Mereka Ada Dimana-mana, Mengawasi kita

Ada sebuah kisah random yang ingin kubagikan pada kalian. Tetapi sebelumnya, aku minta jangan berprasangka terlebih dahulu. Sungguh nggak ada maksud lain serta tujuan tertentu dalam menuliskan dan menerbitkan postingan ini. Semata-mata hanya berharap ada nilai baik yang dapat sama-sama kita petik. Semoga.

Minggu, tanggal 22 Juni 2014 sekitar jam 4 lebih sebelum waktu subuh melanda, aku masih tertidur dan belum sholat isya. Berkali-kali dalam nyenyakku, aku merasakan mendengar suara ibuku memanggil namaku. “Yona… Yona…. Yona…. !”. Berusaha membangunkanku dari tidur. Tetapi ini hal yang mustahil terjadi.

Mengapa?

Karena aku dan ibuku berada di pulau yang berbeda dengan jarak ribuan kilometer (mungkin, Sumatera – Batam). Jadi bagaimana mungkin aku bisa mendengar panggilan ibuku tercinta?

Well, aku akhirnya terbangun diwaktu yang mepet itu dan segera berwudhu. Sholat isya dan sekitar 20 menit kemudian azan subuh berkumandang, kulanjutkan dengan sholat subuh. Setelah itu aku kembali tidur.

Namun setelah bangun kemudian dan kupikir-pikir lagi, mungkin (mungkin loh, aku pun tak bisa pasti) suara itu adalah malaikat yang mencoba membangunkanku untuk melaksanakan kewajiban sholatku yang hampir terlupakan karena ketiduran. Dengan menyaru suara orang terkasihku, bisa saja kan?

Aku percaya malaikat dan kuyakin mereka ada dimana-mana tanpa pernah kita sadari. Mungkin sedang menyaru menjadi pengemis, menjadi seorang tua papa dan hina, menjadi seorang asing yang baik hati, menjadi sosok menakutkan yang mengingatkan kesalahan kita atau mungkin menjadi sosok yang paling kita cintai, meski hanya suaranya saja. Kita tidak pernah tahukan rencana Tuhan?

Jadi aku cukup bersyukur masih diingatkan dengan cara seperti ini. Alloh itu maha pengasih dan maha penyayang, kasih sayangnya pada umat jauh lebih besar dari semesta kita ini, yang katanya tak terbatas.

MENANGKAP ANGIN

“Kamu lebih milih dia, dibandingkan kedua orang tuamu. Yang sudah melahirkan, membesarkan dan mendidik kamu sampai jadi seperti sekarang ini? “

Elena menatapnya tajam dengan bibir terkatup rapat, menunggu jawaban.

“Oh, ayolah Karina. Apa kamu nggak memikirkan perasaan paman dan bibi? Mereka sudah tua dan kamu, satu-satunya anak yang mereka punyai. ”

Karina menunduk, menghindar dari tatapan sepupu sekaligus sahabatnya ini. Elena Tan, seorang gadis dengan wajah yang selalu tanpa ekspresi dan pandangan mata menusuk.

Ia menarik napas terburu-buru, berusaha menenangkan hatinya yang berdegup kencang karena rasa tidak nyaman dan terintimidasi oleh gadis di hadapannya.

Entah bagaimana bisa Elena menemukan tempat tinggalnya usai ia memutuskan meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan lebih memilih Aidan.

“Dari mana kamu tahu aku tinggal disini? ”

Elena nyaris mengerang, mendengar perkataan yang keluar dari bibirnya. Ia menarik napas panjang dan kembali fokus pada Karina, si gadis cantik berdarah campuran Indonesia dan Belanda.

“Nggak penting aku tahu dari mana. Yang jelas kamu belum jawab pertanyaan aku, Karin. ” Ucapnya dengan suara terdengar mengancam.

Karin, dengan mata cokelat hangatnya memandang Elena lurus.

“Kamu nggak akan bisa mengerti, Elena. ”

Elena berdecak tidak percaya, ia memutar matanya bosan. Kedua tangannya terlipat di dadanya dan kedua kaki panjangnya yang mulus tanpa ditutupi stoking, menumpuk pada satu sisi. Ada aura berkarisma yang selalu menyelimuti gadis berotak cerdas ini.

“Bagian mana yang tidak kumengerti, Karin? Kamu meninggalkan rumah, kamu meninggalkan kedua orang tuamu yang tidak menyetujui hubunganmu dengan pria itu, atau kamu yang lebih memilih bersama pria yang membuatmu durhaka pada kedua orang tuamu?”

Elena tidak akan membuat hal ini mudah bagi Karina atau siapapun yang membuat masalah dengannya.

“Aku sudah dewasa. Dan aku berhak menentukan pilihanku sendiri. Ini hidup aku, Elena. ” Pungkasnya tanpa mau disalahkan.

Gadis itu tertawa dengan sinis.

“Tapi kamu bersikap seperti anak kecil yang merajuk karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. ”

“Itu sebabnya kubilang, kamu nggak akan ngerti. Karena kamu nggak pernah jatuh cinta dan mungkin nggak akan pernah. ”

Karina sengaja memilih kata-kata itu untuk menyakiti sepupunya ini. Dengan menunjukkan kelemahan Elena yang tidak pernah ada yang berani menyampaikannya selama ini.

Namun bukan Elena bila tidak bisa membalas perkataan Karina tersebut.

“Cinta seperti apa yang bisa memisahkan orang tua dan anak kandungnya, Elena? Cinta seperti apa yang membuatmu meninggalkan Tuhanmu untuk bersama dengan seseorang yang hanya manusia biasa? Dan cinta seperti apa yang membuatmu buta pada keluarga dan teman yang menyayangimu serta benar-benar peduli padamu? ”

Elena menatapnya dengan sorot mata melunak. Ada rasa kasihan, kesal juga kesedihan terlintas di mata gadis itu.

Untuk sejenak Karina merasa ia akan goyah. Sedingin dan serasional apapun Elena, ia tetaplah seorang sahabat yang peduli dengan tulus padanya selama ini. Tidak pernah ia mengecewakan Karina apalagi dengan sengaja ingin menjatuhkannya, seperti teman-teman lain yang bersikap munafik padanya.

“Aku tidak bisa, Elena. Kau tidak mengerti apa yang aku rasakan. ” Ujarnya dengan suara lemah.

“Katakan padaku, apa yang tidak kumengerti Karin. ”

Dengan lembut Elena mengulurkan tangan hendak menyentuk tangan Karina yang kini menutupi wajah cantiknya.

Hanya ada sebuah meja kecil yang menghalangi keduanya, yang duduk di kursi kayu ruang tengah apartement Karina. Sesekali angin masuk dari pintu balkon yang terbuka lebar di bagian samping ruang tengah, membuat suara mendesau mengisi kesunyian ini.

“Aku sangat mencintainya, Elena. Hingga kupikir, aku tak bisa hidup tanpa dirinya. ”

Elena mendesah kalah. Ia memejamkan matanya sejenak dan membersihkan tenggorokannya yang terasa tercekat sebelum berkata, “jadi kau tak bisa hidup tanpa dia. Seseorang yang baru kau kenal setahun dua tahun. Dan meninggalkan orang-orang yang mengenalmu sejak kau lahir, juga mencintaimu tanpa syarat. Orang tuamu Karina. ”

“Itu —- , benar-benar tidak adil bagi mereka. ”

“Ini yang disebut dengan cinta, sepupu. Kau tidak mengerti karena kau tidak merasakannya. ”

Elena menggeleng dengan mata bersinar terluka.

“Itu bukan cinta Karina. Itu hanya kegilaan sesaat, ” ia menatap Karina lurus “karena kalau benar itu cinta. Kamu tak harus kehilangan semua hal yang kamu punyai untuk bersamanya. Terlebih lagi membuang Ayah dan Ibumu bahkan — kamu mengkhianati Tuhan. ”

“Kalau benar ia mencintaimu dengan tulus, nggak sepantasnya meminta darimu lebih dari segala hal yang bisa ia beri untukmu. ”

“Cinta bukan soal perhitungan untung dan rugi, Elena. ” Bantah Karina keras kepala. “Dan kalau saja orang tuaku mau menerima pilihanku, mereka tidak harus kehilangan diriku. ”

Elena menggeleng dengan sedih, “tetapi cinta juga bukan soal memilih antara kekasih, orang tua dan Tuhan. Kau harus mengerti itu. ”

“Aku sudah memilih, Elena. Dan pilihanku adalah — dia. ”

Karina bangkit dari duduknya. Kedua lengannya terlipat di atas perutnya dan ia menolak untuk melihat pada gadis di hadapannya.

“Sebaiknya kamu pulang. Tidak ada, —- tidak ada hal yang ingin kubicarakan lagi. ”

Elena mendesah. Ia bangkit dari duduknya dan meraih tas tangannya yang di letakkan di kursi sebelah. Ia melirik pada Karina yang kini berjalan menuju arah pintu.

Saat ia melangkah keluar dari ruangan ini, Elena berbalik menatap Karina yang masih menolak menatapnya.

“Kuharap, kau tidak akan menyesal sepupu. ”

Karina hanya diam. Dan menutup pintu dengan pelan. Bahkan ketika Elena belum beranjak dari depan pintu apartemennya.

Demi Lengkung Dibibir Itu

Oh, bulanku. Dimalam-malam kesepianku. Oh, bintangku, penunjuk arah, dimalam-malam gelapku tersesat. Oh, matahari, matahariku sumber dari segala awal dan akhirku, warna dan ketiadaanku. Kamu adalah cahaya bagi jiwaku yang muram, kamu adalah titik penanda tempatku untuk pulang. Kamu adalah alasanku bangun dari mimpi yang indah dan bertahan menjalani hidup bagai neraka, berkali-kali, demi melihat sebuah lengkung bibir diwajahmu.
Kamu adalah harapan untukku percaya bahwa kasih Tuhan tetap ada meski dalam keadaan sulit, napas tersenggal satu-satu.
Kamu adalah kamu, bagiku adalah semuanya.

Kau Adalah Kata Lain Dari Bahagiaku

Kalau sampai waktuku berpikir bahwa senyummu adalah salah satu karunia Tuhan yang terindah, maka aku sudah gila. Ya, gila padamu, tergila-gila karenamu.

Dan kalau sampaiku pada kesimpulan bahwa bersamamu, aku selalu senang, tersenyum, tertawa dan bodoh sekaligus tanpa merasa malu. Bahkan ketika sedih pun, pelukanmu bisa mengantarkan rasa aman meski langit telah runtuh dan bumi terbakar api abadi. Sudah jelas bahwa hatiku telah menjadi teritorimu tanpa harus diperangi.

Ketika jantungku berdebar kencang meski hanya mendengar seseorang menyebutkan namamu sekilas, ketika mataku terpejam dan hanya bayanganmu yang melintas lalu saat mataku terbuka hanya ada dirimu di seluruh tempat, kau. Hanya ada kau. Aku sudah pasti terjerat begitu dalam.

Tak masalah apakah ini berlangsung lama ataupun hanya sesaat. Yah, walau sesaat, bunga yang mekar tetaplah indah, kecantikan seorang wanita tetap akan dikenang para pemujanya. Tidak ada yang abadi, hanya masalah waktu saja sebelum segalanya hilang, cepat atau lambat.

Lalu, aku memutuskan akan berkubang dengan keadaan ini walau tak ada jaminan apapun. Dan tak perlu ada alasan untuk menolak untuk tersenyum, tertawa, pamer seringai dan terlihat bagai orang bodoh karenamu, hadirmu. Serta bersungguh-sungguh bersyukur akan eksistensimu di dunia ini.

One Day in Our Past

“Meninggalkan kamu, tepat dihari pernikahan kita — itu tidak termaafkan. Aku, —- aku menyadari itu. “

Raya memejamkan matanya.

Ada sentakan kenangan buruk yang mengisi benaknya, saat mendengar pernyataan dari bibir pria yang duduk di hadapannya. Dan membuatnya kembali terlempar pada masa-masa terburuk beberapa tahun belakangan ini.

Saat dia meninggalkan Raya tanpa mengatakan apapun sebagai alasan, dan saat kecelakaan mobil yang nyaris membuatnya lumpuh seumur hidup.

“Aku nggak tahu semuanya akan jadi seburuk itu. Kecelakaan, —- aku benar-benar tidak termaafkan lagi. ”

Raya menarik napas perlahan. Dan menoleh pada pria tersebut. Pandangannya datar dan nyaris tanpa ekspresi apapun lagi.

“Lalu apa tujuanmu saat ini?” Tanya gadis ini tanpa basa-basi.

Sudah cukup ia mendengar penyesalan dari pria ini dan sama sekali tidak dapat mengubah apapun yang pernah terjadi.

Raya telah menjalani semuanya dengan tabah dan tanpa pria ini ada disaat-saat ia sangat membutuhkannya. Hal tersebut sudah cukup membuatnya menyadari apa yang paling penting bagi dirinya dan bagi dia.

“Aku sudah kembali, Raya. ” Ujarnya tenang.

“Maksudmu?” Kening gadis ini berkerut, ia tidak mengerti maksud perkataan pria tersebut.

Pria itu menatapnya dalam. Dan entah pikiran apa yang tengah melintas di dalam otaknya.

“Kita bisa memulai lagi. ” Bisiknya lembut.

Raya memejamkan matanya. Emosinya yang sedari tadi ia tahan, sejak pertama kali melihat pria ini menerobos masuk ke ruang kerjanya, nyaris meledak seketika.

Gadis itu bernapas dengan pelan dan teratur. Berharap teknik pernapasan bisa mengurangi kemarahan yang membakar dadanya saat ini.

“Pergi. ” Ucapnya dengan gigi terkatup.

“Raya — ” pria itu maju, berusaha menyentuh tangannya.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. ”

Raya bangkit dan berdiri di samping pintu yang terbuka lebar. Tanpa mau menatap padanya. Mempersilahkan pria ini pergi, masih dalam kesopanan. Bukan diusir oleh satuan pengaman yang berada di lobi gedung.

Sang pria berdiri dengan wajah ragu.

Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan dan belum sempat ia nyatakan pada gadis yang mengenakan hijab ini. Dan ada sebuah pertanyaan mengganjal dihatinya, yang begitu mengganggunya.

“Kau dan Sejati, apakah itu benar?”

Raya menoleh padanya, mata bulat hijau itu menatapnya tajam.

“Benar. ”

Wajah pria itu menggelap seketika. Ia tampak terpukul, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap gadis ini.

“Aku sudah tahu dari dulu, kalau ia punya perasaan padamu. ”

“Tetapi yang tidak aku percaya adalah, kamu mengkhianatiku dengan dia. ”

Kini ia memandang Raya dengan pandangan menuduh.

“Terserah apapun pendapat kamu, diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun. Dan aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apapun padamu. ”

“Sekarang silahkan keluar. ” Ucap Raya dengan penuh ketegasan.

Tidak akan pernah ada kesempatan lagi untuk pria ini, memasuki gedung kantor tersebut. Karena setelah ini, Raya akan memastikan pada front office di depan, bahwa dia tidak diperkenankan menemuinya.

Raya menyesali kejadian ini. Harusnya ia sadar, bahwa tak ada lagi yang dapat ia dengar dari mulut pria pengecut ini.

Harusnya ia mendengar perkataan Jati kemarin, saat tiba-tiba pria itu muncul di kantor ini. Membuatnya terkejut.

“Jangan coba-coba menemui mantan kekasihmu, di belakangku. ”

Jati menggeram dengan suara rendahnya yang dalam. Pria tampan bertubuh tinggi berotot ini berdiri di depan pintu sambil melipat kedua lengannya didada. Raut wajahnya tampak kesal dan muram.

“Apa maksudmu?”

Tanya gadis manis yang mengenakan hijab berwarna biru dengan blouse putih beraksen kerut-kerut disepanjang bahu dan lengan, serta sebuah rok lebar tosca.

Ia tampak kaget dan bingung, tiba-tiba saja Jati datang dan mengatakan hal tersebut.

“Dia sudah kembali. ”

“Dia? Dia siapa?” Raya kembali bertanya.

“Kau tahu siapa, Raya. ” Geramnya lagi.

Raya, gadis di hadapannya menarik napas panjang sebelum kembali menatap pada Sejati, sepupu sekaligus calon suami yang akan menikahinya sebulan lagi.

“Apa yang membuatmu berpikir, aku akan menemuinya?” Gumam gadis itu dengan suara dingin.

Jati mendesah.

Pria tampan ini mengusap wajahnya, tampak khawatir.

“Apa ada hal yang kau sembunyikan dariku?”

Jati memandang Raya, yang kini menatapnya dengan mata hijau bulat besarnya. Pandangan gadis itu tampak menuntut dan tak mau dibohongi olehnya.

“Aku khawatir, oke?”

“Tentang?”

Pria itu tampak putus asa.

“Dia —-, hubungan kalian berlangsung bukan sehari dua hari. Dan —- aku tidak cukup percaya diri — dengannya. “

“Jati —- kau belum menjawab pertanyaanku. ” Desaknya lagi.

Jati kembali menatap pada Raya yang masih menunggu perkataan keluar dari bibirnya. Gadis itu duduk di depan meja kerjanya, dengan laptop yang masih menyala dan raut wajah bingung serta lelah.

“Apa kau tidak percaya padaku?”

“Bukan begitu, sayang. Aku hanya — ”

“Aku memilihmu, Jati. Dan dia — dia hanya masa lalu. ”

Raya menatapnya tajam. Ada luka dalam sorot mata hijaunya, yang kadang kala membuat Jati tercekat dalam rasa tak berdaya. Karena tak dapat menghapus kesedihan itu.

“Percayalah padaku, mulai saat ini. Tolong. ” Pintanya bersungguh-sungguh.

Dan usai pertemuan yang nyaris tidak sampai memakan waktu lebih dari lima menit, Raya semakin menyadari bahwa ‘dia’ memang bukanlah pilihan bagi dirinya.

Tuhan selalu punya cara untuk umatnya. Mungkin tidak selalu indah karena harus mengalami kekecewaan, rasa malu serta kesakitan yang dalam. Mungkin harus melalui pilihan yang salah namun malah membawa ke jalan yang tepat.

Dan Jati, adalah pilihan yang ia yakini.

¤¤¤¤

“Aku mengenal pria ini dari kecil. Kupikir, aku sudah mengetahui segala hal tentang Jati tetapi aku salah. ”

“Ada banyak hal yang tidak kuketahui tentangnya. Salah satunya adalah sifat posesifnya yang baru kusadari, usai kami memutuskan lebih dari sekedar saudara sepupu. “

Raya, gadis cantik berhijab. Yang memiliki iris mata dengan hijau gelap, seindah warna lumut ratusan tahun dibebatuan lembab.

Ia menghela napas mengamati punggung Jati yang berjalan di depannya. Seolah merasa diperhatikan, pria itu menoleh ke belakang dan melempar senyum pada Raya.

Sebuah senyum menyeringai dengan binar nakal di sudut mata tajam pemuda itu. Ia tampak senang.

Raya membalas, sebuah senyum simpul terkulum dibibir manisnya.

Hubungan keduanya tidak mudah. Mendapat tentangan dari keluarga, terutama dari Ibu kandung Jati. Yang jelas-jelas tidak menyukai Raya, apalagi bisa menerimanya menjadi menantu bagi putra sulung kesayangannya.

“Tumben sekali Mama mengajakmu bertemu. Kuharap ini berita bagus. ”

Ia kembali menyeringai pada gadis yang berjalan agak di belakangnya.

Mereka sedang berjalan menuju taman belakang, di dekat kolam renang. Tempat Ibu Jati menunggu Raya.

“Jati —- ”

Terdengar suara pekikan perempuan dan sesosok tubuh menghambur, memeluk pria tampan ini.

“Renata Sandiga. “

Mantan kekasih Jati yang paling lama dan serius berhubungan dengannya. Tentu saja Raya mengingatnya.

“Well, tadinya Mama hanya ingin mempertemukan Renata dengan Raya. ” Ucap wanita setengah baya, dengan penampilan anggun serta modis ini. Ia melirik tajam pada Raya “Tetapi sepertinya, — sudah takdir bagi kalian untuk bertemu, seperti ini. ”

Jati menegang, melihat pada Ibunya, Renata dan Raya. Berganti-ganti dan tak nyaman.

“Apa maksud Mama melakukan ini semua?” Tuntut Jati.

Ia melepaskan pelukan gadis cantik, mantan kekasihnya saat masih kuliah dulu. Namun Renata, bukanlah gadis yang mudah untuk dihindari. Dengan berani ia mengelayuti lengan Jati tanpa malu-malu.

“Mama ingin menunjukkan kamu punya banyak pilihan, Jati. ”

“Dan aku sudah memilih Raya, Ma. ”

“Maaf, Ren. Aku akan menikah dengan Raya, sebulan lagi. ”

Ia mengibaskan lengannya hingga terlepas dari pegangan gadis mantan kekasihnya. Menyambar bahu Raya dan menariknya untuk segera pergi dari ruangan ini.

Tidak ada lagi yang ingin ia dengar dan bicarakan, dengan kedua wanita tersebut.

“Jati, —- Jati. ” Terdengar pekikan dari Renata dan juga Mamanya Jati, memanggil-manggil pria ini.

“Itu tadi, cukup mengejutkan. ”

Komentar Raya memecahkan kebisuan, saat keduanya sudah berada di dalam mobil. Dalam perjalanan pulang dari rumah kedua orang tua Sejati.

“Mama kamu masih belum menerima aku. ”

“Dan hal itu, nggak akan bikin tanggal pernikahan kita dimundurin Raya. ” Geram Jati sambil menoleh padanya.

“Kemarin, ‘dia’ juga datang ke kantorku. ”

“Apa?!”

Jati mencengkram stir mobil dengan kencang. Matanya bersinar kalap dan menghakimi, menatap Raya marah.

“Kau sudah janji — ”

“Dia bukan apa-apa. Sungguh. ”

Raya menyentuh lengan Jati. Membelai otot-otot bisepsnya yang menegang, dibalik kain kemejanya yang berbahan katun lembut. Berusaha menenangkan pria ini dengan kelembutannya.

“Kamu nggak perlu cemburu padanya. Sama seperti perasaanku melihat Renata, tadi. ”

“Mereka cuma masa lalu. Masa lalu yang tidak mempunyai arti, juga masa depan. Karena masa depan —adalah kita. “

Raya tersenyum padanya. Sebuah senyum penuh keyakinan yang tulus. Yang menular, membuat Jati terpaku sejenak lalu ikut melebarkan garis bibirnya untuk gadis ini.

“Raya memilihku, itu sudah cukup. Namun sepertinya bahagia bersama Raya adalah bonus yang akan kudapat. ”

” Aku —- bajingan yang sangat beruntung. ”

Moral Story Menyesat dari Iklan Alpenliebe

Ada sepasang gadis kecil cantik, kembar, yang duduk di pinggir jalan sambil melihat hasil ujian matematika. Yang rambut digerai dapat nilai 30an yang rambut diikat dan pakai kaca mata mendapat nilai 90an. Nah yang rambut digerai mengeluh, “nanti dimarahin mama deh” katanya sedih.

Lalu si gadis kecil dengan rambut diikat yang lagi ngemut permen alpenliebe lolipop, melepas ikatan rambutnya dan memakaikannya kepada saudari kembarnya. Beserta dengan kaca matanya juga lalu menukar hasil ujian mereka. Keduanya lalu saling tertawa satu sama lain (mungkin tertawa karena akan membodohi/menipu orang tuanya).

Dengan begini yang akan dimarahi adalah sipintar yang baik hati (sekali lagi mungkin, logika saya sih mikir seperti itu setelah nonton iklannya berulang kali). Dan iklan tersebut diakhiri dengan tagline karena ada cinta dalam alpenliebe.

Well, menurut saya moral story diiklan ini melenceng dan hampir menyesatkan. Bukannya menunjukkan sikap berkorban yang baik hati tetapi justru menunjukkan melindungi yang salah dengan mengorbankan diri sendiri atas nama kasih sayang. Dan itu sama sekali nggak akan membawa efek kebaikan.

Kenapa saya bilang salah? Saya pikir seorang anak kecil mendapat hasil ulangan jelek dan dimarahi orang tuanya adalah hal yang wajar. Semua orang mungkin pernah mengalaminya. Dan dengan memarahi anaknya, orang tua bukan nggak sayang loh sama anaknya. Tetapi mengharapkan yang terbaik dari anaknya dan agar diujian selanjutnya sang anak dapat belajar lebih keras lagi.

Lah, kalau hasil ujiannya jelek dan dia bertukar tempat dengan kembarannya yang pintar. Memang untuk saat itu dia selamat dari kemarahan orang tuanya tetapi nggak bisa memberikan efek ia jadi rajin belajar dan menjamin kelak mendapatkan nilai yang lebih baik. Iya nggak?

Cinta menurutku tidak melulu soal melindungi yang kita sayang, apalagi disaat mereka melakukan hal yang salah. Justru seharusnya atas nama cinta, kita memaksa mereka mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Bukan malah melindunginya atas kelakuan salahnya dan menutup mata dari akibat dari perbuatannya.

Terkadang marah juga adalah ekspresi dari cinta. Dan diam serta sikap acuh malah merupakan racun yang akan merusak yang kita sayang karena kita bahkan tidak bisa menjaganya dari dirinya sendiri yang salah.

Bagaimana menurut kamu?

I Hate This Love Song

“I Hate This Love Song. “

Jati, pria muda yang duduk di hadapan Raya, tertawa, mendengar ucapan yang keluar dari bibir gadis manis itu.

Lamat-lamat, ia mencoba mempertajam pendengarannya. Menyimak lagu yang sedang mengalun di tempat ini. Namun tidak mengenalinya kecuali beberapa lirik puitis tentang cinta.

Raya menoleh padanya, menatap lekat-lekat dengan mata besar, iris matanya yang berwarna hijau tampak bagai batu jamrud berkilau.

Sepintas ia tampak bagai gadis Indonesia pada umumnya, berwajah manis dengan kulit halus kecoklatan, rambut hitam berkilat dan gigi seputih mutiara. Satu-satunya yang berbeda adalah mata gadis itu, warisan genetik dari pria yang memberinya kehidupan tetapi tidak dengan pengakuan serta tanggung jawab.

“Memangnya lagu itu salah apa padamu?”

Raya mendesah lalu menatap keluar jendela kaca Coffee shop, yang terletak di lantai dasar sebuah pusat perbelanjaan megah, yang selalu ramai meski bukan hari libur.

Jati masih memandang wajah sepupu jauhnya ini. Gadis yang setahun lalu mengalami kecelakaan parah yang nyaris membuatnya lumpuh. Kini Raya sudah bisa berjalan meski terkadang masih merasakan sakit yang menyiksa pada kakinya.

“Perawat di bangsal tempatku dirawat, selalu memutar lagu ini. Berulang-ulang kali, membuatku bosan setengah mati mendengarnya. ”

“Lagu ini mengingatkanku pada saat-saat menyakitkan usai operasi. ”

“Lagu ini juga, ada dipuncak play list —- miliknya. ”

Raya melirik padanya. Mencoba menebak reaksi yang akan ditunjukkan Jati.

Setahun lebih, tidak sekalipun Raya pernah membicarakan tentang ‘dia’. Pria yang sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya. Yang telah memberi harapan dan hampir saja menikahi Raya namun mengubah keputusan didetik-detik terakhir. Meninggalkan gadis itu dihari pernikahan, di hadapan keluarga besar dan tamu, tanpa penjelasan apapun sampai saat ini.

“Kau ingin membicarakan dia?” Tanya Jati pelan.

Ada keprihatinan di raut wajah tampannya, yang tak dapat disembunyikan lagi. Pria ini tanpa sadar mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tangan bertelekan di meja.

Raya tersenyum miring namun Jati dapat melihat gadis itu sama sekali tidak berniat tersenyum. Karena matanya terlihat bersedih dan penuh luka.

“Tidak. —- Tidak seperti itu. ”

“Kau tidak ingin tahu?”

“Percuma. ” Ujarnya sambil bersandar pada sofa yang didudukinya.

Ia melipat kedua lengannya di dada dan kembali menatap jauh keluar jendela.

“Tidak mengubah apapun, selain — aku ditinggalkan. Dia sudah membuat keputusan dan aku — bukan bagian dari pilihannya. ”

“Sibrengsek itu berhutang penjelasan padamu. ” Geram Jati mengingatkannya pada kelakuan payah lelaki itu.

“Pengecut yang —– harusnya aku — ” Jati menarik napas panjang, “suatu saat bila aku bertemu dengannya, akan kupatahkan hidungnya. ”

Mata pria ini berkilat-kilat, ada amarah dan rasa kesal yang menguar pada dirinya saat mengatakan janji ancaman tersebut.

Raya tertawa tanpa suara. Matanya tampak bersinar geli. Dan kali ini ia tulus dan tidak berpura-pura kuat.

Ia menggapai tangan Jati yang mengepal di meja kayu. Meremasnya lembut. Mengucapkan terima kasih tanpa kata-kata, atas kesetiaan yang ditunjukkan sepupunya ini.

Jati membalas tatapannya, kembali terpesona pada kecantikan gadis ini seperti pertama kali mereka bertemu 15 tahun yang lalu. Raya kecil yang tabah, harus mengebumikan jenasah ibunya, sendirian. Saat itu usia Jati 11 tahun dan Raya baru 9 tahun.

Setelah itu ia diasuh kesana-kemari oleh keluarga tetapi tidak ada yang benar-benar menginginkannya. Dan seolah menyadari keadaannya diumur 17 tahun Raya memilih hidup sendiri dan mandiri sampai saat ini.

Bukan rahasia lagi di keluarga besar, mendiang ibunya dan Raya tidak pernah dianggap. Hamil diluar nikah dan mempunyai fisik berbeda dari orang timur, menjadi kutukan bagi mereka bahkan dari keluarga sendiri.

Salah satu alasan mengapa Jati dan Raya bertemu di tempat umum? Karena setelah kejadian setahun yang lalu, saat Raya ditinggalkan oleh tunangannya dan mendapat kecelakaan, keluarga semakin menyalahkannya bahkan termasuk ibunya Jati. Ia lebih terkucilkan lagi. Hanya Jati dan ayahnya, Om Seno yang peduli dengan tulus pada Raya.

“Bagaimana kabarmu? Kau tidak muncul di rumah Tante Lingga kemarin. ”

Raya menggeleng lalu senyum miring dengan mata bersedih itu muncul lagi.

“Tante Lingga. ” Gumamnya dengan suara pelan.

Ingatan gadis itu kembali kemasa lalu. Saat ia masih muda belia dan hidup menumpang di rumah salah satu sepupu ibunya, yang biasa ia panggil Tante Lingga.

Raya usia 15 tahun dan masih duduk di bangku kelas 10. Suatu malam entah bagaimana caranya, suami Tante Lingga masuk ke dalam kamarnya, berusaha melakukan tindak pelecehan. Ia mengancam agar Raya menutup mulutnya namun gadis itu menggigitnya dan menjerit histeris, meminta tolong.

Pada akhirnya Tante Lingga lebih mempercayai perkataan suaminya, bahwa Raya mencoba menggodanya. Mereka mengusir Raya dan menambah cerita buruk tentang gadis ini dihadapan keluarga sehingga ia semakin dibenci.

Gadis yang sudah berhijab sejak memutuskan hidup mandiri ini kembali pada saat sekarang. Duduk, di coffee shop, berhadapan dengan pria bernama Sejati Mahesa Putra.

Raya menarik napas panjang sebelum berkata : “Aku terapi hari itu. ”

Ia memilih berbohong dan memilih menelan kenyataan yang sebenarnya. Raya memejamkan matanya dan menunduk, menghindari tatapan Jati yang menusuk.

Jati mengawasi perubahan di wajah gadis yang tampak berhati-hati ini dan mulai bertanya-tanya, apa yang sedang berkecamuk dibenak Raya. Berapa banyak kesedihan dan rahasia yang menyelimutinya.

Kalau ada hal yang paling ia sesali, itu adalah setahun yang lalu. Hari dimana Raya harusnya berbahagia dan memiliki kehidupan rumah tangga dengan kekasihnya.

Pria pengecut yang egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Yang bahkan tidak muncul dihari pernikahan dan malah menghubungi salah seorang keluarga gadis, yang ia campakkan begitu saja.

“Katakan pada Raya, maaf, aku tidak bisa menikahinya. ”

“Apa?!! ”

“Aku — tidak bisa mengatakannya langsung. ”

“Bangsat. Apa yang kau lakukan? Raya menunggumu, semua orang sudah menunggumu. ”

Dia terdiam sesaat. Dan hal tersebut semakin membuat Jati mendidih penuh kemarahan, hingga siap untuk meremukkan kepala pria ini jadi serpihan kecil.

Gusar, Jati berjalan mendekati jendela besar. Menatap tenda putih yang terpasang di halaman depan, dipenuhi oleh tamu dan keluarga yang lalu lalang. Wajah-wajah ceria dan siap berpesta.

“Raya pasti bisa mengerti. Dia paling mengerti aku. Kami — sama, sebatang kara, harus berjuang. Ini — ini kesempatan besar untukku. Hanya setahun kontrak dinas, setelah itu — ”

“Brengsek. Apa yang kamu lakukan?”

“Aku — aku harus pergi. Hanya satu tahun. Raya pasti mengerti. ”

“Hei — hei, dimana kau? —- bajingan. Brengsek. ” Makinya kalap saat panggilan itu terputus.

Prak.

Jati melempar ponsel pipihnya ke lantai hingga pecah menjadi beberapa bagian. Tidak terbayangkan kekuatan yang ia gunakan saat melakukan itu. Ia sangat amat marah dan saat menoleh ke pintu, Jati terpaku.

“Kau —- ”

Raya.

Gadis itu mengenakan kebaya broken white berpotongan sopan, berhiaskan mutiara dan lace. Rok lebar berwarna merah marun dari sutra halus yang senada dengan secarik kain hijab, membingkai wajah cantiknya.

Ia tampak pucat dan terpukul. Raya pasti mendengar seluruh percakapan Jati di telefon. Karena entah sudah berapa lama ia berdiri di tempat itu.

“Dimana dia?” Tanyanya dengan suara halus, nyaris berbisik.

Mata hijau besar milik gadis itu tampak berkaca-kaca namun ia berusaha tegar dan tidak menangis. Tangan gadis itu terkepal disisi tubuhnya.

“Bandara. ” Sahut Jati dengan suara kelam.

Gadis itu berbalik dan melangkah cepat.

Yang Jati tidak tahu adalah Raya menyusul pria itu ke bandara, berusaha mengubah pendiriannya. Namun diperjalanannya mobil yang ia kendarai ditabrak truck molen berkecepatan tinggi. Mobil Raya terguling hancur dan kecelakaan itu membuatnya terluka berat.

Jati menyadari kenyataan bahwa Raya bukan hanya menderita sakit hati, secara fisik pun dia sudah luluh lantak. Dan itu menghancurkan perasaannya, melihat gadis tabah ini babak belur tanpa ia dapat melakukan apapun untuk menolongnya.

¤¤¤¤

“Apa yang akan bisa membuatmu bahagia?”

Raya tertawa tanpa suara, mendengar pertanyaan ajaib Jati. Ia memiringkan kepala, mengamati Jati yang mempertunjukkan kemampuan menyetirnya yang terampil. Berhasil membawa mobil keluar dari parkiran secara mulus, hanya memegang setir dengan satu tangan saja.

Jati yang meliriknya santai sambil mengemudikan mobilnya membelah jalanan. Ia selalu mengantar Raya pulang sehabis pertemuan mereka.

“Tolong, jangan memutar lagu itu disini. ”

Pria muda ini tertawa lepas, mendengar perkataan Raya yang dimaksudkan untuk bercanda.

“Aku serius. Kalau ada yang bisa kulakukan. ” Jati melirik lagi padanya.

Raya tersenyum. Ia mengulurkan tangannya yang berjari panjang, menyentuh lengan Jati sekilas. Rasa terima kasih yang tak terucap namun dapat dirasakan tulus oleh pria ini.

“Bahagia tidak pernah berpihak pada yang kalah. Seperti cinta, hanya yang menang yang bisa mengukir sejarah. ”

Jati mengerutkan keningnya, tidak mengerti.

“Artinya?”

Raya kembali tertawa. Ia menatap sepupunya lekat-lekat, sebuah senyum lepas di wajahnya, melihat kebingungan Jati.

“Teruslah berjuang, mungkin akan ada perubahan. ”

“Dan apakah kau tetap benci lagu cinta?” Tanya Jati lagi.

“Tidak semuanya. Hanya satu. ”

“Karena dia? ”

“Hmm —- tidak juga. Aku sudah move on dari dia. ”

“Bahkan bila ia muncul lagi, dihadapanmu? ” Cecar Jati lagi.

Raya menarik napas dalam-dalam dan menoleh pada pria di sampingnya ini.

“Kemana arah pembicaraan ini sebenarnya? ” Tanyanya dengan mimik muka serius dan tak dapat dibohongi.

Jati tersenyum simpul.

Raya bukan gadis bodoh. Dan ditatap dengan mata hijau indah, yang bersinar penuh pengharapan dan kepercayaan begitu besar, Jati tak berdaya. Ia menelan air ludahnya sebelum kembali melihat ke depan.

“Aku ingin membuat pengakuan. ”

Mata gadis itu berkedip, terlihat tertarik dengan apa yang akan ia dengar.

“Sesuatu yang buruk?” Sebuah senyum kembali lolos di wajahnya.

Jati tertawa dan tampak berpikir untuk menjawabnya : “Mungkin. ”

“Sesuatu yang rahasia? ” Tanyanya lagi.

“Sesuatu yang tidak kamu ketahui. ”

“Apa?” Tantang Raya bersemangat.

Jati menarik napas, mengumpulkan keberanian untuk menyatakan. Harus saat ini karena ia sudah lelah menunggu dan tidak rela melihat gadis ini terluka dengan yang lain.

“Mulailah denganku. ”

“Apa?”

“Aku menyukaimu. ”

“Hah?”

“Aku menyukaimu sejak lama. ”

” —– ”

“Aku menyukaimu sampai saat ini. ”

” —– ”

“Aku menyukaimu sampai nanti. ”

Jati melirik pada Raya yang masih terpaku padanya, matanya membulat. Kebingungan dan terkejut, itulah yang tergambar pada mata gadis ini.

“Jati. ” Bisiknya dengan suara lirih.

“Beri aku kesempatan, untuk membahagiakanmu Raya. ” Pintanya bersungguh-sungguh.

“Aku — aku, sejak kejadian itu — sudah banyak berpikir dan sampai pada kesimpulan, bahwa aku tidak akan menggantung kebahagiaanku pada sesuatu dan orang lain. ”

Jati mendengar perkataannya dengan cermat. Mereka saling bertatapan, Raya dengan pandangan canggung dan sang pria dengan harapan.

“Aku mengerti. Namun bisakah kau memberi aku kesempatan? Aku tidak tahu dengan yang lain, tetapi aku tidak akan pernah menyakitimu. Kau tahu itukan? ”

Jati meraih jemari Raya, menggenggamnya dan meremasnya lembut. Sejenak mereka saling bertatapan lagi dan tidak berkata-kata. Namun Jati tidak bisa terus-menerus melihat kearah Raya, karena saat ini ia masih menyetir di jalanan meskipun sepi. Tetapi ia tidak melepaskan pegangannya pada Raya.

Raya Indira, untuk pertama kali dalam hidupnya ia harus berpikir keras dan tak tahu harus mengatakan apa serta berbuat apa saat ini. Jati adalah sepupunya dan satu-satunya keluarga yang ia punyai, yang benar-benar peduli padanya. Pria yang ia percayai juga ia sayangi. Pengakuannya tentu saja mengejutkan namun tak urung membuatnya merasa tersanjung sebagai perempuan.

“Kau tak harus menjawabnya sekarang. ” Ucap Jati dengan senyum terkembang, melihat kerut di antara alis Raya.

“Kau punya waktu untuk memikirkannya dan mempertimbangkannya. ”

“Keluarga kita tidak akan menyukai ini, Jati. ” Gumamnya perlahan, membayangkan apabila memang ada masa depan buat mereka. “Ibumu —- ”

“Aku tidak peduli. Ini hidupku dan kamu, —- aku tahu benar siapa kamu Raya, yang mereka tidak pernah tahu termasuk ibuku. ”

Ia kembali meremas jemari gadis itu.

“Berpikirlah, tidak masalah dengan waktu. Tapi —- kumohon, beri aku jawaban yang memuaskan. ”

Jati tersenyum lembut. Dan dimata Raya, senyum itu tampak penuh pengharapan juga kepasrahan, atas apapun yang menjadi keputusannya.

Ini mengejutkan baginya. Melihat Jati sebagai seorang laki-laki setelah selama ini menganggapnya sebagai seorang kakak, keluarga yang tidak ia punyai, sahabat dan pelindung. Tetapi sebagai kekasih? Ia yakin Jati pasti akan menjadi kekasih yang baik, bahkan mungkin terbaik yang ia pernah temui.

Karena yang Jati tawarkan bukan hanya cinta. Perlindungan, rasa aman, persahabatan dan rumah bagi jiwanya. Sebuah paket lengkap yang langka dan mungkin tidak akan datang dua kali dalam hidup gadis ini.

Raya menatap dalam-dalam wajah Sejati Mahesa. Jati tampan, ia tahu itu. Penyayang dan sabar, itu juga bukan hal baru baginya. Tetapi Jati yang melihatnya dengan pandangan penuh cinta, ini merupakan hal tidak biasa baginya. Sedikit menggelitik namun rasanya tak begitu buruk. Mungkin ia akan terbiasa dengan ini atau malah menikmatinya.

Bisakah ia?