The Girl Who Stole Your Breath!

“Kau?! ” Pekik Cara terkejut.

Gadis dengan rambut pirang dan mata cokelat keemasan ini berdiri kaku dengan pandangan membulat pada satu orang.

Sungguh tidak menyangka kehadiran pria dengan rambut gelap yang berdiri dihadapannya beserta seringai licik diwajah tampannya. Yang justru malah membuat ia tampak berbahaya serta menarik.

“Apa yang kau laku —– Aaakh!” Jeritnya tertahan karena tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

Dengan langkah tegas pemuda itu maju, meraih pinggang ramping Cara dan telah mengangkat gadis itu. Menaruh bobot tubuhnya pada bahu kirinya dan membawa Cara keluar dari ruangan loker karyawan yang sepi ini.

Kejadian tersebut begitu cepat hingga tidak ada yang menyadari selain memang di tempat ini sedang tak ada siapapun.

“Adrian, apa ini?” Teriaknya dengan wajah horor.

“Turunkan aku. Apa yang sedang kau lakukan?”

Cara menyentakkan tubuhnya, gusar. Ia menjerit dengan wajah merah padam. Malu dan juga marah. Dengan keadaan tak berdaya, ia hanya bisa memaki pria yang kini memondongnya seolah tak berbobot berat.

Bruk.

Adrian menjatuhkan Cara ke kursi penumpang, membuatnya mengaduh saat bokongnya terhempas pada jok kulit.

Gadis itu menatapnya kesal dengan mata berapi-api. Namun kemarahannya tidak menyurutkan senyuman puas diwajah sang pria.

“Apa yang kau lakukan?”

“Menjemputmu. ”

Cara nyaris meledak diantara rasa kesal juga marah.

“Apa yang membuatmu yakin aku ingin ikut denganmu, Adrian Carver?”

Adrian tersenyum melihat bola mata cokelat keemasan yang kini menatapnya dengan kesadaran penuh.

Cara mencoba bangkit dan keluar dari mobil Sport SUV Audi hitam pria ini. Namun dengan tangan kirinya, Adrian mudah saja mendorong gadis itu kembali, jatuh terduduk di jok penumpang dengan tidak rela.

“Jangan coba-coba, Cara. ”

“Aku akan kembali memanggulmu dan melemparkanmu kembali ke kursi. Tanpa lelah. ” Ucapnya tenang namun tersirat ancaman yang tidak main-main dalam nada suara pria ini.

Adrian menyeringai lalu menunduk memasangkan seat belt pada gadis yang sedang menahan amarahnya ini.

“BRENGSEK!”

Cara duduk dengan tegak. Wajahnya menatap keluar jendela dan menolak memandang pada si pria, yang berhasil memaksanya mengikuti keinginannya.

¤¤¤¤

Gadis itu mendesah lalu menggeliatkan otot tubuhnya, yang kaku sepanjang berkendara. Perlahan matanya terbuka, tubuhnya dalam posisi terbaring rileks dan ia menatap heran pada apa yang sedang dilihatnya.

Ia sudah tidak berada didalam mobil lagi.

“Dimana aku?”

Cara mencoba bangun dari tidurnya namun sepasang lengan yang tak disadarinya, memeluk erat perutnya. Napas gadis itu tercekat, cepat ia menoleh ke belakang dan menemukan Adrian memeluknya sambil tertidur.

Entah sengaja atau tidak, pria tersebut menarik tubuh Cara semakin dekat. Memeluknya ketat hingga sang gadis merasakan punggungnya melekat pada dada dan perut tanpa lemak Adrian.

Risih, Cara mencubit lengan yang melingkari perutnya.

“Tidurlah. ” Gumam Adrian serak.

“Ini dimana?”

“Kabinku. Dekat danau Port Minor. ”

“Apa?! —– Kau membawaku sejauh ini?”

Cara menggeleng tidak mempercayai apa yang diucapkan pria ini. Kembali berusaha untuk bangkit namun dengan mudah Adrian membantingnya lagi ke ranjang disisinya.

“Ini sangat larut. Aku sangat lelah. Bicaranya besok saja. ”

Cara menggeliat keras. Menarik lengan yang memelutnya erat agar lepas.

“Jangan keras kepala, Cara. Besok. ” Geramnya tertahan.

Adrian lalu menumpangkan kaki kanannya diatas kaki Cara. Dan menguburkan wajahnya pada rambut pirang yang mengumpul dibantal, dengan aroma segar apel hijau.

“Bagaimana bisa seperti ini?” Rutuk Cara putus asa.

Sebuah senyuman lebar menghiasi wajah Adrian meski matanya masih terpejam rapat.

Ia sangat lelah, setelah menyetir selama berjam-jam namun juga sangat puas.

Kali ini tak akan ada yang menghalanginya menjadikan Cara miliknya. Dan gadis itu tak punya kesempatan menghindar darinya selama mereka disini.

¤¤¤¤

“Disini —- indah sekali. ” Bisik Cara sambil mengetatkan selimut afghan di bahunya.

Sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun pagi dan ke kamar kecil. Namun saat melihat bayangan dijendela, ia memutuskan untuk keluar. Dan keputusannya tidak salah.

Ia berdiri di halaman belakang kabin yang langsung memberikan pemandangan ke danau Port Minor.

Danau dengan air yang paling indah di kawasan selatan dimana kau bisa melihat ikan berenang-renang menggodamu serta pemandangan hutan alami yang mengelilinginya.

Pagi ini kabut masih menyelimuti semua tempat, bagai awan-awan kecil di negeri dunia dongeng. Tetapi semua ini malah mempercantik apa yang Cara lihat.

Suara-suara serangga dan binatang hutan terdengar bagai musik dari dunia peri ditelinga gadis ini. Ini pertama kalinya ia pergi ketempat seperti ini dan ia merasa seperti berada dalam mimpi indah.

Cara masih terpaku selama hampir satu jam lamanya. Ia duduk di sebuah batu dan mengawasi matahari yang pada akhirnya muncul dan mengusir semua kabut itu ke dalam hutan. Dan kembali sang gadis terkesima, ternyata pemandangan tatkala terang juga tidak kalah indahnya.

Sinar keemasan matahari muncul dan segera menyebar dipermukaan air danau dan Cara bisa melihat dengan jelas, betapa menakjubkannya Port Minor dan hutan alaminya.

Sebuah pelukan dari sepasang tangan kuat menyadarkannya dari rasa terkesima yang dalam. Adrian, siapa lagi, ia mengendus kedalam rambut pirang gadis ini.

“Sudah berapa lama kau disini?” Tanyanya dengan suara parau sehabis bangun tidur.

Cara menoleh melalui bahunya. Adrian dibelakangnya dengan rambut gelap yang tampak masih acak-acakan tetapi semua itu malah membuatnya terlihat seksi. Tanpa sadar membuat sang gadis menelan ludah.

“Aku bangun dan tidak melihatmu. Kupikir kau — menghilang. ”

Gadis itu menatapnya heran dengan alis berkerut. Tidak mengerti.

“Memangnya aku bisa kemana?” Gumamnya tidak percaya.

Cara kembali menatap pada danau dan Adrian memutuskan duduk disampingnya. Ia meraih tangan Cara dan menggenggamnya. Hangat.

“Pemandangannya sangat indah. Terimakasih sudah membawaku kemari. ” Ucap sang gadis bersungguh-sungguh.

Adrian tersenyum lebar padanya.

“Kita bisa melakukan banyak hal menarik disini. Berenang, memancing, naik perahu kayu, menjelajahi hutan dan lain-lain, kau pasti menyukainya. Tetapi sebelumnya —– kita sarapan dahulu. ”

Ia bangkit dan menarik Cara untuk mengikuti langkahnya kembali masuk kedalam rumah peristirahatannya.

Dibawah cahaya terang, Cara baru menyadari kabin ini terlihat sangat hebat dan mengeluarkan aroma — mahal. Ia mendesah.

Tadi malam ia bahkan tidak ingat bagaimana bisa sampai disini dan kembali ia dihantam kenyataan, bahwa Adrian hidup di dunia yang tak pernah dibayangkan untuk bisa ia masuki.

¤¤¤¤

Adrian menatap puas pada wajah berseri-seri Cara. Gadis itu duduk dilantai kayu teras belakang dan menatap langsung ke arah danau. Ia memutuskan untuk duduk disebelah kirinya.

Mereka sudah melakukan banyak hal menyenangkan bersama-sama dan sore ini akan kembali pulang ke kota. Adrian sangat menikmati waktunya bersama Cara. Dan gadis itu sepertinya menikmatinya juga.

“Ini liburan terbaik yang pernah kulakukan. ”

Ia menoleh pada Adrian. Dan pria itu menatapnya balik dengan lugas.

“Jangan bilang terimakasih, cukup berikan aku sebuah ciuman. ”

Cara tertawa dengan renyah. Untuk pertama kalinya ia tertawa dengan ekspresi yang tak pernah ia tunjukkan pada pria lain. Dan Adrian merasa kehilangan napasnya, terkejut sekaligus terpesona pada apa yang tersaji dihadapannya.

Lalu tanpa ia sangka-sangka Cara mendekatkan wajahnya secepat kilat dan mengecup sebelah pipinya. Gadis itu tersenyum lebar dan menatapnya lekat.

“Terimakasih. ” Bisiknya tulus dengan mata berbinar.

Adrian mematung dengan wajah bodoh. Ia tidak percaya Cara baru saja menciumnya dan berterimakasih secara tulus padanya. Bukan karena gadis ini tak pernah tulus tetapi ia merasa Cara tak pernah semudah dan seterbuka ini padanya.

“Uhm — sebenarnya aku mengharapkannya dibibir tetapi tak apalah. Ini pertama kalinya kau menciumku duluan. Lain kali pastikan kau melakukannya —- ” ia menunjuk bibirnya yang menyeringai “disini!”

“Aku tahu. ” Ucap Cara dengan wajah campuran rasa lucu dan sedih.

Namun dalam sekejab ia cepat menghilangkannya dengan senyuman hingga Adrian tidak yakin melihat sesuatu yang salah sebelumnya.

“Sangat menyenangkan disini. ”

Cara melihat kesekeliling. Seolah-olah ingin menyimpan semua pemandangan ini dalam ingatannya dan tidak ingin melupakan tiap detil tempat ini.

“Kita tidak harus pulang, Carissima. ”

“Besok Senin dan aku harus bekerja. ”

Adrian mendesah. Sejujurnya ia tidak menyukai pekerjaan gadis ini sebagai Cart Girl * di Country Club.

*Cart Girl adalah gadis yang menawarkan dan menjual minuman dengan mengendarai drink cart, semacam mobil khusus lapangan golf yang membawa aneka macam minuman dingin.

Ia belum pernah melihat Cara bekerja di lapangan golf. Tetapi ia sudah bisa membayangkannya, Cara mengenakan t-shirt polo biru dan celana golf super pendek warna putih dengan rambut pirangnya diikat ekor kuda. Terlihat cantik, segar dan bersemangat.

Mengendarai drink cart dari hole pertama hingga keenam belas, menawarkan minuman pada anggota member yang sedang main golf dan tersenyum ramah meski beberapa dari mereka (yang Adrian yakin lebih banyak dari yang bisa ia pikirkan) menggodanya.

Dan para pria kepanasan tersebut pasti tidak keberatan memberikan uang tip yang banyak pada Cara, dengan wajah dan tubuh seperti ini. Dan pasti gadis itu merupakan Cart Girl paling populer di Crown Country Club.

Ia benci memikirkan pria lain menggoda gadis ini apalagi berpikir kurang ajar dan tidak-tidak terhadap Cara.

Bukan salah gadis itu bila banyak pria yang tertarik padanya. Mungkin karena wajah cantiknya, rambut pirang platinumnya yang asli atau tubuh mungilnya yang indah. Dan bukan salah Cara bila ia terlahir seperti itu disertai kepribadian baik yang makin membuatnya menarik.

Adrian memejamkan matanya, mencoba menahan kegeraman yang tiba-tiba menggeliat didadanya.

“Apa kamu tidak bisa bekerja ditempat lain?”

“Aku suka bekerja di Country Club. Pekerjaannya tidak begitu berat dan tipnya besar dibandingkan bekerja ditempat lain. ”

Ucapan gadis itu menggelitik rasa ingin tahu sang pria.

“Memangnya kau pernah bekerja dimana?” Tanya Adrian ringan seolah tanpa beban.

“Hmm —- banyak. ”

Cara menyelipkan sejumput rambutnya yang terlepas dari kuncirannya. Ia menarik napas panjang dan menatap Adrian lembut.

“Aku pernah bekerja sebagai pelayan di berbagai restoran, resepsionis di klinik dokter, kasir di toko bahkan menjadi pekerja paruh waktu pencuci piring. Tetapi diantara semuanya bekerja sebagai Cart Girl yang paling menyenangkan. ”

“Mengapa tidak mengambil pekerjaan yang lebih — permanen?”

Cara tertawa lirih. Dan Adrian merasa canggung sudah menanyakan pertanyaan sepribadi ini.

“Aku cuma tamatan SMU, apa yang bisa kulakukan dengan itu?”

Untuk sesaat Adrian tertohok dengan perkataan tanpa beban gadis itu. Ia mengerjapkan matanya cepat. Mencoba menutupi perasaannya.

¤¤¤¤

Kembali kekehidupan lamanya, Cara bekerja sangat giat dan mengambil semua shift yang bisa ia ambil untuknya. Ia berangkat sangat pagi dan pulang larut malam. Sesampai di flat mungilnya ia sudah sangat lelah dan jatuh tertidur.

Adrian menghubunginya berkali-kali namun gadis itu selalu sibuk. Mendatangi flatnya dipagi hari namun selalu sudah kosong. Menemuinya usai bekerja namun Cara tampak begitu butuh istirahat.

Ia kehilangan gadis itu meski sepertinya Cara tidak secara terang-terangan menjauhinya seperti dulu.

Tetapi bukan Adrian bila tidak punya cara untuk menemui Cara. Jadi ia memutuskan mengunjungi Country Club dan bermain golf dengan beberapa kenalannya.

“Ini dia. “

Sebuah cengiran puas lolos dari bibirnya. Adrian mengamati Cara yang datang dengan mengendarai drink cartnya.

Sesuai dengan yang ada dibayangannya dahulu, Cara tampak begitu menggoda dengan pakaian kerjanya. Dan ini adalah masalah untuknya.

“Ada yang mau minum?”

Segera saja, pria-pria disini mendekati gadis itu dan meminta berbagai jenis minuman keinginan mereka. Cara dengan tangkas membuka botol bir, mengelap butiran air dibadan botol dan menyerahkannya dengan senyuman lebar.

Bukan cuma satu dua orang mencoba menggodanya namun dengan sopan Cara menolak halus. Ia menerima pembayaran tagihan dan tip yang diberikan para pegolf yang mengambil minuman darinya. Saat itulah ia menoleh pada Adrian yang berdiri mengawasinya dengan mata tajam.

Cara terkejut, karena tidak pernah melihat Adrian disini.

“Oh, hai. Kau mau minum?” Tanyanya dengan mata mengerjap menggemaskan.

Adrian mendekatinya dengan langkah yang memancarkan aura gelap. Teman-temannya yang tadi sempat menggoda Cara menyingkir diam-diam karena merasakan bahaya.

“Aku tidak pernah melihatmu disini. ”

Cara tersenyum padanya namun pria ini tidak membalasnya.

“Oh, dia anggota disini tetapi jarang sekali datang. ” Celutuk pria yang mengenakan celana merah.

Cara menoleh pada Adrian, ia mengulurkan sebotol bir yang biasa diminum oleh pria ini.

“Aku tidak tahu itu. ” Kata gadis itu sambil menerima uang dari Adrian.

“Memangnya kau harus tahu Adrian Carver ada dimana?” Tanya seseorang disambut dengan riuh tawa.

“Gadis ini mungkin tidak tahu siapa dia. Kalau dia tahu, mungkin akan langsung menyerah dibawah kakinya. ” Sambung yang lain, membuat yang lain kembali tertawa.

Adrian diam dengan wajah mengeras. Dan Cara hanya tersenyum dan menolak kontak mata dengan mereka. Ia menghidupkan drink cart dan bergerak menuju hole yang lain.

“Bisa tidak kalian menutup mulut?”

“Brengsek, jangan mengatakan hal buruk tentang gadisku, Cara. “

Cara menawarkan minuman pada hole-hole selanjutnya dan tetap menebarkan senyum manisnya pada siapapun. Tetapi saat ia sendirian diatas drink cart, ia memikirkan disinilah tempatnya, sebagai seorang pelayan dan Adrian beserta teman-temannya adalah lingkaran khusus yang tak bisa ia masuki, terlarang baginya.

Gadis itu mendesah sambil memperhatikan jalanan dihadapannya. Rumput hijau yang terhampar rapi sepanjang jauh mata memandang dan panas matahari yang menyengat kulitnya. Kenyataan yang menyadarkannya, siapa dirinya sesungguhnya.

¤¤¤¤

“Terimakasih, sudah mengajakku. ”

Cara tersenyum sambil merapikan kemeja putih dan rok pensil hitam yang ia gunakan. Pakaian yang sama dikenakan oleh Emily dan Meg.

“Tentu, Girl. Apalagi upahnya lumayan.” Emily, gadis dengan rambut merah keriting, tersenyum padanya.

“Aku tidak akan merekomendasikanmu kalau kau tidak punya pengalaman sebagai pelayan di restoran Perancis. Kau juga Meg. ” Sambungnya lagi.

“Oke, Maam!” Sambut kedua gadis, satu dengan rambut pirang dikuncir satunya lagi dengan rambut cokelat ikal. Lalu ketiganya tertawa dengan gembira lalu buru-buru ke pantry.

Cara membawa nampan berisi gelas-gelas Champagne, masuk ke dalam hall utama yang sedang ada pesta. Entah pesta apa, yang jelas semua tamu yang datang mengenakan pakaian dan perhiasan mahal. Dan sepertinya mereka bukan hanya kalangan orang-orang berduit biasa, tetapi juga terhormat.

Ia menawarkan minuman dan tersenyum ramah pada setiap orang yang mengambil minuman. Saat gelas kosong sudah mengisi nampannya, ia kembali dan membawa nampan dengan gelas-gelas terisi lagi.

“Hei, sepertinya aku mengenalmu —-kau — ah ya, gadis di Country Club. ” Tegur seorang pria dengan tuxedo hitam.

Cara menoleh dan mengenali ia adalah salah seorang anggota Club yang sepertinya juga teman dari Adrian.

“Ah, benar. ” Sambung pria yang lain.

Gadis ini hanya tersenyum dan menawarkan minumannya pada mereka. Gelas-gelas itu segera berpindah tangan.

“Sepertinya kau ada dimana-mana yah?” Ujar sang pria pertama.

“Jangan-jangan kau termasuk golongan gold digger* hingga sengaja berada disini. ”

*Gold digger adalah istilah yang digunakan untuk para wanita yang mengejar-ngejar pria kaya.

“Wow, kalau benar, apa kau sedang mengincar seseorang disini?”

“Apa itu aku?!” Tanya pria dengan mata yang kurang ajar.

Saat itu Cara melihat Adrian yang menatapnya tajam dengan rahang terkatup rapat. Mungkin ia mendengar semuanya dan itu pertanda buruk baginya.

“Mengapa Adrian disini?”

“Oh, tentu saja. Seorang seperti Adrian ada dipesta-pesta seperti ini, inilah dunianya. Bukan sesuatu yang pernah aku datangi. Harusnya aku mengerti dengan jelas. “

“Maaf, saya harus kembali ke belakang. ”

Secara halus, Cara berkelit dengan membawa nampan yang tinggal setengah. Ia bergerak dengan cepat dan segera menghilang dari kumpulan pria-pria ini.

“Gadis itu cantik dan badannya bagus. Kurasa kalau ia mengincarku, membawanya ke ranjang bukan pilihan buruk. ” Lalu terdengar tawa riuh yang sempat didengar oleh Cara.

“Aku akan menyekapnya dikamar, berhari-hari. ” Ucap yang lain, tak kalah berpikiran kotor terhadapnya.

¤¤¤¤

“Cara. ”

Adrian muncul dari kegelapan saat gadis itu berjalan masuk ke gedung flatnya, usai diantar oleh Emily dan Meg. Ia masih menggunakan tuxedo yang tadi dipakainya dipesta dan dilapisi mantel hitam tebal.

“Kau disini?”

Cara sudah mengganti seragamnya dengan pakaian kasual dan mengenakan mantel biru. Rambut pirangnya digerai dan wajahnya memerah karena dingin.

“Mengapa kau tidak langsung pulang?”
Adrian mencium ada bau alkohol dari tubuh gadis ini. Dan Cara memang tampak sedikit mabuk.

“Oh, aku — tadi temanku mengajak minum sebelum pulang. ”

Gadis itu berjalan mendekati Adrian lalu melewatinya, memasuki gedung dan menelusuri lorong menuju kamar flatnya. Adrian mengikuti langkah gadis ini.

Saat Cara membuka pintu dan masuk, pria ini ikut masuk kedalam flatnya dan menutup pintu. Gadis itu menghidupkan lampu sehingga flatnya begitu terang.

Ia mengamati kesekeliling, flat ini kecil dan begitu sederhana. Tidak ada furniture mahal namun penuh warna dan terasa sangat Cara Blaire. Sang gadis yang melepas kancing mantelnya, menarik pintu kulkas dan mengambil air dingin.

Adrian mengamati Cara yang meminum air dari gelas dengan rakus. Sepertinya ia sudah pulih dari mabuknya karena kini melihat Adrian dengan pandangan terfokus.

“Well, apa tujuanmu kemari?”

Sang pria berdiri dengan kaku, menyimpan kedua tangannya kedalam saku celananya. Terlihat menimbang-nimbang sebelum memulai pembicaraan.

“Aku tidak suka mereka berbicara seperti itu tentangmu. ”

Cara membalas tatapannya dengan lembut.

Ia menarik napas perlahan dan melangkah kesatu-satunya sofa yang ada diruangan kecil itu, duduk dan menyilangkan kakinya yang dibalut stoking hitam.

“Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu, bahkan jauh sebelum bertemu kamu. ”

Semburan kemarahan mengisi dada pria ini, mendengar penuturan gadis di hadapannya. Apalagi setelah melihat reaksi gadis ini yang seperti tidak terganggu sama sekali, sementara hal berbeda dengan yang Adrian rasakan.

“Apa yang mereka katakan itu tidak benar, Cara. Mereka tidak berhak menilaimu seperti itu. ”

“Lalu, kenapa? ” Cara berbalik bertanya padanya.

“Kau — tidak perlu membelaku seperti ini, Adrian. ”

“Ya. Aku ingin membelamu. Karena aku tahu kau tidak seperti itu. ”

Gadis itu tersenyum dengan mata bersinar sedih yang kali ini tidak lagi ia sembunyikan.

“Kau akan lelah melakukannya, Adrian.”

“Dulu — pernah ada seseorang sepertimu, masuk dalam hidupku, menjadi berarti. Kaya, pintar dan tampan. Seperti yang terjadi pada semua kisah cinta, awalnya selalu terasa indah sampai pada saatnya semakin lama aku semakin disembunyikan. Kau tahu karena apa?”

Cara menatapnya lekat-lekat dengan iris bola mata cokelat keemasannya. Pada mata biru jernih yang beberapa kali pernah menjeratnya

“Karena aku adalah aku, Adrian.”

“Seberapa keras aku menutupi tetap saja aku tak pintar, tidak berpendidikan. Walau memakai pakaian indah dan mahal, aku tetaplah gadis miskin. Latar belakang yang kumiliki tak cemerlang hingga bisa ia banggakan pada teman dan keluarganya. Dan perlahan dia mulai tidak tahan, lama-lama dia memisahkan aku dengan dunianya. Aku disembunyikan seolah aku —- aib baginya. ”

Setetes air mata bening jatuh dipipi gadis itu, namun ada sebuah senyum miris terukir diwajahnya.

Adrian merasa sesak dijantungnya, melihat kepedihan dimata itu. Yang sesekali pernah membayang diwajah gadis itu namun tak cepat ia sadari.

“Hal yang sama, juga telah kau lakukan padaku Adrian. Meski mungkin kau tidak menyadarinya. ”

“Aku — tidak — !”

“Ya. Kau melakukannya. Aku tidak memintamu membelaku di lapangan golf, juga dipesta tadi. Aku mengerti Adrian. ”

Adrian tampak bagai baru mendapatkan pukulan diwajah tampannya. Ekspresi wajahnya jauh dari kata terluka namun campuran dari malu serta canggung.

Ia sedih mendengar perkataan Cara yang sama sekali tidak menghakimi perbuatan pengecutnya. Seharusnya ia langsung memukul saja, pria-pria yang merendahkan gadis ini. Bukannya menahan emosinya demi menghindari keributan.

“Inilah kenyataan yang harus kau sadari. Aku tidak pernah bisa melangkahi garis dan masuk ke dalam duniamu, begitu juga kau tidak bisa masuk ke tempatku. ”

“Carissima. ” Bisiknya dengan lemah.

“Adrian, pergilah. Kembali keduniamu dan —- lupakan aku. Kurasa — kurasa aku, tak dapat — melakukannya lagi. ”

Kali ini Cara tidak dapat menahan air matanya. Ia membiarkannya tumpah dan membasahi wajah dan hingga lehernya namun menolak sentuhan Adrian yang ingin mengusapnya.

Meski Cara mengerti dengan sikap Adrian yang berpura-pura tidak mengenalnya didepan teman-temannya tetapi siapa yang dapat menahan kesedihan yang ia rasakan, setiap kali dicap buruk meski ia tidak melakukan hal yang salah. Ia sedih dan terluka namun tidak seorang pun bisa menghentikan dukanya.

Adrian mendekat dan berlutut dihadapan gadis yang tampak tegar ini. Cara tersenyum lembut padanya lalu menyentuh wajah Adrian dengan tangan kanannya.

“Kau pria baik, Adrian. Aku tahu itu. ”

“Maafkan aku. ” Bisik Adrian lemah.

“Kau tidak bersalah. Kau hanya — belum menyadari dimana tempatku, — seharusnya berdiri. Sungguh, itu bukan salahmu. ”

Perkataan Cara yang diucapkannya dengan lembut tanpa berniat menyalahkannya ataupun menyudutkan Adrian, malah membuat pria ini semakin merasa bersalah. Dan ia sangat menyesal.

“Cara — Carissima! ”

Adrian dihadapannya, bingung dan frustasi. Tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tangis gadis ini, juga kesedihan yang membayangi bola matanya. Yang ia bisa lakukan hanyalah menyebut nama gadis ini, berulang-ulang dengan hati terluka.

“Kumohon — pergilah. ” Pinta Cara membuang wajahnya kesamping, tidak ingin melihat padanya.

Saat ini gadis itu dengan dalam keadaan sedih dan tak ingin diganggu. Adrian bimbang dihadapannya. Disatu sisi ia ingin memeluk Cara, menenangkannya, bersama dengannya, disisi lain ia tahu salah satu alasan kesedihannya adalah disebabkan oleh dirinya sendiri.

“Cara. ” Adrian memegang dagunya dan membuatnya melihat pada dirinya.

Pria ini maju, memiringkan kepalanya dan menyesap bibir bawah sang gadis. Membelainya dengan lidahnya yang panas, penuh kelembutan juga pemujaan. Menikmati kekenyalan dan kehangatan bibir Cara dan menempatkan kecupan-kecupan tak terputus. Ada kebutuhan, rasa takut dan keputus asaan dalam ciumannya yang kali ini lebih lembut dan menuntut.

Dan ketika semuanya selesai, Adrian melepaskan diri. Cara membuka matanya dan mereka saling memandang dengan begitu dekat.

“Maaf —- tapi aku mencintaimu. ” Ucap Adrian dengan tenang.

Perkataan pria itu sukses membuat Cara semakin merapatkan mulutnya, kaget dan juga tidak mengerti.

¤¤¤¤

Footnote : Well, tadinya cuma pengen bikin dua postingan tentang kisah Adrian Carver dan Cara Blaire. Tetapi ceritanya berkembang dari The Guy Who Stole Your Kiss! http://t.co/w6vxDOfdDc dan kuputuskan mengakhirinya dipotongan cerita ketiga, I’m Kissing You.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s