One Day in Our Past

“Meninggalkan kamu, tepat dihari pernikahan kita — itu tidak termaafkan. Aku, —- aku menyadari itu. “

Raya memejamkan matanya.

Ada sentakan kenangan buruk yang mengisi benaknya, saat mendengar pernyataan dari bibir pria yang duduk di hadapannya. Dan membuatnya kembali terlempar pada masa-masa terburuk beberapa tahun belakangan ini.

Saat dia meninggalkan Raya tanpa mengatakan apapun sebagai alasan, dan saat kecelakaan mobil yang nyaris membuatnya lumpuh seumur hidup.

“Aku nggak tahu semuanya akan jadi seburuk itu. Kecelakaan, —- aku benar-benar tidak termaafkan lagi. ”

Raya menarik napas perlahan. Dan menoleh pada pria tersebut. Pandangannya datar dan nyaris tanpa ekspresi apapun lagi.

“Lalu apa tujuanmu saat ini?” Tanya gadis ini tanpa basa-basi.

Sudah cukup ia mendengar penyesalan dari pria ini dan sama sekali tidak dapat mengubah apapun yang pernah terjadi.

Raya telah menjalani semuanya dengan tabah dan tanpa pria ini ada disaat-saat ia sangat membutuhkannya. Hal tersebut sudah cukup membuatnya menyadari apa yang paling penting bagi dirinya dan bagi dia.

“Aku sudah kembali, Raya. ” Ujarnya tenang.

“Maksudmu?” Kening gadis ini berkerut, ia tidak mengerti maksud perkataan pria tersebut.

Pria itu menatapnya dalam. Dan entah pikiran apa yang tengah melintas di dalam otaknya.

“Kita bisa memulai lagi. ” Bisiknya lembut.

Raya memejamkan matanya. Emosinya yang sedari tadi ia tahan, sejak pertama kali melihat pria ini menerobos masuk ke ruang kerjanya, nyaris meledak seketika.

Gadis itu bernapas dengan pelan dan teratur. Berharap teknik pernapasan bisa mengurangi kemarahan yang membakar dadanya saat ini.

“Pergi. ” Ucapnya dengan gigi terkatup.

“Raya — ” pria itu maju, berusaha menyentuh tangannya.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. ”

Raya bangkit dan berdiri di samping pintu yang terbuka lebar. Tanpa mau menatap padanya. Mempersilahkan pria ini pergi, masih dalam kesopanan. Bukan diusir oleh satuan pengaman yang berada di lobi gedung.

Sang pria berdiri dengan wajah ragu.

Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan dan belum sempat ia nyatakan pada gadis yang mengenakan hijab ini. Dan ada sebuah pertanyaan mengganjal dihatinya, yang begitu mengganggunya.

“Kau dan Sejati, apakah itu benar?”

Raya menoleh padanya, mata bulat hijau itu menatapnya tajam.

“Benar. ”

Wajah pria itu menggelap seketika. Ia tampak terpukul, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap gadis ini.

“Aku sudah tahu dari dulu, kalau ia punya perasaan padamu. ”

“Tetapi yang tidak aku percaya adalah, kamu mengkhianatiku dengan dia. ”

Kini ia memandang Raya dengan pandangan menuduh.

“Terserah apapun pendapat kamu, diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun. Dan aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apapun padamu. ”

“Sekarang silahkan keluar. ” Ucap Raya dengan penuh ketegasan.

Tidak akan pernah ada kesempatan lagi untuk pria ini, memasuki gedung kantor tersebut. Karena setelah ini, Raya akan memastikan pada front office di depan, bahwa dia tidak diperkenankan menemuinya.

Raya menyesali kejadian ini. Harusnya ia sadar, bahwa tak ada lagi yang dapat ia dengar dari mulut pria pengecut ini.

Harusnya ia mendengar perkataan Jati kemarin, saat tiba-tiba pria itu muncul di kantor ini. Membuatnya terkejut.

“Jangan coba-coba menemui mantan kekasihmu, di belakangku. ”

Jati menggeram dengan suara rendahnya yang dalam. Pria tampan bertubuh tinggi berotot ini berdiri di depan pintu sambil melipat kedua lengannya didada. Raut wajahnya tampak kesal dan muram.

“Apa maksudmu?”

Tanya gadis manis yang mengenakan hijab berwarna biru dengan blouse putih beraksen kerut-kerut disepanjang bahu dan lengan, serta sebuah rok lebar tosca.

Ia tampak kaget dan bingung, tiba-tiba saja Jati datang dan mengatakan hal tersebut.

“Dia sudah kembali. ”

“Dia? Dia siapa?” Raya kembali bertanya.

“Kau tahu siapa, Raya. ” Geramnya lagi.

Raya, gadis di hadapannya menarik napas panjang sebelum kembali menatap pada Sejati, sepupu sekaligus calon suami yang akan menikahinya sebulan lagi.

“Apa yang membuatmu berpikir, aku akan menemuinya?” Gumam gadis itu dengan suara dingin.

Jati mendesah.

Pria tampan ini mengusap wajahnya, tampak khawatir.

“Apa ada hal yang kau sembunyikan dariku?”

Jati memandang Raya, yang kini menatapnya dengan mata hijau bulat besarnya. Pandangan gadis itu tampak menuntut dan tak mau dibohongi olehnya.

“Aku khawatir, oke?”

“Tentang?”

Pria itu tampak putus asa.

“Dia —-, hubungan kalian berlangsung bukan sehari dua hari. Dan —- aku tidak cukup percaya diri — dengannya. “

“Jati —- kau belum menjawab pertanyaanku. ” Desaknya lagi.

Jati kembali menatap pada Raya yang masih menunggu perkataan keluar dari bibirnya. Gadis itu duduk di depan meja kerjanya, dengan laptop yang masih menyala dan raut wajah bingung serta lelah.

“Apa kau tidak percaya padaku?”

“Bukan begitu, sayang. Aku hanya — ”

“Aku memilihmu, Jati. Dan dia — dia hanya masa lalu. ”

Raya menatapnya tajam. Ada luka dalam sorot mata hijaunya, yang kadang kala membuat Jati tercekat dalam rasa tak berdaya. Karena tak dapat menghapus kesedihan itu.

“Percayalah padaku, mulai saat ini. Tolong. ” Pintanya bersungguh-sungguh.

Dan usai pertemuan yang nyaris tidak sampai memakan waktu lebih dari lima menit, Raya semakin menyadari bahwa ‘dia’ memang bukanlah pilihan bagi dirinya.

Tuhan selalu punya cara untuk umatnya. Mungkin tidak selalu indah karena harus mengalami kekecewaan, rasa malu serta kesakitan yang dalam. Mungkin harus melalui pilihan yang salah namun malah membawa ke jalan yang tepat.

Dan Jati, adalah pilihan yang ia yakini.

¤¤¤¤

“Aku mengenal pria ini dari kecil. Kupikir, aku sudah mengetahui segala hal tentang Jati tetapi aku salah. ”

“Ada banyak hal yang tidak kuketahui tentangnya. Salah satunya adalah sifat posesifnya yang baru kusadari, usai kami memutuskan lebih dari sekedar saudara sepupu. “

Raya, gadis cantik berhijab. Yang memiliki iris mata dengan hijau gelap, seindah warna lumut ratusan tahun dibebatuan lembab.

Ia menghela napas mengamati punggung Jati yang berjalan di depannya. Seolah merasa diperhatikan, pria itu menoleh ke belakang dan melempar senyum pada Raya.

Sebuah senyum menyeringai dengan binar nakal di sudut mata tajam pemuda itu. Ia tampak senang.

Raya membalas, sebuah senyum simpul terkulum dibibir manisnya.

Hubungan keduanya tidak mudah. Mendapat tentangan dari keluarga, terutama dari Ibu kandung Jati. Yang jelas-jelas tidak menyukai Raya, apalagi bisa menerimanya menjadi menantu bagi putra sulung kesayangannya.

“Tumben sekali Mama mengajakmu bertemu. Kuharap ini berita bagus. ”

Ia kembali menyeringai pada gadis yang berjalan agak di belakangnya.

Mereka sedang berjalan menuju taman belakang, di dekat kolam renang. Tempat Ibu Jati menunggu Raya.

“Jati —- ”

Terdengar suara pekikan perempuan dan sesosok tubuh menghambur, memeluk pria tampan ini.

“Renata Sandiga. “

Mantan kekasih Jati yang paling lama dan serius berhubungan dengannya. Tentu saja Raya mengingatnya.

“Well, tadinya Mama hanya ingin mempertemukan Renata dengan Raya. ” Ucap wanita setengah baya, dengan penampilan anggun serta modis ini. Ia melirik tajam pada Raya “Tetapi sepertinya, — sudah takdir bagi kalian untuk bertemu, seperti ini. ”

Jati menegang, melihat pada Ibunya, Renata dan Raya. Berganti-ganti dan tak nyaman.

“Apa maksud Mama melakukan ini semua?” Tuntut Jati.

Ia melepaskan pelukan gadis cantik, mantan kekasihnya saat masih kuliah dulu. Namun Renata, bukanlah gadis yang mudah untuk dihindari. Dengan berani ia mengelayuti lengan Jati tanpa malu-malu.

“Mama ingin menunjukkan kamu punya banyak pilihan, Jati. ”

“Dan aku sudah memilih Raya, Ma. ”

“Maaf, Ren. Aku akan menikah dengan Raya, sebulan lagi. ”

Ia mengibaskan lengannya hingga terlepas dari pegangan gadis mantan kekasihnya. Menyambar bahu Raya dan menariknya untuk segera pergi dari ruangan ini.

Tidak ada lagi yang ingin ia dengar dan bicarakan, dengan kedua wanita tersebut.

“Jati, —- Jati. ” Terdengar pekikan dari Renata dan juga Mamanya Jati, memanggil-manggil pria ini.

“Itu tadi, cukup mengejutkan. ”

Komentar Raya memecahkan kebisuan, saat keduanya sudah berada di dalam mobil. Dalam perjalanan pulang dari rumah kedua orang tua Sejati.

“Mama kamu masih belum menerima aku. ”

“Dan hal itu, nggak akan bikin tanggal pernikahan kita dimundurin Raya. ” Geram Jati sambil menoleh padanya.

“Kemarin, ‘dia’ juga datang ke kantorku. ”

“Apa?!”

Jati mencengkram stir mobil dengan kencang. Matanya bersinar kalap dan menghakimi, menatap Raya marah.

“Kau sudah janji — ”

“Dia bukan apa-apa. Sungguh. ”

Raya menyentuh lengan Jati. Membelai otot-otot bisepsnya yang menegang, dibalik kain kemejanya yang berbahan katun lembut. Berusaha menenangkan pria ini dengan kelembutannya.

“Kamu nggak perlu cemburu padanya. Sama seperti perasaanku melihat Renata, tadi. ”

“Mereka cuma masa lalu. Masa lalu yang tidak mempunyai arti, juga masa depan. Karena masa depan —adalah kita. “

Raya tersenyum padanya. Sebuah senyum penuh keyakinan yang tulus. Yang menular, membuat Jati terpaku sejenak lalu ikut melebarkan garis bibirnya untuk gadis ini.

“Raya memilihku, itu sudah cukup. Namun sepertinya bahagia bersama Raya adalah bonus yang akan kudapat. ”

” Aku —- bajingan yang sangat beruntung. ”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s