The Hunger Games, Buku Pertama

Bersiaplah mendaki tangga ketegangan, yang membuatmu tak bisa melepaskan buku ini hingga mencapai titik di halaman terakhir.

Memuaskan.

Hanya satu kata itu yang dapat kusematkan untuk Suzanne Collins. Ia berhasil membangun sebuah kisah tentang perjuangan hidup dan mati yang kemudian memercikkan gerakan revolusi kaum proletar, dengan cara yang sulit namun mengguncang rasa ingin tahu.

Jujur saja, saya baru-baru saja menjadi penggemar Miss Katnis Everdeen. Diawal booming film The Hunger Games, saya belum ngeh. “Apaan sih?” Pikir saya saat itu, yang sudah bosan dengan cerita vampir diet, kekasihnya yang punya kecenderungan bunuh diri dan werewolf yang ternyata bukan werewolf.

Lalu ketika muncul berita bahwa sebuah rancangan baju pengantin, Tex Savario, dipakai untuk film The Hunger Games kedua : Catching Fire, saya pikir “Oow, I should watch this movie. ” Maka saya tontonlah film pertamanya.
Dan hasilnya ternyata saya menyukai ceritanya, begitu juga dengan film kedua. Akhirnya saya jatuh cinta pada karakter Katnis terlebih pada Peeta Mellark.

Kemudian ketika menunggu film ketiga, saya tak bisa menahan diri dengan melihat rating novelnya. Banyak yang menyatakan bahwa isi novelnya jauh lebih baik dari pada filmnya tetapi bukan karena alasan tersebut saya membeli novel trilogi ini. Saya hanya tak bisa penasaran lebih lama lagi. He3x.

Dan ternyata film dan novelnya memang berbeda.

Di novel pertama, ceritanya mengalir dengan cepat dan lancar. Membuat kita tanpa sadar melahap setiap halaman, tidak dapat menunggu lebih lama (bagi saya begitu). Saya menyelesaikannya hanya dalam waktu beberapa jam saja. He3x.

Katnis adalah gadis yang yatim, ia memilik seorang adik perempuan yang sangat ia cintai. Ia memuja almarhum ayahnya dan kini memendam kebencian terhadap ibunya. Yang pernah lemah dan tak bisa menerima kematian suami yang sangat ia cintai hingga menelantarkan anak-anaknya. Dan ketika nama Prim keluar sebagai peserta The Hunger Games ke 74, dengan cepat Katnis bertekad menyelamatkan adiknya dengan mengajukan diri menggantikan. Lalu dimulailah kengerian Hunger Games.

Yang membuat karakter Katnis menarik adalah ia digambarkan sebagai sosok gadis biasa meski pun memiliki keahlian memanah dengan tepat. Ia juga punya rasa takut, putus asa, keinginan egois untuk menyelamatkan dirinya sendiri namun ada yang membedakannya. Meski dalam keadaan sulit serta terdesak, Katnis tetap tidak ingin menyakiti siapapun. Ia hanya ingin hidup dan kembali pada keluarganya.

Dan Katnis tetap ingat pada bantuan Peeta Mellark, yang dulu pernah memberikan roti disaat ia sangat putus asa serta kelaparan. Hutang yang akan diingatnya sepanjang hidup dan belum pernah ia ucapkan terimakasih pada pemuda itu.

Perburuan nyawa peserta Hunger Games, membuat Katnis muak. Terhadap kemiskinan distrik 12, terhadap Capitol, terhadap Presiden Snow. Baginya tidak ada bedanya mati kelaparan di distrik 12 atau mati dalam Hunger Games. Namun ketika Rue, gadis kecil dari distrik 11 dibunuh dengan kejam di hadapannya. Kesedihan Katnis meledak.

Rue hanya seorang gadis kecil. Tak lebih lemah dari Primrose, adik kesayangannya.

Ketidak adilan ini membuatnya ingin melawan, dengan melakukan sesuatu terhadap sistem yang membelengu 12 distrik di Panem. Sebuah perbuatan kecil tidak berarti yang tenyata memicu tindakan berantai bagi yang lain. Puncaknya adalah ketika semua peserta mati dan hanya tersisa ia dan Peeta, Hunger Games mengkhianatinya.

Ia dan Peeta harus saling membunuh untuk bertahan hidup sebagai pemenang. Untuk sesaat Katnis memang berniat membunuh Peeta namun ia urung.

Katnis merasa tak harus membunuh untuk bisa memenangkan Hunger Games lalu ia berjudi. Mempertaruhkan resiko yang sangat amat besar. Ia mengajak Peeta untuk memakan berry beracun dan mati bersama.

Katnis dan Peeta menang melawan bukan hanya The Hunger Games. Mereka menang melawan sistem dan Capitol. Meski hanya sesaat.

Disinilah Revolusi dimulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s