I’m Sorry and I Love You

“Sendirian — di ruang tertutup, — tidak ada saksi dan cctv. Fiuh! Pembunuhan sempurna. ”

Hanya ada Farah disini, gadis usia sembilan belas tahun tanpa nama belakang keluarga, cantik dengan darah Asia yang kental. Mata dan rambut hitam berkilat-kilat bagai mutiara hitam serta kulit berwarna yang halus.

Ia sedang berdiri di depan rak buku, dengan wajah menoleh, terpaku pada pemuda berwajah khas aristokrat bangsawan dengan mata tajam menusuk, Crescent Frost. Yang entah kapan sudah berada di dalam ruangan ini dan mengawasinya dalam diam.

Gadis itu tercekat di bawah tatapan pemuda Frost, menelan air ludahnya karena untuk sesaat tekanan yang ia terima membuat tenggorokannya kering bagai gurun pasir. Gemetar kedua belah tangannya memegang sebuah buku, yang baru saja ia ambil dari rak yang paling atas.

“Halo, Farah. ”

Frost mendekatinya dengan langkah ringan dan hati-hati seperti macan kumbang telah menyudutkan mangsanya yang gemetar ketakutan, pasrah menunggu maut.

Gadis itu hanya diam dengan wajah memucat. Bahkan ketika tubuh tinggi atletis Frost melingkupinya dengan kedua lengan di kiri dan kanan sisi kepala gadis itu.

Farah dapat merasakan panas yang terpancar dari tubuh pemuda Frost, juga bau cendana bercampur citrus yang membaur bersama udara di sekitar pemuda ini. Frost merapatkan tubuhnya pada bagian belakang tubuh sang gadis, hingga punggung Farah menempel pada perutnya.

Frost menunduk. Menyesap wangi buah yang terpancar dari rambut si gadis yang disanggul acak-acakan, memamerkan tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus kasat mata. Pemuda Frost mendesah karena harus menahan hasratnya, melabuhkan bibir dan lidah kasarnya pada kulit yang terpampang di hadapannya.

Ia memejamkan mata dengan jakun yang naik turun karena gairah.

“Sial. ” Geramnya dengan suara rendah.

“Apa yang harus kulakukan padamu?” Sambungnya putus asa.

Bahkan tanpa menyentuhmu, aku sudah sangat —- tidak terkontrol. Dan aku membenci keadaan ini.

“Bi — biarkan a-aku pergi. ” Pinta gadis itu yang mempunyai suara jernih, bagai kanak-kanak.

Kegugupannya malah membuat ia tampak lugu dan rapuh dimata pemuda ini. Semakin membangkitkan keinginan mendominasi sang pemuda.

“Tidak. ” Frost menggeleng. “Kau tidak tahu betapa lama aku menantikan kesempatan ini, dimana kau sendirian dan aku menyudutkanmu seperti ini. ”

“Apa yang mungkin terjadi dalam posisi ini, sayang?”

Gemetar tubuh sang gadis makin menjadi. Ia jelas ketakutan dengan perilaku mengintimidasi pemuda Frost. Dan kenyataan itu membuat pemuda Frost bersemangat dan bahagia, bahwa keberadaannya selalu begitu mempengaruhi si gadis cantik.

“Ku — kumohon. ” Bisik si cantik.

“Kumohon apa?” Balas si pemuda ikut berbisik di telinga sang gadis.

” —- biarkan aku pergi. ”

Pemuda Frost tertawa tanpa suara, sebuah seringai menghiasi wajah tampannya. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Farah, menghembuskan napas panas dan berbisik.

“Dengan sebuah ciuman, aku akan melepaskanmu. ”

Si gadis memejamkan matanya. Ia sudah menduga perkataan sang pemuda Frost namun tetap saja merasa terkejut dengannya.

“To — tolong, ja-jangan seperti ini. ”

Pemuda Frost kembali tertawa mendengar suara si gadis yang seperti ingin menangis. Mengganggu Farah dan membuatnya ketakutan adalah kesenangan bagi Crescent Frost.

“Kupikir, aku nggak bisa berhenti ganggu kamu sampai kapanpun. Kenapa yah?”

Kau tidak akan mengerti, tapi — suatu hari aku akan membuatmu memakai nama keluargaku dibelakang nama itu. Farah Frost. Dan ketika saat itu tiba, kau akan menjadi milikku selama-lamanya, janjinya penuh rasa percaya diri.

Si gadis membeku di tempatnya berdiri. Walau sudah tak dapat merasakan lagi kakinya yang seperti menjadi agar-agar. Ia takut setelah mendengarkan seperti ada ancaman tersembunyi dari perkataan pemuda itu, karena menyadari itu keputusan yang pasti akan dilakukan Frost.

“Mengapa? Aku salah apa padamu? ”

Crescent menggeram, melihat ekspresi wajah gadis itu yang tak berdaya. Dimatanya Farah tampak begitu lezat dan ia harus menahan diri untuk tidak runtuh dengan desakan gelora sebagai lelaki muda.

Sial. Dia membuatnya jauh lebih sulit.

Sebelah lengannya melingkari bahu dan leher si gadis, menariknya erat dalam pelukannya tanpa celah. Pemuda Frost menarik gulungan rambut Farah dan menguburkan hidungnya disana.

Tubuh gadis ini tepat dalam pelukannya. Bau khas yang selalu menyertai Farah, selalu memabukkan baginya. Dan keberadaan sang gadis selalu dan selalu saja, menimbulkan perasaan asing bagi dirinya, keinginan untuk mempermainkan dan menguasai gadis ini seutuhnya, tanpa berbagi pada dunia.

“Bagaimana kalau kubilang, jawabannya tidak akan memuaskanmu, cantik. ” Ujarnya dengan suara serak dan rendah.

Crescent mengusap lengan Farah yang dibalut katun tipis. Ia masih dapat merasakan kulit si gadis yang merinding di bawah telapak tangannya. Sebuah seringai kembali meluncur dibibirnya.

“Be ready, Farah. ”

¤¤¤¤

“Kamu tahu apa yang paling bodoh?”

Crescent menatap Luna dengan pandangan bosan. Tetapi wanita yang lebih tua 5 tahun dari dirinya ini tidak terpengaruh. Kalau ada perempuan yang tidak bisa ia intimidasi selain ibunya, satu-satunya adalah wanita tersebut.

“Apa?” Ia menaikkan alis, sekedar ingin memuaskan rasa superior kakak perempuannya.

“Berpura-pura jahat dan mengganggu gadis yang kau sukai, seperti anak TK saja. ”

Luna terkekeh dengan wajah menghina.

Crescent mendengus kesal namun telinganya tampak merah padam.

Kakak perempuannya adalah wanita yang cantik, cerdas dan paling keras kepala yang pernah ia temui. Walau pun selalu bersikap menyebalkan, sesungguhnya ia sangat menyayangi adik lelakinya ini, sama seperti kedua orang tua mereka yang terlalu memanjakan Crescent. Maka tidak aneh kalau akhirnya pria ini tumbuh jadi sosok egois yang selalu melakukan hal yang diinginkannya.

“Kau sebenarnya mau memberikanku alamatnya tidak? Aku sibuk dan ini masih jam kantor. ” Gerutu pria yang menjabat sebagai kepala bagian perencana proyek di Frost Enterprise selama satu tahun belakangan ini.

Wanita cantik yang bekerja dibagian legal perusahaan ini menyeringai. Tidak akan semudah itu berurusan dengan Luna. Bila ada kesempatan untuk membuat Crescent merasa sengsara, ia akan berada di daftar paling atas.

Luna duduk di kursi kerjanya dan ekspresi wajahnya tampak puas, melihat kekesalan adiknya.

“Ini tidak gratis loh. ”

“Aku tahu. ” Geram Crescent sambil menunduk di atas meja kayu mahoni, yang memisahkan tubuh kakak beradik ini.

“Apa yang akan kau lakukan setelah mendapatkan informasi ini?’

“Bukan urusanmu. ” Sergah pria ini kesal.

“Well, —- ” Luna kembali menyeringai jahat “Aku harus tahu, karena gara-gara kelakuan bodoh adikku, seorang gadis menghabiskan masa mudanya dalam ketakutan dan terkucilkan. Menghilang sesaat usai wisuda dan hidup tanpa interaksi sosial serta masih menjalani terapi kejiwaan. Aku wajib tahu. ”

Pria ini mengusap rambut cokelatnya yang berpotongan mahal, gusar setelah mendengar pernyataan kakaknya yang menyudutkannya, hingga ke tepi.

“Dia hidup seperti itu? ” Tanyanya tercekat, ada sesuatu yang nyata menusuk-nusuk batinnya.

“Ya. Dan kalau kau mencoba muncul dihadapannya, aku takut dia akan menghilang lagi. ”

Crescent tampak kembali terpukul. Bahunya jatuh dan hal tersebut tidak sesuai dengan kepribadiannya selama ini.

Selama 5 tahun aku mencarinya seperti orang gila dan akhirnya mengetahui keberadaannya tetapi kenyataan bahwa keadaannya menjadi seperti ini karena kesalahanku, membuatku merasa menjadi sampah.

Untuk pertama kali, Luna merasa terenyuh melihat raut wajah adik lelakinya. Adiknya tampak seperti sedang disiksa oleh api neraka. Crescent tidak pernah tampak seperti ini untuk urusan apapun bahkan oleh pekerjaan yang sangat ia cintai. Hanya sekali saja ia tampak begitu terpukul, saat usai wisuda dan Luna baru mengetahui alasannya beberapa hari lalu.

Crescent menyukai seorang perempuan di kelasnya sejak usia 6 tahun namun selalu mengganggunya bahkan hingga mereka melanjutkan kuliah di Saint Michael. Gadis itu yatim piatu dari panti asuhan dan penerima beasiswa penuh. Adikknya mengganggu gadis itu bahkan nyaris sepanjang hidup gadis itu, membuatnya sengsara di sekolah bahkan kampus. Pantas saja akhirnya Farah trauma dan memerlukan konseling.

Luna menggelengkan kepala, membayangkan hal-hal jahat apa yang dilakukan Crescent sampai gadis itu menjadi pribadi yang anti sosial. Farah tidak punya teman, dan melakukan pekerjaan yang tidak mengharuskannya keluar rumah. Ia seorang penulis, penerjemah buku dan editor handal dari sebuah penerbitan besar.

“Aku menyesal. ” Ucap Crescent dengan mata abu-abunya yang bersinar sendu.

Aku ingin bilang aku salah dan meminta maaf. Aku ingin bilang, sudah lama aku menyukainya — serta masih, menyukainya.

“Kau yakin hanya ingin mengatakan itu?” Kali ini nada suara kakak perempuannya melembut.

Crescent menatap balik mata abu-abu besar yang dibingkai bulu mata lentik milik Luna Frost, yang sejak 3 tahun lalu telah berganti nama menjadi Luna Khan semenjak menikah dengan Ibrahimovic Khan.

Luna menyentuh tangan adiknya dan meremasnya lembut, seolah memberikan dorongan pada lelaki ini.

“Kalau bisa — aku ingin mendapat kesempatan untuk memulai lagi, dengan awal yang baik. ”

Ia mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh dan Luna menyadari tekad yang tersembunyi dibalik nada suara tegasnya. Luna tersenyum tulus, menyemangatinya.

¤¤¤¤

“Hai, apa kabar?”

Crescent memasang senyum terbaik diwajahnya.

“Halo, Farah. Lama tidak bertemu. ”

Ia menggeleng.

“Kau terlihat baik. Bagaimana kabarmu?”

Ia mendesah, kecewa.

Huh. Ini tidak akan berjalan dengan baik. Aku bahkan tidak tahu cara untuk menyapanya.

Crescent menghempaskan punggungnya pada sofa empuk, coffee shop tempat ia janjian bertemu. Sudah satu jam lamanya ia disini, menunggu. Bukan karena orang yang ingin ia temui datang terlambat namun si pemuda Frost yang memang terlalu cepat tiba di tempat ini.

Ia menarik napas panjang tetapi gelisah yang dirasakannya tidak juga menghilang. Gugup juga tidak pernah kehilangan percaya diri seperti ini.

Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, melalui perantara juga beberapa puluh kali telefon yang ditolak, sang pemuda Frost berhasil membuat Farah mau menemuinya.

Ketika gadis itu mengajukan beberapa syarat, Crescent langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang.

Pertama, mereka bertemu di tempat umum dan harus ramai. Gerai kopi ini menjadi pilihan pertama yang ia ajukan. Kedua, Farah membawa seorang teman. Meski tidak nyaman, Crescent Frost menerima persayaratannya.

Dan kini, ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.

Kling.

Terdengar bel yang diletakkan di pintuh berdenting, tanda seseorang baru saja masuk atau akan keluar dari toko ini. Frost menoleh ke arah pintu dan langsung terkejut.

Farah berdiri disana. Ada seorang wanita lain yang berdiri di belakangnya dan gadis itu bergumam padanya.

Crescent menatap lekat pada gadis yang sangat ingin ia temui.

Farah semakin cantik. Rambut hitamnya yang lurus, tergerai melambai. Wajahnya tetap jelita meski tanpa polesan make up. Dan ia tampak sesuai meski hanya mengenakan pakaian kasual.

Ia berjalan lurus ke arah Crescent. Dan pria ini dengan gugup bangkit dari duduknya.

Keduanya berhadapan dan sama-sama tidak mengatakan apapun. Berdiri dengan canggung meski dari raut wajahnya Farah tampak bertekad membuat ini tidak mudah.

“Kehilangan lidahmu?” Nada gadis itu tajam meski suaranya terdengar jernih dan kekanak-kanakan.

Pria itu tertegun.

Farah menatapnya dengan keberanian, yang selama ini tidak pernah ia punya untuk melawan pemuda Frost yang selama ini berhasil membuat hidupnya tertekan.

Ia sudah berbeda. Bukan lagi gadis yatim piatu lemah yang tidak bisa membela diri. Bahkan saat ini Farah bisa saja menyakiti Crescent secara fisik berkat latihan martial yang belakangan tekun ia pelajari.

Aku harus mengatakan sesuatu. Tapi apa?

Mereka masih saling bertatapan dan gadis itu tampak seperti menilai apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Crescent Frost tiba-tiba takut bila Farah memutuskan untuk pergi setelah dia tak mengatakan apa-apa padanya.

Sial.

“I’m sorry and I love you. ”

Double shit.

Apa yang kulakukan? Aku berteriak padanya? Dan —- apa yang telah kukatakan?

Tuhan, aku kacau. Ratap pria ini nyaris menangis.

Frost berjengkit, melihat campuran ekspresi Farah yang tercengang dan bagai baru saja disiram air dingin.

Gadis itu masih terpaku di tempat ia berdiri. Dan Crescent berkeringat dalam setelan pakaian resminya, menunggu apapun yang akan dilakukan Farah padanya.

Lalu alis gadis itu berkerut dan ia berkata :

“Aneh. ”

Farah berbalik meninggalkan Crescent, seolah yang baru saja pria ini lakukan adalah lelucon buruk. Dan ia memutuskan untuk tidak ikut terlibat dengannya.

Sesaat sebelum pintu mengayun menutup, sang gadis bergumam pelan namun Crescent dapat membaca gerak bibirnya.

“Dasar bodoh. ” Ucap Farah, ada sebuah senyum kecil di bibirnya.

Sebuah senyum kecil yang tampak tidak mengancam. Yang cukup membuat harapan dibenak Crescent kembali tumbuh dengan subur. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s