MENANGKAP ANGIN

“Kamu lebih milih dia, dibandingkan kedua orang tuamu. Yang sudah melahirkan, membesarkan dan mendidik kamu sampai jadi seperti sekarang ini? “

Elena menatapnya tajam dengan bibir terkatup rapat, menunggu jawaban.

“Oh, ayolah Karina. Apa kamu nggak memikirkan perasaan paman dan bibi? Mereka sudah tua dan kamu, satu-satunya anak yang mereka punyai. ”

Karina menunduk, menghindar dari tatapan sepupu sekaligus sahabatnya ini. Elena Tan, seorang gadis dengan wajah yang selalu tanpa ekspresi dan pandangan mata menusuk.

Ia menarik napas terburu-buru, berusaha menenangkan hatinya yang berdegup kencang karena rasa tidak nyaman dan terintimidasi oleh gadis di hadapannya.

Entah bagaimana bisa Elena menemukan tempat tinggalnya usai ia memutuskan meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan lebih memilih Aidan.

“Dari mana kamu tahu aku tinggal disini? ”

Elena nyaris mengerang, mendengar perkataan yang keluar dari bibirnya. Ia menarik napas panjang dan kembali fokus pada Karina, si gadis cantik berdarah campuran Indonesia dan Belanda.

“Nggak penting aku tahu dari mana. Yang jelas kamu belum jawab pertanyaan aku, Karin. ” Ucapnya dengan suara terdengar mengancam.

Karin, dengan mata cokelat hangatnya memandang Elena lurus.

“Kamu nggak akan bisa mengerti, Elena. ”

Elena berdecak tidak percaya, ia memutar matanya bosan. Kedua tangannya terlipat di dadanya dan kedua kaki panjangnya yang mulus tanpa ditutupi stoking, menumpuk pada satu sisi. Ada aura berkarisma yang selalu menyelimuti gadis berotak cerdas ini.

“Bagian mana yang tidak kumengerti, Karin? Kamu meninggalkan rumah, kamu meninggalkan kedua orang tuamu yang tidak menyetujui hubunganmu dengan pria itu, atau kamu yang lebih memilih bersama pria yang membuatmu durhaka pada kedua orang tuamu?”

Elena tidak akan membuat hal ini mudah bagi Karina atau siapapun yang membuat masalah dengannya.

“Aku sudah dewasa. Dan aku berhak menentukan pilihanku sendiri. Ini hidup aku, Elena. ” Pungkasnya tanpa mau disalahkan.

Gadis itu tertawa dengan sinis.

“Tapi kamu bersikap seperti anak kecil yang merajuk karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. ”

“Itu sebabnya kubilang, kamu nggak akan ngerti. Karena kamu nggak pernah jatuh cinta dan mungkin nggak akan pernah. ”

Karina sengaja memilih kata-kata itu untuk menyakiti sepupunya ini. Dengan menunjukkan kelemahan Elena yang tidak pernah ada yang berani menyampaikannya selama ini.

Namun bukan Elena bila tidak bisa membalas perkataan Karina tersebut.

“Cinta seperti apa yang bisa memisahkan orang tua dan anak kandungnya, Elena? Cinta seperti apa yang membuatmu meninggalkan Tuhanmu untuk bersama dengan seseorang yang hanya manusia biasa? Dan cinta seperti apa yang membuatmu buta pada keluarga dan teman yang menyayangimu serta benar-benar peduli padamu? ”

Elena menatapnya dengan sorot mata melunak. Ada rasa kasihan, kesal juga kesedihan terlintas di mata gadis itu.

Untuk sejenak Karina merasa ia akan goyah. Sedingin dan serasional apapun Elena, ia tetaplah seorang sahabat yang peduli dengan tulus padanya selama ini. Tidak pernah ia mengecewakan Karina apalagi dengan sengaja ingin menjatuhkannya, seperti teman-teman lain yang bersikap munafik padanya.

“Aku tidak bisa, Elena. Kau tidak mengerti apa yang aku rasakan. ” Ujarnya dengan suara lemah.

“Katakan padaku, apa yang tidak kumengerti Karin. ”

Dengan lembut Elena mengulurkan tangan hendak menyentuk tangan Karina yang kini menutupi wajah cantiknya.

Hanya ada sebuah meja kecil yang menghalangi keduanya, yang duduk di kursi kayu ruang tengah apartement Karina. Sesekali angin masuk dari pintu balkon yang terbuka lebar di bagian samping ruang tengah, membuat suara mendesau mengisi kesunyian ini.

“Aku sangat mencintainya, Elena. Hingga kupikir, aku tak bisa hidup tanpa dirinya. ”

Elena mendesah kalah. Ia memejamkan matanya sejenak dan membersihkan tenggorokannya yang terasa tercekat sebelum berkata, “jadi kau tak bisa hidup tanpa dia. Seseorang yang baru kau kenal setahun dua tahun. Dan meninggalkan orang-orang yang mengenalmu sejak kau lahir, juga mencintaimu tanpa syarat. Orang tuamu Karina. ”

“Itu —- , benar-benar tidak adil bagi mereka. ”

“Ini yang disebut dengan cinta, sepupu. Kau tidak mengerti karena kau tidak merasakannya. ”

Elena menggeleng dengan mata bersinar terluka.

“Itu bukan cinta Karina. Itu hanya kegilaan sesaat, ” ia menatap Karina lurus “karena kalau benar itu cinta. Kamu tak harus kehilangan semua hal yang kamu punyai untuk bersamanya. Terlebih lagi membuang Ayah dan Ibumu bahkan — kamu mengkhianati Tuhan. ”

“Kalau benar ia mencintaimu dengan tulus, nggak sepantasnya meminta darimu lebih dari segala hal yang bisa ia beri untukmu. ”

“Cinta bukan soal perhitungan untung dan rugi, Elena. ” Bantah Karina keras kepala. “Dan kalau saja orang tuaku mau menerima pilihanku, mereka tidak harus kehilangan diriku. ”

Elena menggeleng dengan sedih, “tetapi cinta juga bukan soal memilih antara kekasih, orang tua dan Tuhan. Kau harus mengerti itu. ”

“Aku sudah memilih, Elena. Dan pilihanku adalah — dia. ”

Karina bangkit dari duduknya. Kedua lengannya terlipat di atas perutnya dan ia menolak untuk melihat pada gadis di hadapannya.

“Sebaiknya kamu pulang. Tidak ada, —- tidak ada hal yang ingin kubicarakan lagi. ”

Elena mendesah. Ia bangkit dari duduknya dan meraih tas tangannya yang di letakkan di kursi sebelah. Ia melirik pada Karina yang kini berjalan menuju arah pintu.

Saat ia melangkah keluar dari ruangan ini, Elena berbalik menatap Karina yang masih menolak menatapnya.

“Kuharap, kau tidak akan menyesal sepupu. ”

Karina hanya diam. Dan menutup pintu dengan pelan. Bahkan ketika Elena belum beranjak dari depan pintu apartemennya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s