dorongan pada lelaki ini.

“Kalau bisa — aku ingin mendapat kesempatan untuk memulai lagi, dengan awal yang baik. ”

Ia mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh dan Luna menyadari tekad yang tersembunyi dibalik nada suara tegasnya. Luna tersenyum tulus, menyemangatinya.

¤¤¤¤

“Hai, apa kabar?”

Crescent memasang senyum terbaik diwajahnya.

“Halo, Farah. Lama tidak bertemu. ”

Ia menggeleng.

“Kau terlihat baik. Bagaimana kabarmu?”

Ia mendesah, kecewa.

Huh. Ini tidak akan berjalan dengan baik. Aku bahkan tidak tahu cara untuk menyapanya.

Crescent menghempaskan punggungnya pada sofa empuk, coffee shop tempat ia janjian bertemu. Sudah satu jam lamanya ia disini, menunggu. Bukan karena orang yang ingin ia temui datang terlambat namun si pemuda Frost yang memang terlalu cepat tiba di tempat ini.

Ia menarik napas panjang tetapi gelisah yang dirasakannya tidak juga menghilang. Gugup juga tidak pernah kehilangan percaya diri seperti ini.

Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, melalui perantara juga beberapa puluh kali telefon yang ditolak, sang pemuda Frost berhasil membuat Farah mau menemuinya.

Ketika gadis itu mengajukan beberapa syarat, Crescent langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang.

Pertama, mereka bertemu di tempat umum dan harus ramai. Gerai kopi ini menjadi pilihan pertama yang ia ajukan. Kedua, Farah membawa seorang teman. Meski tidak nyaman, Crescent Frost menerima persayaratannya.

Dan kini, ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.

Kling.

Terdengar bel yang diletakkan di pintuh berdenting, tanda seseorang baru saja masuk atau akan keluar dari toko ini. Frost menoleh ke arah pintu dan langsung terkejut.

Farah berdiri disana. Ada seorang wanita lain yang berdiri di belakangnya dan gadis itu bergumam padanya.

Crescent menatap lekat pada gadis yang sangat ingin ia temui.

Farah semakin cantik. Rambut hitamnya yang lurus, tergerai melambai. Wajahnya tetap jelita meski tanpa polesan make up. Dan ia tampak sesuai meski hanya mengenakan pakaian kasual.

Ia berjalan lurus ke arah Crescent. Dan pria ini dengan gugup bangkit dari duduknya.

Keduanya berhadapan dan sama-sama tidak mengatakan apapun. Berdiri dengan canggung meski dari raut wajahnya Farah tampak bertekad membuat ini tidak mudah.

“Kehilangan lidahmu?” Nada gadis itu tajam meski suaranya terdengar jernih dan kekanak-kanakan.

Pria itu tertegun.

Farah menatapnya dengan keberanian, yang selama ini tidak pernah ia punya untuk melawan pemuda Frost yang selama ini berhasil membuat hidupnya tertekan.

Ia sudah berbeda. Bukan lagi gadis yatim piatu lemah yang tidak bisa membela diri. Bahkan saat ini Farah bisa saja menyakiti Crescent secara fisik berkat latihan martial yang belakangan tekun ia pelajari.

Aku harus mengatakan sesuatu. Tapi apa?

Mereka masih saling bertatapan dan gadis itu tampak seperti menilai apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Crescent Frost tiba-tiba takut bila Farah memutuskan untuk pergi setelah dia tak mengatakan apa-apa padanya.

Sial.

“I’m sorry and I love you. ”

Double shit.

Apa yang kulakukan? Aku berteriak padanya? Dan —- apa yang telah kukatakan?

Tuhan, aku kacau. Ratap pria ini nyaris menangis.

Frost berjengkit, melihat campuran ekspresi Farah yang tercengang dan bagai baru saja disiram air dingin.

Gadis itu masih terpaku di tempat ia berdiri. Dan Crescent berkeringat dalam setelan pakaian resminya, menunggu apapun yang akan dilakukan Farah padanya.

Lalu alis gadis itu berkerut dan ia berkata :

“Aneh. ”

Farah berbalik meninggalkan Crescent, seolah yang baru saja pria ini lakukan adalah lelucon buruk. Dan ia memutuskan untuk tidak ikut terlibat dengannya.

Sesaat sebelum pintu mengayun menutup, sang gadis bergumam pelan namun Crescent dapat membaca gerak bibirnya.

“Dasar bodoh. ” Ucap Farah, ada sebuah senyum kecil di bibirnya.

Sebuah senyum kecil yang tampak tidak mengancam. Yang cukup membuat harapan dibenak Crescent kembali tumbuh dengan subur. Semoga.

The Girl Who Stole Your Breath!

“Kau?! ” Pekik Cara terkejut.

Gadis dengan rambut pirang dan mata cokelat keemasan ini berdiri kaku dengan pandangan membulat pada satu orang.

Sungguh tidak menyangka kehadiran pria dengan rambut gelap yang berdiri dihadapannya beserta seringai licik diwajah tampannya. Yang justru malah membuat ia tampak berbahaya serta menarik.

“Apa yang kau laku —– Aaakh!” Jeritnya tertahan karena tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

Dengan langkah tegas pemuda itu maju, meraih pinggang ramping Cara dan telah mengangkat gadis itu. Menaruh bobot tubuhnya pada bahu kirinya dan membawa Cara keluar dari ruangan loker karyawan yang sepi ini.

Kejadian tersebut begitu cepat hingga tidak ada yang menyadari selain memang di tempat ini sedang tak ada siapapun.

“Adrian, apa ini?” Teriaknya dengan wajah horor.

“Turunkan aku. Apa yang sedang kau lakukan?”

Cara menyentakkan tubuhnya, gusar. Ia menjerit dengan wajah merah padam. Malu dan juga marah. Dengan keadaan tak berdaya, ia hanya bisa memaki pria yang kini memondongnya seolah tak berbobot berat.

Bruk.

Adrian menjatuhkan Cara ke kursi penumpang, membuatnya mengaduh saat bokongnya terhempas pada jok kulit.

Gadis itu menatapnya kesal dengan mata berapi-api. Namun kemarahannya tidak menyurutkan senyuman puas diwajah sang pria.

“Apa yang kau lakukan?”

“Menjemputmu. ”

Cara nyaris meledak diantara rasa kesal juga marah.

“Apa yang membuatmu yakin aku ingin ikut denganmu, Adrian Carver?”

Adrian tersenyum melihat bola mata cokelat keemasan yang kini menatapnya dengan kesadaran penuh.

Cara mencoba bangkit dan keluar dari mobil Sport SUV Audi hitam pria ini. Namun dengan tangan kirinya, Adrian mudah saja mendorong gadis itu kembali, jatuh terduduk di jok penumpang dengan tidak rela.

“Jangan coba-coba, Cara. ”

“Aku akan kembali memanggulmu dan melemparkanmu kembali ke kursi. Tanpa lelah. ” Ucapnya tenang namun tersirat ancaman yang tidak main-main dalam nada suara pria ini.

Adrian menyeringai lalu menunduk memasangkan seat belt pada gadis yang sedang menahan amarahnya ini.

“BRENGSEK!”

Cara duduk dengan tegak. Wajahnya menatap keluar jendela dan menolak memandang pada si pria, yang berhasil memaksanya mengikuti keinginannya.

¤¤¤¤

Gadis itu mendesah lalu menggeliatkan otot tubuhnya, yang kaku sepanjang berkendara. Perlahan matanya terbuka, tubuhnya dalam posisi terbaring rileks dan ia menatap heran pada apa yang sedang dilihatnya.

Ia sudah tidak berada didalam mobil lagi.

“Dimana aku?”

Cara mencoba bangun dari tidurnya namun sepasang lengan yang tak disadarinya, memeluk erat perutnya. Napas gadis itu tercekat, cepat ia menoleh ke belakang dan menemukan Adrian memeluknya sambil tertidur.

Entah sengaja atau tidak, pria tersebut menarik tubuh Cara semakin dekat. Memeluknya ketat hingga sang gadis merasakan punggungnya melekat pada dada dan perut tanpa lemak Adrian.

Risih, Cara mencubit lengan yang melingkari perutnya.

“Tidurlah. ” Gumam Adrian serak.

“Ini dimana?”

“Kabinku. Dekat danau Port Minor. ”

“Apa?! —– Kau membawaku sejauh ini?”

Cara menggeleng tidak mempercayai apa yang diucapkan pria ini. Kembali berusaha untuk bangkit namun dengan mudah Adrian membantingnya lagi ke ranjang disisinya.

“Ini sangat larut. Aku sangat lelah. Bicaranya besok saja. ”

Cara menggeliat keras. Menarik lengan yang memelutnya erat agar lepas.

“Jangan keras kepala, Cara. Besok. ” Geramnya tertahan.

Adrian lalu menumpangkan kaki kanannya diatas kaki Cara. Dan menguburkan wajahnya pada rambut pirang yang mengumpul dibantal, dengan aroma segar apel hijau.

“Bagaimana bisa seperti ini?” Rutuk Cara putus asa.

Sebuah senyuman lebar menghiasi wajah Adrian meski matanya masih terpejam rapat.

Ia sangat lelah, setelah menyetir selama berjam-jam namun juga sangat puas.

Kali ini tak akan ada yang menghalanginya menjadikan Cara miliknya. Dan gadis itu tak punya kesempatan menghindar darinya selama mereka disini.

¤¤¤¤

“Disini —- indah sekali. ” Bisik Cara sambil mengetatkan selimut afghan di bahunya.

Sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun pagi dan ke kamar kecil. Namun saat melihat bayangan dijendela, ia memutuskan untuk keluar. Dan keputusannya tidak salah.

Ia berdiri di halaman belakang kabin yang langsung memberikan pemandangan ke danau Port Minor.

Danau dengan air yang paling indah di kawasan selatan dimana kau bisa melihat ikan berenang-renang menggodamu serta pemandangan hutan alami yang mengelilinginya.

Pagi ini kabut masih menyelimuti semua tempat, bagai awan-awan kecil di negeri dunia dongeng. Tetapi semua ini malah mempercantik apa yang Cara lihat.

Suara-suara serangga dan binatang hutan terdengar bagai musik dari dunia peri ditelinga gadis ini. Ini pertama kalinya ia pergi ketempat seperti ini dan ia merasa seperti berada dalam mimpi indah.

Cara masih terpaku selama hampir satu jam lamanya. Ia duduk di sebuah batu dan mengawasi matahari yang pada akhirnya muncul dan mengusir semua kabut itu ke dalam hutan. Dan kembali sang gadis terkesima, ternyata pemandangan tatkala terang juga tidak kalah indahnya.

Sinar keemasan matahari muncul dan segera menyebar dipermukaan air danau dan Cara bisa melihat dengan jelas, betapa menakjubkannya Port Minor dan hutan alaminya.

Sebuah pelukan dari sepasang tangan kuat menyadarkannya dari rasa terkesima yang dalam. Adrian, siapa lagi, ia mengendus kedalam rambut pirang gadis ini.

“Sudah berapa lama kau disini?” Tanyanya dengan suara parau sehabis bangun tidur.

Cara menoleh melalui bahunya. Adrian dibelakangnya dengan rambut gelap yang tampak masih acak-acakan tetapi semua itu malah membuatnya terlihat seksi. Tanpa sadar membuat sang gadis menelan ludah.

“Aku bangun dan tidak melihatmu. Kupikir kau — menghilang. ”

Gadis itu menatapnya heran dengan alis berkerut. Tidak mengerti.

“Memangnya aku bisa kemana?” Gumamnya tidak percaya.

Cara kembali menatap pada danau dan Adrian memutuskan duduk disampingnya. Ia meraih tangan Cara dan menggenggamnya. Hangat.

“Pemandangannya sangat indah. Terimakasih sudah membawaku kemari. ” Ucap sang gadis bersungguh-sungguh.

Adrian tersenyum lebar padanya.

“Kita bisa melakukan banyak hal menarik disini. Berenang, memancing, naik perahu kayu, menjelajahi hutan dan lain-lain, kau pasti menyukainya. Tetapi sebelumnya —– kita sarapan dahulu. ”

Ia bangkit dan menarik Cara untuk mengikuti langkahnya kembali masuk kedalam rumah peristirahatannya.

Dibawah cahaya terang, Cara baru menyadari kabin ini terlihat sangat hebat dan mengeluarkan aroma — mahal. Ia mendesah.

Tadi malam ia bahkan tidak ingat bagaimana bisa sampai disini dan kembali ia dihantam kenyataan, bahwa Adrian hidup di dunia yang tak pernah dibayangkan untuk bisa ia masuki.

¤¤¤¤

Adrian menatap puas pada wajah berseri-seri Cara. Gadis itu duduk dilantai kayu teras belakang dan menatap langsung ke arah danau. Ia memutuskan untuk duduk disebelah kirinya.

Mereka sudah melakukan banyak hal menyenangkan bersama-sama dan sore ini akan kembali pulang ke kota. Adrian sangat menikmati waktunya bersama Cara. Dan gadis itu sepertinya menikmatinya juga.

“Ini liburan terbaik yang pernah kulakukan. ”

Ia menoleh pada Adrian. Dan pria itu menatapnya balik dengan lugas.

“Jangan bilang terimakasih, cukup berikan aku sebuah ciuman. ”

Cara tertawa dengan renyah. Untuk pertama kalinya ia tertawa dengan ekspresi yang tak pernah ia tunjukkan pada pria lain. Dan Adrian merasa kehilangan napasnya, terkejut sekaligus terpesona pada apa yang tersaji dihadapannya.

Lalu tanpa ia sangka-sangka Cara mendekatkan wajahnya secepat kilat dan mengecup sebelah pipinya. Gadis itu tersenyum lebar dan menatapnya lekat.

“Terimakasih. ” Bisiknya tulus dengan mata berbinar.

Adrian mematung dengan wajah bodoh. Ia tidak percaya Cara baru saja menciumnya dan berterimakasih secara tulus padanya. Bukan karena gadis ini tak pernah tulus tetapi ia merasa Cara tak pernah semudah dan seterbuka ini padanya.

“Uhm — sebenarnya aku mengharapkannya dibibir tetapi tak apalah. Ini pertama kalinya kau menciumku duluan. Lain kali pastikan kau melakukannya —- ” ia menunjuk bibirnya yang menyeringai “disini!”

“Aku tahu. ” Ucap Cara dengan wajah campuran rasa lucu dan sedih.

Namun dalam sekejab ia cepat menghilangkannya dengan senyuman hingga Adrian tidak yakin melihat sesuatu yang salah sebelumnya.

“Sangat menyenangkan disini. ”

Cara melihat kesekeliling. Seolah-olah ingin menyimpan semua pemandangan ini dalam ingatannya dan tidak ingin melupakan tiap detil tempat ini.

“Kita tidak harus pulang, Carissima. ”

“Besok Senin dan aku harus bekerja. ”

Adrian mendesah. Sejujurnya ia tidak menyukai pekerjaan gadis ini sebagai Cart Girl * di Country Club.

*Cart Girl adalah gadis yang menawarkan dan menjual minuman dengan mengendarai drink cart, semacam mobil khusus lapangan golf yang membawa aneka macam minuman dingin.

Ia belum pernah melihat Cara bekerja di lapangan golf. Tetapi ia sudah bisa membayangkannya, Cara mengenakan t-shirt polo biru dan celana golf super pendek warna putih dengan rambut pirangnya diikat ekor kuda. Terlihat cantik, segar dan bersemangat.

Mengendarai drink cart dari hole pertama hingga keenam belas, menawarkan minuman pada anggota member yang sedang main golf dan tersenyum ramah meski beberapa dari mereka (yang Adrian yakin lebih banyak dari yang bisa ia pikirkan) menggodanya.

Dan para pria kepanasan tersebut pasti tidak keberatan memberikan uang tip yang banyak pada Cara, dengan wajah dan tubuh seperti ini. Dan pasti gadis itu merupakan Cart Girl paling populer di Crown Country Club.

Ia benci memikirkan pria lain menggoda gadis ini apalagi berpikir kurang ajar dan tidak-tidak terhadap Cara.

Bukan salah gadis itu bila banyak pria yang tertarik padanya. Mungkin karena wajah cantiknya, rambut pirang platinumnya yang asli atau tubuh mungilnya yang indah. Dan bukan salah Cara bila ia terlahir seperti itu disertai kepribadian baik yang makin membuatnya menarik.

Adrian memejamkan matanya, mencoba menahan kegeraman yang tiba-tiba menggeliat didadanya.

“Apa kamu tidak bisa bekerja ditempat lain?”

“Aku suka bekerja di Country Club. Pekerjaannya tidak begitu berat dan tipnya besar dibandingkan bekerja ditempat lain. ”

Ucapan gadis itu menggelitik rasa ingin tahu sang pria.

“Memangnya kau pernah bekerja dimana?” Tanya Adrian ringan seolah tanpa beban.

“Hmm —- banyak. ”

Cara menyelipkan sejumput rambutnya yang terlepas dari kuncirannya. Ia menarik napas panjang dan menatap Adrian lembut.

“Aku pernah bekerja sebagai pelayan di berbagai restoran, resepsionis di klinik dokter, kasir di toko bahkan menjadi pekerja paruh waktu pencuci piring. Tetapi diantara semuanya bekerja sebagai Cart Girl yang paling menyenangkan. ”

“Mengapa tidak mengambil pekerjaan yang lebih — permanen?”

Cara tertawa lirih. Dan Adrian merasa canggung sudah menanyakan pertanyaan sepribadi ini.

“Aku cuma tamatan SMU, apa yang bisa kulakukan dengan itu?”

Untuk sesaat Adrian tertohok dengan perkataan tanpa beban gadis itu. Ia mengerjapkan matanya cepat. Mencoba menutupi perasaannya.

¤¤¤¤

Kembali kekehidupan lamanya, Cara bekerja sangat giat dan mengambil semua shift yang bisa ia ambil untuknya. Ia berangkat sangat pagi dan pulang larut malam. Sesampai di flat mungilnya ia sudah sangat lelah dan jatuh tertidur.

Adrian menghubunginya berkali-kali namun gadis itu selalu sibuk. Mendatangi flatnya dipagi hari namun selalu sudah kosong. Menemuinya usai bekerja namun Cara tampak begitu butuh istirahat.

Ia kehilangan gadis itu meski sepertinya Cara tidak secara terang-terangan menjauhinya seperti dulu.

Tetapi bukan Adrian bila tidak punya cara untuk menemui Cara. Jadi ia memutuskan mengunjungi Country Club dan bermain golf dengan beberapa kenalannya.

“Ini dia. “

Sebuah cengiran puas lolos dari bibirnya. Adrian mengamati Cara yang datang dengan mengendarai drink cartnya.

Sesuai dengan yang ada dibayangannya dahulu, Cara tampak begitu menggoda dengan pakaian kerjanya. Dan ini adalah masalah untuknya.

“Ada yang mau minum?”

Segera saja, pria-pria disini mendekati gadis itu dan meminta berbagai jenis minuman keinginan mereka. Cara dengan tangkas membuka botol bir, mengelap butiran air dibadan botol dan menyerahkannya dengan senyuman lebar.

Bukan cuma satu dua orang mencoba menggodanya namun dengan sopan Cara menolak halus. Ia menerima pembayaran tagihan dan tip yang diberikan para pegolf yang mengambil minuman darinya. Saat itulah ia menoleh pada Adrian yang berdiri mengawasinya dengan mata tajam.

Cara terkejut, karena tidak pernah melihat Adrian disini.

“Oh, hai. Kau mau minum?” Tanyanya dengan mata mengerjap menggemaskan.

Adrian mendekatinya dengan langkah yang memancarkan aura gelap. Teman-temannya yang tadi sempat menggoda Cara menyingkir diam-diam karena merasakan bahaya.

“Aku tidak pernah melihatmu disini. ”

Cara tersenyum padanya namun pria ini tidak membalasnya.

“Oh, dia anggota disini tetapi jarang sekali datang. ” Celutuk pria yang mengenakan celana merah.

Cara menoleh pada Adrian, ia mengulurkan sebotol bir yang biasa diminum oleh pria ini.

“Aku tidak tahu itu. ” Kata gadis itu sambil menerima uang dari Adrian.

“Memangnya kau harus tahu Adrian Carver ada dimana?” Tanya seseorang disambut dengan riuh tawa.

“Gadis ini mungkin tidak tahu siapa dia. Kalau dia tahu, mungkin akan langsung menyerah dibawah kakinya. ” Sambung yang lain, membuat yang lain kembali tertawa.

Adrian diam dengan wajah mengeras. Dan Cara hanya tersenyum dan menolak kontak mata dengan mereka. Ia menghidupkan drink cart dan bergerak menuju hole yang lain.

“Bisa tidak kalian menutup mulut?”

“Brengsek, jangan mengatakan hal buruk tentang gadisku, Cara. “

Cara menawarkan minuman pada hole-hole selanjutnya dan tetap menebarkan senyum manisnya pada siapapun. Tetapi saat ia sendirian diatas drink cart, ia memikirkan disinilah tempatnya, sebagai seorang pelayan dan Adrian beserta teman-temannya adalah lingkaran khusus yang tak bisa ia masuki, terlarang baginya.

Gadis itu mendesah sambil memperhatikan jalanan dihadapannya. Rumput hijau yang terhampar rapi sepanjang jauh mata memandang dan panas matahari yang menyengat kulitnya. Kenyataan yang menyadarkannya, siapa dirinya sesungguhnya.

¤¤¤¤

“Terimakasih, sudah mengajakku. ”

Cara tersenyum sambil merapikan kemeja putih dan rok pensil hitam yang ia gunakan. Pakaian yang sama dikenakan oleh Emily dan Meg.

“Tentu, Girl. Apalagi upahnya lumayan.” Emily, gadis dengan rambut merah keriting, tersenyum padanya.

“Aku tidak akan merekomendasikanmu kalau kau tidak punya pengalaman sebagai pelayan di restoran Perancis. Kau juga Meg. ” Sambungnya lagi.

“Oke, Maam!” Sambut kedua gadis, satu dengan rambut pirang dikuncir satunya lagi dengan rambut cokelat ikal. Lalu ketiganya tertawa dengan gembira lalu buru-buru ke pantry.

Cara membawa nampan berisi gelas-gelas Champagne, masuk ke dalam hall utama yang sedang ada pesta. Entah pesta apa, yang jelas semua tamu yang datang mengenakan pakaian dan perhiasan mahal. Dan sepertinya mereka bukan hanya kalangan orang-orang berduit biasa, tetapi juga terhormat.

Ia menawarkan minuman dan tersenyum ramah pada setiap orang yang mengambil minuman. Saat gelas kosong sudah mengisi nampannya, ia kembali dan membawa nampan dengan gelas-gelas terisi lagi.

“Hei, sepertinya aku mengenalmu —-kau — ah ya, gadis di Country Club. ” Tegur seorang pria dengan tuxedo hitam.

Cara menoleh dan mengenali ia adalah salah seorang anggota Club yang sepertinya juga teman dari Adrian.

“Ah, benar. ” Sambung pria yang lain.

Gadis ini hanya tersenyum dan menawarkan minumannya pada mereka. Gelas-gelas itu segera berpindah tangan.

“Sepertinya kau ada dimana-mana yah?” Ujar sang pria pertama.

“Jangan-jangan kau termasuk golongan gold digger* hingga sengaja berada disini. ”

*Gold digger adalah istilah yang digunakan untuk para wanita yang mengejar-ngejar pria kaya.

“Wow, kalau benar, apa kau sedang mengincar seseorang disini?”

“Apa itu aku?!” Tanya pria dengan mata yang kurang ajar.

Saat itu Cara melihat Adrian yang menatapnya tajam dengan rahang terkatup rapat. Mungkin ia mendengar semuanya dan itu pertanda buruk baginya.

“Mengapa Adrian disini?”

“Oh, tentu saja. Seorang seperti Adrian ada dipesta-pesta seperti ini, inilah dunianya. Bukan sesuatu yang pernah aku datangi. Harusnya aku mengerti dengan jelas. “

“Maaf, saya harus kembali ke belakang. ”

Secara halus, Cara berkelit dengan membawa nampan yang tinggal setengah. Ia bergerak dengan cepat dan segera menghilang dari kumpulan pria-pria ini.

“Gadis itu cantik dan badannya bagus. Kurasa kalau ia mengincarku, membawanya ke ranjang bukan pilihan buruk. ” Lalu terdengar tawa riuh yang sempat didengar oleh Cara.

“Aku akan menyekapnya dikamar, berhari-hari. ” Ucap yang lain, tak kalah berpikiran kotor terhadapnya.

¤¤¤¤

“Cara. ”

Adrian muncul dari kegelapan saat gadis itu berjalan masuk ke gedung flatnya, usai diantar oleh Emily dan Meg. Ia masih menggunakan tuxedo yang tadi dipakainya dipesta dan dilapisi mantel hitam tebal.

“Kau disini?”

Cara sudah mengganti seragamnya dengan pakaian kasual dan mengenakan mantel biru. Rambut pirangnya digerai dan wajahnya memerah karena dingin.

“Mengapa kau tidak langsung pulang?”
Adrian mencium ada bau alkohol dari tubuh gadis ini. Dan Cara memang tampak sedikit mabuk.

“Oh, aku — tadi temanku mengajak minum sebelum pulang. ”

Gadis itu berjalan mendekati Adrian lalu melewatinya, memasuki gedung dan menelusuri lorong menuju kamar flatnya. Adrian mengikuti langkah gadis ini.

Saat Cara membuka pintu dan masuk, pria ini ikut masuk kedalam flatnya dan menutup pintu. Gadis itu menghidupkan lampu sehingga flatnya begitu terang.

Ia mengamati kesekeliling, flat ini kecil dan begitu sederhana. Tidak ada furniture mahal namun penuh warna dan terasa sangat Cara Blaire. Sang gadis yang melepas kancing mantelnya, menarik pintu kulkas dan mengambil air dingin.

Adrian mengamati Cara yang meminum air dari gelas dengan rakus. Sepertinya ia sudah pulih dari mabuknya karena kini melihat Adrian dengan pandangan terfokus.

“Well, apa tujuanmu kemari?”

Sang pria berdiri dengan kaku, menyimpan kedua tangannya kedalam saku celananya. Terlihat menimbang-nimbang sebelum memulai pembicaraan.

“Aku tidak suka mereka berbicara seperti itu tentangmu. ”

Cara membalas tatapannya dengan lembut.

Ia menarik napas perlahan dan melangkah kesatu-satunya sofa yang ada diruangan kecil itu, duduk dan menyilangkan kakinya yang dibalut stoking hitam.

“Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu, bahkan jauh sebelum bertemu kamu. ”

Semburan kemarahan mengisi dada pria ini, mendengar penuturan gadis di hadapannya. Apalagi setelah melihat reaksi gadis ini yang seperti tidak terganggu sama sekali, sementara hal berbeda dengan yang Adrian rasakan.

“Apa yang mereka katakan itu tidak benar, Cara. Mereka tidak berhak menilaimu seperti itu. ”

“Lalu, kenapa? ” Cara berbalik bertanya padanya.

“Kau — tidak perlu membelaku seperti ini, Adrian. ”

“Ya. Aku ingin membelamu. Karena aku tahu kau tidak seperti itu. ”

Gadis itu tersenyum dengan mata bersinar sedih yang kali ini tidak lagi ia sembunyikan.

“Kau akan lelah melakukannya, Adrian.”

“Dulu — pernah ada seseorang sepertimu, masuk dalam hidupku, menjadi berarti. Kaya, pintar dan tampan. Seperti yang terjadi pada semua kisah cinta, awalnya selalu terasa indah sampai pada saatnya semakin lama aku semakin disembunyikan. Kau tahu karena apa?”

Cara menatapnya lekat-lekat dengan iris bola mata cokelat keemasannya. Pada mata biru jernih yang beberapa kali pernah menjeratnya

“Karena aku adalah aku, Adrian.”

“Seberapa keras aku menutupi tetap saja aku tak pintar, tidak berpendidikan. Walau memakai pakaian indah dan mahal, aku tetaplah gadis miskin. Latar belakang yang kumiliki tak cemerlang hingga bisa ia banggakan pada teman dan keluarganya. Dan perlahan dia mulai tidak tahan, lama-lama dia memisahkan aku dengan dunianya. Aku disembunyikan seolah aku —- aib baginya. ”

Setetes air mata bening jatuh dipipi gadis itu, namun ada sebuah senyum miris terukir diwajahnya.

Adrian merasa sesak dijantungnya, melihat kepedihan dimata itu. Yang sesekali pernah membayang diwajah gadis itu namun tak cepat ia sadari.

“Hal yang sama, juga telah kau lakukan padaku Adrian. Meski mungkin kau tidak menyadarinya. ”

“Aku — tidak — !”

“Ya. Kau melakukannya. Aku tidak memintamu membelaku di lapangan golf, juga dipesta tadi. Aku mengerti Adrian. ”

Adrian tampak bagai baru mendapatkan pukulan diwajah tampannya. Ekspresi wajahnya jauh dari kata terluka namun campuran dari malu serta canggung.

Ia sedih mendengar perkataan Cara yang sama sekali tidak menghakimi perbuatan pengecutnya. Seharusnya ia langsung memukul saja, pria-pria yang merendahkan gadis ini. Bukannya menahan emosinya demi menghindari keributan.

“Inilah kenyataan yang harus kau sadari. Aku tidak pernah bisa melangkahi garis dan masuk ke dalam duniamu, begitu juga kau tidak bisa masuk ke tempatku. ”

“Carissima. ” Bisiknya dengan lemah.

“Adrian, pergilah. Kembali keduniamu dan —- lupakan aku. Kurasa — kurasa aku, tak dapat — melakukannya lagi. ”

Kali ini Cara tidak dapat menahan air matanya. Ia membiarkannya tumpah dan membasahi wajah dan hingga lehernya namun menolak sentuhan Adrian yang ingin mengusapnya.

Meski Cara mengerti dengan sikap Adrian yang berpura-pura tidak mengenalnya didepan teman-temannya tetapi siapa yang dapat menahan kesedihan yang ia rasakan, setiap kali dicap buruk meski ia tidak melakukan hal yang salah. Ia sedih dan terluka namun tidak seorang pun bisa menghentikan dukanya.

Adrian mendekat dan berlutut dihadapan gadis yang tampak tegar ini. Cara tersenyum lembut padanya lalu menyentuh wajah Adrian dengan tangan kanannya.

“Kau pria baik, Adrian. Aku tahu itu. ”

“Maafkan aku. ” Bisik Adrian lemah.

“Kau tidak bersalah. Kau hanya — belum menyadari dimana tempatku, — seharusnya berdiri. Sungguh, itu bukan salahmu. ”

Perkataan Cara yang diucapkannya dengan lembut tanpa berniat menyalahkannya ataupun menyudutkan Adrian, malah membuat pria ini semakin merasa bersalah. Dan ia sangat menyesal.

“Cara — Carissima! ”

Adrian dihadapannya, bingung dan frustasi. Tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tangis gadis ini, juga kesedihan yang membayangi bola matanya. Yang ia bisa lakukan hanyalah menyebut nama gadis ini, berulang-ulang dengan hati terluka.

“Kumohon — pergilah. ” Pinta Cara membuang wajahnya kesamping, tidak ingin melihat padanya.

Saat ini gadis itu dengan dalam keadaan sedih dan tak ingin diganggu. Adrian bimbang dihadapannya. Disatu sisi ia ingin memeluk Cara, menenangkannya, bersama dengannya, disisi lain ia tahu salah satu alasan kesedihannya adalah disebabkan oleh dirinya sendiri.

“Cara. ” Adrian memegang dagunya dan membuatnya melihat pada dirinya.

Pria ini maju, memiringkan kepalanya dan menyesap bibir bawah sang gadis. Membelainya dengan lidahnya yang panas, penuh kelembutan juga pemujaan. Menikmati kekenyalan dan kehangatan bibir Cara dan menempatkan kecupan-kecupan tak terputus. Ada kebutuhan, rasa takut dan keputus asaan dalam ciumannya yang kali ini lebih lembut dan menuntut.

Dan ketika semuanya selesai, Adrian melepaskan diri. Cara membuka matanya dan mereka saling memandang dengan begitu dekat.

“Maaf —- tapi aku mencintaimu. ” Ucap Adrian dengan tenang.

Perkataan pria itu sukses membuat Cara semakin merapatkan mulutnya, kaget dan juga tidak mengerti.

¤¤¤¤

Footnote : Well, tadinya cuma pengen bikin dua postingan tentang kisah Adrian Carver dan Cara Blaire. Tetapi ceritanya berkembang dari The Guy Who Stole Your Kiss! http://t.co/w6vxDOfdDc dan kuputuskan mengakhirinya dipotongan cerita ketiga, I’m Kissing You.

Kesempatan Tidak Berpihak Pada Yang Kalah

Jika aku diizinkan, jika aku diberi kesempatan, jika aku bisa kembali kepada saat itu, hal yang paling ingin aku katakan, bukanlah kata cinta, bukan rayuan juga bukan penyesalan.
Karena sekarang aku menyadari yang paling ingin kau dengar dan yang tak sempat aku ucapkan adalah kau yang terbaik yang pernah datang dalam hidupku. Terimakasih karena pernah menjadikanku pusat duniamu dan memujaku bagaikan dewi dari Vesuvius. Serta tolong, jangan membenci atas apa yang kelak telahku lakukan padamu.

Bukan, bukan karena aku tidak menganggapmu penting, tidak memikirkan perasaanmu dan tidak menghargai semua yang telah kita miliki serta bisa kita dapatkan dimasa yang akan datang. Sungguh pun, ada suatu saat dimana aku pernah bermimpi dan berharap kau, aku, tak hanya menjadi kami tetapi merupakan kita. Bagimu mungkin tak berarti lagi tetapi asa ini masih menjadi hal terbaik yang pernah aku inginkan hingga kini.

Jika saja aku diizinkan, jikalau aku diberi kesempatan dan jika aku bisa kembali kesaat itu lagi, demi Tuhan aku sangat merindukanmu.
Setiap air matamu yang pernah jatuh karenaku, kesedihan serta kemarahanmu yang disebabkan olehku, aku ingin menanggung semua itu dengan diriku sendiri. Aku bersalah dan hingga kini masih merasa seperti itu. Bahkan jika kupikir-pikir, aku tak berhak meminta maafmu apalagi mendapatkan waktu untuk mengisi benakmu, meski sesaat.

Terkadang, ketika lemahku merajai dan hal yang terlintas adalah berbagai kemungkinan, seandainya, bila saja, bagaimana kalau, pasti ada jalan lain, selalu ada pilihan, aku benar-benar yakin ada yang bisa membelokkan takdir ini. Tetapi terlambat kumenyadarinya, kesempatan tidak pernah berpihak pada yang kalah dan itulah aku.

Footnote: Selamat ulang tahun kesayangan aku, dunia tempatku bersandar dan pusat segala aturan yang kuyakini, love you mom. Semoga tetap jadi kebanggaanmu.

To Love and To Be Loved

Sama seperti seorang alpha menandai teritorinya, pejantan yang mengklaim betinanya, aku juga ingin menyegel kamu sebagai milikku dengan kehidupan bahkan setelah kematian. Kita memang tidak pernah selesai dengan cinta, bahkan ketika kita telah meninggalkan dunia ini.

If you wish to be Loved. Love.

Seberapa besar dan menyakitkannya luka yang diberikan masa lalu, mungkin tak selalu bisa sembuh dan pasti meninggalkan bekas, yang kau tahu dengan jelas ia selalu ada disana, diam dan mengintaimu. Menunggu saat-saat terlemahmu, melihatmu jatuh dengan kepuasan berbinar dimatanya, serta mencabik setiap harapan yang tersisa menjadi abu. Ini tidak pernah akan menjadi mudah bukan, sayang-sayangku?

Tetapi aku percaya, seperti jemari tanpa selaput yang diciptakan Tuhan, Ia pasti punya alasan dibalik setiap ketiadaan, supaya bisa diisi oleh jemari lawan jenis dari kita. Lagi dan masih, aku menunggu tangan kamu untuk mengisi kekosongan itu.

Harapan, selalu ada untuk mereka yang mau mempercayainya dan juga yang tidak, sebenarnya. Pilihannya adalah dengan apa kau menanti, doa atau penyangkalan yang jauh dikedalaman hatimu, kau tahu itu tak benar adanya.

The Guy Who Stole Your Kiss!

Daniel’s Bar, Sabtu pukul 11.30 malam.

Adrian duduk dengan diam di sudut bar sambil memegang botol birnya. Mengawasi tajam kearah tempat duduk Cara dan teman-teman perempuannya.

Gadis-gadis itu tampak bersemangat, berisik dan tahu benar bahwa mereka mendapat perhatian dari banyak pria-pria disini. Yang mengawasi mereka seperti elang dan menunggu kesempatan untuk maju.

Hanya Cara yang tampak diam dan hanya tersenyum malu-malu. Beberapa kali ia menolak ajakan pria yang mengajaknya turun ke lantai dansa. Sementara dua orang temannya yang lain sudah beberapa kali berdansa dengan pria yang menarik perhatian mereka. Betapa tidak bertanggung jawabnya mereka meninggalkan Cara sendirian dimeja itu, membuatnya semakin menjadi incaran hiu-hiu kelaparan mencari mangsa.

Setidaknya gadis itu masih menolak dengan sopan. Hal itulah yang membuat Adrian bertahan tetap menempel dikursinya, sendiri.

Cara tidak tertarik dengan siapapun. Dan ia yakin, gadis itu tidak akan memberi kesempatan pada pria lain.

“Bagaimana bila ada seseorang yang menarik perhatian Cara?”

Adrian menarik napas berat. Menggelengkan kepalanya, kesal. Lalu meneguk botol bir keduanya.

Mata biru jernihnya, menatap dalam-dalam pada sosok gadis cantik bertubuh mungil dengan rambut pirang platinum tersampir dipundak.

Malam ini Cara semakin tampak mempesona. Ia memakai gaun biru berbahan ringan dengan model simpel, yang membungkus tubuh indahnya. Ia juga mengenakan stiletto hitam yang mengekspos keindahan betis dan kaki gadis itu. Melihatnya seperti itu, dari kejauhan, membuat Adrian terganggu dan nyaris menggila.

“Apa ia ingin menggoda lelaki lain?”

Pria berusia 26 tahun ini menggertakkan gigi, kesal.

Beberapa mata pria-pria lain tampak mengincar gadis itu. Tidak perlu menjadi jenius untuk melihat apa yang sedang pria-pria ini pikirkan tentang gadis pirang itu. Bukan sebuah pikiran yang dapat menenangkan Adrian.

Ia mengingat dengan jelas Cara punya senyuman hangat dan tulus dengan gigi-gigi rapi serta seputih mutiara, yang selalu bisa membuat siapapun cepat merasa tertarik padanya.

“Seberapa keras ia menolak, pria-pria disini malah akan semakin keras mencoba mendekatinya. “

Adrian menghela napas.

Ia bertemu Cara di tempat ini enam minggu yang lalu. Sama seperti malam ini gadis itu juga tidak sendirian, ia bersama teman-temannya, mereka berpesta dan menari di lantai dansa.

Adrian menyadari bahwa ia sudah memperhatikan Cara sejak satu jam yang lalu namun belum melakukan gerakan apapun, untuk mendekati gadis cantik ini. Bukan karena tidak berani, ia hanya tidak mau menjadi salah satu dari pria-pria yang patah hati karena ditolak gadis ini.

Lalu saat ada seorang pria keras kepala yang terus-terusan menempeli Cara dengan mata kurang ajar, Adrian tidak dapat menahan dirinya lagi.

Ia menarik tangan gadis itu dan membuatnya berada dalam pelukannya di lantai dansa yang penuh. Pria brengsek yang merasa mangsanya direbut itu, tak dapat mengatakan apapun saat Adrian melemparkan tatapan matanya yang bisa membunuh. Bersunggut-sunggut ia menyingkir, teramat kesal.

Cara dengan perhatian penuh, mendongak padanya. Menatap mata biru Adrian dengan bola mata cokelat keemasan miliknya. Saat itu Adrian tak dapat memikirkan apapun selain terpesona pada mata dan bibir gadis itu. Hingga membuatnya lupa bernapas dan secara impulsif, ia menunduk.

Adrian menempelkan bibirnya pada milik gadis itu. Dan sebuah seringai lolos diwajah tampannya.

Cara membelalak. Terkejut namun tidak sempat berkelit, menolak.

“Hai —- Aku Adrian Carver. ” Sapanya dengan senyuman lebar, rasa puas memenuhi sekujur tubuhnya.

“…. ”

Gadis itu tampak bingung.

“Kuharap, kau tidak kehilangan lidahmu, cantik. ”

Cara bergerak gelisah dalam pelukan Adrian. Namun pria ini tidak semudah itu melepaskannya.

“Aku Cara. Cara Blaire. ” Cicit gadis itu dengan suara pelan, yang hanya bisa didengar oleh Adrian.

Saat itu Adrian merasa lebih bahagia bahkan bila dibandingkan ia memenangkan balap MotoGP. Ia sudah memiliki dunia dalam genggamannya. Tetapi kini, ia disini. Duduk dalam gelisah serta kemarahan, mengawasi Cara diam-diam.

¤¤¤¤

Cara menggeleng dengan tegas ketika seorang pria berkali-kali mengajaknya turun berdansa. Tetapi penolakannya tidak membuat pria itu segera pergi. Dengan berani ia duduk di kursi kosong sebelah gadis itu dan mulai merayunya.

Cara menghela napas.

Tadinya ia hanya ingin bersenang-senang dengan teman-teman wanitanya dan menari habis-habisan. Tetapi dengan cepat Emily dan Maggie mengkhianatinya dan berdansa dengan pria-pria hot incaran mereka.

“Kau cant— ”

Tangan pria itu terjulur ingin menyentuh rambut Cara yang bergelung dipundaknya, namun sebuah tangan lain dengan jari-jari kurus dan panjang, dengan hiasan gelang kulit dipergelangan dan sebuah cincin Bulgari dijari tengah. Menangkap tangan pria itu dan mencengkramnya keras.

Sipria dan gadis pirang, serentak menoleh pada sosok ketiga diantara mereka.

“Halo Cara!”

Adrian tersenyum dengan aura gelap. Matanya tampak terlalu dingin dan Cara merasa merinding melihatnya. Ada perasaan tidak enak menyelimuti mereka.

“Dude, pergilah sebelum aku membuatmu mengompol dicelana. ”

Ia menyentakkan tangan si pria asing. Sepertinya cengkraman tangan yang dilakukan sepenuh hati oleh Adrian, benar-benar menyakiti pria tersebut. Sambil meringis dan menyumpah, dia beranjak dari hadapan mereka.

Cara duduk dengan gelisah dan membuang tatapan dari pria berambut gelap ini. Adrian duduk disisinya dengan tubuh menempel pada sang gadis. Tanpa canggung ia merangkulkan lengan kepundak Cara, seolah memang punya hak untuk itu.

“Mengapa kau tidak mengangkat telefonku atau membalas pesan-pesanku, cantik?”

Dengan tangan kirinya yang bebas, ia mempermainkan jemari tangan Cara yang terletak dipangkuannya. Adrian menatap gadis ini dengan mata dingin dan hati-hati.

“Kupikir, aku pasti bisa menemukanmu disini. Tapi tidak dengan —- para penggemarmu. ”

“Adrian. ” Bisik Cara pelan.

“Ya, sayang. ”

Adrian meremas jari-jari lentik gadis dengan rambut panjang ini. Matanya masih bersinar tajam dan mengancam.

“Apa kau mengikutiku?”

Sebuah seringai muncul diwajah tampannya. Adrian tertawa tanpa suara.

“Apa kau tidak bisa menebaknya?”

“Tentu saja. Adrian pasti mengikutinya dan sudah mengawasinya sejak lama. “

Cara mendesah, merasa kalah.

“Apa yang kau inginkan, Adrian?”

Adrian tersenyum lebar dengan mata berkilat senang.

“KAU!”

Ia tahu pria ini tidak sedang bercanda dengannya dan Adrian Carver selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, tanpa kecuali.

“Apa yang harus kulakukan padamu?”

Selama ia dan Adrian berkencan, pria ini begitu mempesona. Easy going, lucu dan Cara dengan mudah menyukainya. Gadis manapun pasti sulit untuk tidak tertarik pada seorang Adrian Carver. Tetapi belakangan ia mengetahui Adrian adalah seorang player, yang suka bermain dengan banyak gadis-gadis. Cara tidak ingin patah hati, ia kemudian mundur dengan teratur.

Mengabaikan semua panggilan, email dan pesan Adrian. Dan menolak bertemu dengannya disetiap kesempatan. Serta memutuskan mencoba melupakan pria muda ini. Tetapi ternyata tidak mudah apalagi bila Adrian sendiri tidak mau menyerah, mendekatinya.

“Aku tidak ingin patah hati olehmu. ”

“….. ”

Mata biru jernih itu mengamati Cara dengan seksama. Gerakan telunjuk Adrian dipermukaan kulit lengan gadis ini tidak berhenti. Membuat gerakan pola-pola melingkar, melayang diatas kulit sehalus satin Cara.

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, *Carissima?”

*Carissima = sayang (bahasa Italy).

“Adrian —- berapa banyak gadis yang kau kencani? Apa kau tidak pernah berpikir salah satunya adalah kenalan atau temanku?”

“Apa kau tidak mengakuinya?”

Cara menatapnya dengan mata cokelat hangatnya yang bersinar terluka, ada kesedihan disorot mata gadis itu. Yang membuat Adrian merasa lemah.

“Cara — Carissima. Mari kita berbicara, tetapi tidak disini. ”

“Kumohon. ” Pintanya sambil meraih tangan Cara, membantunya berdiri dari kursi.

Tanpa meminta persetujuan dari sang gadis, ia membimbing Cara melewati kerumunan orang di lantai dansa. Menuju pintu keluar dan ketempat ia memarkirkan sedan hitam yang mengantarnya, ke Daniel’s.

“Sebuah Vanquish. “

Cara mendesah, semakin tertekan. Selama mereka berkencan beberapa kali, Adrian selalu memakai beberapa mobil sport mahal. SUV Sport, Porsche, Jaguar, Maserati dan Aston Martin.

Mengapa tak pernah terpikirkan olehnya?

Ia memang tidak tahu banyak soal mobil tetapi cukup tahu bahwa sedan-sedan yang Adrian kendarai memerlukan uang yang sangat banyak, untuk memilikinya. Dan hal ini semakin membuatnya merasa Adrian bukanlah seseorang yang bisa ia capai.

Adrian membukakan pintu untuknya. Dengan sabar memakaikan seat belt untuknya. Lalu mengendarai mobilnya dalam diam. Sepanjang perjalanan Cara tidak mengatakan apapun dan sesekali Adrian meremas jemarinya dengan tangan kanan miliknya yang bebas.

Cara menoleh pada sisi kanan jendela. Mengamati jalanan yang semakin ia pikirkan semakin membuatnya sadar, daerah ini tidak ia kenali. Bukan tempat yang biasa ia datangi.

“Kita mau kemana?” Tanyanya cemas.

Ia menoleh pada Adrian yang menatap lurus kedepan. Ekspresi pria ini tidak terbaca dan Cara takut untuk mengganggunya.

“Ke rumahku.”

“Adrian. ” Bisiknya cemas.

“Aku ingin tempat yang private dan aman. Dan —- aku tidak ingin pembicaraan kita terganggu. ”

Pintu gerbang terbuka dengan sendirinya setelah Adrian memencet beberapa tombol pada sebuah remote khusus. Ban mobil berderak dijalanan berkerikil, memasuki halaman rumah Adrian.

Cara menarik napas panjang.

Adrian tidak pernah bercerita tentang kekayaannya. Ia hanya bercerita sekali, bahwa setelah lulus dari kuliah (dan lupa menyebutkan dari MIT), ia mendirikan perusahaan software dan memiliki beberapa hak paten. Dan sekarang melihat rumah yang terletak dikawasan elit ini, Cara menyadari jarak antara dia dan Adrian semakin jauh.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Adrian sambil mengawasi wajah pucat Cara.

Ia membimbing gadis itu memasuki rumahnya yang megah dan mewah. Membawa gadis itu duduk di sofa kulit yang lembut, di ruang tengah huniannya. Yang entah mengapa malah semakin membuat Cara semakin terintimidasi oleh semua ini.

“Bicaralah dengan cepat, agar aku bisa segera pulang. ”

Adrian memandang Cara yang duduk, menyilangkan kakinya. Dan tampak gelisah serta tak nyaman. Adrian duduk di meja, tepat dihadapan gadis itu dan memegang kedua belah tangannya. Memandang langsung kemata Cara dan mencoba mengenali reaksinya.

“Jujur, sebelum bertemu kamu, aku memang seperti itu. Player. Aku tidak akan memungkirinya, Carissima. ”

Adrian tidak ingin menyembunyikan apapun pada Cara. Bukan karena tidak bisa tetapi justru karena ia memang ingin gadis ini mengetahui segalanya dari dirinya. Tidak dari orang lain.

“Tetapi tidak dengan kamu, Carissima.”

“Aku benar-benar peduli dan sayang sama kamu. ”

Cara mendengus tidak percaya. Apa istimewanya dirinya sampai sang playboy tiba-tiba bertekuk lutut padanya. Ia tidak sepercaya diri itu.

Adrian maju dan berlutut di kaki Cara. Menatap gadis itu dengan mata biru jernihnya yang memukau dan untuk sesaat ia merasa tenggelam.

Ada banyak hal yang terjadi diantara mereka diwaktu singkat, yang tak pernah ada saat Adrian bersama gadis lain. Ia tidak mengerti dengan itu dan kini sedang mencari jawabannya.

Apa yang membuat dua minggu terakhir bagai di neraka setelah Cara meninggalkannya?

“Adrian —- ” gadis itu mendesah, terlihat terbebani.

Pelan-pelan, Cara menarik dirinya dari Adrian. Menjauh. Dan Adrian tidak menyukai itu. Jarak yang dibuat gadis itu baik secara nyata maupun tidak. Ia dapat melihat ketakutan juga sedikit rasa tak percaya pada gadis itu.

“Kau tidak bisa mempercayaiku?”

“…..”

“Aku pernah bersama dengan orang sepertimu —- tampan, menarik, tahu benar apa yang diinginkan. Dan tentu saja tidak bisa setia.”

“Dengar Adrian, apa yang kau rasakan hanya ketertarikan sesaat. Seorang gadis menolakmu, tak ada yang istimewa dari itu. Dan aku tak punya keberanian untuk bersamamu. Kita — kurasa tidak, tidak bisa. ”

Adrian memejamkan matanya sebelum kembali menatap Cara dengan hati-hati.

“Apa yang aku rasakan, selama ini nyata Cara. Melihatmu disana, dengan laki-laki lain, membuatku nyaris — meledak. Aku ingin membunuh bajingan yang berani mendekatimu tadi. ” Geram Adrian tertahan.

Cara tercekat melihat kemarahan diwajah Adrian. Pundaknya yang tegang serta perasaan gelap yang melingkupinya. Saat ini, Cara berharap tidak berada disini, bersama pria ini.

“Apa yang harus kulakukan, agar kau percaya padaku?”

Adrian meraih kedua bahunya. Memaksa sang gadis melihat langsung padanya. Ia menempelkan dahinya pada kening Cara yang menunduk dihadapannya, menolak melihat padanya.

¤¤¤¤

“Aku akan mengantarkanmu pulang. ” Katanya tanpa mau dibantah.

Adrian mengendarai mobilnya dan mengantarkan gadis itu pulang ke flatnya dengan selamat. Membukakan pintu untuknya dan ikut naik ke lantai 3, sampai ke depan pintu tempat tinggal Cara.

“Goodbye, Adrian. ”

Gadis itu tidak mau melihat padanya dan suaranya terdengar jauh. Seolah ia sudah memutuskan bahwa ini adalah terakhir kali mereka berjumpa.

Seketika amarah Adrian kembali menggelegak. Cepat ia menarik lengan Cara hingga terjajar di pintu yang belum terbuka.

“Goodbye, apaan?” Ia melotot tajam.

Sebuah tawa bercampur kesal lolos dari bibirnya.

“Kita akan bertemu besok. Besoknya lagi. Dan lagi. Nggak ada yang menghalangi aku untuk terus menemui kamu. ”

Cara berusaha menyentakkan tangan Adrian meski tidak berhasil. Wajahnya tampak tegang juga marah. Namun efeknya berbeda dengan raut wajah sang pria, Cara tampak sedih juga tertekan.

“Aku — kamu nggak bisa ngerti, Adrian. Lihat aku — lihat keadaanku. ”

“Aku melihat kamu, dan hanya kamu. Sejak kemunculan kamu di bar itu sampai sekarang. Yang kulihat cuma kamu saja. ”

Cara menggeleng, frustasi.

“Kita berbeda, dunia kita tidak sama. Semakin aku menyadarinya semakin membuatku ingin berlari. Aku tidak siap Adrian. Bersamamu akan rumit dan seandainya hubungan ini tidak berhasil —- aku mungkin tak dapat menghadapinya lagi. ”

“Jadi — seperti itu, yang kau pikirkan?”

“Kumohon — mengertilah. ”

“Kamu yang tidak mengerti, Carissima. Kenapa kamu nggak mau, ngasih kita kesempatan. ”

“Kesempatan apa? Mematahkan hatiku! ” Ucap Cara dengan wajah pucat dan mata mulai berkaca-kaca.

Adrian mendengus kesal pada kekeras kepalaan Cara, pada wajahnya yang tampak manis meski sedang menangis. Sungguh bukan keadaan yang tepat untuknya.

Lalu Adrian dengan gerakan tiba-tiba tanpa pemikiran panjang telah menarik kepala Cara, condong padanya. Ada kilau jahat di sudut mata pria itu yang dikenali gadis itu. Dan bibirnya lalu menempel erat pada sang gadis, dengan lidah menusuk masuk kedalam menjelajahi gigi geligi dan mulut.

Cara tercekat bahkan ia tidak sempat menutup mata. Sebelum dia melakukan apapun untuk menolak, Adrian sudah mengunci lengan sang gadis dengan lengannya sendiri. Akhirnya ia pasrah dan membiarkan saja, apa yang Adrian lakukan sampai selesai.

Adrian lalu menyeringai puas seolah sudah bisa menjinakkan Cara. Tatapannya panas dan tak terbantahkan. Ia mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya.

“Kamu milikku Cara. Biasakanlah dirimu karena satu-satunya yang bisa kamu lakukan, hanya menjadi milikku seorang. ”

¤¤¤¤

Footnote : Yeah, terinspirasi dari lirik Dewa “aku takkan peduli —– siapa berani —- mendekati kamu akan kubunuh ” judulnya lupa, tapi yang nyanyi masih Dhani sama Once. Bahkan Drummernya masih Tyo Nugros (apa kabar ya Tyo? Udah sembuh belum ya?).

Kira-kira ada yang mau cerita ini dilanjutin nggak? Komentar dong, biar makin semangat aku nulis blognya. Ini cerita selanjutnya The Girl Who Stole Your Breath! http://t.co/SaqGNSdepq.

I See The Love

“MENIKAH?!”

Sasaki Tanaka tersenyum lembut dengan mata berbinar penuh semangat, menatap putri tunggalnya yang masih mengerjap tidak mempercayai pendengarannya.

Yuki bangkit dari duduknya, berjalan kaku menuju jendela kaca dengan kerai terbuka. Ia berbalik, menoleh pada ayahnya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit.

“Menikah dengan —- Kei-sama?” Ulangnya dengan wajah meringis.

Ada kerut halus pada jarak antara kedua alisnya, ketika ia menyebutkan nama pemuda yang merupakan putra dari majikan ayahnya bekerja selama ini. Bukannya tidak menyukai Tuan Muda keluarga Matsumoto itu, ia tidak membencinya. Hanya saja Kei-sama —- , entahlah. Ia tidak tahu bagaimana menggambarkan pemuda itu.

“Ayah tidak serius — kan?”

Gadis dengan rambut berwarna merah muda ini sangat berharap Sasaki Tanaka hanya bergurau padanya. Namun melihat raut wajah ayahnya dan matanya yang tampak serius, ia menyadari ini bukan lelucon semata.

“Semalam, Kei-sama melamarmu pada ayah. ” Ungkap pria itu dengan bangga.

Sudah bukan rahasia lagi kalau Sasaki sangat memuja dan memuji Tuan Muda Keisuke. Selama ini Yuki selalu dicekokin cerita oleh ayahnya betapa baik, pintar dan sopannya pewaris keluarga Matsumoto itu.

Yah, Yuki mengakui bahwa Lord dan Lady Matsumoto (Baca Matsumoto Kyosuke dan Nina dalam Choose You http://t.co/bE6emIAzcj) begitu baik terhadap keluarga mereka, terutama sang Nyonya Besar. Lady Matsumoto memperlakukannya bagai putrinya sendiri dan menghujaninya dengan kasih sayang bagai ibu kandung.

Tetapi Kei-sama, selain mereka nyaris tidak pernah berbicara. Sepertinya pemuda itu tidak menyukai kehadiran Yuki di rumah keluarga Matsumoto. Dan kini, menurut ayahnya, pemuda itu ingin melamarnya menjadi istri. Rasanya tidak mungkin. Lagi pula, Yuki baru berusia 16 tahun serta masih bersekolah.

“Ayah yakin —- tidak berhalusinasi?”

Pria setengah baya itu tertawa mendengar perkataan putrinya. Tubuhnya berguncang lemah dengan rona wajah memerah.

“Ayah sudah mengatakan ‘IYA’ pada Kei-sama. ” Ungkapnya setelah gelak tawanya mereda.

“APA?!” Kaget Yuki lagi.

“Ayah ingin aku menikahi — orang itu?”

Sasaki memandang putrinya lekat-lekat. Ada sebuah senyum, terlampir dibibirnya dengan lebar. Sebuah senyum pengharapan yang tulus, dari seorang ayah yang sedang sekarat untuk putri tunggalnya.

“Ayah yakin, ia akan membahagiakanmu. Dan tidak ada orang lain yang lebih mampu melakukan itu dibandingkan dirinya. ”

“Kei-sama sudah menyukaimu sejak usianya baru 5 tahun — sampai saat ini. Lelaki yang seperti itu, pasti akan benar-benar menjagamu dengan baik, putriku. Aku bisa tenang, meninggalkanmu ditangannya. “

“Aku tidak tahu, ayah. ” Ujar Yuki ragu.

Gadis itu mendekat ke ranjang ayahnya. Lalu duduk disisi tempat tidur dan meraih kedua belah tangan lelaki yang berusia 49 tahun ini. Kedua anak beranak ini berpegangan tangan dengan mata saling menatap sendu.

“Tetapi kalau ayah memang yakin bahwa Kei-samalah orang yang tepat untukku —- aku akan mematuhi keinginan ayah. ”

Sasaki Tanakan tersenyum. Pandangan matanya tampak sedih bercampur haru. Ia memeluk tubuh anak semata wayang yang sangat ia kasihi, Sasaki Yuki. Yang kini juga tampak berusaha tersenyum meski meragu.

¤¤¤¤

Setelah 3 hari kami menikah, ayah mertuaku, Sasaki Tanaka-san meninggal dunia akibat kanker paru-paru stadium 4 yang sudah dideritanya selama beberapa tahun ini.

Sasaki Yuki yang kini telah menjadi Matsumoto Yuki, istriku, tidak dapat kukatakan betapa terpukulnya ia. Saking sedihnya, istriku hanya bisa terdiam bagai boneka tak bernyawa. Ia tidak menangis, menjerit atau mengatakan sepatah katapun. Kemudian usai kremasi ayah mertuaku, barulah ia meledak dalam tangisan yang begitu menyedihkan.

Yuki menangis tersedu-sedu sambil memeluk guci abu milik ayahnya. Dan aku hanya bisa memeluknya tanpa berkata apa-apa. Aku tak bisa menghiburnya dan tak tahu bagaimana perasaan yang sedang ia alami. Satu yang pasti, melihatnya begitu terluka membuatku jauh lebih sakit karena tak bisa berbuat apapun untuk Yuki.

Aku memeluknya sepanjang malam. Menerima tangisnya yang tumpah di dadaku dan membiarkannya tertidur karena kelelahan dibahuku.

Gadisku, untuk pertama kali aku bisa sedekat itu dengannya adalah saat menyedihkan baginya. Sungguh aku tidak mau ia merasakan kehilangan seperti itu lagi dalam kehidupannya. Tidak akan pernah lagi.

Aku ingin menjaganya, untuk tetap bahagia. Yuki adalah prioritas utama bagiku dan akan selalu begitu.

Ditengah malam, dalam gelapnya suasana kamar kami dan hanya mengandalkan cahaya bulan yang jatuh pada wajah istriku yang tertidur pada lenganku. Aku bisa mengamati gadisku ini tanpa rasa bersalah.

Yuki-ku yang cantik, dengan kulit putih sehalus porselin. Mata bulat besar yang dibingkai bulu mata lebat serta alis yang rapi. Hidungnya runcing dan mungil. Bibirnya enak dilihat dan sepertinya akan menjadi kesukaanku nanti.

Bagiku, ia bukan sekedar gadis dengan tampilan fisik yang indah. Selama 16 tahun hidupnya, aku selalu mengamatinya dari jauh. Yuki dibawah didikan orang tuanya adalah tumbuh menjadi sosok yang baik hati, cerdas dan mandiri. Sesuatu yang layak untukku tunggu dan perjuangkan, setelah selama ini.

Aku mampu menjaganya, juga membahagiakannya seperti janjiku pada ayah mertuaku.

Flashback

“Kei-sama— ” ujar lelaki setengah baya itu tersengal-sengal.

Ia baru saja mendapat serangan kesakitan untuk kesekian kalinya. Dokter memberikannya obat penghilang rasa sakit, karena sudah tak ada lagi hal yang dapat dilakukan untuk pria ini.

Sasaki Tanaka menggenggam erat jemari tangan kanan pemuda usia 21 tahun di hadapannya. Wajah pria ini sungguh pucat dan layu, tampak penuh pengharapan padanya.

Hari ini, Tuan Muda keluarga Matsumoto mengunjungi Sasaki Tanaka di kamar rawat inapnya di Todai Hospital. Rutinitas yang dilakukannya seminggu sekali, disore hari usai kembali dari magang di kantor ayahnya. Sudah empat bulan lamanya pria yang menduda selama sepuluh tahun usai ditinggal mati istrinya ini, dirawat di bangsal penyakit dalam.

Sasaki tidak mempunyai keluarga selain seorang putri. Meski begitu keluarga majikannya, Lord dan Lady Matsumoto memperlakukannya sangat baik, bagai keluarga sendiri. Bahkan saat ini Yuki, putrinya tinggal dan dirawat di rumah keluarga utama klan Matsumoto. Dan bukan rahasia lagi bahwa Lady Matsumoto Nina diam-diam mendidik Yuki menjadi calon pengantin bagi putra kesayangannya.

“Sasaki-san, semuanya akan baik-baik saja.” Katanya mencoba menenangkan pria yang sudah mengabdikan sepanjang hidupnya pada Lord Matsumoto, ayah dari Matsumoto Keisuke.

Sasaki menggeleng dengan senyum sedih. Sepertinya ia sudah menyadari bahwa kondisinya sudah semakin memburuk. Kanker paru-paru yang ia derita sudah memasuki stadium empat, meski operasi serta kemoterapinya berhasil hanya dapat memperpanjang umurnya selama setahun lebih. Dan kini sel-sel jahat tersebut sudah kembali, pengobatan beserta kemoterapinya sudah tak mempan untuk menahan laju perusakan akibat kanker tersebut. Sel-sel itu sudah menyebar dengan cepat keorgan-organ vital lain, dalam tubuh ringkih Sasaki.

“Belakangan ini aku sangat merindukan Marie.” Gumamnya dengan senyuman tipis.

Kei bisa melihat kerinduan yang dalam, juga kesedihan terpancarkan dibola mata pria yang sangat ia hormati ini.

Sasaki Tanaka bukan hanya seorang pegawai bagi keluarga Matsumoto, ia adalah teman serta kepercayaan bagi Lord Matsumoto Kyosuke. Dan bagi Keisuke sendiri, Sasaki sudah seperti paman yang tak pernah ia miliki.

“Apa yang dapat kulakukan untukmu, Sasaki-san?” Tanya Kei dengan bersungguh-sungguh.

“Hanya saja, Yuki —- putriku. Ia —– ”

Pria itu menatap pemuda tampan dengan mata tajam seindah malam penuh bintang terang. Sebuah senyuman malu-malu terukir dibibirnya.

“Apa Kei-sama masih ingat dengan janji itu (Rasa yang Dimulai Terlalu Awal http://wp.me/p2SQIe-aA )?”

Splash.

Pertanyaan tiba-tiba itu langsung saja membuat rona merah padam menjalari kedua belah pipi Keisuke hingga kedua belah telinganya. Cepat ia membuang pandangannya keluar jendela kamar rumah sakit yang tampak berkabut.

Untuk bermenit-menit kemudian, tidak ada satupun dari mereka yang memulai untuk melanjutkan pembicaraan. Hanya terdengar suara detak mesin-mesin yang menopang hidup Sasaki serta deruman semprotan uap udara.

Suhu kamar yang sejuk malah dirasakan menyengat oleh pemuda bermarga Matsumoto ini. Ia merasakan wajahnya terbakar dan sesungguhnya tidak mau membayangkan seperti apa rupanya saat ini.

“Tentu, aku mengingatnya. ”

Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Keisuke menatap langsung pada Sasaki Tanaka.

Matsumoto Keisuke adalah sosok sempurna pewaris klan Matsumoto. Satu-satunya dan terakhir. Bertubuh tinggi sekitar 186 cm dan proporsional. Serta dianugerahi otak yang cerdas dan kemampuan terampil yang sudah diasah sejak muda. Ia sudah siap untuk mengambil tanggung jawab besar dalam perusahaan keluarga Matsumoto.

Sasaki lalu tersenyum lembut padanya. Ada kebijaksanaan terpancar dari sorot matanya. Bagaimanapun, ia adalah pria yang jauh lebih tua dan mempunyai banyak pengalaman dibandingkan pemuda ini. Dan ia sangat maklum dengan keadaannya saat ini.

“Putri saya, Yuki —- mungkin tidak sempurna. Ia masih tidak bertanggung jawab dan belum dewasa. Pasti ada banyak kekurangannya. Tetapi —- tetapi, kalau anda bersedia menunggu —– ”

“Sasaki. ” Potong Keisuke dengan cepat. Ia tidak mau mendengar ucapan pria itu selanjutnya.

Perlahan ia melepaskan pegangan tangan Sasaki dan bangkit dari duduknya. Kei berdiri dengan canggung di hadapan pria ini, lalu tiba-tiba membungkuk dengan sangat hormat padanya.

“Izinkan aku untuk menikahi Sasaki Yuki, ayah mertua. Aku berjanji akan menjaganya serta membahagiakannya selalu. ”

Sasaki terperangah.

Wajahnya tampak terkejut sekaligus penuh dengan binar bahagia. Sehingga meski harus mati detik inipun ia sudah rela.

Tanpa sadar mata tuanya berkaca-kaca dan ia tak dapat melukiskan betapa bersyukurnya dirinya.

“Terima kasih, Tuhan. ” Gumamnya berkali-kali.

Flashback end

¤¤¤¤

Yuki menoleh pada pemuda yang tiba-tiba menyerobot berjalan disisinya. Dan dengan cepat menyusupkan jemari tangan untuk bertaut dengannya. Keisuke suka sekali menggenggam tangannya ditiap kesempatan. Dan Yuki tidak menolaknya.

“Aku suka bergandengan tangan dengan Kei-sama. “

Ia tersenyum memandang jari-jarinya yang tepat mengisi sela-sela jemari panjang dan kurus milik pemuda jangkung Matsumoto.

Kei melirik pada gadis ini dan tersenyum tipis. Meremas lembut jari-jari Yuki dalam genggamannya, membuat sang gadis menengadah padanya.

Lalu secepat kilat tanpa diduga ia mencondongkan kepalanya, mengecup bibir ranum kekasihnya. Dan seolah tanpa rasa bersalah ia kembali bersikap acuh. Tidak memperdulikan keberadaan mereka diruang publik, dan ada banyak mata yang mencuri pandang pada pasangan menarik ini.

Yuki mematung dengan napas tercekat. Wajahnya merona padam. Terkejut dan malu.

Ini masih di kawasan sekolah. Ada banyak guru dan teman-teman gadis yang diam-diam sudah menikah ini. Meski ini hari terakhir Yuki di sekolah, bisa-bisanya Kei menggodanya seperti ini.

Keisuke menyeringai lebar, tanpa suara. Ia menikmati melihat istrinya rikuh seperti ini.

“Walau terkadang Kei-sama bersikap menyebalkan. Tangannya hangat seperti matanya, seperti hatinya. “

Yuki mengingat dengan jelas, Keisuke tak pernah meninggalkannya saat ia merasa hancur setelah kematian ayahnya. Pemuda ini tanpa banyak bicara, mendekapnya. Memberikan perlindungan yang nyaman. Tidak menghujaninya dengan omong kosong dan menerima semua tangisnya.

“Aku suka bersandar padanya. “

“Aku suka berada dalam pelukannya. “

Mungkin sejak saat itu, Keisuke perlahan-lahan tanpa disadari, menjadi pusat dari dunia Yuki. Lelaki muda ini adalah segala yang ia butuhkan. Dan Yuki kini mengerti mengapa ayahnya menginginkan pernikahan mereka. Karena ayahnya tahu dengan pasti, Keisuke serius bertanggung jawab terhadap dirinya.

“Aku merindukannya, bahkan ketika ia baru saja berlalu. “

Kini Yuki tak bisa menjelaskan debaran jantungnya yang menggila tiap kali bersama Keisuke. Ia merasakan gairah, kecemasan dan ketertarikan ganjil setiap saat. Pemuda itu menjungkir balikkan dunianya dan Yuki sama sekali tidak keberatan dengan itu. Hingga ia sampai pada sebuah kesimpulan :

“Kurasa aku menyukainya. “

Yuki kembali memandang lekat-lekat wajah suaminya. Mata tajam yang dinaungi alis tebal dan bulu mata panjang. Hidung mancung. Tulang pipi tinggi dengan rahang kukuh serta bibir yang selalu tersenyum tipis, seolah mencibir dunia. Keisuke mewarisi ketampanan pria-pria keluarga Matsumoto.

“Suka — dengan yang kau lihat?”

Pemuda itu mengedipkan matanya, sebuah senyum kembali lolos dibibirnya.

Yuki menarik nafas berat. Dan mengerjapkan mata lebarnya yang indah. Mempertahankan ekspresi tenangnya.

“Tidak sebesar rasa sukamu padaku, Kei-sama. ” Ujarnya datar.

“Hah?!” Keisuke kaget.

Gadis dengan rambut merah muda itu, meniru seringai nakal suaminya. Lalu ia balas mengedip pada pria disampingnya.

“Oh — aku belajar dari pakarnya sayang. “

¤¤¤¤
Teruntuk : Sidar Majid, yang konsisten meminta tulisan terbaruku.