Perkara Seribu Perak dan Supir Angkot

Jangan biarkan hal kecil yang tak berjalan sesuai keinginan, berhasil merusak keseluruhan harimu.

Hidup itu soal memilihkan? Lalu alangkah lebih baiknya bila kita lebih memilih bahagia dan bersyukur dari pada menggerutu serta terbebani oleh hal-hal sepele.

¤¤¤¤

Setiap berangkat kerja aku selalu nebeng pada sahabat yang kantornya searah. Selain biar lebih cepat dan menghemat ongkos serta waktu. Tetapi pulangnya nggak pernah sama, karena jam kerja dia berbeda denganku. Sahabatku pulang jam 16.00 dan aku pulang jam 17.00. Jadi setiap pulang aku naik angkotan umum, dua kali untuk sampai ke tempat tinggalku.

Nah masalahnya berawal disini teman-teman.

Dari awal tinggal di kota ini, sebagai orang baru aku banyak bertanya pada orang-orang. Tentang rute angkutan umum dan tentu saja tarifnya. Perihal tarif ini yang pada akhirnya mengganjalku hari ini.

Seharusnya ongkos angkutan umum rute yang biasa aku lewati adalah 3000 rupiah/angkot (aku harus berganti naik dua angkot untuk sampai rumah). Tetapi kalau nggak ngasih uang pas, biasanya supir angkot mengambil 4000 rupiah. Jadi untuk menghindari hal ini biasanya aku memang menyediakan uang pecah yang pas untuk membayar.

Lalu tadi sore saat turun dari angkot, aku menyerahkan ongkos dan mengucapkan terima kasih pada supirnya. Baru beberapa langkah berjalan, supirnya memanggilku dan mengklakson dengan keras. Aku balik dong, serta tanpa bersalah bertanya “ada apa bang?”

Si sopir tampaknya sangat tidak senang. Hal itu tergambar jelas di wajahnya yang masam dan suaranya yang terdengar marah. Menurutnya ongkos yang kubayar, kurang.

Lalu aku berkata “biasanya saya bayar segitu bang. ” Tapi tampaknya jawabanku malah membuatnya semakin emosi. Aku nggak tau, apa si abang ini memang temperamennya keras atau sedang ada masalah dan menjadikan aku sebagai pelampiasan kekesalannya. Ia bilang begini : “Kamu punya uang nggak?”

Ekspresinya nggak enak banget dilihat.

Well, sepertinya si abang benar-benar sudah hilang kesabarannya hingga cenderung ingin mempermalukanku. Aku agak merasa begitu sih. Tapi aku jawab jujur, “ada bang. ” Dan merogoh dompet untuk menambahi kekurangan ongkos sesuai dengan keinginan si abang supir angkot. Dengan masih mengomeliku ia menerima uangku dan kembali bilang “kalau nggak ada uang jangan naik angkot. ”

I feel like …….. nyesek dan memalukan.

Memalukannya bukan karena dikatain si abang supir angkot atau karena yang kulakukan salah. Ongkos rute yang kuambil memang seperti itu dan nggak ada niatku untuk mencurangi si sopir angkot sama sekali. Kalau nggak, bisa saja kan aku pura-pura tidak mendengar saat dipanggilnya lagi dan bahkan masih mengucapkan terima kasih padanya meski sudah diomeli.

Sungguh, aku sama sekali nggak perduli dengan perkataan orang lain apa lagi seseorang yang tidak mengenalku dan aku pun tak mengenalnya secara pribadi. Yang paling tau aku siapa ya diriku sendiri dan aku cukup yakin kalau aku bukan orang jahat, curang atau pun tak jujur.

Yang memalukan adalah perkara uang seribu dua ribu ini.

Oh, jangan berpikir aku nggak punya uang. Jelas aku punya kok, kan aku kerja serta pasti digaji. Dan jangan sekali-kali mengira aku orang yang pelit. Wah salah besar itu, aku nggak pelit. Hanya saja, aku orang yang suka keteraturan dalam keuangan.

Akibat kejadian ini aku jadi berpikir keras sepanjang sore usai tragedi ongkos angkot. Dan kesimpulan yang ku petik adalah ‘kenapa aku nggak santai aja bayar 4000/ angkot dan menganggap kelebihan itu sebagai sedekah saja’. Sederhana kan? Dan aku nggak perlu repot berantem dengan sopir yang reseh. Toh cuma 1000 perak doang, aku kan nggak bakalan miskin gara-gara uang segitu. Iya kan?

Aku merasa bersalah pada diriku sendiri dan menyesal tapi …. nggak lama-lama. Kuputuskan untuk belajar menerima kesalahan (ikhlas, apa pun itu) dan melakukan pilihan yang tidak merugikan bagiku serta orang lain. Aku memilih untuk melihat solusi dalam cakupan yang lebih luas, yaitu : kenyamanan dan kebahagiaanku tak boleh dirusak oleh hal kecil seperti hal ini.

See teman-teman, ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran penting dalam keseharian hidup kita. Bahkan dari teguran seorang supir angkot.

¤¤¤¤

Footnote : Dear pembaca budiman. Semoga enggak bosan membaca postingan ringan di blog ini. Pada nyadar nggak kalau jumlah postinganku berkurang tiap bulannya? Hahaha…. Kurasa enggak. Tapi aku tetap ingin bercerita dalam tiap tulisanku disini.

Ada banyak hal yang terjadi padaku selama beberapa bulan terakhir, hal baik dan tidak. Tapi aku tetap survive. Masih bisa survive, senyum dan tertawa lepas. Serta bersyukur pada Tuhan.

Kuharap, kalian tetap mendukung blog ini dengan membacanya diam-diam meski tak pernah menulis komentar.

Hari ini hebat, seperti hari-hari sebelumnya dan mungkin hari-hari yang akan datang. Amin.

Selamat Selasa.

3 thoughts on “Perkara Seribu Perak dan Supir Angkot

  1. Wah, saya juga pernah. Eh, sering sih. Soalnya ongkos kendaraan umum itu enggak kayak tempat makan yang sudah ada menu+harga. Jadi suka dimanipulasi. Saya sering bahkan bisa bikin naik darah. Harga yang biasa bayar tapi dibilang kurang. Alasannya macam-macam dan 99% gk jelas.
    Loh, saya malah curhat ya? Hehe. Yah, diambil hikmahnya aja deh. hehe.😀

    • Duh, senang ada yang bisa ngerti masalahnya. He3x.
      Yang saya coba ingin lakukan adalah mengubah cara pandang dan nggak mau hal kayak gini merusak kenyamanan saya, toh masih perlu melakukan ini setiap hari kan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s