The Guy Who Stole Your Kiss!

Daniel’s Bar, Sabtu pukul 11.30 malam.

Adrian duduk dengan diam di sudut bar sambil memegang botol birnya. Mengawasi tajam kearah tempat duduk Cara dan teman-teman perempuannya.

Gadis-gadis itu tampak bersemangat, berisik dan tahu benar bahwa mereka mendapat perhatian dari banyak pria-pria disini. Yang mengawasi mereka seperti elang dan menunggu kesempatan untuk maju.

Hanya Cara yang tampak diam dan hanya tersenyum malu-malu. Beberapa kali ia menolak ajakan pria yang mengajaknya turun ke lantai dansa. Sementara dua orang temannya yang lain sudah beberapa kali berdansa dengan pria yang menarik perhatian mereka. Betapa tidak bertanggung jawabnya mereka meninggalkan Cara sendirian dimeja itu, membuatnya semakin menjadi incaran hiu-hiu kelaparan mencari mangsa.

Setidaknya gadis itu masih menolak dengan sopan. Hal itulah yang membuat Adrian bertahan tetap menempel dikursinya, sendiri.

Cara tidak tertarik dengan siapapun. Dan ia yakin, gadis itu tidak akan memberi kesempatan pada pria lain.

“Bagaimana bila ada seseorang yang menarik perhatian Cara?”

Adrian menarik napas berat. Menggelengkan kepalanya, kesal. Lalu meneguk botol bir keduanya.

Mata biru jernihnya, menatap dalam-dalam pada sosok gadis cantik bertubuh mungil dengan rambut pirang platinum tersampir dipundak.

Malam ini Cara semakin tampak mempesona. Ia memakai gaun biru berbahan ringan dengan model simpel, yang membungkus tubuh indahnya. Ia juga mengenakan stiletto hitam yang mengekspos keindahan betis dan kaki gadis itu. Melihatnya seperti itu, dari kejauhan, membuat Adrian terganggu dan nyaris menggila.

“Apa ia ingin menggoda lelaki lain?”

Pria berusia 26 tahun ini menggertakkan gigi, kesal.

Beberapa mata pria-pria lain tampak mengincar gadis itu. Tidak perlu menjadi jenius untuk melihat apa yang sedang pria-pria ini pikirkan tentang gadis pirang itu. Bukan sebuah pikiran yang dapat menenangkan Adrian.

Ia mengingat dengan jelas Cara punya senyuman hangat dan tulus dengan gigi-gigi rapi serta seputih mutiara, yang selalu bisa membuat siapapun cepat merasa tertarik padanya.

“Seberapa keras ia menolak, pria-pria disini malah akan semakin keras mencoba mendekatinya. “

Adrian menghela napas.

Ia bertemu Cara di tempat ini enam minggu yang lalu. Sama seperti malam ini gadis itu juga tidak sendirian, ia bersama teman-temannya, mereka berpesta dan menari di lantai dansa.

Adrian menyadari bahwa ia sudah memperhatikan Cara sejak satu jam yang lalu namun belum melakukan gerakan apapun, untuk mendekati gadis cantik ini. Bukan karena tidak berani, ia hanya tidak mau menjadi salah satu dari pria-pria yang patah hati karena ditolak gadis ini.

Lalu saat ada seorang pria keras kepala yang terus-terusan menempeli Cara dengan mata kurang ajar, Adrian tidak dapat menahan dirinya lagi.

Ia menarik tangan gadis itu dan membuatnya berada dalam pelukannya di lantai dansa yang penuh. Pria brengsek yang merasa mangsanya direbut itu, tak dapat mengatakan apapun saat Adrian melemparkan tatapan matanya yang bisa membunuh. Bersunggut-sunggut ia menyingkir, teramat kesal.

Cara dengan perhatian penuh, mendongak padanya. Menatap mata biru Adrian dengan bola mata cokelat keemasan miliknya. Saat itu Adrian tak dapat memikirkan apapun selain terpesona pada mata dan bibir gadis itu. Hingga membuatnya lupa bernapas dan secara impulsif, ia menunduk.

Adrian menempelkan bibirnya pada milik gadis itu. Dan sebuah seringai lolos diwajah tampannya.

Cara membelalak. Terkejut namun tidak sempat berkelit, menolak.

“Hai —- Aku Adrian Carver. ” Sapanya dengan senyuman lebar, rasa puas memenuhi sekujur tubuhnya.

“…. ”

Gadis itu tampak bingung.

“Kuharap, kau tidak kehilangan lidahmu, cantik. ”

Cara bergerak gelisah dalam pelukan Adrian. Namun pria ini tidak semudah itu melepaskannya.

“Aku Cara. Cara Blaire. ” Cicit gadis itu dengan suara pelan, yang hanya bisa didengar oleh Adrian.

Saat itu Adrian merasa lebih bahagia bahkan bila dibandingkan ia memenangkan balap MotoGP. Ia sudah memiliki dunia dalam genggamannya. Tetapi kini, ia disini. Duduk dalam gelisah serta kemarahan, mengawasi Cara diam-diam.

¤¤¤¤

Cara menggeleng dengan tegas ketika seorang pria berkali-kali mengajaknya turun berdansa. Tetapi penolakannya tidak membuat pria itu segera pergi. Dengan berani ia duduk di kursi kosong sebelah gadis itu dan mulai merayunya.

Cara menghela napas.

Tadinya ia hanya ingin bersenang-senang dengan teman-teman wanitanya dan menari habis-habisan. Tetapi dengan cepat Emily dan Maggie mengkhianatinya dan berdansa dengan pria-pria hot incaran mereka.

“Kau cant— ”

Tangan pria itu terjulur ingin menyentuh rambut Cara yang bergelung dipundaknya, namun sebuah tangan lain dengan jari-jari kurus dan panjang, dengan hiasan gelang kulit dipergelangan dan sebuah cincin Bulgari dijari tengah. Menangkap tangan pria itu dan mencengkramnya keras.

Sipria dan gadis pirang, serentak menoleh pada sosok ketiga diantara mereka.

“Halo Cara!”

Adrian tersenyum dengan aura gelap. Matanya tampak terlalu dingin dan Cara merasa merinding melihatnya. Ada perasaan tidak enak menyelimuti mereka.

“Dude, pergilah sebelum aku membuatmu mengompol dicelana. ”

Ia menyentakkan tangan si pria asing. Sepertinya cengkraman tangan yang dilakukan sepenuh hati oleh Adrian, benar-benar menyakiti pria tersebut. Sambil meringis dan menyumpah, dia beranjak dari hadapan mereka.

Cara duduk dengan gelisah dan membuang tatapan dari pria berambut gelap ini. Adrian duduk disisinya dengan tubuh menempel pada sang gadis. Tanpa canggung ia merangkulkan lengan kepundak Cara, seolah memang punya hak untuk itu.

“Mengapa kau tidak mengangkat telefonku atau membalas pesan-pesanku, cantik?”

Dengan tangan kirinya yang bebas, ia mempermainkan jemari tangan Cara yang terletak dipangkuannya. Adrian menatap gadis ini dengan mata dingin dan hati-hati.

“Kupikir, aku pasti bisa menemukanmu disini. Tapi tidak dengan —- para penggemarmu. ”

“Adrian. ” Bisik Cara pelan.

“Ya, sayang. ”

Adrian meremas jari-jari lentik gadis dengan rambut panjang ini. Matanya masih bersinar tajam dan mengancam.

“Apa kau mengikutiku?”

Sebuah seringai muncul diwajah tampannya. Adrian tertawa tanpa suara.

“Apa kau tidak bisa menebaknya?”

“Tentu saja. Adrian pasti mengikutinya dan sudah mengawasinya sejak lama. “

Cara mendesah, merasa kalah.

“Apa yang kau inginkan, Adrian?”

Adrian tersenyum lebar dengan mata berkilat senang.

“KAU!”

Ia tahu pria ini tidak sedang bercanda dengannya dan Adrian Carver selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, tanpa kecuali.

“Apa yang harus kulakukan padamu?”

Selama ia dan Adrian berkencan, pria ini begitu mempesona. Easy going, lucu dan Cara dengan mudah menyukainya. Gadis manapun pasti sulit untuk tidak tertarik pada seorang Adrian Carver. Tetapi belakangan ia mengetahui Adrian adalah seorang player, yang suka bermain dengan banyak gadis-gadis. Cara tidak ingin patah hati, ia kemudian mundur dengan teratur.

Mengabaikan semua panggilan, email dan pesan Adrian. Dan menolak bertemu dengannya disetiap kesempatan. Serta memutuskan mencoba melupakan pria muda ini. Tetapi ternyata tidak mudah apalagi bila Adrian sendiri tidak mau menyerah, mendekatinya.

“Aku tidak ingin patah hati olehmu. ”

“….. ”

Mata biru jernih itu mengamati Cara dengan seksama. Gerakan telunjuk Adrian dipermukaan kulit lengan gadis ini tidak berhenti. Membuat gerakan pola-pola melingkar, melayang diatas kulit sehalus satin Cara.

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, *Carissima?”

*Carissima = sayang (bahasa Italy).

“Adrian —- berapa banyak gadis yang kau kencani? Apa kau tidak pernah berpikir salah satunya adalah kenalan atau temanku?”

“Apa kau tidak mengakuinya?”

Cara menatapnya dengan mata cokelat hangatnya yang bersinar terluka, ada kesedihan disorot mata gadis itu. Yang membuat Adrian merasa lemah.

“Cara — Carissima. Mari kita berbicara, tetapi tidak disini. ”

“Kumohon. ” Pintanya sambil meraih tangan Cara, membantunya berdiri dari kursi.

Tanpa meminta persetujuan dari sang gadis, ia membimbing Cara melewati kerumunan orang di lantai dansa. Menuju pintu keluar dan ketempat ia memarkirkan sedan hitam yang mengantarnya, ke Daniel’s.

“Sebuah Vanquish. “

Cara mendesah, semakin tertekan. Selama mereka berkencan beberapa kali, Adrian selalu memakai beberapa mobil sport mahal. SUV Sport, Porsche, Jaguar, Maserati dan Aston Martin.

Mengapa tak pernah terpikirkan olehnya?

Ia memang tidak tahu banyak soal mobil tetapi cukup tahu bahwa sedan-sedan yang Adrian kendarai memerlukan uang yang sangat banyak, untuk memilikinya. Dan hal ini semakin membuatnya merasa Adrian bukanlah seseorang yang bisa ia capai.

Adrian membukakan pintu untuknya. Dengan sabar memakaikan seat belt untuknya. Lalu mengendarai mobilnya dalam diam. Sepanjang perjalanan Cara tidak mengatakan apapun dan sesekali Adrian meremas jemarinya dengan tangan kanan miliknya yang bebas.

Cara menoleh pada sisi kanan jendela. Mengamati jalanan yang semakin ia pikirkan semakin membuatnya sadar, daerah ini tidak ia kenali. Bukan tempat yang biasa ia datangi.

“Kita mau kemana?” Tanyanya cemas.

Ia menoleh pada Adrian yang menatap lurus kedepan. Ekspresi pria ini tidak terbaca dan Cara takut untuk mengganggunya.

“Ke rumahku.”

“Adrian. ” Bisiknya cemas.

“Aku ingin tempat yang private dan aman. Dan —- aku tidak ingin pembicaraan kita terganggu. ”

Pintu gerbang terbuka dengan sendirinya setelah Adrian memencet beberapa tombol pada sebuah remote khusus. Ban mobil berderak dijalanan berkerikil, memasuki halaman rumah Adrian.

Cara menarik napas panjang.

Adrian tidak pernah bercerita tentang kekayaannya. Ia hanya bercerita sekali, bahwa setelah lulus dari kuliah (dan lupa menyebutkan dari MIT), ia mendirikan perusahaan software dan memiliki beberapa hak paten. Dan sekarang melihat rumah yang terletak dikawasan elit ini, Cara menyadari jarak antara dia dan Adrian semakin jauh.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Adrian sambil mengawasi wajah pucat Cara.

Ia membimbing gadis itu memasuki rumahnya yang megah dan mewah. Membawa gadis itu duduk di sofa kulit yang lembut, di ruang tengah huniannya. Yang entah mengapa malah semakin membuat Cara semakin terintimidasi oleh semua ini.

“Bicaralah dengan cepat, agar aku bisa segera pulang. ”

Adrian memandang Cara yang duduk, menyilangkan kakinya. Dan tampak gelisah serta tak nyaman. Adrian duduk di meja, tepat dihadapan gadis itu dan memegang kedua belah tangannya. Memandang langsung kemata Cara dan mencoba mengenali reaksinya.

“Jujur, sebelum bertemu kamu, aku memang seperti itu. Player. Aku tidak akan memungkirinya, Carissima. ”

Adrian tidak ingin menyembunyikan apapun pada Cara. Bukan karena tidak bisa tetapi justru karena ia memang ingin gadis ini mengetahui segalanya dari dirinya. Tidak dari orang lain.

“Tetapi tidak dengan kamu, Carissima.”

“Aku benar-benar peduli dan sayang sama kamu. ”

Cara mendengus tidak percaya. Apa istimewanya dirinya sampai sang playboy tiba-tiba bertekuk lutut padanya. Ia tidak sepercaya diri itu.

Adrian maju dan berlutut di kaki Cara. Menatap gadis itu dengan mata biru jernihnya yang memukau dan untuk sesaat ia merasa tenggelam.

Ada banyak hal yang terjadi diantara mereka diwaktu singkat, yang tak pernah ada saat Adrian bersama gadis lain. Ia tidak mengerti dengan itu dan kini sedang mencari jawabannya.

Apa yang membuat dua minggu terakhir bagai di neraka setelah Cara meninggalkannya?

“Adrian —- ” gadis itu mendesah, terlihat terbebani.

Pelan-pelan, Cara menarik dirinya dari Adrian. Menjauh. Dan Adrian tidak menyukai itu. Jarak yang dibuat gadis itu baik secara nyata maupun tidak. Ia dapat melihat ketakutan juga sedikit rasa tak percaya pada gadis itu.

“Kau tidak bisa mempercayaiku?”

“…..”

“Aku pernah bersama dengan orang sepertimu —- tampan, menarik, tahu benar apa yang diinginkan. Dan tentu saja tidak bisa setia.”

“Dengar Adrian, apa yang kau rasakan hanya ketertarikan sesaat. Seorang gadis menolakmu, tak ada yang istimewa dari itu. Dan aku tak punya keberanian untuk bersamamu. Kita — kurasa tidak, tidak bisa. ”

Adrian memejamkan matanya sebelum kembali menatap Cara dengan hati-hati.

“Apa yang aku rasakan, selama ini nyata Cara. Melihatmu disana, dengan laki-laki lain, membuatku nyaris — meledak. Aku ingin membunuh bajingan yang berani mendekatimu tadi. ” Geram Adrian tertahan.

Cara tercekat melihat kemarahan diwajah Adrian. Pundaknya yang tegang serta perasaan gelap yang melingkupinya. Saat ini, Cara berharap tidak berada disini, bersama pria ini.

“Apa yang harus kulakukan, agar kau percaya padaku?”

Adrian meraih kedua bahunya. Memaksa sang gadis melihat langsung padanya. Ia menempelkan dahinya pada kening Cara yang menunduk dihadapannya, menolak melihat padanya.

¤¤¤¤

“Aku akan mengantarkanmu pulang. ” Katanya tanpa mau dibantah.

Adrian mengendarai mobilnya dan mengantarkan gadis itu pulang ke flatnya dengan selamat. Membukakan pintu untuknya dan ikut naik ke lantai 3, sampai ke depan pintu tempat tinggal Cara.

“Goodbye, Adrian. ”

Gadis itu tidak mau melihat padanya dan suaranya terdengar jauh. Seolah ia sudah memutuskan bahwa ini adalah terakhir kali mereka berjumpa.

Seketika amarah Adrian kembali menggelegak. Cepat ia menarik lengan Cara hingga terjajar di pintu yang belum terbuka.

“Goodbye, apaan?” Ia melotot tajam.

Sebuah tawa bercampur kesal lolos dari bibirnya.

“Kita akan bertemu besok. Besoknya lagi. Dan lagi. Nggak ada yang menghalangi aku untuk terus menemui kamu. ”

Cara berusaha menyentakkan tangan Adrian meski tidak berhasil. Wajahnya tampak tegang juga marah. Namun efeknya berbeda dengan raut wajah sang pria, Cara tampak sedih juga tertekan.

“Aku — kamu nggak bisa ngerti, Adrian. Lihat aku — lihat keadaanku. ”

“Aku melihat kamu, dan hanya kamu. Sejak kemunculan kamu di bar itu sampai sekarang. Yang kulihat cuma kamu saja. ”

Cara menggeleng, frustasi.

“Kita berbeda, dunia kita tidak sama. Semakin aku menyadarinya semakin membuatku ingin berlari. Aku tidak siap Adrian. Bersamamu akan rumit dan seandainya hubungan ini tidak berhasil —- aku mungkin tak dapat menghadapinya lagi. ”

“Jadi — seperti itu, yang kau pikirkan?”

“Kumohon — mengertilah. ”

“Kamu yang tidak mengerti, Carissima. Kenapa kamu nggak mau, ngasih kita kesempatan. ”

“Kesempatan apa? Mematahkan hatiku! ” Ucap Cara dengan wajah pucat dan mata mulai berkaca-kaca.

Adrian mendengus kesal pada kekeras kepalaan Cara, pada wajahnya yang tampak manis meski sedang menangis. Sungguh bukan keadaan yang tepat untuknya.

Lalu Adrian dengan gerakan tiba-tiba tanpa pemikiran panjang telah menarik kepala Cara, condong padanya. Ada kilau jahat di sudut mata pria itu yang dikenali gadis itu. Dan bibirnya lalu menempel erat pada sang gadis, dengan lidah menusuk masuk kedalam menjelajahi gigi geligi dan mulut.

Cara tercekat bahkan ia tidak sempat menutup mata. Sebelum dia melakukan apapun untuk menolak, Adrian sudah mengunci lengan sang gadis dengan lengannya sendiri. Akhirnya ia pasrah dan membiarkan saja, apa yang Adrian lakukan sampai selesai.

Adrian lalu menyeringai puas seolah sudah bisa menjinakkan Cara. Tatapannya panas dan tak terbantahkan. Ia mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya.

“Kamu milikku Cara. Biasakanlah dirimu karena satu-satunya yang bisa kamu lakukan, hanya menjadi milikku seorang. ”

¤¤¤¤

Footnote : Yeah, terinspirasi dari lirik Dewa “aku takkan peduli —– siapa berani —- mendekati kamu akan kubunuh ” judulnya lupa, tapi yang nyanyi masih Dhani sama Once. Bahkan Drummernya masih Tyo Nugros (apa kabar ya Tyo? Udah sembuh belum ya?).

Kira-kira ada yang mau cerita ini dilanjutin nggak? Komentar dong, biar makin semangat aku nulis blognya. Ini cerita selanjutnya The Girl Who Stole Your Breath! http://t.co/SaqGNSdepq.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s