Dunia dan Pilihan Yang Kita Punya

Ada anak kucing mati di atas eternit kamarku.

Bisa bayangkan betapa bau bangkai yang sedang dalam proses pembusukan, ditambah dengan cuaca panas yang menyebabkan aroma tak sedap menguar lebih tajam. Bukan cuma bikin perut mual dan ingin muntah. Kamar yang harusnya menyenangkan, berubah jadi neraka.

Sekitar seminggu lalu, seekor kucing betina melahirkan anak-anaknya di langit-langit rumah kos. Enggak ngerti juga kenapa ia memilih meletakkan anaknya di atas lapisan asbes kamarku. Yang jelas, suara anak-anaku kucing selalu terdengar pagi, siang bahkan sampai tengah malam.

Sementara eternit kamarku tidak ada bagiannya yang terbuka. Dan dengan kamar-kamar lainnya ternyata saling diberi sekat, sehingga tidak saling terhubung satu sama lain. Jadi tidak ada yang dapat mengecek keberadaan bayi kucing dan memindahkannya. Serta aku tidak dapat melakukan apapun selain menikmati dan beradaptasi dengan keributan tersebut.

Lalu tiga hari yang lalu suasana mulai senyap. Kupikir, mungkin si induk telah memindahkan bayi kucing ke tempat yang lebih aman. Tapi ada yang aneh, begitu aku buka pintu kamar usai seharian di luar, kok tercium bau tidak sedap.

Aku langsung menebak, jangan-jangan ada bayi kucing yang mati. Pasalnya beberapa hari lalu, aku melihat ada kucing yang mati di depan kos. Indukkan.

Dan hari ini, bau tersebut benar-benar menyengat. Oleh bapak kos, akhirnya eternit di atas kamar mandi dijebol dan Voila. Ada tiga bangkai bayi kucing ditemukan di eternit kamar. Yang segera dievakuasi demi kenyaamanan bersama. Ternyata benar, akibat induknya mati anak-anak kucing tidak ada yang memberi makan dan akhirnya mereka pun mati juga.

Masalah kamar selesai, masalah bau tak sedap pun berlalu. Namun saat aku usai sholat isya, sudah memakai krim malam dan berbaring, bersiap-siap untuk tidur. Aku kepikiran dengan 3 bayi kucing tersebut.

Malang benar nasib mereka. Ditinggal mati oleh induknya, mengeong-ngeong, sama sekali tidak mengerti dimana ibunya, mencari-cari, tidak tau bagaimana bertahan hidup, hingga akhirnya (mungkin) mati kelaparan.

Apa yang dibenak mereka saat itu?

“Dimana ibuku?”

“Aku sangat lapar. ”

“Ibu….. aku lapar. Dimana dirimu?”

“Ibu. Ibu. Cepatlah kemari. Kami membutuhkanmu. ”

“Ibu. Tolong kami. ”

“Ibu dimana? Mengapa tidak muncul meski kami sudah memanggil-manggil?”

“Mengapa ibu tidak peduli pada kami? Sudah berhari-hari ibu tidak muncul dan kami sangat kelaparan. ”

“Ibu. Ibu. Ibu. “

Mungkin bayi-bayi kucing itu menangis memanggil induknya. Dan mereka sama sekali tidak mengerti mengapa ibunya tidak pernah muncul lagi, hingga mereka kematian menjemput.

Saat memikirkan seperti ini, hatiku sedih.

Coba saja aku lebih peduli. Mungkin ketika ada bangkai kucing di depan kos, aku masih bisa menyelamatkan bayi-bayi kucing itu (tetapi aku sama sekali tidak berpikir bahwa itu adalah induknya). Karena tidak mengerti, saat anak-anak kucing itu ribut mengeong-ngeong, kupikir itu wajar karena ‘they just a baby’.

Apa yang dapat dilakukan oleh bayi (dari jenis mahluk apapun itu) selain menangis, merengek, lapar dan buang air?

Padahal yang terjadi adalah bayi-bayi kucing itu menangis meregang nyawa, tepat berada di atas kepalaku. Dan itu agak memukul jiwaku.

Dunia manusia berputar dengan cepat. Setiap orang berlomba-lomba menjalani hidupnya, meraih hal apapun yang mereka inginkan. Baik dengan cara-cara yang benar ataupun tidak. Hingga terkadang ketika kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi, kita lupa pada sekitar. Kita lupa ada hal-hal lain yang berharga. Dan kita pada akhirnya berhenti peduli selain hanya pada diri kita sendiri.

Dan kali ini yang menjadi korban bukan hanya bayi kucing. Bisa jadi sesama manusia, yang terjadi tepat di depan mata kita. Hanya saja kita tidak melihatnya. Bukan…. bukan tidak melihat tetapi kita sudah buta karena berhenti peduli dengan sesama.

Bila pada akhirnya kita berhenti peduli maka kita pun tak lagi menjadi mahluk paling beradab dan kehilangan rasa kemanusiaan. Satu-satunya hal yang membatasi kita dengan derajat lainnya. Lalu apa bedanya kita dengan binatang jalang di dunia liar?

Kita tak lebih dari hewan dalam mata rantai makanan. Hewan dengan kecerdasan tinggi namun tidak punya nurani sebagai tempat semua asal kebaikan jiwa. Well, kita memang hewan tapi setidaknya kita hewan yang diberi pilihan ditangan, ingin hidup seperti apa.

3 thoughts on “Dunia dan Pilihan Yang Kita Punya

  1. Wow … hampir gak jauh beda tuh dengan kejadian beberapa hari yg lalu, ada 3 ekor anak kucing yang ditinggal induknya dan kelaparan di depan Rumah jg hampir sekarat tapi setelah di beri Makan beberapa hari sampai2 di buatin Rumah dari Kardus Biar betah …. ehhhh induknya datang Menjemput and next, gak Balik lg tu induk dan anak2 nya ke Rumah dari Kardus yang sudah dibuat dengan penuh perjuangan … hehehe intinya tetap Mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s