If It’s Not You

Tolong maafkan aku dan jangan pergi.

Harusnya kuteriakkan kata itu saat kau berbalik dengan wajah basah dan tidak pernah menoleh ke belakang, padaku lagi.

Bodohnya aku.

Bodohnya aku yang membuatmu selalu menangis. Menahan sakit yang terus kutambahkan luka, berkali-kali. Tak pernah mendengar kesedihanmu yang kusebabkan.

Belum cukup dengan itu, aku sengaja menyalahkanmu atas segala hal buruk yang terjadi.

Aku memperlakukanmu tak layak tapi kau tetap tersenyum. Menelan air matamu dalam diam. Tidak pernah sekalipun kubasuh dukamu meski diam-diam sesungguhnya kelukaanmu menghantui mimpi-mimpiku.

Yang lebih menyakitkan bagimu terlebih aku, tak pernah tercetus sebuah pernyataan sayangku untukmu. Sedihnya selama ini kau hanya meraba, menerka-nerka serta berasumsi tentang perasaanku padamu tanpa tau sesungguhnya.

Dan kemudian mimpi buruk itu menjelma nyata, kau menyerah atas aku.

Kau memintaku bahagia.

Kau memintaku memaafkanmu.

Kau memintaku menghapuskanmu.

Kau memintaku dengan sangat, aku harus bisa.

Oh Tuhan, yang kau tidak tau sayangku bahwa semua itu tak akan mungkin.

Bila kuingat betapa dalam aku melukaimu hingga meski kutau kau masih mencintaiku, kau tak dapat lagi bertahan untukku.

Maaf.

Maafkan aku.

Jangan pergi.

Kumohon.

Aku yang salah.

Aku sangat bersalah.

Kumohon padamu.

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu.

Mencintaimu dengan sangat.

Yang bisa kujanjikan adalah semua sakit, air mata yang tumpah dan kedukaanmu akan kubayar berkali lipat pada diriku sendiri.

Sinar matamu akan terus membayangiku. Desah nafasmu akan selalu dekat ditelingaku. Wangimu akan kugenggam dalam ingatanku sampai mati. Lalu senyummu, bibir mencebikmu atau ringisan takutmu, Tuhan tau betapa ia terus berputar dibenakku seperti adegan film yang dipasang berulang-ulang.

Aku tak akan tersenyum.

Semua bahagiaku telah mengering tandus dibawa olehmu.

Hidupku hanyalah kesia-siaan saja.

Hampa.

Tanpa dirimu.

Jika bukan dirimu, jika bukan denganmu. Tak ada artinya lagi.

Maaf.

Maaf.

Jangan pergi.

Kembalilah.

Aku mencintaimu.

Sangat mencintaimu.

¤¤¤¤

Footnote : Eyes Nose Lips – Taeyang Bigbang adalah sumber inspirasi dari tulisan ini.

Entah kenapa, kesedihan dari lirik lagu serta keputus asaaan sang penyanyi, menghantuiku (kurasa aku memang punya kelemahan terhadap lagu ballad). Membuatku tak bisa, tidak membuat ‘sesuatu’ . Maka akhirnya lahirlah postingan ini.

Semoga kalian menikmati apa yang dapat kubagikan.

Salam sayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s