I Hate This Love Song

“I Hate This Love Song. “

Jati, pria muda yang duduk di hadapan Raya, tertawa, mendengar ucapan yang keluar dari bibir gadis manis itu.

Lamat-lamat, ia mencoba mempertajam pendengarannya. Menyimak lagu yang sedang mengalun di tempat ini. Namun tidak mengenalinya kecuali beberapa lirik puitis tentang cinta.

Raya menoleh padanya, menatap lekat-lekat dengan mata besar, iris matanya yang berwarna hijau tampak bagai batu jamrud berkilau.

Sepintas ia tampak bagai gadis Indonesia pada umumnya, berwajah manis dengan kulit halus kecoklatan, rambut hitam berkilat dan gigi seputih mutiara. Satu-satunya yang berbeda adalah mata gadis itu, warisan genetik dari pria yang memberinya kehidupan tetapi tidak dengan pengakuan serta tanggung jawab.

“Memangnya lagu itu salah apa padamu?”

Raya mendesah lalu menatap keluar jendela kaca Coffee shop, yang terletak di lantai dasar sebuah pusat perbelanjaan megah, yang selalu ramai meski bukan hari libur.

Jati masih memandang wajah sepupu jauhnya ini. Gadis yang setahun lalu mengalami kecelakaan parah yang nyaris membuatnya lumpuh. Kini Raya sudah bisa berjalan meski terkadang masih merasakan sakit yang menyiksa pada kakinya.

“Perawat di bangsal tempatku dirawat, selalu memutar lagu ini. Berulang-ulang kali, membuatku bosan setengah mati mendengarnya. ”

“Lagu ini mengingatkanku pada saat-saat menyakitkan usai operasi. ”

“Lagu ini juga, ada dipuncak play list —- miliknya. ”

Raya melirik padanya. Mencoba menebak reaksi yang akan ditunjukkan Jati.

Setahun lebih, tidak sekalipun Raya pernah membicarakan tentang ‘dia’. Pria yang sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya. Yang telah memberi harapan dan hampir saja menikahi Raya namun mengubah keputusan didetik-detik terakhir. Meninggalkan gadis itu dihari pernikahan, di hadapan keluarga besar dan tamu, tanpa penjelasan apapun sampai saat ini.

“Kau ingin membicarakan dia?” Tanya Jati pelan.

Ada keprihatinan di raut wajah tampannya, yang tak dapat disembunyikan lagi. Pria ini tanpa sadar mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tangan bertelekan di meja.

Raya tersenyum miring namun Jati dapat melihat gadis itu sama sekali tidak berniat tersenyum. Karena matanya terlihat bersedih dan penuh luka.

“Tidak. —- Tidak seperti itu. ”

“Kau tidak ingin tahu?”

“Percuma. ” Ujarnya sambil bersandar pada sofa yang didudukinya.

Ia melipat kedua lengannya di dada dan kembali menatap jauh keluar jendela.

“Tidak mengubah apapun, selain — aku ditinggalkan. Dia sudah membuat keputusan dan aku — bukan bagian dari pilihannya. ”

“Sibrengsek itu berhutang penjelasan padamu. ” Geram Jati mengingatkannya pada kelakuan payah lelaki itu.

“Pengecut yang —– harusnya aku — ” Jati menarik napas panjang, “suatu saat bila aku bertemu dengannya, akan kupatahkan hidungnya. ”

Mata pria ini berkilat-kilat, ada amarah dan rasa kesal yang menguar pada dirinya saat mengatakan janji ancaman tersebut.

Raya tertawa tanpa suara. Matanya tampak bersinar geli. Dan kali ini ia tulus dan tidak berpura-pura kuat.

Ia menggapai tangan Jati yang mengepal di meja kayu. Meremasnya lembut. Mengucapkan terima kasih tanpa kata-kata, atas kesetiaan yang ditunjukkan sepupunya ini.

Jati membalas tatapannya, kembali terpesona pada kecantikan gadis ini seperti pertama kali mereka bertemu 15 tahun yang lalu. Raya kecil yang tabah, harus mengebumikan jenasah ibunya, sendirian. Saat itu usia Jati 11 tahun dan Raya baru 9 tahun.

Setelah itu ia diasuh kesana-kemari oleh keluarga tetapi tidak ada yang benar-benar menginginkannya. Dan seolah menyadari keadaannya diumur 17 tahun Raya memilih hidup sendiri dan mandiri sampai saat ini.

Bukan rahasia lagi di keluarga besar, mendiang ibunya dan Raya tidak pernah dianggap. Hamil diluar nikah dan mempunyai fisik berbeda dari orang timur, menjadi kutukan bagi mereka bahkan dari keluarga sendiri.

Salah satu alasan mengapa Jati dan Raya bertemu di tempat umum? Karena setelah kejadian setahun yang lalu, saat Raya ditinggalkan oleh tunangannya dan mendapat kecelakaan, keluarga semakin menyalahkannya bahkan termasuk ibunya Jati. Ia lebih terkucilkan lagi. Hanya Jati dan ayahnya, Om Seno yang peduli dengan tulus pada Raya.

“Bagaimana kabarmu? Kau tidak muncul di rumah Tante Lingga kemarin. ”

Raya menggeleng lalu senyum miring dengan mata bersedih itu muncul lagi.

“Tante Lingga. ” Gumamnya dengan suara pelan.

Ingatan gadis itu kembali kemasa lalu. Saat ia masih muda belia dan hidup menumpang di rumah salah satu sepupu ibunya, yang biasa ia panggil Tante Lingga.

Raya usia 15 tahun dan masih duduk di bangku kelas 10. Suatu malam entah bagaimana caranya, suami Tante Lingga masuk ke dalam kamarnya, berusaha melakukan tindak pelecehan. Ia mengancam agar Raya menutup mulutnya namun gadis itu menggigitnya dan menjerit histeris, meminta tolong.

Pada akhirnya Tante Lingga lebih mempercayai perkataan suaminya, bahwa Raya mencoba menggodanya. Mereka mengusir Raya dan menambah cerita buruk tentang gadis ini dihadapan keluarga sehingga ia semakin dibenci.

Gadis yang sudah berhijab sejak memutuskan hidup mandiri ini kembali pada saat sekarang. Duduk, di coffee shop, berhadapan dengan pria bernama Sejati Mahesa Putra.

Raya menarik napas panjang sebelum berkata : “Aku terapi hari itu. ”

Ia memilih berbohong dan memilih menelan kenyataan yang sebenarnya. Raya memejamkan matanya dan menunduk, menghindari tatapan Jati yang menusuk.

Jati mengawasi perubahan di wajah gadis yang tampak berhati-hati ini dan mulai bertanya-tanya, apa yang sedang berkecamuk dibenak Raya. Berapa banyak kesedihan dan rahasia yang menyelimutinya.

Kalau ada hal yang paling ia sesali, itu adalah setahun yang lalu. Hari dimana Raya harusnya berbahagia dan memiliki kehidupan rumah tangga dengan kekasihnya.

Pria pengecut yang egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Yang bahkan tidak muncul dihari pernikahan dan malah menghubungi salah seorang keluarga gadis, yang ia campakkan begitu saja.

“Katakan pada Raya, maaf, aku tidak bisa menikahinya. ”

“Apa?!! ”

“Aku — tidak bisa mengatakannya langsung. ”

“Bangsat. Apa yang kau lakukan? Raya menunggumu, semua orang sudah menunggumu. ”

Dia terdiam sesaat. Dan hal tersebut semakin membuat Jati mendidih penuh kemarahan, hingga siap untuk meremukkan kepala pria ini jadi serpihan kecil.

Gusar, Jati berjalan mendekati jendela besar. Menatap tenda putih yang terpasang di halaman depan, dipenuhi oleh tamu dan keluarga yang lalu lalang. Wajah-wajah ceria dan siap berpesta.

“Raya pasti bisa mengerti. Dia paling mengerti aku. Kami — sama, sebatang kara, harus berjuang. Ini — ini kesempatan besar untukku. Hanya setahun kontrak dinas, setelah itu — ”

“Brengsek. Apa yang kamu lakukan?”

“Aku — aku harus pergi. Hanya satu tahun. Raya pasti mengerti. ”

“Hei — hei, dimana kau? —- bajingan. Brengsek. ” Makinya kalap saat panggilan itu terputus.

Prak.

Jati melempar ponsel pipihnya ke lantai hingga pecah menjadi beberapa bagian. Tidak terbayangkan kekuatan yang ia gunakan saat melakukan itu. Ia sangat amat marah dan saat menoleh ke pintu, Jati terpaku.

“Kau —- ”

Raya.

Gadis itu mengenakan kebaya broken white berpotongan sopan, berhiaskan mutiara dan lace. Rok lebar berwarna merah marun dari sutra halus yang senada dengan secarik kain hijab, membingkai wajah cantiknya.

Ia tampak pucat dan terpukul. Raya pasti mendengar seluruh percakapan Jati di telefon. Karena entah sudah berapa lama ia berdiri di tempat itu.

“Dimana dia?” Tanyanya dengan suara halus, nyaris berbisik.

Mata hijau besar milik gadis itu tampak berkaca-kaca namun ia berusaha tegar dan tidak menangis. Tangan gadis itu terkepal disisi tubuhnya.

“Bandara. ” Sahut Jati dengan suara kelam.

Gadis itu berbalik dan melangkah cepat.

Yang Jati tidak tahu adalah Raya menyusul pria itu ke bandara, berusaha mengubah pendiriannya. Namun diperjalanannya mobil yang ia kendarai ditabrak truck molen berkecepatan tinggi. Mobil Raya terguling hancur dan kecelakaan itu membuatnya terluka berat.

Jati menyadari kenyataan bahwa Raya bukan hanya menderita sakit hati, secara fisik pun dia sudah luluh lantak. Dan itu menghancurkan perasaannya, melihat gadis tabah ini babak belur tanpa ia dapat melakukan apapun untuk menolongnya.

¤¤¤¤

“Apa yang akan bisa membuatmu bahagia?”

Raya tertawa tanpa suara, mendengar pertanyaan ajaib Jati. Ia memiringkan kepala, mengamati Jati yang mempertunjukkan kemampuan menyetirnya yang terampil. Berhasil membawa mobil keluar dari parkiran secara mulus, hanya memegang setir dengan satu tangan saja.

Jati yang meliriknya santai sambil mengemudikan mobilnya membelah jalanan. Ia selalu mengantar Raya pulang sehabis pertemuan mereka.

“Tolong, jangan memutar lagu itu disini. ”

Pria muda ini tertawa lepas, mendengar perkataan Raya yang dimaksudkan untuk bercanda.

“Aku serius. Kalau ada yang bisa kulakukan. ” Jati melirik lagi padanya.

Raya tersenyum. Ia mengulurkan tangannya yang berjari panjang, menyentuh lengan Jati sekilas. Rasa terima kasih yang tak terucap namun dapat dirasakan tulus oleh pria ini.

“Bahagia tidak pernah berpihak pada yang kalah. Seperti cinta, hanya yang menang yang bisa mengukir sejarah. ”

Jati mengerutkan keningnya, tidak mengerti.

“Artinya?”

Raya kembali tertawa. Ia menatap sepupunya lekat-lekat, sebuah senyum lepas di wajahnya, melihat kebingungan Jati.

“Teruslah berjuang, mungkin akan ada perubahan. ”

“Dan apakah kau tetap benci lagu cinta?” Tanya Jati lagi.

“Tidak semuanya. Hanya satu. ”

“Karena dia? ”

“Hmm —- tidak juga. Aku sudah move on dari dia. ”

“Bahkan bila ia muncul lagi, dihadapanmu? ” Cecar Jati lagi.

Raya menarik napas dalam-dalam dan menoleh pada pria di sampingnya ini.

“Kemana arah pembicaraan ini sebenarnya? ” Tanyanya dengan mimik muka serius dan tak dapat dibohongi.

Jati tersenyum simpul.

Raya bukan gadis bodoh. Dan ditatap dengan mata hijau indah, yang bersinar penuh pengharapan dan kepercayaan begitu besar, Jati tak berdaya. Ia menelan air ludahnya sebelum kembali melihat ke depan.

“Aku ingin membuat pengakuan. ”

Mata gadis itu berkedip, terlihat tertarik dengan apa yang akan ia dengar.

“Sesuatu yang buruk?” Sebuah senyum kembali lolos di wajahnya.

Jati tertawa dan tampak berpikir untuk menjawabnya : “Mungkin. ”

“Sesuatu yang rahasia? ” Tanyanya lagi.

“Sesuatu yang tidak kamu ketahui. ”

“Apa?” Tantang Raya bersemangat.

Jati menarik napas, mengumpulkan keberanian untuk menyatakan. Harus saat ini karena ia sudah lelah menunggu dan tidak rela melihat gadis ini terluka dengan yang lain.

“Mulailah denganku. ”

“Apa?”

“Aku menyukaimu. ”

“Hah?”

“Aku menyukaimu sejak lama. ”

” —– ”

“Aku menyukaimu sampai saat ini. ”

” —– ”

“Aku menyukaimu sampai nanti. ”

Jati melirik pada Raya yang masih terpaku padanya, matanya membulat. Kebingungan dan terkejut, itulah yang tergambar pada mata gadis ini.

“Jati. ” Bisiknya dengan suara lirih.

“Beri aku kesempatan, untuk membahagiakanmu Raya. ” Pintanya bersungguh-sungguh.

“Aku — aku, sejak kejadian itu — sudah banyak berpikir dan sampai pada kesimpulan, bahwa aku tidak akan menggantung kebahagiaanku pada sesuatu dan orang lain. ”

Jati mendengar perkataannya dengan cermat. Mereka saling bertatapan, Raya dengan pandangan canggung dan sang pria dengan harapan.

“Aku mengerti. Namun bisakah kau memberi aku kesempatan? Aku tidak tahu dengan yang lain, tetapi aku tidak akan pernah menyakitimu. Kau tahu itukan? ”

Jati meraih jemari Raya, menggenggamnya dan meremasnya lembut. Sejenak mereka saling bertatapan lagi dan tidak berkata-kata. Namun Jati tidak bisa terus-menerus melihat kearah Raya, karena saat ini ia masih menyetir di jalanan meskipun sepi. Tetapi ia tidak melepaskan pegangannya pada Raya.

Raya Indira, untuk pertama kali dalam hidupnya ia harus berpikir keras dan tak tahu harus mengatakan apa serta berbuat apa saat ini. Jati adalah sepupunya dan satu-satunya keluarga yang ia punyai, yang benar-benar peduli padanya. Pria yang ia percayai juga ia sayangi. Pengakuannya tentu saja mengejutkan namun tak urung membuatnya merasa tersanjung sebagai perempuan.

“Kau tak harus menjawabnya sekarang. ” Ucap Jati dengan senyum terkembang, melihat kerut di antara alis Raya.

“Kau punya waktu untuk memikirkannya dan mempertimbangkannya. ”

“Keluarga kita tidak akan menyukai ini, Jati. ” Gumamnya perlahan, membayangkan apabila memang ada masa depan buat mereka. “Ibumu —- ”

“Aku tidak peduli. Ini hidupku dan kamu, —- aku tahu benar siapa kamu Raya, yang mereka tidak pernah tahu termasuk ibuku. ”

Ia kembali meremas jemari gadis itu.

“Berpikirlah, tidak masalah dengan waktu. Tapi —- kumohon, beri aku jawaban yang memuaskan. ”

Jati tersenyum lembut. Dan dimata Raya, senyum itu tampak penuh pengharapan juga kepasrahan, atas apapun yang menjadi keputusannya.

Ini mengejutkan baginya. Melihat Jati sebagai seorang laki-laki setelah selama ini menganggapnya sebagai seorang kakak, keluarga yang tidak ia punyai, sahabat dan pelindung. Tetapi sebagai kekasih? Ia yakin Jati pasti akan menjadi kekasih yang baik, bahkan mungkin terbaik yang ia pernah temui.

Karena yang Jati tawarkan bukan hanya cinta. Perlindungan, rasa aman, persahabatan dan rumah bagi jiwanya. Sebuah paket lengkap yang langka dan mungkin tidak akan datang dua kali dalam hidup gadis ini.

Raya menatap dalam-dalam wajah Sejati Mahesa. Jati tampan, ia tahu itu. Penyayang dan sabar, itu juga bukan hal baru baginya. Tetapi Jati yang melihatnya dengan pandangan penuh cinta, ini merupakan hal tidak biasa baginya. Sedikit menggelitik namun rasanya tak begitu buruk. Mungkin ia akan terbiasa dengan ini atau malah menikmatinya.

Bisakah ia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s