Moral Story Menyesat dari Iklan Alpenliebe

Ada sepasang gadis kecil cantik, kembar, yang duduk di pinggir jalan sambil melihat hasil ujian matematika. Yang rambut digerai dapat nilai 30an yang rambut diikat dan pakai kaca mata mendapat nilai 90an. Nah yang rambut digerai mengeluh, “nanti dimarahin mama deh” katanya sedih.

Lalu si gadis kecil dengan rambut diikat yang lagi ngemut permen alpenliebe lolipop, melepas ikatan rambutnya dan memakaikannya kepada saudari kembarnya. Beserta dengan kaca matanya juga lalu menukar hasil ujian mereka. Keduanya lalu saling tertawa satu sama lain (mungkin tertawa karena akan membodohi/menipu orang tuanya).

Dengan begini yang akan dimarahi adalah sipintar yang baik hati (sekali lagi mungkin, logika saya sih mikir seperti itu setelah nonton iklannya berulang kali). Dan iklan tersebut diakhiri dengan tagline karena ada cinta dalam alpenliebe.

Well, menurut saya moral story diiklan ini melenceng dan hampir menyesatkan. Bukannya menunjukkan sikap berkorban yang baik hati tetapi justru menunjukkan melindungi yang salah dengan mengorbankan diri sendiri atas nama kasih sayang. Dan itu sama sekali nggak akan membawa efek kebaikan.

Kenapa saya bilang salah? Saya pikir seorang anak kecil mendapat hasil ulangan jelek dan dimarahi orang tuanya adalah hal yang wajar. Semua orang mungkin pernah mengalaminya. Dan dengan memarahi anaknya, orang tua bukan nggak sayang loh sama anaknya. Tetapi mengharapkan yang terbaik dari anaknya dan agar diujian selanjutnya sang anak dapat belajar lebih keras lagi.

Lah, kalau hasil ujiannya jelek dan dia bertukar tempat dengan kembarannya yang pintar. Memang untuk saat itu dia selamat dari kemarahan orang tuanya tetapi nggak bisa memberikan efek ia jadi rajin belajar dan menjamin kelak mendapatkan nilai yang lebih baik. Iya nggak?

Cinta menurutku tidak melulu soal melindungi yang kita sayang, apalagi disaat mereka melakukan hal yang salah. Justru seharusnya atas nama cinta, kita memaksa mereka mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Bukan malah melindunginya atas kelakuan salahnya dan menutup mata dari akibat dari perbuatannya.

Terkadang marah juga adalah ekspresi dari cinta. Dan diam serta sikap acuh malah merupakan racun yang akan merusak yang kita sayang karena kita bahkan tidak bisa menjaganya dari dirinya sendiri yang salah.

Bagaimana menurut kamu?

2 thoughts on “Moral Story Menyesat dari Iklan Alpenliebe

  1. Benar juga sih, ya. Baru sadar kl itu menyesatkan.
    Anak-anak kl nilainya rendah, ya pastinya mamanya ngomel atau nanya, soalnya perhatian dan pengin anaknya lebih baik/maju lagi, kan.
    Hahahaha tapi ya cuma iklan kak, pandai2 gmn masyarakat menerimanya. ._.

    • Sebuah iklan yang baik adalah iklan yang bisa diterima oleh masyarakat. Ini bisa berdampak panjang loh. Iklan permen, modelnya juga anak kecil, pangsa pasarnya pasti lebih ke anak-anakkan?
      Nah kalau nilai seperti ini yang diajarkan ke anak-anak Indonesia, bukannya malah menyesatkan? Lihat iklan sirup Marjan nggak, yang anaknya main ketapel dan akhirnya bikin kacau sekampung dan dimarahi bapak-bapak. Ibunya sianak ngasih anaknya minum dan menasihati, ‘lain kali mainnya lebih hati-hati’. Nilai yang diajarkan bedakan? Anaknya salah dan ibunya tidak menutupi salah anaknya.
      Kalau di alpenliebe, sikembar 1 nilainya jelek dan sikembar 2 yang benilai bagus bertukar tempat dengannya, dan menerima akibat dari bukan perbuatannya. Dimana letak pendidikan moralnya disini? Nggak adakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s