Aku Tercabik Oleh Sebuah Kata Usai Malam Kita Tak Sekedar Hanya Tidur

image

Menjadi kejam di pagi hari, ketika yang kutemukan adalah secarik kertas dengan sebaris kata, maaf, yang kau tulis terburu-buru. Seolah ini menegaskan apa yang terjadi sebelumnya hanya sebuah kesalahan. 

Nafsu dikalikan orang dan waktu ditempat yang salah. Hanya sebatas itu hal yang dapat dipikirkan oleh hati yang telah mendambakan mu sekian lama dan kini digampar kepahitan.

Tidak ada yang dapat menggambarkan rasa malu, marah juga sedih ku ini. Kau berhasil menusuk tepat kelemahan ku dan aku tak bisa membalas dengan sama menyakitkan nya.

Tetapi mungkin ini lebih baik daripada aku berpikir sebaliknya. Karena semalam, nyaris saja aku percaya bahwa kau rasakan hal yang sama dengan yang ku rasa selama ini.

Jadi, aku akan menghapus air mata yang terlanjur mengalir. Menelan kesedihan ini bulat-bulat dan tidak akan memuntahkannya, terlebih padamu.

Aku harus beranjak dari mu, dari perasaan sepihak ini, dari kenangan malam itu.

Meskipun aku tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Yang kurasakan adalah nyata dan aku tulus dengan yang kulakukan. Aku tidak hanya menyerahkan diriku tapi sialnya kau mungkin tak menyadari itu. Dan betapa tidak beruntungnya diri ini, kumohon perih cukuplah sampai disini.

Aku pergi.

Membawa Hati dalam Genggaman

image

Beberapa kisah berakhir dengan buruk, dan beberapa putri akhirnya menemukan kebenaran bahwa sang pangeran tidaklah sempurna.

Dan banyak sekali romansa yang diawali dengan gegap gempita, penuh semangat dan percikan api yang membakar. Namun sayangnya, permulaan yang indah tidak menjamin kebahagian abadi.

Memang tak ada yang bisa selama-lamanya tapi pernahkah ada yang menceritakan bahwa perasaan sekuat apapun bisa terkikis waktu. Rindu sekencang apapun bisa melayu. Dan hasrat membara kelak padam oleh hidup yang rumit.

Jadi kuputuskan untuk melakukan semua itu dengan bersungguh-sungguh. Jatuh cinta lah habis-habisan. Melompat kedalam pusaran masalah yang kutahu bagaimana ujungnya. Biarkan sekali berarti sudah itu mati.

Karena pada akhirnya hidup ini terlalu singkat hanya untuk bermain aman dan menonton. Jadi mengapa tak memerankan sendiri hal yang sangat kau dambakan?

Pecinta.

Karena Aku Cukup Bisa

image

Aku cukup mencintaimu hingga bisa melepas mu menuju sesuatu, apapun itu, yang membuat dirimu bahkan lebih berbahagia dibandingkan bersamaku.
Aku cukup mencintaimu hingga bisa percaya bahwa meski tak selalu disisi mu, kamu tetap akan menjaga dirimu. Kesehatan, kehormatan dan kapasitas mu sebagai dirimu.
Aku cukup mencintaimu hingga membebaskan perasaan, kemampuan berpikir dan kemana pun arah hatimu pada akhirnya, meski itu bukanlah hal yang ku inginkan terjadi.
Aku tak bilang ini mudah apa lagi melaluinya. Tetapi kembali aku menyadari kenyataan, bagaimana aku bisa menahan laju hatimu yang sudah terbang jauh. Lalu bagaimana bisa aku memaksa mu tetap disisi bila pikiran kamu dipenuhi hal lain dan aku tidak lagi termasuk. Dan bagaimana bila dalam mimpi, harapan serta rencana masa depanmu, aku bukan bagian dari semua itu.
Yang bisa kulakukan adalah pergi
sekarang juga atau mendorong kamu meraih apapun yang kau inginkan.
Begitu caraku dalam mencintai kamu.

Untuk Selalu Merasa Kurang, Lagi dan Lagi

image

Hari ini belumlah berakhir, jadi apapun hasil akan masih bisa diperjuangkan. Lalu mengapa ragu untuk mengambil kesempatan?

Kita hidup hanya sekali sudah itu mati. Lalu mengapa tidak buat dirimu jangan menyesal karena tak melakukan apa-apa. Dan jangan pula menyesal karena pernah sedekat ini dari kemenangan.

Tetapi selalulah menyesal karena merasa kurang kuat, kurang banyak, kurang sering dalam melakukan kebaikan lebih lagi.

Dunia dan Pilihan Yang Kita Punya

Ada anak kucing mati di atas eternit kamarku.

Bisa bayangkan betapa bau bangkai yang sedang dalam proses pembusukan, ditambah dengan cuaca panas yang menyebabkan aroma tak sedap menguar lebih tajam. Bukan cuma bikin perut mual dan ingin muntah. Kamar yang harusnya menyenangkan, berubah jadi neraka.

Sekitar seminggu lalu, seekor kucing betina melahirkan anak-anaknya di langit-langit rumah kos. Enggak ngerti juga kenapa ia memilih meletakkan anaknya di atas lapisan asbes kamarku. Yang jelas, suara anak-anaku kucing selalu terdengar pagi, siang bahkan sampai tengah malam.

Sementara eternit kamarku tidak ada bagiannya yang terbuka. Dan dengan kamar-kamar lainnya ternyata saling diberi sekat, sehingga tidak saling terhubung satu sama lain. Jadi tidak ada yang dapat mengecek keberadaan bayi kucing dan memindahkannya. Serta aku tidak dapat melakukan apapun selain menikmati dan beradaptasi dengan keributan tersebut.

Lalu tiga hari yang lalu suasana mulai senyap. Kupikir, mungkin si induk telah memindahkan bayi kucing ke tempat yang lebih aman. Tapi ada yang aneh, begitu aku buka pintu kamar usai seharian di luar, kok tercium bau tidak sedap.

Aku langsung menebak, jangan-jangan ada bayi kucing yang mati. Pasalnya beberapa hari lalu, aku melihat ada kucing yang mati di depan kos. Indukkan.

Dan hari ini, bau tersebut benar-benar menyengat. Oleh bapak kos, akhirnya eternit di atas kamar mandi dijebol dan Voila. Ada tiga bangkai bayi kucing ditemukan di eternit kamar. Yang segera dievakuasi demi kenyaamanan bersama. Ternyata benar, akibat induknya mati anak-anak kucing tidak ada yang memberi makan dan akhirnya mereka pun mati juga.

Masalah kamar selesai, masalah bau tak sedap pun berlalu. Namun saat aku usai sholat isya, sudah memakai krim malam dan berbaring, bersiap-siap untuk tidur. Aku kepikiran dengan 3 bayi kucing tersebut.

Malang benar nasib mereka. Ditinggal mati oleh induknya, mengeong-ngeong, sama sekali tidak mengerti dimana ibunya, mencari-cari, tidak tau bagaimana bertahan hidup, hingga akhirnya (mungkin) mati kelaparan.

Apa yang dibenak mereka saat itu?

“Dimana ibuku?”

“Aku sangat lapar. ”

“Ibu….. aku lapar. Dimana dirimu?”

“Ibu. Ibu. Cepatlah kemari. Kami membutuhkanmu. ”

“Ibu. Tolong kami. ”

“Ibu dimana? Mengapa tidak muncul meski kami sudah memanggil-manggil?”

“Mengapa ibu tidak peduli pada kami? Sudah berhari-hari ibu tidak muncul dan kami sangat kelaparan. ”

“Ibu. Ibu. Ibu. “

Mungkin bayi-bayi kucing itu menangis memanggil induknya. Dan mereka sama sekali tidak mengerti mengapa ibunya tidak pernah muncul lagi, hingga mereka kematian menjemput.

Saat memikirkan seperti ini, hatiku sedih.

Coba saja aku lebih peduli. Mungkin ketika ada bangkai kucing di depan kos, aku masih bisa menyelamatkan bayi-bayi kucing itu (tetapi aku sama sekali tidak berpikir bahwa itu adalah induknya). Karena tidak mengerti, saat anak-anak kucing itu ribut mengeong-ngeong, kupikir itu wajar karena ‘they just a baby’.

Apa yang dapat dilakukan oleh bayi (dari jenis mahluk apapun itu) selain menangis, merengek, lapar dan buang air?

Padahal yang terjadi adalah bayi-bayi kucing itu menangis meregang nyawa, tepat berada di atas kepalaku. Dan itu agak memukul jiwaku.

Dunia manusia berputar dengan cepat. Setiap orang berlomba-lomba menjalani hidupnya, meraih hal apapun yang mereka inginkan. Baik dengan cara-cara yang benar ataupun tidak. Hingga terkadang ketika kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi, kita lupa pada sekitar. Kita lupa ada hal-hal lain yang berharga. Dan kita pada akhirnya berhenti peduli selain hanya pada diri kita sendiri.

Dan kali ini yang menjadi korban bukan hanya bayi kucing. Bisa jadi sesama manusia, yang terjadi tepat di depan mata kita. Hanya saja kita tidak melihatnya. Bukan…. bukan tidak melihat tetapi kita sudah buta karena berhenti peduli dengan sesama.

Bila pada akhirnya kita berhenti peduli maka kita pun tak lagi menjadi mahluk paling beradab dan kehilangan rasa kemanusiaan. Satu-satunya hal yang membatasi kita dengan derajat lainnya. Lalu apa bedanya kita dengan binatang jalang di dunia liar?

Kita tak lebih dari hewan dalam mata rantai makanan. Hewan dengan kecerdasan tinggi namun tidak punya nurani sebagai tempat semua asal kebaikan jiwa. Well, kita memang hewan tapi setidaknya kita hewan yang diberi pilihan ditangan, ingin hidup seperti apa.

i’m in bad

Pengen makan orang.

Tengah malam dan tanpa basa-basi dikirimin pesan yang isinya minta uang (oleh salah satu keluarga) saat itu juga, rasanya bikin emosiku meledak.

Kalau uangnya untuk kebutuhan yang mendesak, okelah. Tapi kalau nggak jelas, siapa sih yang ikhlas ngasih uang yang susah payah dicari demi alasan seperti itu.

Aku nggak tau sih dengan orang lain, kalau aku pribadi ogah pake banget.

Well, kalau kamu nggak pernah hidup jauh dari orang tua, keluarga dan rumah. Nggak pernah hidup pas-pasan bahkan cenderung kekurangan di negeri orang. Nggak pernah menghasilkan uang dengan tangan kamu sendiri.

Nggak usah sok-sok’an. Belagu. Dan belagak kayak anak raja minyak.

Lebih baik tiduran di rel kereta api atau bantingkan kepala bodohmu pada badan kopaja yang lagi melaju di jalan tol.

Aku memang punya sejumlah uang yang diminta (lebih malah) tapi apa pantas, aku yang bekerja dan menabung eh orang lain yang menikmati hasil keringatku?

Ck, dunia ini memang bukan tempat yang tepat untuk mempertanyakan rasa keadilan. Mungkin aku sedang marah akan sesuatu dan terpicu. Aku hanya marah. Toh aku manusia biasakan?

Footnote : lama nggak posting tulisan dan sekalinya, isinya cuma beginian. Luar biasa kamu yon.