Bukan Kesalahan Kami : Jomblo Menggugat

“Laki-laki usia 30-an pasti nyari pasangan yang usianya 20-an. ” Ujar temanku sok tau, beberapa hari yang lalu.

“Dan laki-laki usia 20-an biasanya juga nyari yang sepantaran dengannya. Bahkan lelaki usia 40-an pun kalau bisa nyarinya juga yang usia 20-an juga sih. ” Tambahnya lagi seolah mewakili pendapat kaumnya.

¤¤¤¤

Dari pembicaraannya aku jadi mikir kesempatan buat perempuan usia 30an mencari jodoh kok ya kecil dan pilihannya semakin terbatas. Kasian banget para perempuan single usia 20an akhir ke atas seperti diriku, alamat makin susah menemukan pasangan. Well, aku pribadi kalau ditanya pendapatku, pria usia berapa yang diinginkan. Dengan lantang aku akan menjawab : “PRIA MATANG. ”

Pria yang tau apa yang diinginkannya dan nggak segan-segan bekerja keras untuk mewujudkannya. Pria yang nggak akan galau karena dicuekin saat pesan tidak dibalas, telfonnya tidak diangkat dan tidak curhat ke media sosial. Pria yang tau cara memperlakukan wanita dengan rasa hormat dan manis tanpa harus kehilangan kemaskulinannya.

Dan aku bisa bilang : usia nggak menjamin seseorang akan bijaksana atau malah alay, mau jadi seperti apa itu adalah pilihan. Lihat pemenang nobel tahun ini, Malala Yousafzai, ia masih berusia 17 tahun. Lalu Joshua Wong, pemimpin gerakan demo di Hongkong, juga masih berusia 17 tahun dan bahkan belum memiliki SIM. Disaat remaja lain (dan orang dewasa juga) sibuk selfie dan update status. Anak-anak muda ini menentang terjangan peluru, mempertaruhkan selembar nyawa dan melakukan perlawanan demi kemanusiaan dan hak azasi diusia yang masih belia.

Kembali ke soal selera pria pada daun muda dan persentase kemungkinan perempuan mendapatkan jodoh, ah masa bodohlah. Yang sudah berjodoh aja bisa pisah, jadi apa sih yang nggak mungkin terjadi di dunia ini?

Yang nggak percaya bakal menemukan pasangannya adalah orang yang nggak percaya janji Tuhan yang menciptakan semua mahluk hidup berpasang-pasangan. Yang ndak percaya cinta biasanya adalah orang yang justru sangat amat mendambakan cinta. Believe me guys, doi cuma melakukan psikologi terbalik karena takut kecewa.

Hehehe…..

Kadang aku merasa lucu dengan kelakuan orang-orang di sekelilingku. Banyak diantara mereka yang merasa kasihan padaku karena belum menikah. Banyak yang menyalahkanku karena dianggap terlalu pemilih. Bahkan ada yang mencoba menjodoh-jodohkanku dengan pilihan [seada]nya.

Mereka lupa.

Bahwa aku nggak kekurangan apapun dalam hidup (artinya aku merasa cukup dan bersyukur dengan apapun keadaanku saat ini). Aku mandiri, mampu menghidupi diriku sendiri dengan layak. Menikmati hidup dengan caraku serta tidak merugikan orang lain. Apa yang patut dikasihani dari itu, coba?

Mereka lupa bahwa walau single aku masih punya ‘selera’. Yang wajar sajalah kalau selektif dalam memilih orang yang bakal dijadikan teman hidup sampai akhir hayat. Lah wong milih sendal aja kita cari yang sesuai dengan kita, masa mau cari teman tidur berlisensi kita ngasal aja. Ya nggak lucu lah!

Dan terakhir, kadang mereka lupa bahwa keadaan ini sama sekali bukan keinginanku. Bahwa mereka sudah memiliki pasangan dan keturunan adalah suratan takdir dari ilahi. Begitupun dengan kesendirian para jomblo saat ini. Permainan takdir, siapa yang dapat menuliskan ceritanya selain Tuhan yang maha kuasa.

Jadi bagaimana ini menjadi kesalahan bagi mereka yang belum menemukan pasangannya?

3 thoughts on “Bukan Kesalahan Kami : Jomblo Menggugat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s