Demi Lengkung Dibibir Itu

Oh, bulanku. Dimalam-malam kesepianku. Oh, bintangku, penunjuk arah, dimalam-malam gelapku tersesat. Oh, matahari, matahariku sumber dari segala awal dan akhirku, warna dan ketiadaanku. Kamu adalah cahaya bagi jiwaku yang muram, kamu adalah titik penanda tempatku untuk pulang. Kamu adalah alasanku bangun dari mimpi yang indah dan bertahan menjalani hidup bagai neraka, berkali-kali, demi melihat sebuah lengkung bibir diwajahmu.
Kamu adalah harapan untukku percaya bahwa kasih Tuhan tetap ada meski dalam keadaan sulit, napas tersenggal satu-satu.
Kamu adalah kamu, bagiku adalah semuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s