Filosofi Mencintai Proses

Ada sebuah kemeja lengan pendek yang baru kubeli bulan lalu dan baru beberapa kali kupakai. Kemeja ini bahannya katun sehingga nyaman dipakai serta menyerap keringat. Warna dasarnya putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna hitam, simple namun manis. Benar-benar paduan dua warna kesukaanku. Hitam dan putih.

Kira-kira 4 hari yang lalu, aku mengangkat jemuran pakaian dan hendak menyetrika. Kutemukan kemeja tersebut terkena lunturan dari baju lain, sebuah baju yang warnanya luruh kalau basah. Dan sialnya aku tidak mengetahuinya, hingga tanpa sadar menjemurnya dekat si kemeja baruku.

Yang terjadi kemudian adalah kemeja tersebut jadi memiliki bercak-bercak kekuningan mengganggu. Terlihat jelek seperti tidak dicuci dengan bersih. Dan tentu saja aku tidak menyukainya. Oleh teman sekamarku, ia menyarankan untuk menghilangkan bercak jelek itu dengan pemutih tetapi aku menolak.

Mengapa?

Memang dengan memakai pemutih, warna kekuningan yang tidak diinginkan itu akan langsung hilang dalam sekejap. Namun ada efek buruknya juga, yaitu : warna lain juga akan ikut terhapus dan meninggalkan kain dengan kehilangan motif warna asalnya.

Jadi aku memilih cara konvensional yang aman namun lebih lama. Dengan melakukan pencucian berulang kali, perlahan-lahan akan menipiskan warna yang tidak diinginkan itu hingga kembali kewarna asal bajunya.

Repot ya dan tidak praktis.

¤¤¤¤

So, aku ingin mengingatkan bahwa tidak semua yang cepat dan praktis itu, baik untuk segala hal. Hidup itu bukan hanya tentang kita membuat pilihan tetapi adalah bagaimana kita menjalaninya hingga akhir, apapun hasil dari pilihan yang telah kita ambil.

Disaat harus mengambil keputusan, tidak peduli ke kiri atau kanan, dan benar atau salahnya pilihan kita ambil. Kita sudah melakukan sesuatu, tidak diam saja dan membiarkan (ini yang terjadi dan menjadi masalah di negara kita. Banyak orang yang pintar, banyak orang yang mengerti tetapi mereka diam tanpa bertindak. Mereka lupa bahwa dengan membiarkan saja, mereka sudah menjadi bagian dari pelaku tindakan apapun itu).

Karena sesungguhnya hidup yang kita jalani adalah detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari. Tidak langsung melompat melalui waktu yang panjang. Dan ketika kita melihat kebelakang, mungkin kita akan takjub dengan apa yang sebenarnya sudah kita lalui serta berpikir “Wow! Nggak nyangka betapa panjang dan sulitnya waktu yang sudah saya lalui. Tetapi ini sebanding dengan apa yang telah saya capai.

Itu yang kita sebut dengan PROSES dan dalam filosofi mencintai proses, kita akan menemukan bahwa terkadang hasil akhir sudah tidak penting lagi. Karena dalam perjalanannya (proses perjalanannya) kita sudah banyak belajar, memetik ilmu serta mendapatkan hikmah.

Footnote : Kau tau? Aku suka sekali memperhatikan hal-hal kecil. Memikirkannya secara mendalam dan berulang-ulang serta membandingkannya dengan sesuatu. Lalu tiba-tiba saja, voila! Semoga jadi hal bermakna yang bisa kubagikan pada dunia.

2 thoughts on “Filosofi Mencintai Proses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s