Surat Untuk Putraku di Masa Depan

Dear John,

Aku menuliskan surat ini diakhir usiaku yang ke 29 tahun.

Kau tau? Dimasa itu, wanita berumur segitu namun belum punya kekasih atau pendamping hidup, akan dianggap sebagai perempuan yang tidak laku atau tidak diinginkan. Meski para wanita tersebut cantik, berpendidikan dan punya karir sangat bagus atau prestasi yang membanggakan. Malah orang-orang akan cenderung mengatakan kegagalannya dalam menemukan pasangan hidup adalah kesalahan perempuan tersebut. Karena mungkin terlalu pemilih atau terlalu mementingkan karirnya.

Aku tidak setuju dengan pendapat itu. Bukan karena hal ini terjadi padaku.

Well, mereka lupa. Betapa jodoh bukan lah dalam kuasa manusia. Kita bisa saja memilih siapa yang kita inginkan, siapa yang kita nikahi tetapi tidak dengan siapa yang kita cintai, siapa yang menginginkan kita, siapa yang tulus dan tidak, serta siapa yang sejatinya menjadi pasangan hidup kita pada akhirnya.

Tidak ada seorang manusia yang menyukai kesepian, john. Tidak seorang pun meski manusia memang ditakdirkan ‘tanpa teman’ saat dilahirkan dan saat dikuburkan bahkan oleh mereka yang lebih memilih sendiri seumur hidupnya. Sendiri bukanlah nama lain dari sepi, kau harus bisa bedakan itu nak.

Tapi Tuhan telah menjanjikan bahwa setiap mahluk hidup selalu diciptakannya selalu berpasang-pasangan. Dan aku mempercayainya john, Tuhan adalah satu-satunya yang tak pernah membohongiku atau pun mengecewakanku.

John, putraku.

Mungkin kau sudah dengar bahwa namamu sama seperti namaku, diambil dari nama kakekmu. Jon Anwar Simanjuntak. Aku ingin menceritakan beberapa hal tentang beliau, yang tidak sempat bertemu denganmu (sedihnya, ia juga tidak sempat melihat aku menikah). Tapi yakinlah, kakekmu pasti menyayangimu dan bangga padamu.

Kakekmu adalah seorang pria cerdas, berkepribadian unik dan punya selera humor yang tinggi (aku berharap kau mendapat warisan gen ini darinya). Ia juga suka menyanyi dan bisa bermain gitar.

Beliau dalam hidup memang tidak sempurna, john. Ia tetap manusia biasa yang pernah melakukan hal salah tetapi aku sangat menyayangi dan menghormati kakekmu. Sudahkah aku bilang bahwa aku adalah putri kebanggaannya?

Salah satu nasihat yang paling aku ingat adalah ia selalu menekankan untuk bersikap jujur meski keadaan sulit dan meski hal ini akan membuat kita terkena masalah.

Aku tidak tau apakah ini pengaruh karena kakekmu adalah mahasiswa filsafat atau mungkin karena ayahnya adalah seorang penegak hukum. Yang jelas papaku mengajarkan kami anak-anaknya untuk bersikap jujur dan mau mengakui serta menerima kesalahan jika itu memang salah.

Dan aku memegang teguh ajaran kakekmu hingga saat ini. Hingga bila aku diminta melakukan white lies pun demi alasan kebaikan, aku sangat kesulitan. Mungkin aku memang tak berbakat menjadi pembohong yang baik.

John, sayangku.

Kakekmu adalah satu-satunya orang, yang mendorongku untuk suka menulis. Beliau semasa hidupnya, dari mulai cinta monyetnya dengan nenekmu hingga usia pernikahan belasan tahun mereka, masih sering menulis surat satu sama lain.

Jangan heran bila kau menemukan puluhan surat cinta mereka di gudang. Itu adalah harta karun nenekmu. Terkadang aku menemukannya sedang membaca lagi surat-surat itu sambil menangis. Dan aku tidak mau mengganggunya. Kematian kakekmu tidak membuat cinta mereka berhenti, john. Aku bisa bersaksi untuk itu.

John,

Aku berdoa dan sangat-sangat berharap, kau tumbuh dengan sehat serta bahagia. Menjadi pemuda yang cerdas, tidak sungkan bekerja keras, dikelilingi para gadis memuji dan memujamu juga para teman yang menghormatimu. Serta tau benar apa yang kau inginkan, bagaimana cara mencapainya namun tetap dekat dengan Tuhan.

Jangan lupa untuk melakukan hal yang benar, sayang. Mungkin akan menjadi pilihan yang sulit tetapi bukan tidak mungkin, bukan?

John, putraku. Aku harap tidak akan pernah lupa untuk mengatakan padamu, aku menyayangimu. Aku sangat bersyukur memilikimu. Dan sangat bangga padamu, siapa pun dirimu dan seperti apa dirimu hingga saat ini.

Tuhan sangat baik padaku, padamu dan pada kita. Jangan pernah meninggalkannya, nak. Jangan melupakannya meski kau sedang marah, terluka atau pun merasa dikhianati dunia.

Jauh di lubuk hatimu kau pasti tau apa yang benar, jadi jangan menangkan iblis dalam dirimu.

Terakhir yang ingin kukatakan john, aku mungkin bukan ibu yang sempurna. Aku pun pernah salah dan mungkin akan salah lagi (aku tidak akan membela diri). Sudahkah kukatakan aku menyayangimu? Bila sudah, tak apa aku mengulanginya lagi.
Aku menyayangimu nak. Hiduplah dengan kepala tegak bukan hanya karena semua bakat dan prestasimu, tetapi juga karena pilihanmu untuk meraih semua keberhasilan atau pun kejatuhan (semoga tidak) dengan tanganmu sendiri dan juga dengan cara-cara yang benar. Tidak perlu malu dengan itu, kau hanya perlu berusaha lagi dan lagi.

Salam sayang.

Ibu.

5 thoughts on “Surat Untuk Putraku di Masa Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s