Moral Story, Mbak Cantik Petugas Pos

Saya baru mengalami hal tidak menyenangkan saat menggunakan jasa Kantor Pos. Dan nggak tau apa ini kekhilafan petugasnya atau justru malah, modus dalam mengambil keuntungan dari pengguna jasa paket POS.

Begini ceritanya, pagi ini (28-10-2014)saya mengirim paket dari Batam ke Medan. Setelah mengisi form pengiriman saya menyerahkan paket untuk ditimbang. Berat paketnya sebesar 2.311 gram. Dan kemudian si mbak petugas menge-print resi dan meminta saya menandatanganinya.

Setelah itu ia meminta ongkos pengirimannya sebesar Rp. 70.000 rupiah dan saya langsung membayarnya tanpa melihat isi resi. Selesai dong, saya segera kembali ke kantor.

Nah, pas di kantor baru saya mengecek resinya dan melihat biaya pengiriman cuma Rp. 45.000. Lah saya jadi mikir “kok si embak petugasnya minta Rp. 70.000?”

70.000 – 45.000 = 25.000 biaya untuk apa dong?

Mungkin uang segini nggak seberapa buat beberapa orang sedangkan sebagian lain, Rp 25.000 bisa untuk makan siang di Batamindo Plaza (ini sih buat saya, wkwkwkw). Well, bukan masalah nilai uangnya.

Karena penasaran, akhirnya saya balik lagi ke kantor pos tersebut (kantor pos batam muka kuning 29433A, saya lupa namanya tetapi ia satu-satunya petugas wanita yang tidak berhijab dan rambutnya hitam, lurus dan panjang. Mukanya juga manis loh. *kok malah promosi*).

Dengan menunjukkan resi berbiaya Rp. 45.000 saya menanyakan, mengapa harus bayar Rp. 70.000 sementara ongkos yang tertera tidak seperti itu.

Mbak tersebut (ekspresi wajahnya terlihat biasa saja) cuma bilang “oh, begitu ya. ” Lalu ia berkata “maaf ya, tadi saya cuma mengikuti biaya yang tertera di system (komputer) dan ternyata biayanya berbeda dengan print resi. ”

Ia mengembalikan kelebihan uang saya. That’s it, perkara selesai.

Dan saya? Tentu saja menerima uang tersebut. Lah, wong memang hak saya kok. Wkwkwk.

Saya nggak tau, apakah benar system di komputer bisa berbeda dengan hasil print-nan? Make sense nggak? Apa yang tercetak harusnya kan karena hasil perhitungan biaya dan jarak untuk pengiriman paket pos. Bener gak logikanya?

Kedua, saya juga nggak tau, apakah ini murni human error atau memang modus si embak untuk mengemplang pengguna jasa pos yang tidak teliti seperti saya. Ya, saya akui bahwa saya juga salah, mengapa tidak langsung mengecek apa yang tercetak diresi dan mengkonfirmasinya ulang.

Ketiga, saya juga nggak tau apakah ini kejadian pertama atau tidak bagi para pengguna jasa kantor pos Batamindo Industri Park, Muka Kuning Batam.

¤¤¤¤

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa saya meributkan hal kecil seperti ini. Dan kenapa saya nggak mengikhlaskan saja uang segitu. Alasannya adalah :

1. Saya tidak mau diam dan melihat saja sesuatu yang salah sedang berlangsung di depan hidung saya. Saya tidak bisa.

2. Rasa penasaran saya, jauh lebih besar dari pada kemalasan untuk mengetahui kebenaran seharusnya. Makanya saya repot-repot balik lagi ke kantor pos untuk konfirmasi ulang.

3. Saya tidak mau orang lain, mengalami apa yang saya alami. Apalagi kalau terjadi di tempat yang sama dan oleh petugas yang sama juga.

4. Seharusnya kejadian ini, bisa menjadi pelajaran bagi yang lain agar lebih berhati-hati dan menjadi teguran agar petugasnya melakukan hal yang benar.

Saya sih nggak bilang si embaknya sengaja loh, juga nggak nuduh dia bersalah tapi kalau bertanya-tanya gara-gara kejadian ini, wajarkan.

¤¤¤¤

Kejadian ini mengingatkan pada adegan favorit saya di film The Equalizer yang dibintangi oleh Denzel Washington.

Saat itu Robert McCall (Denzel Washington) menawan seorang polisi korup dan berkali-kali memintanya “do the right thing. ” Karena si polisi ini awalnya adalah polisi yang baik namun pada akhirnya bekerja pada mafia rusia dan memiliki sejumlah bukti transaksi keuangan mafia dengan banyak pejabat tinggi.

Do the right thing adalah hal yang teramat sulit untuk dilakukan tetapi bukan tidak mungkin.

Saya percaya bahwa hanya moral yang dapat membedakan kita dengan hewan. Hanya moral yang membentengi kita dari dosa dan tindakan lain yang salah secara hukum atau agama. Karena meski kita berpendidikan tinggi, berpengetahuan agama selangit, mempunyai harta segudang tetapi moral kita rendah, bukan jaminan bahwa kita akan melakukan ‘hal yang benar’ atau do the right thing.

Lihat saja para pejabat negara yang tertangkap oleh komisi pemberantasan korupsi. Andi Malarangeng, Nazaruddin, Angelina Sondakh dan lain-lain. Mereka jelas-jelas berpendidikan serta pintar. Kemudian beberapa pejabat yang tertangkap, rata-rata adalah muslim dan sudah melakukan ibadah haji (artinya mereka tau kewajiban dalam agama islam). Bahkan salah seorang menteri agama (yang kini sudah mantan), dinyatakan sebagai tersangka korupsi dana serta kuota haji.

Memalukan bukan? Menteri agama seharusnya merupakan orang yang ilmu agamanya tinggi dan zuhud (terhadap hal duniawi). Nyatanya?

Jadi kalau ada yang memprotes kepemimpinan Ahok dengan alasan karena ia bukan seorang muslim. Saya pikir jauh lebih baik seorang pemimpin yang kafir namun mau bekerja untuk rakyat dengan tulus. Dari pada pemimpin yang muslim namun ujung-ujungnya ditangkap KPK karena makan uang rakyat yang bukan haknya.

Dan kalau ada yang bilang perempuan merokok dan tatoan, yang cuma tamat sekolah menengah pertama, enggak pantes dijadikan menteri di kabinet yang baru. Itu yang ngomong, pernah membangun sebuah perusahaan dari nol hingga memiliki 50 pesawat bernilai jutaan dollar? Dengan usaha sendiri dan memberikan lapangan kerja bagi banyak orang.

Bu Susi pekerja profesional dan itu sudah terbukti loh.

Nggak ada korelasinya merokok, tingkat pendidikan, tatoan, berhijab dengan moral seseorang. Nggak ada jaminannya. Lah, wong yang berhijab, yang haji sudah beberapa kali, bahkan yang bertitel menteri agama aja, nggak bisa mempertahankan moralnya untuk tetap bersih.

Dan buat yang mikir perempuan merokok adalah bitch. Kamu harus ketemu dengan nyokapku. Beliau perokok (Yah, walau aku lebih suka nyokap berhenti merokok demi alasan kesehatan). Ditinggal mati suami diusia masih muda dan harus mengurus serta menyekolahkan 5 orang anak. Sampai sekarang masih setia menjanda dan berjuang serta masih cinta mati ke bokap. So, bitch dari mananya coba?

Merokok itu cuma pilihan hidup. Selama yang ia pertaruhkan adalah kesehatan dirinya sendiri serta memakai uang miliknya sendiri, biarkan saja lah. Ingat para petani tembakau serta buruh pabrik rokok, mereka juga butuh penghasilan. Dan jangan lupa juga bahwa beasiswa pelatihan bulu tangkis terbaik di Indonesia berasal dari mana? Yak… anda benar. Djarum. Kamu pikir dari mana duit yang dipakai melatih, Ahsan-Hendra. Lilyana Natsir dan atlet-atlet bulu tangkis yang memperoleh medali emas dalam ajang bergengsi dunia.

¤¤¤¤

Guys, lakukan hal yang benar. Do the right thing. Do the right thing. Nggak mudah tapi bukan nggak mungkin dilakukan.

See you.

3 thoughts on “Moral Story, Mbak Cantik Petugas Pos

  1. Ada bbrp yg setuju, ada jg yang tidak.. Hehee..
    Hidup itu pilihan, terserah orang mau pilih apa.. Kalau menurut kita seseorang itu salah, ya dinasehati baik2, jangan menghakimi.. ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s