Moral Story, Mbak Cantik Petugas Pos

Saya baru mengalami hal tidak menyenangkan saat menggunakan jasa Kantor Pos. Dan nggak tau apa ini kekhilafan petugasnya atau justru malah, modus dalam mengambil keuntungan dari pengguna jasa paket POS.

Begini ceritanya, pagi ini (28-10-2014)saya mengirim paket dari Batam ke Medan. Setelah mengisi form pengiriman saya menyerahkan paket untuk ditimbang. Berat paketnya sebesar 2.311 gram. Dan kemudian si mbak petugas menge-print resi dan meminta saya menandatanganinya.

Setelah itu ia meminta ongkos pengirimannya sebesar Rp. 70.000 rupiah dan saya langsung membayarnya tanpa melihat isi resi. Selesai dong, saya segera kembali ke kantor.

Nah, pas di kantor baru saya mengecek resinya dan melihat biaya pengiriman cuma Rp. 45.000. Lah saya jadi mikir “kok si embak petugasnya minta Rp. 70.000?”

70.000 – 45.000 = 25.000 biaya untuk apa dong?

Mungkin uang segini nggak seberapa buat beberapa orang sedangkan sebagian lain, Rp 25.000 bisa untuk makan siang di Batamindo Plaza (ini sih buat saya, wkwkwkw). Well, bukan masalah nilai uangnya.

Karena penasaran, akhirnya saya balik lagi ke kantor pos tersebut (kantor pos batam muka kuning 29433A, saya lupa namanya tetapi ia satu-satunya petugas wanita yang tidak berhijab dan rambutnya hitam, lurus dan panjang. Mukanya juga manis loh. *kok malah promosi*).

Dengan menunjukkan resi berbiaya Rp. 45.000 saya menanyakan, mengapa harus bayar Rp. 70.000 sementara ongkos yang tertera tidak seperti itu.

Mbak tersebut (ekspresi wajahnya terlihat biasa saja) cuma bilang “oh, begitu ya. ” Lalu ia berkata “maaf ya, tadi saya cuma mengikuti biaya yang tertera di system (komputer) dan ternyata biayanya berbeda dengan print resi. ”

Ia mengembalikan kelebihan uang saya. That’s it, perkara selesai.

Dan saya? Tentu saja menerima uang tersebut. Lah, wong memang hak saya kok. Wkwkwk.

Saya nggak tau, apakah benar system di komputer bisa berbeda dengan hasil print-nan? Make sense nggak? Apa yang tercetak harusnya kan karena hasil perhitungan biaya dan jarak untuk pengiriman paket pos. Bener gak logikanya?

Kedua, saya juga nggak tau, apakah ini murni human error atau memang modus si embak untuk mengemplang pengguna jasa pos yang tidak teliti seperti saya. Ya, saya akui bahwa saya juga salah, mengapa tidak langsung mengecek apa yang tercetak diresi dan mengkonfirmasinya ulang.

Ketiga, saya juga nggak tau apakah ini kejadian pertama atau tidak bagi para pengguna jasa kantor pos Batamindo Industri Park, Muka Kuning Batam.

¤¤¤¤

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa saya meributkan hal kecil seperti ini. Dan kenapa saya nggak mengikhlaskan saja uang segitu. Alasannya adalah :

1. Saya tidak mau diam dan melihat saja sesuatu yang salah sedang berlangsung di depan hidung saya. Saya tidak bisa.

2. Rasa penasaran saya, jauh lebih besar dari pada kemalasan untuk mengetahui kebenaran seharusnya. Makanya saya repot-repot balik lagi ke kantor pos untuk konfirmasi ulang.

3. Saya tidak mau orang lain, mengalami apa yang saya alami. Apalagi kalau terjadi di tempat yang sama dan oleh petugas yang sama juga.

4. Seharusnya kejadian ini, bisa menjadi pelajaran bagi yang lain agar lebih berhati-hati dan menjadi teguran agar petugasnya melakukan hal yang benar.

Saya sih nggak bilang si embaknya sengaja loh, juga nggak nuduh dia bersalah tapi kalau bertanya-tanya gara-gara kejadian ini, wajarkan.

¤¤¤¤

Kejadian ini mengingatkan pada adegan favorit saya di film The Equalizer yang dibintangi oleh Denzel Washington.

Saat itu Robert McCall (Denzel Washington) menawan seorang polisi korup dan berkali-kali memintanya “do the right thing. ” Karena si polisi ini awalnya adalah polisi yang baik namun pada akhirnya bekerja pada mafia rusia dan memiliki sejumlah bukti transaksi keuangan mafia dengan banyak pejabat tinggi.

Do the right thing adalah hal yang teramat sulit untuk dilakukan tetapi bukan tidak mungkin.

Saya percaya bahwa hanya moral yang dapat membedakan kita dengan hewan. Hanya moral yang membentengi kita dari dosa dan tindakan lain yang salah secara hukum atau agama. Karena meski kita berpendidikan tinggi, berpengetahuan agama selangit, mempunyai harta segudang tetapi moral kita rendah, bukan jaminan bahwa kita akan melakukan ‘hal yang benar’ atau do the right thing.

Lihat saja para pejabat negara yang tertangkap oleh komisi pemberantasan korupsi. Andi Malarangeng, Nazaruddin, Angelina Sondakh dan lain-lain. Mereka jelas-jelas berpendidikan serta pintar. Kemudian beberapa pejabat yang tertangkap, rata-rata adalah muslim dan sudah melakukan ibadah haji (artinya mereka tau kewajiban dalam agama islam). Bahkan salah seorang menteri agama (yang kini sudah mantan), dinyatakan sebagai tersangka korupsi dana serta kuota haji.

Memalukan bukan? Menteri agama seharusnya merupakan orang yang ilmu agamanya tinggi dan zuhud (terhadap hal duniawi). Nyatanya?

Jadi kalau ada yang memprotes kepemimpinan Ahok dengan alasan karena ia bukan seorang muslim. Saya pikir jauh lebih baik seorang pemimpin yang kafir namun mau bekerja untuk rakyat dengan tulus. Dari pada pemimpin yang muslim namun ujung-ujungnya ditangkap KPK karena makan uang rakyat yang bukan haknya.

Dan kalau ada yang bilang perempuan merokok dan tatoan, yang cuma tamat sekolah menengah pertama, enggak pantes dijadikan menteri di kabinet yang baru. Itu yang ngomong, pernah membangun sebuah perusahaan dari nol hingga memiliki 50 pesawat bernilai jutaan dollar? Dengan usaha sendiri dan memberikan lapangan kerja bagi banyak orang.

Bu Susi pekerja profesional dan itu sudah terbukti loh.

Nggak ada korelasinya merokok, tingkat pendidikan, tatoan, berhijab dengan moral seseorang. Nggak ada jaminannya. Lah, wong yang berhijab, yang haji sudah beberapa kali, bahkan yang bertitel menteri agama aja, nggak bisa mempertahankan moralnya untuk tetap bersih.

Dan buat yang mikir perempuan merokok adalah bitch. Kamu harus ketemu dengan nyokapku. Beliau perokok (Yah, walau aku lebih suka nyokap berhenti merokok demi alasan kesehatan). Ditinggal mati suami diusia masih muda dan harus mengurus serta menyekolahkan 5 orang anak. Sampai sekarang masih setia menjanda dan berjuang serta masih cinta mati ke bokap. So, bitch dari mananya coba?

Merokok itu cuma pilihan hidup. Selama yang ia pertaruhkan adalah kesehatan dirinya sendiri serta memakai uang miliknya sendiri, biarkan saja lah. Ingat para petani tembakau serta buruh pabrik rokok, mereka juga butuh penghasilan. Dan jangan lupa juga bahwa beasiswa pelatihan bulu tangkis terbaik di Indonesia berasal dari mana? Yak… anda benar. Djarum. Kamu pikir dari mana duit yang dipakai melatih, Ahsan-Hendra. Lilyana Natsir dan atlet-atlet bulu tangkis yang memperoleh medali emas dalam ajang bergengsi dunia.

¤¤¤¤

Guys, lakukan hal yang benar. Do the right thing. Do the right thing. Nggak mudah tapi bukan nggak mungkin dilakukan.

See you.

Advertisements

Dan Duka Maha Tuan Bertahta*

Kekecewaan terbesar selalu berasal dari orang-orang yang kita sayangi dan pedulikan, entah itu disengaja atau tidak.

Dibohongi.

Dikhianati.

Tidak dimengerti.

Dianggap salah.

Dipaksa untuk menerima.

Dan lain-lain.

Mereka, orang-orang tersebut sepertinya tahu betul bagaimana menyakiti kita dengan telak, dengan kejam, dengan tak terbayangkan. Menghajar kita babak belur, luar dan dalam. Hingga terkadang kita berpikir, bagaimana bisa mereka melakukan ini pada orang yang tulus, berharap dan mempercayai mereka dengan sepenuh jiwa.

Lalu apakah karena hal tersebut, kita harus membentengi hati agar tidak menyayangi dan peduli pada siapa pun? Agar kelak tidak kecewa lagi?

Aku rasa tidak.

Aku sudah berkali-kali kehilangan kepercayaan terhadap keluarga, manusia, untungnya tidak terhadap Tuhan. Dan aku masih percaya, ingin percaya bahwa masih ada kesempatan. Walau sudah berulang-ulang dikecewakan, aku mencoba lagi. Memberikan kepercayaan dan memulai awal yang baru meski jelas tidak mudah. Tetapi selalu ada harapan bukan?

¤¤¤¤

Footnote : *Dan duka maha tuan bertahta, adalah sepenggal lirik dari puisi berjudul nisan karya Chairil Anwar. Puisi ini hanya terdiri dari 4 baris pendek, yang ditulis Chairil muda untuk neneknya yang berpulang.

Isi puisi tersebut menggambarkan kesedihan bagi mereka yang telah ditinggalkan oleh orang-orang tercinta. Dan kalau aku tidak salah, puisi ini adalah puisi pertama Chairil.

Kira-kira anak-anak tahun 2000-an ke atas kenal nggak ya sama pujangga satu ini?

Chairil adalah seniman nyentrik yang jiwanya sangat bebas. Pria romantis yang sering mempersembahkan puisi-puisinya untuk Mirat, seseorang yang disebutnya tunangannya.

Seteru abadinya dalam karya adalah Sutan Takdir Alisjahbana. Gaya dan aliran sastra berbeda dan itu menimbulkan perdebatan diantara mereka.

Pujangga ini mati muda karena penyakit TBC. Dan ia menjadi tonggak perubahan sastra puisi Indonesia angkatan 45.

Sekilas tentang pujangga favorit aku, Chairil Anwar Si Binatang Jalang.

Cara Mudah Untuk Berbahagia

Ada kejadian SWEET banget sore tadi. Dan aku masih senyum-senyum waktu nulis postingan ini.

Dimulai waktu aku keluar dari kamar mandi, terdengar suara spongebob menjerit-jerit kencang.

Spongebob??!

Nggak usah kaget, nada dering ponselku emang suara spongebob yang menelefon patrick. Meminta bantuannya. Perempuan usia akhir 20-an dan bertampang sok cool tapi ringtone smartphonenya adalah tokoh film kartun, hmm… nggak pantes ya? *asah golok*

Wkwkwk.

So, balik ke cerita. Setelah selesai mandi aku menemukan ponselku dipenuhi panggilan tak terjawab dan sebuah pesan dari teman sekantor.

PEREMPUAN.

Jangan mikir yang aneh-aneh dulu.

Jadi tadi pas pulang kantor kita misah, karena aku naik angkot kearah B dan temanku itu naik kearah BA. Cuma pas aku naik angkot, angkotnya itu sepi. Nggak penuh seperti biasa dan ada 3 orang penumpang lelaki plus supir. Kelihatannya mereka saling mengenal.

Teman sekantor ku ini sudah agak risih, dia melihatku cuek aja naik dan duduk di tengah, bergabung dengan mereka. Bukannya duduk di bagian belakang, sendirian. Tapi aku cuma senyum percaya diri dan melambaikan tangan.

Dan puncak kejadiannya adalah temanku ini semakin paranoid karena kirim pesan bbm ke aku tapi pending. Kemudian setelah beberapa lama menelefon aku berkali-kali dan nggak diangkat plus disms juga nggak dibales [lah, iya. Akukan lagi mandi. Nggak kedengaran lah itu si spongebob manggil-manggil. ]

Akhirnya setelah aku jawab panggilannya, dia nanya apa aku baik-baik aja. Takut aku kenapa-kenapa dan makanya dia mau mastikan aku selamat sampai rumah.

Sweet banget kan?

Hiks, jadi terharu.

Ketakutannya wajar sih mengingat dii Batam, udah banyak kejadian perempuan menjadi korban kejahatan di angkutan umum seperti yang pernah juga terjadi di Jakarta. Perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan. Oleh sebab itu harus lebih hati-hati dan menjaga diri. Apalagi aku perempuan, pendatang dan agak buta peta.

Teman sekantorku ini, punya perasaan nggak enak melihatku yang santai dan kurang awas. Sampai-sampai dia catat loh plat nomor mobil angkutan itu dan menghubungiku setelah sampai rumah. Baik banget kan? Orangnya juga cantik loh dan ramah.

Hmm… aku merasa bersalah juga sih, harusnya aku nggak boleh bikin orang yang baik dan peduli padaku menjadi cemas. Sorry ya, aku menyesal. Besok-besok nggak bakalan seperti itu lagi, janji !

Tapi, tetap saja kejadian hari ini manis. Ada orang lain yang perhatian dan tulus pada kita, siapapun itu, bukan karena saat ini aku jomblo dan desperate banget karena nggak punya pasangan [oh, pehlis…aku sama sekali nggak gitu].

Intinya perhatian sekecil apa pun dan dalam bentuk apa pun itu adalah hal baik yang perlu disebarkan.

Tersenyum pada orang asing yang berpapasan dengan kita di jalan. Mengucapkan terimakasih pada supir angkot atau kasir. Atau bersikap ramah dengan orang-orang di sekeliling kita seperti satpam, OB, petugas cleaning service, penjual koran atau siapa pun itu, yang kita kenal atau tidak, yang berhubungan langsung atau pun enggak. Nggak akan mengurangi citra kita. Nggak akan buat kita lebih capek. Pokoknya nggak bakalan merugikan waktu serta tenaga sedikit pun.

Nggak usah menghitung kebaikanmu, tebarkan saja ibarat menyemai benih. Siapa yang tau benih ini akan tumbuh menjadi apa dan berbuah apa, tapi ingatlah mungkin perbuatan baikmu ini telah menyelamatkan hari orang lain. Dan setelah melakukan hal baik dengan tulus, rasanya nggak mungkin sih nggak merasa ‘happy’ setelahnya. Semoga. Amin.

Bukan Kesalahan Kami : Jomblo Menggugat

“Laki-laki usia 30-an pasti nyari pasangan yang usianya 20-an. ” Ujar temanku sok tau, beberapa hari yang lalu.

“Dan laki-laki usia 20-an biasanya juga nyari yang sepantaran dengannya. Bahkan lelaki usia 40-an pun kalau bisa nyarinya juga yang usia 20-an juga sih. ” Tambahnya lagi seolah mewakili pendapat kaumnya.

¤¤¤¤

Dari pembicaraannya aku jadi mikir kesempatan buat perempuan usia 30an mencari jodoh kok ya kecil dan pilihannya semakin terbatas. Kasian banget para perempuan single usia 20an akhir ke atas seperti diriku, alamat makin susah menemukan pasangan. Well, aku pribadi kalau ditanya pendapatku, pria usia berapa yang diinginkan. Dengan lantang aku akan menjawab : “PRIA MATANG. ”

Pria yang tau apa yang diinginkannya dan nggak segan-segan bekerja keras untuk mewujudkannya. Pria yang nggak akan galau karena dicuekin saat pesan tidak dibalas, telfonnya tidak diangkat dan tidak curhat ke media sosial. Pria yang tau cara memperlakukan wanita dengan rasa hormat dan manis tanpa harus kehilangan kemaskulinannya.

Dan aku bisa bilang : usia nggak menjamin seseorang akan bijaksana atau malah alay, mau jadi seperti apa itu adalah pilihan. Lihat pemenang nobel tahun ini, Malala Yousafzai, ia masih berusia 17 tahun. Lalu Joshua Wong, pemimpin gerakan demo di Hongkong, juga masih berusia 17 tahun dan bahkan belum memiliki SIM. Disaat remaja lain (dan orang dewasa juga) sibuk selfie dan update status. Anak-anak muda ini menentang terjangan peluru, mempertaruhkan selembar nyawa dan melakukan perlawanan demi kemanusiaan dan hak azasi diusia yang masih belia.

Kembali ke soal selera pria pada daun muda dan persentase kemungkinan perempuan mendapatkan jodoh, ah masa bodohlah. Yang sudah berjodoh aja bisa pisah, jadi apa sih yang nggak mungkin terjadi di dunia ini?

Yang nggak percaya bakal menemukan pasangannya adalah orang yang nggak percaya janji Tuhan yang menciptakan semua mahluk hidup berpasang-pasangan. Yang ndak percaya cinta biasanya adalah orang yang justru sangat amat mendambakan cinta. Believe me guys, doi cuma melakukan psikologi terbalik karena takut kecewa.

Hehehe…..

Kadang aku merasa lucu dengan kelakuan orang-orang di sekelilingku. Banyak diantara mereka yang merasa kasihan padaku karena belum menikah. Banyak yang menyalahkanku karena dianggap terlalu pemilih. Bahkan ada yang mencoba menjodoh-jodohkanku dengan pilihan [seada]nya.

Mereka lupa.

Bahwa aku nggak kekurangan apapun dalam hidup (artinya aku merasa cukup dan bersyukur dengan apapun keadaanku saat ini). Aku mandiri, mampu menghidupi diriku sendiri dengan layak. Menikmati hidup dengan caraku serta tidak merugikan orang lain. Apa yang patut dikasihani dari itu, coba?

Mereka lupa bahwa walau single aku masih punya ‘selera’. Yang wajar sajalah kalau selektif dalam memilih orang yang bakal dijadikan teman hidup sampai akhir hayat. Lah wong milih sendal aja kita cari yang sesuai dengan kita, masa mau cari teman tidur berlisensi kita ngasal aja. Ya nggak lucu lah!

Dan terakhir, kadang mereka lupa bahwa keadaan ini sama sekali bukan keinginanku. Bahwa mereka sudah memiliki pasangan dan keturunan adalah suratan takdir dari ilahi. Begitupun dengan kesendirian para jomblo saat ini. Permainan takdir, siapa yang dapat menuliskan ceritanya selain Tuhan yang maha kuasa.

Jadi bagaimana ini menjadi kesalahan bagi mereka yang belum menemukan pasangannya?

Filosofi Mencintai Proses

Ada sebuah kemeja lengan pendek yang baru kubeli bulan lalu dan baru beberapa kali kupakai. Kemeja ini bahannya katun sehingga nyaman dipakai serta menyerap keringat. Warna dasarnya putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna hitam, simple namun manis. Benar-benar paduan dua warna kesukaanku. Hitam dan putih.

Kira-kira 4 hari yang lalu, aku mengangkat jemuran pakaian dan hendak menyetrika. Kutemukan kemeja tersebut terkena lunturan dari baju lain, sebuah baju yang warnanya luruh kalau basah. Dan sialnya aku tidak mengetahuinya, hingga tanpa sadar menjemurnya dekat si kemeja baruku.

Yang terjadi kemudian adalah kemeja tersebut jadi memiliki bercak-bercak kekuningan mengganggu. Terlihat jelek seperti tidak dicuci dengan bersih. Dan tentu saja aku tidak menyukainya. Oleh teman sekamarku, ia menyarankan untuk menghilangkan bercak jelek itu dengan pemutih tetapi aku menolak.

Mengapa?

Memang dengan memakai pemutih, warna kekuningan yang tidak diinginkan itu akan langsung hilang dalam sekejap. Namun ada efek buruknya juga, yaitu : warna lain juga akan ikut terhapus dan meninggalkan kain dengan kehilangan motif warna asalnya.

Jadi aku memilih cara konvensional yang aman namun lebih lama. Dengan melakukan pencucian berulang kali, perlahan-lahan akan menipiskan warna yang tidak diinginkan itu hingga kembali kewarna asal bajunya.

Repot ya dan tidak praktis.

¤¤¤¤

So, aku ingin mengingatkan bahwa tidak semua yang cepat dan praktis itu, baik untuk segala hal. Hidup itu bukan hanya tentang kita membuat pilihan tetapi adalah bagaimana kita menjalaninya hingga akhir, apapun hasil dari pilihan yang telah kita ambil.

Disaat harus mengambil keputusan, tidak peduli ke kiri atau kanan, dan benar atau salahnya pilihan kita ambil. Kita sudah melakukan sesuatu, tidak diam saja dan membiarkan (ini yang terjadi dan menjadi masalah di negara kita. Banyak orang yang pintar, banyak orang yang mengerti tetapi mereka diam tanpa bertindak. Mereka lupa bahwa dengan membiarkan saja, mereka sudah menjadi bagian dari pelaku tindakan apapun itu).

Karena sesungguhnya hidup yang kita jalani adalah detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari. Tidak langsung melompat melalui waktu yang panjang. Dan ketika kita melihat kebelakang, mungkin kita akan takjub dengan apa yang sebenarnya sudah kita lalui serta berpikir “Wow! Nggak nyangka betapa panjang dan sulitnya waktu yang sudah saya lalui. Tetapi ini sebanding dengan apa yang telah saya capai.

Itu yang kita sebut dengan PROSES dan dalam filosofi mencintai proses, kita akan menemukan bahwa terkadang hasil akhir sudah tidak penting lagi. Karena dalam perjalanannya (proses perjalanannya) kita sudah banyak belajar, memetik ilmu serta mendapatkan hikmah.

Footnote : Kau tau? Aku suka sekali memperhatikan hal-hal kecil. Memikirkannya secara mendalam dan berulang-ulang serta membandingkannya dengan sesuatu. Lalu tiba-tiba saja, voila! Semoga jadi hal bermakna yang bisa kubagikan pada dunia.

Ketika Kita Masih Bersama

Aku hancur.

Hanya dua kata itu yang dapat menggambarkan apa yang kurasakan saat memergoki kamu, kekasihku, satu-satunya, dengan wanita lain.

Tentu bukan sedang mengobrol biasa.

Apa yang akan dipikirkan seorang perempuan? Menemukan pria yang ia cintai dan wanita lain dengan masa lalu bersama, dalam keadaan setengah telanjang bergelut di apartment pria tersebut?

Hanya ada satu dan jelas itu bukan pikiran yang baik.

Aku tidak tau ternyata ada yang lebih menyakitkan lagi, dengan kenyataan bahwa beberapa hari kemudian aku mengetahui bahwa ini bukan kali pertama terjadi di belakangku. Berkali-kali kamu menemuinya, bercinta dengan wanita itu, mungkin juga kalian bersyukur atas kenaifanku. Yang percaya sebagaimana aku setia padamu, menjaga diriku seutuhnya dari godaan dan rayuan lelaki lain, kamu pun akan bersikap seperti itu untukku.

Karena aku mencintaimu, maka kesetiaan dan kepercayaan adalah satu paket lengkap, hanya untuk kamu.

Dan wanita itu.

Aku tau ia selalu bersikap palsu padaku. Terbuat dari apa hatinya, mencuri kekasih orang lain dan berpura-pura baik di depan semua orang. Tersenyum dengan wajah cantik yang dipoles rupawan, menyembunyikan racun yang sebenarnya telah ia tebar tanpa aku sadari.

Tapi aku tak bisa menyalahkan ia 100 % karena kamu juga sama bersalahnya, sayangku. Kamu dan dia, menikamku dengan perselingkuhan kalian. Mungkin, aku pun ikut andil dalam dosa ini. Mungkin salahku juga, tak bisa membuatmu bahagia selama bersamaku, hingga kamu butuh orang ketiga dalam hubungan kita.

Kamu membuatku tampak bodoh sekali.

Dan aku malu.

Sangat malu.

¤¤¤¤

Kamu kembali. Lagi.

Memohon, merayu, mengatakan 1001 alasan agar aku memaafkanmu. Meminta padaku, melanjutkan hubungan kita lagi seolah yang baru saja terjadi hanya mimpi buruk.

Memang merupakan mimpi buruk yang menakutkan, terlebih untukku.

Tapi apa bisa?

Melihat wajah kamu saat ini, yang terbayangkan olehku adalah bibir kamu mencium bibir dia dengan rakus. Mata kamu, memandang penuh pemujaan pada tubuh indahnya. Tangan kamu menyentuh, merabai dan mencengkram setiap bagian dari dirinya, begitu pun lidah kamu. Aku tak bisa membayangkan, apa saja yang lidahmu dapat lakukan. Dan hal-hal lain yang tak terbayangkan olehku, lebih dari ini.

Semua bayangan ini menyiksaku, membuatku merasa mulai gila. Tetapi tak ada yang bisa menghentikan pikiran liar tentang kalian, yang semakin lama semakin menyakitiku.

Yang jelas dan pasti, dia, wanita itu, adalah alasan lain kamu bahagia bahkan mungkin lebih bila dibandingkan bersamaku. Tersenyum. Tertawa. Dan dipenuhi. Semua itu bukan olehku.

“Kenapa?”

Aku mencoba untuk mengerti, apa yang membuat semua kesedihan ini terjadi pada hubungan kita.

Kamu diam.

Kamu menunduk dan gelisah. Tapi aku butuh mengetahui, mengapa kau lakukan ini pada kita. Pada perempuan yang kau katakan bahwa ia adalah segalanya untukmu, yang kau buat ia yakin cintamu sebesar cintanya.

“Kenapa, Kai?”

Aku kembali mendesakkan tanya yang tak kumengerti jawabannya.

Kamu mengangkat wajahmu, menatapku balik.

Pandanganmu yang selalu tajam seperti mata elang, kali ini tampak berhati-hati, namun tak kehilangan rasa mengancam.

Seolah enggan kau berkata : ” Karena ada hal yang tak bisa aku dapatkan dari kamu. ”

Aku terdiam.

Aku mengerti. Menyadari betul apa maksud ucapanmu yang tidak terbantahkan olehku.

Meski begitu, hatiku yang tercabik kembali luka oleh kejujuranmu kali ini.

“Aku mencintaimu, —- dengan dia —- itu hanyalah kebutuhan biologis saja. ” Ujar kamu menambahkan seolah memang perlu.

Apa kamu pikir aku akan percaya? Apa kamu pikir kata-kata itu kali ini akan membuat perbedaan?

“Jadi —- menurutmu aku ikut andil dengan kesalahan ini? Karena ketidakmampuanku —– ”

“Maksud aku bukan begitu. ” Potongnya cepat.

Ia bangkit. Mencoba menyentuhku namun aku menggeleng dan menarik badanku, menjauh.

Tidak.

Aku tidak ingin disentuh oleh tangan dan jari-jari itu. Tangan yang juga menyentuh wanita lain dengan pemujaan yang sama. Tangan yang aku kira akan menggenggamku sampai akhir namun ternyata tidak.

Kamu gelisah. Terlihat marah bercampur putus asa melihat penolakanku lagi. Namun berusaha menahannya karena tau, hal ini akan memperburuk keadaan kita.

“Kau tau aku dibesarkan oleh culture yang berbeda. ”

Harusnya aku tau. Dari awal aku tau kamu sudah seperti ini, naifnya aku menyangka kamu akan berubah untukku.

“Oh —- ” aku menunduk. “Kamu ingin menyalahkan culture. Oke. ”

“Kalau begitu kita memang tidak cocok. ”

Aku mengangkat wajahku dan menatap kamu langsung. Ekspresi wajahmu mengeras dengan bibir mengatup rapat dan mata kamu tampak menusuk.

“Kita tidak bisa bersama lagi. ”

“Kau tidak memaafkanku?”

Suaramu terdengar mulai menuntut namun aku mencoba mengabaikannya.

“Mungkin. ” Ucapku lemah. “Melupakan kenyataan bahwa kau dan wanita itu, —— tidak mudah. ”

“Lalu kau mau kita bagaimana?” Desaknya lagi. “Jangan menghindariku lagi. Dan jangan memintaku untuk menjauhimu. Aku nggak bisa. Paling tidak biarkan aku untuk selalu melihatmu, baik-baik saja. ”

Baik-baik saja?

Kata itu menyentak emosiku. Rasanya seperti saluran air mataku bocor dan kini mulai merembes. Mataku memanas tanpa dapat dicegah hingga dibutuhkan sekuat tenaga agar aku tidak menangis, saat ini juga.

Bagaimana bisa aku ‘baik-baik saja’ setelah hatiku remuk kamu buat? Semuanya tidak mungkin akan ‘baik-baik saja’ setelah semua ini.

“Ini nggak mudah buatku. ”

“Harusnya kamu mikir sebelum —— harusnya kamu ingat aku, —- perasaanku —- , aku tak bisa melihat kamu — untuk saat ini. ” Ucapku terbata-bata. Sulit bagiku menjelaskannya sembari menahan tangis yang juga ingin tumpah.

Dikhianati oleh orang yang kita cintai dan percayai adalah hal terburuk tetapi mungkin perlu sebagai jalan untuk membuka mataku bahwa kamu memang tidak baik untukku.

Kita putus.

TAK MAMPU BERDAYA

Sehelai bulu terbang dibawa angin.
Naik dan turun seolah mengejek gravitasi yang tak mampu menangkapnya jatuh.
Terlihat sulit dijangkau dan begitu jauh.
Namun bulu hanyalah seutas bulu.
Meski ia begitu ringan dan bebas tetap saja tak mampu berdaya dipermainkan oleh waktu, keberadaan dan aliran takdir yang tak bisa ditebak.
Jadi, apakah ada hal di dunia ini yang tak terikat oleh konsekuensi?