Ketika Kita Masih Bersama

Aku hancur.

Hanya dua kata itu yang dapat menggambarkan apa yang kurasakan saat memergoki kamu, kekasihku, satu-satunya, dengan wanita lain.

Tentu bukan sedang mengobrol biasa.

Apa yang akan dipikirkan seorang perempuan? Menemukan pria yang ia cintai dan wanita lain dengan masa lalu bersama, dalam keadaan setengah telanjang bergelut di apartment pria tersebut?

Hanya ada satu dan jelas itu bukan pikiran yang baik.

Aku tidak tau ternyata ada yang lebih menyakitkan lagi, dengan kenyataan bahwa beberapa hari kemudian aku mengetahui bahwa ini bukan kali pertama terjadi di belakangku. Berkali-kali kamu menemuinya, bercinta dengan wanita itu, mungkin juga kalian bersyukur atas kenaifanku. Yang percaya sebagaimana aku setia padamu, menjaga diriku seutuhnya dari godaan dan rayuan lelaki lain, kamu pun akan bersikap seperti itu untukku.

Karena aku mencintaimu, maka kesetiaan dan kepercayaan adalah satu paket lengkap, hanya untuk kamu.

Dan wanita itu.

Aku tau ia selalu bersikap palsu padaku. Terbuat dari apa hatinya, mencuri kekasih orang lain dan berpura-pura baik di depan semua orang. Tersenyum dengan wajah cantik yang dipoles rupawan, menyembunyikan racun yang sebenarnya telah ia tebar tanpa aku sadari.

Tapi aku tak bisa menyalahkan ia 100 % karena kamu juga sama bersalahnya, sayangku. Kamu dan dia, menikamku dengan perselingkuhan kalian. Mungkin, aku pun ikut andil dalam dosa ini. Mungkin salahku juga, tak bisa membuatmu bahagia selama bersamaku, hingga kamu butuh orang ketiga dalam hubungan kita.

Kamu membuatku tampak bodoh sekali.

Dan aku malu.

Sangat malu.

¤¤¤¤

Kamu kembali. Lagi.

Memohon, merayu, mengatakan 1001 alasan agar aku memaafkanmu. Meminta padaku, melanjutkan hubungan kita lagi seolah yang baru saja terjadi hanya mimpi buruk.

Memang merupakan mimpi buruk yang menakutkan, terlebih untukku.

Tapi apa bisa?

Melihat wajah kamu saat ini, yang terbayangkan olehku adalah bibir kamu mencium bibir dia dengan rakus. Mata kamu, memandang penuh pemujaan pada tubuh indahnya. Tangan kamu menyentuh, merabai dan mencengkram setiap bagian dari dirinya, begitu pun lidah kamu. Aku tak bisa membayangkan, apa saja yang lidahmu dapat lakukan. Dan hal-hal lain yang tak terbayangkan olehku, lebih dari ini.

Semua bayangan ini menyiksaku, membuatku merasa mulai gila. Tetapi tak ada yang bisa menghentikan pikiran liar tentang kalian, yang semakin lama semakin menyakitiku.

Yang jelas dan pasti, dia, wanita itu, adalah alasan lain kamu bahagia bahkan mungkin lebih bila dibandingkan bersamaku. Tersenyum. Tertawa. Dan dipenuhi. Semua itu bukan olehku.

“Kenapa?”

Aku mencoba untuk mengerti, apa yang membuat semua kesedihan ini terjadi pada hubungan kita.

Kamu diam.

Kamu menunduk dan gelisah. Tapi aku butuh mengetahui, mengapa kau lakukan ini pada kita. Pada perempuan yang kau katakan bahwa ia adalah segalanya untukmu, yang kau buat ia yakin cintamu sebesar cintanya.

“Kenapa, Kai?”

Aku kembali mendesakkan tanya yang tak kumengerti jawabannya.

Kamu mengangkat wajahmu, menatapku balik.

Pandanganmu yang selalu tajam seperti mata elang, kali ini tampak berhati-hati, namun tak kehilangan rasa mengancam.

Seolah enggan kau berkata : ” Karena ada hal yang tak bisa aku dapatkan dari kamu. ”

Aku terdiam.

Aku mengerti. Menyadari betul apa maksud ucapanmu yang tidak terbantahkan olehku.

Meski begitu, hatiku yang tercabik kembali luka oleh kejujuranmu kali ini.

“Aku mencintaimu, —- dengan dia —- itu hanyalah kebutuhan biologis saja. ” Ujar kamu menambahkan seolah memang perlu.

Apa kamu pikir aku akan percaya? Apa kamu pikir kata-kata itu kali ini akan membuat perbedaan?

“Jadi —- menurutmu aku ikut andil dengan kesalahan ini? Karena ketidakmampuanku —– ”

“Maksud aku bukan begitu. ” Potongnya cepat.

Ia bangkit. Mencoba menyentuhku namun aku menggeleng dan menarik badanku, menjauh.

Tidak.

Aku tidak ingin disentuh oleh tangan dan jari-jari itu. Tangan yang juga menyentuh wanita lain dengan pemujaan yang sama. Tangan yang aku kira akan menggenggamku sampai akhir namun ternyata tidak.

Kamu gelisah. Terlihat marah bercampur putus asa melihat penolakanku lagi. Namun berusaha menahannya karena tau, hal ini akan memperburuk keadaan kita.

“Kau tau aku dibesarkan oleh culture yang berbeda. ”

Harusnya aku tau. Dari awal aku tau kamu sudah seperti ini, naifnya aku menyangka kamu akan berubah untukku.

“Oh —- ” aku menunduk. “Kamu ingin menyalahkan culture. Oke. ”

“Kalau begitu kita memang tidak cocok. ”

Aku mengangkat wajahku dan menatap kamu langsung. Ekspresi wajahmu mengeras dengan bibir mengatup rapat dan mata kamu tampak menusuk.

“Kita tidak bisa bersama lagi. ”

“Kau tidak memaafkanku?”

Suaramu terdengar mulai menuntut namun aku mencoba mengabaikannya.

“Mungkin. ” Ucapku lemah. “Melupakan kenyataan bahwa kau dan wanita itu, —— tidak mudah. ”

“Lalu kau mau kita bagaimana?” Desaknya lagi. “Jangan menghindariku lagi. Dan jangan memintaku untuk menjauhimu. Aku nggak bisa. Paling tidak biarkan aku untuk selalu melihatmu, baik-baik saja. ”

Baik-baik saja?

Kata itu menyentak emosiku. Rasanya seperti saluran air mataku bocor dan kini mulai merembes. Mataku memanas tanpa dapat dicegah hingga dibutuhkan sekuat tenaga agar aku tidak menangis, saat ini juga.

Bagaimana bisa aku ‘baik-baik saja’ setelah hatiku remuk kamu buat? Semuanya tidak mungkin akan ‘baik-baik saja’ setelah semua ini.

“Ini nggak mudah buatku. ”

“Harusnya kamu mikir sebelum —— harusnya kamu ingat aku, —- perasaanku —- , aku tak bisa melihat kamu — untuk saat ini. ” Ucapku terbata-bata. Sulit bagiku menjelaskannya sembari menahan tangis yang juga ingin tumpah.

Dikhianati oleh orang yang kita cintai dan percayai adalah hal terburuk tetapi mungkin perlu sebagai jalan untuk membuka mataku bahwa kamu memang tidak baik untukku.

Kita putus.

One thought on “Ketika Kita Masih Bersama

  1. Cara Ajaib sang pencipta menjauhkan dari hal yang tidak baik bagi makhluknya dengan menunjukkan secara langsung ……. hal yang tidak baik tersebut. ( Apakah Kita tidak memikirkannya : Q.S )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s