I See The Love

“MENIKAH?!”

Sasaki Tanaka tersenyum lembut dengan mata berbinar penuh semangat, menatap putri tunggalnya yang masih mengerjap tidak mempercayai pendengarannya.

Yuki bangkit dari duduknya, berjalan kaku menuju jendela kaca dengan kerai terbuka. Ia berbalik, menoleh pada ayahnya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit.

“Menikah dengan —- Kei-sama?” Ulangnya dengan wajah meringis.

Ada kerut halus pada jarak antara kedua alisnya, ketika ia menyebutkan nama pemuda yang merupakan putra dari majikan ayahnya bekerja selama ini. Bukannya tidak menyukai Tuan Muda keluarga Matsumoto itu, ia tidak membencinya. Hanya saja Kei-sama —- , entahlah. Ia tidak tahu bagaimana menggambarkan pemuda itu.

“Ayah tidak serius — kan?”

Gadis dengan rambut berwarna merah muda ini sangat berharap Sasaki Tanaka hanya bergurau padanya. Namun melihat raut wajah ayahnya dan matanya yang tampak serius, ia menyadari ini bukan lelucon semata.

“Semalam, Kei-sama melamarmu pada ayah. ” Ungkap pria itu dengan bangga.

Sudah bukan rahasia lagi kalau Sasaki sangat memuja dan memuji Tuan Muda Keisuke. Selama ini Yuki selalu dicekokin cerita oleh ayahnya betapa baik, pintar dan sopannya pewaris keluarga Matsumoto itu.

Yah, Yuki mengakui bahwa Lord dan Lady Matsumoto (Baca Matsumoto Kyosuke dan Nina dalam Choose You http://t.co/bE6emIAzcj) begitu baik terhadap keluarga mereka, terutama sang Nyonya Besar. Lady Matsumoto memperlakukannya bagai putrinya sendiri dan menghujaninya dengan kasih sayang bagai ibu kandung.

Tetapi Kei-sama, selain mereka nyaris tidak pernah berbicara. Sepertinya pemuda itu tidak menyukai kehadiran Yuki di rumah keluarga Matsumoto. Dan kini, menurut ayahnya, pemuda itu ingin melamarnya menjadi istri. Rasanya tidak mungkin. Lagi pula, Yuki baru berusia 16 tahun serta masih bersekolah.

“Ayah yakin —- tidak berhalusinasi?”

Pria setengah baya itu tertawa mendengar perkataan putrinya. Tubuhnya berguncang lemah dengan rona wajah memerah.

“Ayah sudah mengatakan ‘IYA’ pada Kei-sama. ” Ungkapnya setelah gelak tawanya mereda.

“APA?!” Kaget Yuki lagi.

“Ayah ingin aku menikahi — orang itu?”

Sasaki memandang putrinya lekat-lekat. Ada sebuah senyum, terlampir dibibirnya dengan lebar. Sebuah senyum pengharapan yang tulus, dari seorang ayah yang sedang sekarat untuk putri tunggalnya.

“Ayah yakin, ia akan membahagiakanmu. Dan tidak ada orang lain yang lebih mampu melakukan itu dibandingkan dirinya. ”

“Kei-sama sudah menyukaimu sejak usianya baru 5 tahun — sampai saat ini. Lelaki yang seperti itu, pasti akan benar-benar menjagamu dengan baik, putriku. Aku bisa tenang, meninggalkanmu ditangannya. “

“Aku tidak tahu, ayah. ” Ujar Yuki ragu.

Gadis itu mendekat ke ranjang ayahnya. Lalu duduk disisi tempat tidur dan meraih kedua belah tangan lelaki yang berusia 49 tahun ini. Kedua anak beranak ini berpegangan tangan dengan mata saling menatap sendu.

“Tetapi kalau ayah memang yakin bahwa Kei-samalah orang yang tepat untukku —- aku akan mematuhi keinginan ayah. ”

Sasaki Tanakan tersenyum. Pandangan matanya tampak sedih bercampur haru. Ia memeluk tubuh anak semata wayang yang sangat ia kasihi, Sasaki Yuki. Yang kini juga tampak berusaha tersenyum meski meragu.

¤¤¤¤

Setelah 3 hari kami menikah, ayah mertuaku, Sasaki Tanaka-san meninggal dunia akibat kanker paru-paru stadium 4 yang sudah dideritanya selama beberapa tahun ini.

Sasaki Yuki yang kini telah menjadi Matsumoto Yuki, istriku, tidak dapat kukatakan betapa terpukulnya ia. Saking sedihnya, istriku hanya bisa terdiam bagai boneka tak bernyawa. Ia tidak menangis, menjerit atau mengatakan sepatah katapun. Kemudian usai kremasi ayah mertuaku, barulah ia meledak dalam tangisan yang begitu menyedihkan.

Yuki menangis tersedu-sedu sambil memeluk guci abu milik ayahnya. Dan aku hanya bisa memeluknya tanpa berkata apa-apa. Aku tak bisa menghiburnya dan tak tahu bagaimana perasaan yang sedang ia alami. Satu yang pasti, melihatnya begitu terluka membuatku jauh lebih sakit karena tak bisa berbuat apapun untuk Yuki.

Aku memeluknya sepanjang malam. Menerima tangisnya yang tumpah di dadaku dan membiarkannya tertidur karena kelelahan dibahuku.

Gadisku, untuk pertama kali aku bisa sedekat itu dengannya adalah saat menyedihkan baginya. Sungguh aku tidak mau ia merasakan kehilangan seperti itu lagi dalam kehidupannya. Tidak akan pernah lagi.

Aku ingin menjaganya, untuk tetap bahagia. Yuki adalah prioritas utama bagiku dan akan selalu begitu.

Ditengah malam, dalam gelapnya suasana kamar kami dan hanya mengandalkan cahaya bulan yang jatuh pada wajah istriku yang tertidur pada lenganku. Aku bisa mengamati gadisku ini tanpa rasa bersalah.

Yuki-ku yang cantik, dengan kulit putih sehalus porselin. Mata bulat besar yang dibingkai bulu mata lebat serta alis yang rapi. Hidungnya runcing dan mungil. Bibirnya enak dilihat dan sepertinya akan menjadi kesukaanku nanti.

Bagiku, ia bukan sekedar gadis dengan tampilan fisik yang indah. Selama 16 tahun hidupnya, aku selalu mengamatinya dari jauh. Yuki dibawah didikan orang tuanya adalah tumbuh menjadi sosok yang baik hati, cerdas dan mandiri. Sesuatu yang layak untukku tunggu dan perjuangkan, setelah selama ini.

Aku mampu menjaganya, juga membahagiakannya seperti janjiku pada ayah mertuaku.

Flashback

“Kei-sama— ” ujar lelaki setengah baya itu tersengal-sengal.

Ia baru saja mendapat serangan kesakitan untuk kesekian kalinya. Dokter memberikannya obat penghilang rasa sakit, karena sudah tak ada lagi hal yang dapat dilakukan untuk pria ini.

Sasaki Tanaka menggenggam erat jemari tangan kanan pemuda usia 21 tahun di hadapannya. Wajah pria ini sungguh pucat dan layu, tampak penuh pengharapan padanya.

Hari ini, Tuan Muda keluarga Matsumoto mengunjungi Sasaki Tanaka di kamar rawat inapnya di Todai Hospital. Rutinitas yang dilakukannya seminggu sekali, disore hari usai kembali dari magang di kantor ayahnya. Sudah empat bulan lamanya pria yang menduda selama sepuluh tahun usai ditinggal mati istrinya ini, dirawat di bangsal penyakit dalam.

Sasaki tidak mempunyai keluarga selain seorang putri. Meski begitu keluarga majikannya, Lord dan Lady Matsumoto memperlakukannya sangat baik, bagai keluarga sendiri. Bahkan saat ini Yuki, putrinya tinggal dan dirawat di rumah keluarga utama klan Matsumoto. Dan bukan rahasia lagi bahwa Lady Matsumoto Nina diam-diam mendidik Yuki menjadi calon pengantin bagi putra kesayangannya.

“Sasaki-san, semuanya akan baik-baik saja.” Katanya mencoba menenangkan pria yang sudah mengabdikan sepanjang hidupnya pada Lord Matsumoto, ayah dari Matsumoto Keisuke.

Sasaki menggeleng dengan senyum sedih. Sepertinya ia sudah menyadari bahwa kondisinya sudah semakin memburuk. Kanker paru-paru yang ia derita sudah memasuki stadium empat, meski operasi serta kemoterapinya berhasil hanya dapat memperpanjang umurnya selama setahun lebih. Dan kini sel-sel jahat tersebut sudah kembali, pengobatan beserta kemoterapinya sudah tak mempan untuk menahan laju perusakan akibat kanker tersebut. Sel-sel itu sudah menyebar dengan cepat keorgan-organ vital lain, dalam tubuh ringkih Sasaki.

“Belakangan ini aku sangat merindukan Marie.” Gumamnya dengan senyuman tipis.

Kei bisa melihat kerinduan yang dalam, juga kesedihan terpancarkan dibola mata pria yang sangat ia hormati ini.

Sasaki Tanaka bukan hanya seorang pegawai bagi keluarga Matsumoto, ia adalah teman serta kepercayaan bagi Lord Matsumoto Kyosuke. Dan bagi Keisuke sendiri, Sasaki sudah seperti paman yang tak pernah ia miliki.

“Apa yang dapat kulakukan untukmu, Sasaki-san?” Tanya Kei dengan bersungguh-sungguh.

“Hanya saja, Yuki —- putriku. Ia —– ”

Pria itu menatap pemuda tampan dengan mata tajam seindah malam penuh bintang terang. Sebuah senyuman malu-malu terukir dibibirnya.

“Apa Kei-sama masih ingat dengan janji itu (Rasa yang Dimulai Terlalu Awal http://wp.me/p2SQIe-aA )?”

Splash.

Pertanyaan tiba-tiba itu langsung saja membuat rona merah padam menjalari kedua belah pipi Keisuke hingga kedua belah telinganya. Cepat ia membuang pandangannya keluar jendela kamar rumah sakit yang tampak berkabut.

Untuk bermenit-menit kemudian, tidak ada satupun dari mereka yang memulai untuk melanjutkan pembicaraan. Hanya terdengar suara detak mesin-mesin yang menopang hidup Sasaki serta deruman semprotan uap udara.

Suhu kamar yang sejuk malah dirasakan menyengat oleh pemuda bermarga Matsumoto ini. Ia merasakan wajahnya terbakar dan sesungguhnya tidak mau membayangkan seperti apa rupanya saat ini.

“Tentu, aku mengingatnya. ”

Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Keisuke menatap langsung pada Sasaki Tanaka.

Matsumoto Keisuke adalah sosok sempurna pewaris klan Matsumoto. Satu-satunya dan terakhir. Bertubuh tinggi sekitar 186 cm dan proporsional. Serta dianugerahi otak yang cerdas dan kemampuan terampil yang sudah diasah sejak muda. Ia sudah siap untuk mengambil tanggung jawab besar dalam perusahaan keluarga Matsumoto.

Sasaki lalu tersenyum lembut padanya. Ada kebijaksanaan terpancar dari sorot matanya. Bagaimanapun, ia adalah pria yang jauh lebih tua dan mempunyai banyak pengalaman dibandingkan pemuda ini. Dan ia sangat maklum dengan keadaannya saat ini.

“Putri saya, Yuki —- mungkin tidak sempurna. Ia masih tidak bertanggung jawab dan belum dewasa. Pasti ada banyak kekurangannya. Tetapi —- tetapi, kalau anda bersedia menunggu —– ”

“Sasaki. ” Potong Keisuke dengan cepat. Ia tidak mau mendengar ucapan pria itu selanjutnya.

Perlahan ia melepaskan pegangan tangan Sasaki dan bangkit dari duduknya. Kei berdiri dengan canggung di hadapan pria ini, lalu tiba-tiba membungkuk dengan sangat hormat padanya.

“Izinkan aku untuk menikahi Sasaki Yuki, ayah mertua. Aku berjanji akan menjaganya serta membahagiakannya selalu. ”

Sasaki terperangah.

Wajahnya tampak terkejut sekaligus penuh dengan binar bahagia. Sehingga meski harus mati detik inipun ia sudah rela.

Tanpa sadar mata tuanya berkaca-kaca dan ia tak dapat melukiskan betapa bersyukurnya dirinya.

“Terima kasih, Tuhan. ” Gumamnya berkali-kali.

Flashback end

¤¤¤¤

Yuki menoleh pada pemuda yang tiba-tiba menyerobot berjalan disisinya. Dan dengan cepat menyusupkan jemari tangan untuk bertaut dengannya. Keisuke suka sekali menggenggam tangannya ditiap kesempatan. Dan Yuki tidak menolaknya.

“Aku suka bergandengan tangan dengan Kei-sama. “

Ia tersenyum memandang jari-jarinya yang tepat mengisi sela-sela jemari panjang dan kurus milik pemuda jangkung Matsumoto.

Kei melirik pada gadis ini dan tersenyum tipis. Meremas lembut jari-jari Yuki dalam genggamannya, membuat sang gadis menengadah padanya.

Lalu secepat kilat tanpa diduga ia mencondongkan kepalanya, mengecup bibir ranum kekasihnya. Dan seolah tanpa rasa bersalah ia kembali bersikap acuh. Tidak memperdulikan keberadaan mereka diruang publik, dan ada banyak mata yang mencuri pandang pada pasangan menarik ini.

Yuki mematung dengan napas tercekat. Wajahnya merona padam. Terkejut dan malu.

Ini masih di kawasan sekolah. Ada banyak guru dan teman-teman gadis yang diam-diam sudah menikah ini. Meski ini hari terakhir Yuki di sekolah, bisa-bisanya Kei menggodanya seperti ini.

Keisuke menyeringai lebar, tanpa suara. Ia menikmati melihat istrinya rikuh seperti ini.

“Walau terkadang Kei-sama bersikap menyebalkan. Tangannya hangat seperti matanya, seperti hatinya. “

Yuki mengingat dengan jelas, Keisuke tak pernah meninggalkannya saat ia merasa hancur setelah kematian ayahnya. Pemuda ini tanpa banyak bicara, mendekapnya. Memberikan perlindungan yang nyaman. Tidak menghujaninya dengan omong kosong dan menerima semua tangisnya.

“Aku suka bersandar padanya. “

“Aku suka berada dalam pelukannya. “

Mungkin sejak saat itu, Keisuke perlahan-lahan tanpa disadari, menjadi pusat dari dunia Yuki. Lelaki muda ini adalah segala yang ia butuhkan. Dan Yuki kini mengerti mengapa ayahnya menginginkan pernikahan mereka. Karena ayahnya tahu dengan pasti, Keisuke serius bertanggung jawab terhadap dirinya.

“Aku merindukannya, bahkan ketika ia baru saja berlalu. “

Kini Yuki tak bisa menjelaskan debaran jantungnya yang menggila tiap kali bersama Keisuke. Ia merasakan gairah, kecemasan dan ketertarikan ganjil setiap saat. Pemuda itu menjungkir balikkan dunianya dan Yuki sama sekali tidak keberatan dengan itu. Hingga ia sampai pada sebuah kesimpulan :

“Kurasa aku menyukainya. “

Yuki kembali memandang lekat-lekat wajah suaminya. Mata tajam yang dinaungi alis tebal dan bulu mata panjang. Hidung mancung. Tulang pipi tinggi dengan rahang kukuh serta bibir yang selalu tersenyum tipis, seolah mencibir dunia. Keisuke mewarisi ketampanan pria-pria keluarga Matsumoto.

“Suka — dengan yang kau lihat?”

Pemuda itu mengedipkan matanya, sebuah senyum kembali lolos dibibirnya.

Yuki menarik nafas berat. Dan mengerjapkan mata lebarnya yang indah. Mempertahankan ekspresi tenangnya.

“Tidak sebesar rasa sukamu padaku, Kei-sama. ” Ujarnya datar.

“Hah?!” Keisuke kaget.

Gadis dengan rambut merah muda itu, meniru seringai nakal suaminya. Lalu ia balas mengedip pada pria disampingnya.

“Oh — aku belajar dari pakarnya sayang. “

¤¤¤¤
Teruntuk : Sidar Majid, yang konsisten meminta tulisan terbaruku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s