The Hunger Games, Cathing Fire : Buku Kedua

Membunuh ternyata tak semudah itu.

Setidaknya itulah yang dialami oleh Katnis dan Peeta usai memenangkan Hunger Games ke 74. Dan yang menjadi alasan Haymitch menjadi pemabuk serta selalu siaga menggenggam pisau dalam tidurnya. Karena dalam tidur mereka, Hunger Games masih menghantui melalui ingatan tentang para peserta yang mati, mutt serta segala monster yang diciptakan Capitol dalam pikiran mereka.

Cerita buku kedua dimulai dengan kegalauan Katnis terhadap hubungannya dengan Gale. Serta kemarahan Peeta usai mengetahui kenyataan bahwa Katnis berpura-pura terhadap perasaannya.

Peeta begitu kecewa lalu menghukumnya dengan menjauhinya. Padahal Katnis membutuhkannya untuk berbagi hal-hal yang tak bisa ia ungkapkan pada mentor mereka, Haymitch atau Gale sekalipun.

Mimpi buruk yang terus menghantuinya semakin parah serta ancaman langsung Presiden Snow.

Karena tanpa Katnis sadari, kemunculannya dalam Hunger Games serta pilihannya melakukan perlawanan kecil dengan tidak mau membunuh Peeta disaat terakhir, telah menjadi percik api pemicu pemberontakan di distrik-distrik lain. Masyarakat yang menderita serta tidak puas dengan pemerintahan rezim, melakukan perlawanan.

Hanya saja Katnis terlambat menyadarinya. Bahwa Presiden Snow tak pernah memaafkan dirinya. Bahwa bukan hanya nyawa Katnis, Peeta, Gale serta keluarga mereka yang dipertaruhkan disini. Tetapi kebebasan seluruh distrik juga kehancuran bagi pemerintahan dan sistem tirani Capitol.

Ketika Katnis akhirnya menyadari bahwa Presiden Snow berusaha memadamkan pemberontakan dengan cara membunuhnya, agar menjadi contoh bagi yang lain ( “bahkan yang terkuat pun tidak akan bertahan “). Ia memutuskan kematiannya layak diterima namun Peeta harus tetap hidup.

Misi Katnis dalam Hunger Games ke 75 telah berubah. Ia harus membuat Peeta hidup.

Mengapa?

Karena Peeta jauh lebih baik dan berharga dibandingkan dirinya sendiri. Kebaikan hati sang pemuda, kemampuannya kata-katanya yang dapat menggerakkan massa akan sangat berguna bagi masyarakat Panem yang menderita dibawah rezim Capitol.

Tetapi apakah yang sama dibenak Peeta atau bahkan Haymitch, sang mentor? Karena pada saat terakhir justru Haymitch telah membuatnya bingung dengan nasihatnya untuk mengingat siapa musuh yang sesungguhnya.

Hunger Games dimulai dan tujuan Katnis tidak mudah.

Pada kenyataannya setelah Hunger Games berjalan dan beberapa kali Peeta terancam bahaya, sebuah tragedi terjadi.

Kali ini Haymitch yang mengkhianati Katnis.

Misi yang diemban sang mentor berbeda dengan harapan Katnis juga Peeta, ia punya tujuan sendiri. Tujuan yang lebih besar dan melibatkan banyak orang tanpa Katnis dan Peeta sadari.

Lalu Katnis diselamatkan namun sayangnya Peeta ditangkap oleh Capitol.

Revolusi telah berjalan dan bahkan Katnis pun, sang Mockingjay tak dapat menghentikannya, apalagi Presiden Snow.

Katnis adalah lambang perlawanan masyarakat, suka atau tidak. Sejak ia mengorbankan diri untuk menggantikan Prim dalam Hunger Games dan puncaknya adalah ketika insiden buah berry beracun. Saat Katnis lebih memilih kematiannya bukan dikarenakan oleh cara-cara Hunger Games yang diarahkan oleh Capitol. Itu membuat Presiden Snow memutuskan menjadikannya musuh nomor satu Capitol.

Katnis harus tetap hidup.

Footnote : di dalam filmnya ada adegan Katnis yang memakai pakaian pengantin. Nah, pakaian ini dirancang oleh desainer kebanggaan Indonesia Tex Savario. Disini cikal bakal alasan aku ingin menonton film Hunger Games.

Dan kalau pada buku pertama aku begitu bersemangat membacanya tanpa jeda, maka buku kedua begitu mengalir. Aku menikmatinya dengan pelan dan berhati-hati.

Suzanne Collins berhasil meningkatkan isi cerita Hunger Games menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekedar ‘permainan hidup dan mati’. Cerita bergulir dari suatu tindakan kecil yang kurang bertujuan heroik menjadi suatu awal lompatan besar dalam sejarah sebuah negara.

Kenapa saya bilang ‘kurang bertujuan heroik’ ? Karena Katnis melakukannya hanya karena ingin menantang penyelenggara Hunger Games bukan karena tujuan mulia. Ia sudah menyadari bahwa Hunger Games tidak bisa mengecewakan penonton dari seluruh negeri Panem, dengan melakukan tindakan secara langsung yaitu membunuhnya.

Bila dibandingkan dengan Harry Potter, Katnis Everdeen lebih manusiawi. Ia bukanlah seorang pahlawan yang memang sudah diramalkan akan menghancurkan kebatilan. Tak seperti Harry yang memang bersikap martir dan mulia, Katnis takut mati. Bahkan ia pernah berpikir untuk melarikan diri, berkali-kali, walau tak pernah ia lakukan.

Tetapi suka atau tidak, mau tidak mau, pahlawan kita pada akhirnya pasti memilih untuk melakukan tindakan heroik meski mungkin beresiko kehilangan nyawanya.

Collins sukses meramu karakter rapuh di dalam namun keras diluar dan menggiring Katnis menjadi pahlawan yang manusiawi. Yang bisa merasakan luka, berdarah dan ketakutan.

The Hunger Games, Buku Pertama

Bersiaplah mendaki tangga ketegangan, yang membuatmu tak bisa melepaskan buku ini hingga mencapai titik di halaman terakhir.

Memuaskan.

Hanya satu kata itu yang dapat kusematkan untuk Suzanne Collins. Ia berhasil membangun sebuah kisah tentang perjuangan hidup dan mati yang kemudian memercikkan gerakan revolusi kaum proletar, dengan cara yang sulit namun mengguncang rasa ingin tahu.

Jujur saja, saya baru-baru saja menjadi penggemar Miss Katnis Everdeen. Diawal booming film The Hunger Games, saya belum ngeh. “Apaan sih?” Pikir saya saat itu, yang sudah bosan dengan cerita vampir diet, kekasihnya yang punya kecenderungan bunuh diri dan werewolf yang ternyata bukan werewolf.

Lalu ketika muncul berita bahwa sebuah rancangan baju pengantin, Tex Savario, dipakai untuk film The Hunger Games kedua : Catching Fire, saya pikir “Oow, I should watch this movie. ” Maka saya tontonlah film pertamanya.
Dan hasilnya ternyata saya menyukai ceritanya, begitu juga dengan film kedua. Akhirnya saya jatuh cinta pada karakter Katnis terlebih pada Peeta Mellark.

Kemudian ketika menunggu film ketiga, saya tak bisa menahan diri dengan melihat rating novelnya. Banyak yang menyatakan bahwa isi novelnya jauh lebih baik dari pada filmnya tetapi bukan karena alasan tersebut saya membeli novel trilogi ini. Saya hanya tak bisa penasaran lebih lama lagi. He3x.

Dan ternyata film dan novelnya memang berbeda.

Di novel pertama, ceritanya mengalir dengan cepat dan lancar. Membuat kita tanpa sadar melahap setiap halaman, tidak dapat menunggu lebih lama (bagi saya begitu). Saya menyelesaikannya hanya dalam waktu beberapa jam saja. He3x.

Katnis adalah gadis yang yatim, ia memilik seorang adik perempuan yang sangat ia cintai. Ia memuja almarhum ayahnya dan kini memendam kebencian terhadap ibunya. Yang pernah lemah dan tak bisa menerima kematian suami yang sangat ia cintai hingga menelantarkan anak-anaknya. Dan ketika nama Prim keluar sebagai peserta The Hunger Games ke 74, dengan cepat Katnis bertekad menyelamatkan adiknya dengan mengajukan diri menggantikan. Lalu dimulailah kengerian Hunger Games.

Yang membuat karakter Katnis menarik adalah ia digambarkan sebagai sosok gadis biasa meski pun memiliki keahlian memanah dengan tepat. Ia juga punya rasa takut, putus asa, keinginan egois untuk menyelamatkan dirinya sendiri namun ada yang membedakannya. Meski dalam keadaan sulit serta terdesak, Katnis tetap tidak ingin menyakiti siapapun. Ia hanya ingin hidup dan kembali pada keluarganya.

Dan Katnis tetap ingat pada bantuan Peeta Mellark, yang dulu pernah memberikan roti disaat ia sangat putus asa serta kelaparan. Hutang yang akan diingatnya sepanjang hidup dan belum pernah ia ucapkan terimakasih pada pemuda itu.

Perburuan nyawa peserta Hunger Games, membuat Katnis muak. Terhadap kemiskinan distrik 12, terhadap Capitol, terhadap Presiden Snow. Baginya tidak ada bedanya mati kelaparan di distrik 12 atau mati dalam Hunger Games. Namun ketika Rue, gadis kecil dari distrik 11 dibunuh dengan kejam di hadapannya. Kesedihan Katnis meledak.

Rue hanya seorang gadis kecil. Tak lebih lemah dari Primrose, adik kesayangannya.

Ketidak adilan ini membuatnya ingin melawan, dengan melakukan sesuatu terhadap sistem yang membelengu 12 distrik di Panem. Sebuah perbuatan kecil tidak berarti yang tenyata memicu tindakan berantai bagi yang lain. Puncaknya adalah ketika semua peserta mati dan hanya tersisa ia dan Peeta, Hunger Games mengkhianatinya.

Ia dan Peeta harus saling membunuh untuk bertahan hidup sebagai pemenang. Untuk sesaat Katnis memang berniat membunuh Peeta namun ia urung.

Katnis merasa tak harus membunuh untuk bisa memenangkan Hunger Games lalu ia berjudi. Mempertaruhkan resiko yang sangat amat besar. Ia mengajak Peeta untuk memakan berry beracun dan mati bersama.

Katnis dan Peeta menang melawan bukan hanya The Hunger Games. Mereka menang melawan sistem dan Capitol. Meski hanya sesaat.

Disinilah Revolusi dimulai.

If It’s Not You

Tolong maafkan aku dan jangan pergi.

Harusnya kuteriakkan kata itu saat kau berbalik dengan wajah basah dan tidak pernah menoleh ke belakang, padaku lagi.

Bodohnya aku.

Bodohnya aku yang membuatmu selalu menangis. Menahan sakit yang terus kutambahkan luka, berkali-kali. Tak pernah mendengar kesedihanmu yang kusebabkan.

Belum cukup dengan itu, aku sengaja menyalahkanmu atas segala hal buruk yang terjadi.

Aku memperlakukanmu tak layak tapi kau tetap tersenyum. Menelan air matamu dalam diam. Tidak pernah sekalipun kubasuh dukamu meski diam-diam sesungguhnya kelukaanmu menghantui mimpi-mimpiku.

Yang lebih menyakitkan bagimu terlebih aku, tak pernah tercetus sebuah pernyataan sayangku untukmu. Sedihnya selama ini kau hanya meraba, menerka-nerka serta berasumsi tentang perasaanku padamu tanpa tau sesungguhnya.

Dan kemudian mimpi buruk itu menjelma nyata, kau menyerah atas aku.

Kau memintaku bahagia.

Kau memintaku memaafkanmu.

Kau memintaku menghapuskanmu.

Kau memintaku dengan sangat, aku harus bisa.

Oh Tuhan, yang kau tidak tau sayangku bahwa semua itu tak akan mungkin.

Bila kuingat betapa dalam aku melukaimu hingga meski kutau kau masih mencintaiku, kau tak dapat lagi bertahan untukku.

Maaf.

Maafkan aku.

Jangan pergi.

Kumohon.

Aku yang salah.

Aku sangat bersalah.

Kumohon padamu.

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu.

Mencintaimu dengan sangat.

Yang bisa kujanjikan adalah semua sakit, air mata yang tumpah dan kedukaanmu akan kubayar berkali lipat pada diriku sendiri.

Sinar matamu akan terus membayangiku. Desah nafasmu akan selalu dekat ditelingaku. Wangimu akan kugenggam dalam ingatanku sampai mati. Lalu senyummu, bibir mencebikmu atau ringisan takutmu, Tuhan tau betapa ia terus berputar dibenakku seperti adegan film yang dipasang berulang-ulang.

Aku tak akan tersenyum.

Semua bahagiaku telah mengering tandus dibawa olehmu.

Hidupku hanyalah kesia-siaan saja.

Hampa.

Tanpa dirimu.

Jika bukan dirimu, jika bukan denganmu. Tak ada artinya lagi.

Maaf.

Maaf.

Jangan pergi.

Kembalilah.

Aku mencintaimu.

Sangat mencintaimu.

¤¤¤¤

Footnote : Eyes Nose Lips – Taeyang Bigbang adalah sumber inspirasi dari tulisan ini.

Entah kenapa, kesedihan dari lirik lagu serta keputus asaaan sang penyanyi, menghantuiku (kurasa aku memang punya kelemahan terhadap lagu ballad). Membuatku tak bisa, tidak membuat ‘sesuatu’ . Maka akhirnya lahirlah postingan ini.

Semoga kalian menikmati apa yang dapat kubagikan.

Salam sayang.

Shame Of You Mr. Prabs and The Gang

I’m sorry, but were you dropped on your head as an infant? Or were you just born stupid? ~ some says.

Kata-kata ini tepat sekali untuk diucapkan pada orang-orang yang melakukan hal salah dengan penuh kesadaran, sistematis, terstruktur serta masif demi untuk kesenangan perut buncitnya sendiri.

So, men temen yang die hard garis keras prabowo beserta koalisi merah putihnya, sudah pada tahu tentang rancangan UU pilkada yang baru dong?

Sudah kan sudah pasti lah.

Jadi secara sederhana penjabaran undang-undang ini adalah mengembalikan kekuasaan milih kepala daerah pada anggota DPRD. Seperti jamannya Pak Harto, lagi, ingat nggak? Para wakil rakyat akan bermusyawarah dan bermufakat memilih siapa bupati, walikota atau gubernur daerah masing-masing.

What do you think now?

Masih mikir Prabowo adalah good guy? Prabowo adalah the one, the only one, titisan Alloh, mau ngepush Alloh untuk memenangkannya? Masih mau bilang astaghfirulloh karena Jokowi menang?

Wkwkwk.

Oh, ayolah!

Cukup. Nggak usah malu-malu untuk menyesal ngasih suara ke Wowo dan koalisi partai guremnya atau…. mamam tuh UU pilkada.

He3x.

Dan ingat-ingat saja.
Gerindra.
PKS.
Golkar.
PAN.
PPP.
PBB.
Demokrat.

Mereka mencoba mengekalkan kekuasaan dengan cara menciptakan undang-undang yang MENGUNTUNGKAN bagi mereka PRIBADI seperti UUMD3 dan yang tersahih adalah RUU Pilkada.

Jadi, masih mau jadi fan boy or fan girl-nya mereka?

Begh, kalau punya otak yang bisa dibuat mikir waras sih pasti ogah lah. Dan mengerti arah serta tujuan utama mereka, sama sekali bukan mementingkan rakyat Indonesia.

MEMALUKAN dan MENJIJIKKAN.

Yeah, itu sebutan yang pantas untuk mereka. Yang berniat terang-terangan memutilasi hak rakyat.

Silahkan saja mengesah-kan Undang-undang Pilkada tersebut dan saya yakin, masih banyak (mungkin malah banyak sekali) rakyat yang akan turun ke jalanan protes.

Dan kalian, koalisi merah putih, shame of you guys.

Merah apanya?
Putih apanya?
Kalian cuma pantat-pantat yang tak pernah diseka.
Busuk dan menjijikkan.
Memalukan sekali.
Cih.

AKU BATU, TERKUTUK DIAM

Aku batu.
Dikutuk setia dalam diam.
Kamu tak harus menyadariku tetapi mungkin keberadaanku adalah satu hal yang bisa membelokkan arah takdirmu.

Aku batu.
Dikutuk menjadi saksi meski diam.
Karena bahkan jauh sebelum Qabil bersekutu dengan kegelapan, aku telah ada melampaui semua warna biru.

Aku batu.
Mengeras dari luar hingga ke dalam.
Menjadi batu adalah satu-satunya pilihan yang kupunya.
Dan aku hanya batu yang terlihat kuat walau tak berdaya.

Perkara Seribu Perak dan Supir Angkot

Jangan biarkan hal kecil yang tak berjalan sesuai keinginan, berhasil merusak keseluruhan harimu.

Hidup itu soal memilihkan? Lalu alangkah lebih baiknya bila kita lebih memilih bahagia dan bersyukur dari pada menggerutu serta terbebani oleh hal-hal sepele.

¤¤¤¤

Setiap berangkat kerja aku selalu nebeng pada sahabat yang kantornya searah. Selain biar lebih cepat dan menghemat ongkos serta waktu. Tetapi pulangnya nggak pernah sama, karena jam kerja dia berbeda denganku. Sahabatku pulang jam 16.00 dan aku pulang jam 17.00. Jadi setiap pulang aku naik angkotan umum, dua kali untuk sampai ke tempat tinggalku.

Nah masalahnya berawal disini teman-teman.

Dari awal tinggal di kota ini, sebagai orang baru aku banyak bertanya pada orang-orang. Tentang rute angkutan umum dan tentu saja tarifnya. Perihal tarif ini yang pada akhirnya mengganjalku hari ini.

Seharusnya ongkos angkutan umum rute yang biasa aku lewati adalah 3000 rupiah/angkot (aku harus berganti naik dua angkot untuk sampai rumah). Tetapi kalau nggak ngasih uang pas, biasanya supir angkot mengambil 4000 rupiah. Jadi untuk menghindari hal ini biasanya aku memang menyediakan uang pecah yang pas untuk membayar.

Lalu tadi sore saat turun dari angkot, aku menyerahkan ongkos dan mengucapkan terima kasih pada supirnya. Baru beberapa langkah berjalan, supirnya memanggilku dan mengklakson dengan keras. Aku balik dong, serta tanpa bersalah bertanya “ada apa bang?”

Si sopir tampaknya sangat tidak senang. Hal itu tergambar jelas di wajahnya yang masam dan suaranya yang terdengar marah. Menurutnya ongkos yang kubayar, kurang.

Lalu aku berkata “biasanya saya bayar segitu bang. ” Tapi tampaknya jawabanku malah membuatnya semakin emosi. Aku nggak tau, apa si abang ini memang temperamennya keras atau sedang ada masalah dan menjadikan aku sebagai pelampiasan kekesalannya. Ia bilang begini : “Kamu punya uang nggak?”

Ekspresinya nggak enak banget dilihat.

Well, sepertinya si abang benar-benar sudah hilang kesabarannya hingga cenderung ingin mempermalukanku. Aku agak merasa begitu sih. Tapi aku jawab jujur, “ada bang. ” Dan merogoh dompet untuk menambahi kekurangan ongkos sesuai dengan keinginan si abang supir angkot. Dengan masih mengomeliku ia menerima uangku dan kembali bilang “kalau nggak ada uang jangan naik angkot. ”

I feel like …….. nyesek dan memalukan.

Memalukannya bukan karena dikatain si abang supir angkot atau karena yang kulakukan salah. Ongkos rute yang kuambil memang seperti itu dan nggak ada niatku untuk mencurangi si sopir angkot sama sekali. Kalau nggak, bisa saja kan aku pura-pura tidak mendengar saat dipanggilnya lagi dan bahkan masih mengucapkan terima kasih padanya meski sudah diomeli.

Sungguh, aku sama sekali nggak perduli dengan perkataan orang lain apa lagi seseorang yang tidak mengenalku dan aku pun tak mengenalnya secara pribadi. Yang paling tau aku siapa ya diriku sendiri dan aku cukup yakin kalau aku bukan orang jahat, curang atau pun tak jujur.

Yang memalukan adalah perkara uang seribu dua ribu ini.

Oh, jangan berpikir aku nggak punya uang. Jelas aku punya kok, kan aku kerja serta pasti digaji. Dan jangan sekali-kali mengira aku orang yang pelit. Wah salah besar itu, aku nggak pelit. Hanya saja, aku orang yang suka keteraturan dalam keuangan.

Akibat kejadian ini aku jadi berpikir keras sepanjang sore usai tragedi ongkos angkot. Dan kesimpulan yang ku petik adalah ‘kenapa aku nggak santai aja bayar 4000/ angkot dan menganggap kelebihan itu sebagai sedekah saja’. Sederhana kan? Dan aku nggak perlu repot berantem dengan sopir yang reseh. Toh cuma 1000 perak doang, aku kan nggak bakalan miskin gara-gara uang segitu. Iya kan?

Aku merasa bersalah pada diriku sendiri dan menyesal tapi …. nggak lama-lama. Kuputuskan untuk belajar menerima kesalahan (ikhlas, apa pun itu) dan melakukan pilihan yang tidak merugikan bagiku serta orang lain. Aku memilih untuk melihat solusi dalam cakupan yang lebih luas, yaitu : kenyamanan dan kebahagiaanku tak boleh dirusak oleh hal kecil seperti hal ini.

See teman-teman, ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran penting dalam keseharian hidup kita. Bahkan dari teguran seorang supir angkot.

¤¤¤¤

Footnote : Dear pembaca budiman. Semoga enggak bosan membaca postingan ringan di blog ini. Pada nyadar nggak kalau jumlah postinganku berkurang tiap bulannya? Hahaha…. Kurasa enggak. Tapi aku tetap ingin bercerita dalam tiap tulisanku disini.

Ada banyak hal yang terjadi padaku selama beberapa bulan terakhir, hal baik dan tidak. Tapi aku tetap survive. Masih bisa survive, senyum dan tertawa lepas. Serta bersyukur pada Tuhan.

Kuharap, kalian tetap mendukung blog ini dengan membacanya diam-diam meski tak pernah menulis komentar.

Hari ini hebat, seperti hari-hari sebelumnya dan mungkin hari-hari yang akan datang. Amin.

Selamat Selasa.