THANK YOU, Pak Prabowo!

Kali ini saya tidak menghujat karena tanpa anda, semua hal yang terjadi hari ini tidak pernah sebersit pun terlintas di benak saya. Memiliki presiden yang saya dukung, pilih serta kawal dengan keras dalam pemerintahannya kelak. Dan hal ini secara langsung atau tidak, anda adalah salah satu penyebab yang menjadikannya kenyataan. Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih pada bapak.

– Terima kasih karena bapak telah melakukan kampanye hitam pada Jokowi, oleh sebab itu para relawan semakin solid dan bekerja dengan sangat-sangat keras. #salam2jari

– Terima kasih karena bapak telah berkoalisi dengan banyak partai yang mana petingginya punya skandal korupsi, pengemplang pajak serta belum membayar kerugian akibat lumpur Lapindo. Yang mana akibat dari bekerjasama dengan para kampret ini, banyak sekali pendukung bapak berpindah mendukung capres nomor dua. :))

– Terima kasih karena menyetujui beberapa ide Jokowi dalam debat capres di televisi. Dengan ini kami bisa melihat bahwa bahkan bapak pun setuju bahwa Jokowi si anak kampung, punya ide-ide brilian dalam membangun negeri ini kelak.

– Terima kasih karena mendeklarasikan kemenangan berdasarkan survey abal-abal dari lembaga yang tidak kredibel, sehingga kami atau bahkan pemilih anda bisa melihat ambisi besar anda serta ketidaksiapan mental anda untuk kalah.

– Terima kasih karena telah membuat mesin partai koalisi anda mengesahkan UU MD3 yang mana tujuannya mempreteli kewenangan polisi, kejaksaan dan KPK. Sehingga kami semakin dapat melihat arah serta tujuan pemerintahan anda beserta kroni-kroni anda kedepannya.

– Terima kasih karena sudah memperlakukan wartawati kompas, metro tv dengan buruk serta menyatakan pemilik The Jakarta Post “brengsek”. Ini mengingatkan banyak orang akan gaya orde baru dimana media yang terlalu kritis serta tidak sejalan dengan pemerintah selalu ditutup paksa. Dan kemungkinan saat anda berkuasa hal yang sama akan berlaku lagi.

– Terima kasih karena sudah begitu bersemangat mengatakan kekalahan bukan pilihan bagi anda serta menuduh Jokowi bukan orang yang humble, hanya sebuah rekayasa public relation untuk berakting seperti itu. Sementara Jokowi dalam wawancara media lain menyatakan bahwa anda dan pak Hatta Rajasa adalah negarawan. Dari sini banyak yang bisa melihat bahkan para pendukung anda pun mulai meragu, kedewasaan mental anda.

– Dan terakhir terima kasih pak Prabowo. Saya adalah orang yang tidak puas dengan pemerintahan SBY, saya telah golput bertahun-tahun dan muak dengan birokrasi pemerintah. Dan dengan majunya anda sebagai presiden kemudian memunculkan Jokowi sebagai saingan anda, saya jadi punya kesempatan memiliki presiden seperti Joko Widodo.

Saya mempunyai harapan besar bahwa bila Jokowi memerintah negara ini sebagai presiden ke 7 Indonesia bahwa negara kita menjadi lebih baik, karena beliau berkali-kali menyatakan kepentingan rakyatlah yang utama. Bukan kepentingan partai, kelompok ataupun orang-orang di belakangnya.

Dan saya meyakini Jokowi akan menjadi presiden yang mau bekerja sangat keras untuk Indonesia, bukan hanya untuk para pendukungnya tetapi juga orang-orang yang tidak memilihnya karena kita semua adalah rakyat.

Jadi saya akan mengucapkan SELAMAT UNTUK INDONESIA, kali ini rakyatlah yang menang.

Advertisements

Tentang Pelukmu Yang Membekas

Seandainya pelukmu tak senyaman itu, mungkin aku tidak akan mengingatmu sepanjang jalan menuju kemari.

Memang salahku, membiarkan ceruk kosong dihati hingga bisa dimasuki angin liar yang membisikkan rayuan apa yang tak pernah kudengar. Membuatku melangkah begitu cepat hingga kau sudah begitu jauh tertinggal. Dan ketika kusadari, aku telah terperangkap pada sesuatu yang kupikir itu senyata pelukan kita disaat bersedih serta tertawa.

Bila saja cepat kumengerti bahwa pelukmu tak pernah sama dengan peluk-peluk lain. Harusnya kubuat kau bersumpah, memelukku seperti kau tak akan pernah melepaskan aku, apapun yang terjadi. Bagiku pelukmu adalah sepasang tangan yang menyambutku tanpa penghakiman, bagaikan rumah yang akan kau temui diakhir harimu, seperti keteduhan dalam naungan bayangan dicuaca terik.

Sesungguhnya pun tak ada duka abadi, yang ada aku hanya terlalu terpaku pada kehilangan lalu lupa untuk mencari keberadaan hal berharga lain. Karena tidak dicintaimu lagi adalah kesedihan terpendamku, kutukan yang mendambakan manis bibir dan hangatnya kulitmu dikulitku yang tak akan pernah.
Karena tidak dicintaimu lagi adalah hukuman terpedihku, melihatmu tertawa dan bahagia lalu menangis bukan olehku tetapi dengan gadis lain.

INDONESIA MEMILIH

Beberapa hari yang lalu, nyokap sms aku nanya begini “kalau Jokowi menang nanti dapat apa? ”

Maklumlah, nyokap tinggal di kampung, pemikiran seperti ini sudah biasa terjadi. Money politics. Dimana setiap suara dihargai dengan sesuatu oleh para caleg yang dalam kampanye suka janji ini itu.

Aku balas smsnya dengan “Ya Alloh, kita dapat selamat ma. Pemimpin yang baik, jujur dan sederhana. Benar-benar peduli sama rakyat. Bukan penjahat yang nggak peduli nyawa orang.”

“Nggak liat apa?” , sambungku lagi, “di belakang Prabowo, ada Abu Rizal Bakrie yang bikin Sidoarjo tenggelam oleh lumpur (8 tahun pengungsi Lapindo belum juga dapat ganti rugi). Ada Surya Dharma Ali mantan mentri agama yang jadi tersangka koruptor dana haji. Ada PKS yang punya skandal korupsi kuota impor sapi. Ada MS Kaban calon tersangka kasus suap kementrian kehutanan. Ada FPI yang suka main hakim sendiri dan kekerasan atas nama agama. ”

Dengan dukungan dari ‘ para kampret itu’ kebayang nggak apa yang bakal mereka minta sebagai balasannya bila Prabowo menang?

Pikir ajalah sendiri.

Kemudian nyokap nasihati aku, agar hati-hati nulis diblog, jangan terlalu maju. Beliau khawatir dengan akibat dari tulisan yang terlalu berani mengkritik orang-orang besar.

Yeah, nyokap adalah produk jaman Orba. Doi mengerti dan tahu bagaimana sulitnya menyuarakan opini yang mengkritisi pemerintahan dikala itu. Ancamannya ya kalau ngga dipenjara, diculik, menghilang atau ditembak orang yang tidak dikenal.

Dan karena itulah, aku meminta nyokap untuk nggak milih capres nomor satu. Supaya kita tidak kembali kemasa-masa gelap seperti diera kekuasaan Pak Harto.

Jokowi memang tidaklah sempurna, tidak sesuci itu. Tetapi setidaknya beliau bukan seseorang yang pernah menculik dan menghilangkan para mahasiswa dan aktivis. Bukan penjahat HAM yang diberhentikan secara tidak hormat. Bukan seseorang yang sangat berambisi menjadi presiden hingga sudah mengiklankan diri bertahun-tahun sebelumnya.

Seandainya Jokowi menang dan jadi pemimpin negara ini, saya tetap akan mengawasi kinerjanya dan vokal bila ia melakukan kesalahan.

Dan kalaupun ternyata Indonesia pada akhirnya memilih Prabowo menjadi presiden, saya tidak akan berubah. Menjadi diri saya dengan tetap bersuara kritis terhadap pemerintahan yang tidak menjalankan pekerjaannya dengan benar, meski mungkin —- akan terjadi dampak tidak mengenakkan pada diri saya sendiri. Siapa tau?