Tentang Pelukmu Yang Membekas

Seandainya pelukmu tak senyaman itu, mungkin aku tidak akan mengingatmu sepanjang jalan menuju kemari.

Memang salahku, membiarkan ceruk kosong dihati hingga bisa dimasuki angin liar yang membisikkan rayuan apa yang tak pernah kudengar. Membuatku melangkah begitu cepat hingga kau sudah begitu jauh tertinggal. Dan ketika kusadari, aku telah terperangkap pada sesuatu yang kupikir itu senyata pelukan kita disaat bersedih serta tertawa.

Bila saja cepat kumengerti bahwa pelukmu tak pernah sama dengan peluk-peluk lain. Harusnya kubuat kau bersumpah, memelukku seperti kau tak akan pernah melepaskan aku, apapun yang terjadi. Bagiku pelukmu adalah sepasang tangan yang menyambutku tanpa penghakiman, bagaikan rumah yang akan kau temui diakhir harimu, seperti keteduhan dalam naungan bayangan dicuaca terik.

Sesungguhnya pun tak ada duka abadi, yang ada aku hanya terlalu terpaku pada kehilangan lalu lupa untuk mencari keberadaan hal berharga lain. Karena tidak dicintaimu lagi adalah kesedihan terpendamku, kutukan yang mendambakan manis bibir dan hangatnya kulitmu dikulitku yang tak akan pernah.
Karena tidak dicintaimu lagi adalah hukuman terpedihku, melihatmu tertawa dan bahagia lalu menangis bukan olehku tetapi dengan gadis lain.

2 thoughts on “Tentang Pelukmu Yang Membekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s